Ajaran Tentang Tuhan (Pandangan Kristen Protestan) Bagian 3

Tulisan dibawah ini merupakan salinan dari web http://www.sarapanpagi.org/ajaran-tentang-tuhan-allah-vt24.html tanpa ada penambahan apapun.

Bagian 3

 

 

  • Allah Menjadi Sekutu Umat-Nya, Manusia Menjadi Sekutu Allah

Telah dikemukakan sebelumnya, bahwa Alkitab tidak mengajarkan adanya suatu tabiat ilahi (divine nature), yang berdiri sendiri, yang bersifat akali atau rohani dalam arti tidak berwujud karena halusnya. Hakekat Tuhan Allah, menurut Alkitab, adalah menjadi sekutu umat-Nya, seperti hakekat manusia adalah menjadi sekutu Allah. Hakekat Tuhan Allah yang demikian itu diungkapkan atau dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya.

Hakekat Tuhan Allah yang satu itu, yaitu menjadi sekutu umat-Nya, dinyatakan atau diperkenalkan dengan bermacam-macam cara, umpamanya: sebagai Yang Mahatinggi, Yang Kudus, Yang Esa, dan sebagainya. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah juga wujud penyataan Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya tadi, yang dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya. Oleh karena itu maka kiranya keliru, jika kita mengira bahwa ungkapan Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu seolah-olah sebagai ungkapan yang dengan tiba-tiba dipergunakan di dalam Perjanjian Baru. Hal ini sama halnya dengan ungkapan-ungkapan yang lain, yang mengungkapkan hakekat Tuhan Allah tadi (kudus, kekal, dan lain sebagainya). Baik Yesus maupun para rasul, jika mempergunakan ungkapan-ungkapan itu tentu mendasarkan kepada apa yang telah dinyatakan oleh Tuhan Allah di dalam Perjanjian Lama. Oleh karena itu kita harus mulai dari meneliti arti ungkapan-ungkapan itu di dalam Perjanjian Lama, sesudah itu artinya di dalam Perjanjian Baru, untuk kemudian mengambil kesimpulan yang sesuai dengan yang dimaksud oleh Alkitab.

Bahwa Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri sebagai Bapa telah didapatkan di dalam Perjanjian Lama.

Dalam Ulangan 32:6 Musa berkata kepada umat Israel di dalam nyanyiannya, “Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?” Di dalam bagian Alkitab ini Musa mengingatkan kepada Israel, bahwa Tuhan Allah adalah Bapanya, sebab TUHAN itulah yang telah mencipta Israel dan yang telah menegakkan mereka. Bangsa Israel menjadi suatu bangsa yang bebas dan besar, tidak lain karena karya Tuhan Allah terhadap bangsa itu. Tuhanlah yang telah melepaskan Israel dari perhambaan di Mesir. Ialah yang mencipta Israel, dari yang bukan bangsa menjadi bangsa. Ialah yang telah menegakkan Israel baik terhadap Mesir maupun terhadap segala bahaya maut yang mengancam Israel di padang gurun. Oleh karena itu ungkapan Bapa ini di Yesaya 63:16 dihubungkan dengan ungkapan Penebus, sebab di situ disebutkan, bahwa nama Tuhan Allah sejak dahulu kala adalah Bapa dan Penebus Israel. Kehormatan Israel sebagai bangsa yang bebas merdeka adalah karya Tuhan Allah. Di Maleakhi 2:10 disebutkan juga bahwa Tuhan Allah adalah Bapa Israel, sebab Tuhan Allah itulah yang telah menciptakan Israel.

Dari apa yang telah diuraikan di atas, jelaslah kiranya bahwa jika Tuhan Allah disebut Bapa, hal itu bukan menunjuk kepada suatu keadaan yang statis, yang mandeg, melainkan hal itu dihubungkan dengan karya Allah yang telah ditujukan kepada Israel. Bahwa Tuhan Allah adalah Bapa Israel telah dibuktikan di dalam karya-Nya, umpamanya, pada waktu perjalanan Israel dari Mesir, dimana disebutkan, bahwa Tuhan Allah telah mendukung Israel seperti seseorang mendukung anaknya di sepanjang jalan yang ditempuh Israel hingga sampai di tempat di mana mereka itu sekarang berada, dan Tuhan Allah telah mengajari Israel seperti seseorang mengajari anaknya.

Segala perbuatan Allah yang telah dilakukan terhadap Israel itu disebabkan, karena seperti yang telah berulang kali disebutkan, Tuhan Allah berkenan menjadi sekutu umat-Nya. Bukan hanya pada waktu Israel berada di padang gurun, tetapi juga setelah Israel berdiam di tanah Kanaan, Tuhan Allah tetap dengan kasih dan belas kasihan menjadi penyelamat dan pembebas Israel, sekalipun Israel sebagai sekutu Tuhan Allah sering menginjak-injak kasih Bapanya.
Hubungan Bapa-Anak

Jika Tuhan Allah dipandang sebagai Bapa Israel, maka sebaliknya, Israel dipandang sebagai ANAK ALLAH.

Pada waktu Musa diutus menghadap Firaun di Mesir, ia diperintahkan oleh Tuhan Allah untuk mengatakan kepada Firaun, bahwa Israel adalah anak Allah, bahkan anak Allah yang sulung. Oleh karena itu Firaun harus memperkenankan Israel pergi beribadah kepada Tuhan Allah.

Ungkapan anak Allah ini di Perjanjian Lama bukan hanya dikenakan kepada Israel sebagai bangsa seluruhnya atau sebagai kesatuan, akan tetapi juga dikenakan kepada para raja, yang menjadi wakil Israel di hadapan Tuhan Allah. Kepada raja Daud umpamanya, Tuhan Allah berfirman, bahwa Ia akan menjadi Bapa Salomo, anak Daud, dan Salomo akan menjadi anak Allah. Itulah sebabnya maka Mazmur 2:7-8 menyebutkan, bahwa raja yang ditahbiskan di Sion adalah anak Allah.

Kecuali raja, para malaekat juga disebut anak-anak Allah.

Jadi ungkapan anak Allah di dalam Perjanjian Lama dipergunakan dalam tiga cara, yaitu: bagi keseluruhan umat Israel, bagi para raja sebagai wakil Israel dan bagi para malaekat. Singkatnya, ungkapan itu dipergunakan untuk mereka yang mendapat tugas pelayanan yang khas bagi Tuhan Allah. Umat Israel seluruhnya disebut anak Allah karena umat itu sebagai sekutu Allah mendapat tugas untuk melayani Tuhannya. Tuhan Allah telah memilih Israel sebagai sekutu-Nya, dengan maksud supaya Israel mentaati segala perintah Allah secara mutlak, seperti para anak mentaati bapanya. Kedudukannya sebagai sekutu Allah sama dengan keududukan sebagai anak Allah. Para raja disebut anak Allah, sebab para raja di tengah-tengah Israel menjadi wakil umat Allah di hadapan Tuhan Allah. Di dalam diri raja itu terangkumlah sekalian umat Israel, sebagai sekutu Tuhan Allah. Raja menjadi anak Allah, sebab seluruh Israel yang diwakilinya menjadi anak Allah.

Demikianlah ungkapan Bapa dan Anak di dalam Perjanjian Lama, jika dikenakan kepada Tuhan Allah dan umat-Nya, menunjukkan hubungan yang akrab sekali di antara Tuhan Allah dengan umat-Nya, berdasarkan peristiwa, bahwa Tuhan Allah telah memilih Israel menjadi sekutu-Nya, dan Tuhan Allah menjadi sekutu Israel.

 

 

  • Allah Menyatakan Diri-Nya sebagai Roh

Selanjutnya di dalam Perjanjian Lama Tuhan Allah sebagai sekutu Israel juga menyatakan diri-Nya sebagai Roh.

Arti dasar kata roh (Ibrani, רוח – RUAKH) adalah nafas, angin. Di dalam Perjanjian Lama, kata roh diterjemahkan dengan bermacam-macam kata. Di Mazmur 33:6 umpamanya, Kata רוח – RUAKH diterjemahkan dengan nafas dari mulut, sedangkan di Yeremia 10:14 diterjemahkan dengan nyawa dan lain sebagainya. Jika kata ruakh dikenakan kepada Tuhan Allah sendiri, maka Roh dipandang sebagai kekuatan atau kuasa yang menjadi alat Tuhan Allah bekerja. Hal itu umpamanya tampak dari Yehezkiel 37:9-10 di mana disebutkan, bahwa Roh dapat menjadikan tulang-tulang yang mati menjadi hidup. Di bagian Alkitab ini, Nabi Yehezkiel berada di dalam lembah di tengah-tengah tulang yang mati. Karena nubuat Nabi Yehezkiel datanglah Roh Allah seperti angin yang keras yang menghidupkan tulang-tulang itu menjadi manusia yang berdaging dan berurat dan sebagainya, sehingga mewujudkan suatu tentara yang besar. Demikianlah Roh Allah adalah daya atau kuasa Allah dengannya Allah menghidupkan. Dan oleh karena yang digambarkan dengan tulang-tulang yang mati itu adalah Israel yang telah mati secara rohani, maka Roh Allah yang menghidupi itu juga berarti daya atau kuasa Allah yang menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati secara rohani.

* Yesaya 44:3
LAI TB, Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.
KJV, For I will pour water upon him that is thirsty, and floods upon the dry ground: I will pour my spirit upon thy seed, and my blessing upon thine offspring:
Hebrew,
כִּי אֶצָּק־מַיִם עַל־צָמֵא וְנֹזְלִים עַל־יַבָּשָׁה אֶצֹּק רוּחִי עַל־זַרְעֶךָ וּבִרְכָתִי עַל־צֶאֱצָאֶיךָ׃
Translit, KÎ ‘ETSÂQ-MAYIM ‘AL-TSÂMÊ’ VENOZELÎM ‘AL-YABÂSYÂH ‘ETSOQ RÛKHÎ ‘AL-ZAR’EKHA ÛVIRKHÂTÎ ‘AL-TSE’ETSÂ’EYKHA

Selanjutnya dapat dikatakan, bahwa jika Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Roh, hal itu bukanlah suatu uraian yang bersifat filsafati, tetapi bahwa hal itu menyatakan Allah di dalam firman dan karya-Nya. Di Yesaya 31:3 umpamanya, Tuhan Allah membandingkan diri-Nya dengan Mesir. Di situ disebutkan, bahwa orang Mesir adalah manusia, bukan Allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Jadi orang Mesir disamakan dengan manusia, sedang kekuatan perangnya disamakan dengan makhluk yang lemah, yang berarti, bahwa kekuatan Mesir tidaklah berdaya. Sebaliknya Tuhan Allah disamakan dengan roh, yang berarti bahwa Tuhan Allah adalah kekuatan yang mutlak dan agung. Allah adalah Roh atau kekuatan yang dinamis. Sifat dinamis ini tampak di dalam karya Roh itu. Menurut Yesaya 32:15 dan ayat berikutnya, Roh Allah mengubah padang gurun menjadi kebun buah-buahan.

Demikianlah Roh adalah kekuatan atau kuasa ilahi yang bekerja sebagai alat atau sarana Tuhan Allah. Dengan Roh itu Tuhan Allah menghendaki para kerub pergi menuju ke tempat yang di hadapannya, memberikan kekuatan badaniah yang luar biasa, umpamanya kepada Simson, menjadikan orang dapat bernubuat, dan lain sebagainya.

Akhirnya Roh yang dinamis itu juga mengandung di dalamnya sifat-sifat yang etis. Hal ini terang dari Yesaya 30:1, yang mengancam dengan hukuman para anak yang murtad, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan oleh dorongan Roh Tuhan. Jadi Roh Allah yang dinamis tadi memang adalah kekuatan atau kekuasaan yang menciptakan hal-hal yang baru, yang ditujukan kepada tujuan keagamaan. Dalam arti inilah Roh Allah disebut: berada pada Mesias sebagai Roh hikmat dan pengertian, Roh nasehat dan keperkasaan, Roh pengenalan dan takut akan TUHAN. Dalam arti yang demikian itu juga dikatakan, bahwa Roh Tuhan ditaruhkan ke atas hamba TUHAN untuk menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.

Di dalam terang inilah disebutkan, bahwa keselamatan Israel terjadi oleh karena Roh Allah, yang akan memberikan hati yang baru kepada umat itu, yang akan mengubah hati yang keras dari Israel menjadi hati yang taat, dan menjadikan Israel menjadi umat Allah.

Oleh karena sifat Roh yang demikian itulah, maka ada hubungan yang erat sekali di antara firman dan Roh Allah. Bahkan dapat dikatakan, bahwa Roh Allah adalah sinonim dari firman Allah. Di Mazmur 33:6 disebutkan, “Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya (Roh-Nya) segala tentaranya.” Di sini diungkapkan suatu paralelisme Ibrani, yang mengungkapkan suatu gagasan dengan dua cara, tetapi yang mengandung arti yang sama. Maka kalimat “oleh firman TUHAN langit telah dijadikan” mengungkapkan gagasan yang sama dengan “oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.” Dengan demikian “Firman TUHAN” adalah sinonim dari “Nafas dari mulut-Nya.”

Demikianlah Roh Allah bagi Israel adalah kuasa Allah, yang menjadikan segala sesuatu. Hal yang demikian memang dialami oleh Israel di dalam sejarah hidupnya, sebab seperti yang telah dikemukakan di atas, Roh inilah yang mengaruniakan kecakapan kepada para hakim, kepada Daud, dan sebagainya.

Anak Allah dan anak-anak Allah

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan ungkapan Bapa, Anak, dan Roh dalam Perjanjian Lama adalah sebagai berikut:

1. Bapa adalah Tuhan Allah yang di dalam firman dan karya-Nya menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel. Tuhan Allah disebut Bapa, sebab Dialah yang menciptakan Israel, yang menyebabkan Israel dapat hidup sebagai bangsa yang bebas merdeka, dan Dialah yang telah memilih Israel untuk menjadi sekutu-Nya, dan oleh karena Dialah yang memberikan tugas yang khas kepada Israel. Oleh karena itu maka di satu pihak sebutan Bapa mengungkapkan ketinggian dan kemuliaan Tuhan Allah, akan tetapi di lain pihak juga menunjukkan kasih Tuhan Allah kepada umat-Nya. Kasih itu dinyatakan di dalam firman dan karya Tuhan Allah di dalam melepaskan Israel. Dengan nama Bapa ini Tuhan Allah menyatakan atau memberitahukan kepada Israel, bahwa Ia adalah penciptanya, penyelamatnya dan pembebasnya.

2. Sebutan anak dikenakan kepada Israel sebagai sekutu Allah untuk menunjukkan, bahwa Israel harus mentaati Tuhan Allahnya, sebagai anak mentaati Bapanya. Sebagai anak, Israel harus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Tuhan Allah, Bapanya.

3. Roh Allah adalah nafas Allah, atau asas hidup ilahi, yang dinyatakan di dalam karya-Nya yang dinamis, Roh inilah daya penciptaan Tuhan Allah yang menampakkan diri sebagai daya hidup dari firman Allah yang menciptakan. Maka Roh ini sama dengan yang diuraikan di dalam Mazmur 8:4 sebagai jari Allah atau tangan Allah yang menjadikan alam semesta dengan segala isinya. Roh ini jugalah yang menjadikan manusia dapat diperbaharui hidupnya. Demikianlah Roh Allah adalah Tuhan Allah sendiri dipandang dari segi daya hidup-Nya yang dinamis, yang menciptakan, baik dunia maupun pembaharuan manusia.

Gagasan tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang terdapat di dalam Perjanjian Lama itu juga terdapat di dalam Perjanjian Baru.
Bapa

Oleh Yesus Kristus, hubungan Tuhan Allah dengan umat-Nya, yaitu hubungan sebagai Bapa dan Anak-Nya, diperdalam. Juga di dalam Perjanjian Baru. Tuhan Allah disebut Bapa oleh umat-Nya. Secara indah sekali hal ini diungkapkan di dalam doa Bapa kami, yang memerintahkan kepada orang beriman supaya menyebut Tuhan Allah dengan Bapa kami yang di surga.

Sebutan yang di surga memang di satu pihak menunjukkan kepada Tuhan Allah sebagai Yang Mahatinggi, yang lain sekali dibanding dengan manusia, akan tetapi sebutan itu memang tidak hanya berhenti di situ saja. Sebab Bapa yang di surga itu adalah Bapa kami, atau secara umum Bapa kita. Di dalam ungkapan kita terkandung gagasan, bahwa yang berdoa mengamini, bahwa Tuhan Allah yang di surga itu adalah Bapa mereka, dan bahwa mereka adalah anak-anak Allah, yang hidup mereka bukan ditentukan sendiri, melainkan ditentukan dari surga, dari atas, dari Bapa mereka yang di surga. Itulah sebabnya, maka di dalam doa itu selanjutnya disebutkan tentang nama, kerajaan, dan kehendak Allah yang di surga yang secara berturut-turut harus dikuduskan, didatangkan dan dilaksanakan di dalam dunia ini. Kehidupan para anak ditentukan oleh yang di atas, yang di surga. Apa yang terjadi di surga dengan sempurna harus dilaksanakan juga di dalam dunia ini.

Setiap kali sebutan Bapa yang di surga dipergunakan, tentu dimaksud untuk menunjukkan hubungan antara dunia dengan surga, yaitu bahwa dunia ini ditentukan oleh kebenaran-kebenaran yang dari atas. Dengan sebutan Bapa yang di surga itu yang Mahatinggi menjadi dekat dan akrab dengan yang hina, yang di bawah.

Jadi sebutan Bapa yang di surga itu sebenarnya mewujudkan alat penyataan atau alat perkenalan Tuhan Allah yang benar. Setiap kali sebutan Bapa dipergunakan, tentu menunjuk kepada kasih Tuhan Allah terhadap umat-Nya, akan tetapi yang sebaliknya juga menuntut kasih dari umat-Nya. Hal ini umpamanya tampak di Matius 6:26 dan ayat berikutnya, yang memerintahkan kepada orang beriman supaya memandang kepada burung di langit dan bunga bakung di ladang, yang dipelihara oleh Tuhan Allah, Bapanya dengan secara sempurna. Demikian jugalah Bapa surgawi itu akan memelihara mereka. Mereka harus mau menyerahkan diri kepada Tuhan Allah, Bapa mereka.

Dari uraian di atas kiranya jelas, bahwa Tuhan Allah, jika Ia disebut Bapa di dalam Perjanjian Baru, bukanlah dalam arti bapa yang statis, yang tidak bergerak, bukan dalam arti bapa yang sama dengan kedudukan bapa duniawi (Bapa duniawi adalah bapa dalam arti yang statis, artinya: sekalipun bapa itu tidak memelihara anaknya, tidak berbuat apa-apa bagi anaknya – mungkin karena dipenjara, atau karena sebab-sebab lain – namun ia tetap menjadi bapa bagi anaknya, karena kedudukannya sebagai bapa ditentukan oleh kelahiran anak itu). Pengertian Bapa, jika dikenakan kepada Tuhan Allah, dikenakan dalam arti yang dinamis yang menunjukkan kepada Allah yang aktif dalam firman dan karya-Nya bagi keselamatan anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya. Tuhan Allah bukanlah Bapa bagi umat-Nya, seandainya Ia tidak berbuat apa-apa bagi umat-Nya.

anak-anak Allah

Pengertian anak Allah di dalam Perjanjian Baru juga memiliki arti yang lebih mendalam dibanding dengan pengertian di Perjanjian Lama. Juga di Perjanjian Baru menjadi anak Allah adalah hak utama dari umat Allah sebagai kesatuan, bukan sebagai individu. Rasul Paulus menggunakan ungkapan anak Allah silih berganti dengan ungkapan benih Abraham. Di Galatia 4:21 dan berikutnya, disebutkan bahwa kebebasan para anak Allah adalah kebebasan mereka yang dari Yerusalem yang surgawi. Oleh karena itu maka menjadi anak Allah berarti termasuk umat Allah yang baru. Pengangkatan menjadi anak Allah adalah tujuan dari karya penyelamatan Tuhan Allah yang besar itu.

* Yohanes 1:12
LAI TB, Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
KJV, But as many as received him, to them gave he power to become the sons of God, even to them that believe on his name:
TR, οσοι δε ελαβον αυτον εδωκεν αυτοις εξουσιαν τεκνα θεου γενεσθαι τοις πιστευουσιν εις το ονομα αυτου
Translit Interlinear, color=olive]hosoi {semua yang} de {tetapi} elabon {menerima} auton {Dia} edôken {Ia memberi} autois {kepada mereka} exousian {kuasa} tekna {anak-anak} theou {Allah} genesthai {untuk menjadi} tois {orang-orang yang} pisteuousin {percaya} eis {dalam} to onoma {nama} autou {Nya}[/color]

Gagasan yang beru di dalam Perjanjian Baru ialah, bahwa Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa, yang mengangkat para orang beriman menjadi anak-anak Allah, itu dilaksanakan di dalam diri Yesus Kristus dan dalam karya Roh Kudus. Bahwa orang beriman diangkat menjadi anak Allah adalah hasil karya pendamaian Yesus Kristus, yang menjadikan orang beriman menerima Roh Kudus, sehingga ia dapat berseru: Abba, ya Bapa.
Anak Allah

Sebagai sarana untuk menjadikan orang beriman menjadi anak Allah, Yesus sendiri juga disebut Anak Allah.

Alkitab terang membedakan antara Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan orang beriman sebagai anak Allah. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang Tunggal, Anak-Nya sendiri, sedang orang beriman diangkat menjadi anak Allah. Hal ini menunjukkan, bahwa ada perbedaan yang besar di antara hubungan Tuhan Allah sebagai Bapa dengan Yesus dan hubungan Tuhan Allah sebagai Bapa dengan orang beriman.

Untuk mendekati persoalan ini, kita harus kembali kepada pernyataan, bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi manusia. Telah dikemukakan, bahwa jika Yesus Kristus disebut Firman, hal itu berarti, bahwa Ia adalah alat atau sarana penyataan atau perkenalan Tuhan Allah yang sempurna, sehingga barangsiapa melihat Dia, ia melihat Allah.

Dalam Yohanes 17:6, 26 dapat disimpulkan, bahwa seluruh karya Kristus tidak lain adalah: menyatakan atau memperkenalkan nama Allah. Padahal menurut Yohanes 17:11-12, nama Allah adalah kekuasaan yang melindungi umat Allah, sebab di situ disebutkan, bahwa Yesus berdoa, agar Bapa memelihara para murid dalam nama-Nya. Jadi nama Allah Bapa itulah yang memelihara para orang milik Yesus. Oleh karena itu maka nama Allah, menurut Alkitab, bukan hanya sebutan yang kosong, seperti nama kita, bukan hal yang mati, melainkan “Tuhan Allah sendiri dalam karya pemeliharaan-Nya.” Nama Allah adalah hakekat Allah sendiri, yaitu bahwa Ia adalah sekutu umat-Nya. Dari nama-nama-Nya, yang menyatakan karya-Nya itulah Tuhan Allah dapat dikenal.

Maka apa yang dilakukan oleh Yesus terhadap para murid-Nya pada hakekatnya adalah: memperkenalkan Bapa kepada para murid-Nya. Akan tetapi hal “memperkenalkan Bapa kepada para murid-Nya” ini bukanlah diuraikan secara teori, bukan berwujud ajaran seperti seorang guru agama menerangkan kepada para muridnya, melainkan hal itu ditunjukkan di dalam karya-Nya. Itulah sebabnya Kristus dapat berkata, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Itulah juga sebabnya, bahwa menolak Yesus berarti menolak Tuhan Allah Bapa. Demikianlah “menyatakan nama Bapa” pada hakekatnya adalah “menyatakan Allah Bapa” atau “memperkenalkan Allah Bapa” itu sendiri. Dalam hal ini tampak di dalam firman dan karya Yesus. Seluruh hidup Kristus menampakkan bagaimana Tuhan Allah sebagai Bapa umat-Nya.

Sebagai sarana penyataan atau perkenalan Allah Bapa, yang menunjukkan di dalam seluruh hidupnya bagaimana Allah Bapa itu, Yesus sendiri disebut Anak Allah.
Arti ungkapan Anak Allah bagi Yesus pada dasarnya tidak berbeda dengan arti ungkapan itu, jika dikenakan kepada orang beriman yang disebut anak Allah.

Arti ungkapan anak Allah adalah bahwa Israel harus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Tuhan Allahnya, atau harus mencerminkan kehidupan ilahi di dalam hidupnya, seperti anak harus mencerminkan hidup bapanya. Hal ini hanya mungkin, jikalau Israel mentaati segala kehendak Tuhan Allah, sekutunya. Padahal mentaati kehendak Allah itu hanya mungkin, jikalau ada persekutuan yang akrab di antara Tuhan Allah dengan orang beriman. Hal ini semuanya berlaku juga bagi Yesus sebagai sarana penyataan Tuhan Allah.
Bagaimana hubungan Yesus Kristus dengan Tuhan Allah?

Dari Yohanes 6:57 yang menyebutkan, bahwa Anak hidup oleh Bapa, dan dari Yohanes 10:30 yang menyebutkan, bahwa keduanya, yaitu Bapa dan Anak, adalah satu, serta dari Yohanes 16:15 yang menyebutkan, bahwa segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Anak punya, sehingga apa yang menjadi milik Bapa juga menjadi milik Anak, karena telah diberikan Bapa kepada Anak, dapat kiranya diambil kesimpulan, bahwa Yesus Kristus mendapat bagian yang tiada taranya dari apa yang dimiliki Allah Bapa. Ada kesatuan yang erat sekali antara Allah Bapa dan Yesus Kristus.

Akan tetapi harus segera dicatat, bahwa kesatuan Tuhan Allah dengan Yesus itu bukanlah kesatuan yang terletak pada kesatuan tabiat yang statis, bukan dalam arti memiliki zat yang sama (bukan secara ontologis atau di bidang keberadaan), melainkan kesatuan di dalam karya atau perbuatan. Hal ini terang dari penjelasan Yesus Kristus sendiri. Di Yohanes 10:37-38, Ia berkata, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”

Dari kata-kata ini jelas, bahwa jikalau Yesus melakukan [Yunani, poiô/poieo] pekerjaan-pekerjaan Bapa, maka pekerjaan-pekerjaan [Yunani, erga/ergon] itu menjadi bukti, bahwa Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa. Bahwa Yesus satu dengan Allah Bapa, hal itu tampak dari pekerjaan-pekerjaan-Nya atau karya-karya-Nya.

Selanjutnya kesatuan Allah Bapa dan Yesus Kristus yang tampak di dalam karya-karya-Nya itu diungkapkan demikian, bahwa yang dikerjakan oleh Yesus itu adalah apa yang Ia lihat Bapa mengerjakannya, dan bahwa yang dilakukan oleh Yesus itu adalah apa yang telah ditugaskan oleh Allah Bapa kepada-Nya, sehingga segala pekerjaan Yesus tadi dilakukan atas nama Bapa, dan oleh karena itu pekerjaan yang dilakukan-Nya adalah pekerjaan Allah Bapa sendiri.

Demikianlah kiranya jelas, bahwa kesatuan Allah Bapa dengan Yesus sebagai Anak Allah adalah kesatuan di dalam karya-karya-Nya, bukan di dalam tabiat-Nya atau di dalam zat-Nya.

Kecuali mengerjakan pekerjaan Allah Bapa, Yesus sebagai Anak Allah juga membawakan firman atau sabda Allah Bapa (Yohanes 14:24 di mana Ia berkata, bahwa firman yang mereka dengar itu bukan dari Kristus sendiri, melainkan dari Bapa yang mengutus-Nya). Apa yang disabdakan oleh Yesus Kristus adalah apa yang telah diajarkan Bapa kepada-Nya. Demikianlah firman atau sabda yang telah dibawakan Yesus tidak boleh dipisahkan dari karya-karya-Nya. Jadi kedua-duanya, baik firman maupun karya Yesus menyatakan atau memperkenalkan Yang Mengutus dan Yang Diutus.

Dari apa yang telah dikemukakan di atas itu kiranya jelaslah bahwa sebutan Anak bagi Yesus berarti, bahwa Ia di dalam hidup-Nya melaksanakan apa yang telah direncanakan Allah Bapa, atau Ia menjadi penyataan Allah sebagai sekutu umat-Nya. Di dalam hidup-Nya, di dalam karya-karya-Nya Yesus menunjukkan atau menyatakan bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya, penyelamat umat-Nya. Di dalam diri Yesus dapat dilihat dan diketahui, bagaimana Tuhan Allah menyelamatkan umat-Nya.

* Roma 8:32,
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Menurut ayat di atas, melaksanakan rencana Tuhan Allah untuk menyelamatkan itu terlebih-lebih terjadi di dalam kematian Yesus. Jikalau menjadi Anak Allah berarti melaksanakan rencana Allah, maka dari ayat itu jelas, bahwa hal itu dilaksanakan hingga kematian-Nya. Sebab di dalam kematian-Nya itu terlaksana rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. “Menjadi Anak Allah” berarti: menjadi pelaksana perjanjian Allah dengan umat-Nya, yaitu “menderita dan mati bagi umat Allah.” Hal ini jelas juga dari Galatia 4:4, yang menyebutkan, “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”

Dapat dibandingkan dengan Roma 5:10 yang menyebutkan, bahwa ketika kita masih seteru kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya. Jadi memang Bapalah yang memberikan “cawan minuman” itu kepada Yesus Kristus sebagai Anak-Nya. Itulah sebabnya ketika rasul Petrus mengakui, bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, segera Yesus menghubungkan pengakuan sebagai Anak Allah itu dengan kesengsaraan-Nya. Di Markus 15:39 kepala pasukan Roma mengakui Kristus sebagai Anak Allah, pada waktu Yesus disalib.

Kasih Anak kepada Bapa diungkapkan di dalam kesetiaan Anak itu untuk memberikan nyawa-Nya.

Di dalam kesimpulan mengenai sebutan Anak Allah di dalam Perjanjian Lama telah dikemukakan, bahwa sebutan Anak Allah itu mengandung arti, bahwa Israel sebagai umat Allah atau sebagai sekutu Allah harus mentaati segala perintah Tuhan Allah, seperti halnya dengan anak mentaati Bapanya. Sebagai Anak Allah Israel harus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan Allah, Bapanya. Akan tetapi di dalam sejarah ternyata, bahwa Israel tidak mampu memenuhi tugasnya sebagai sekutu Allah itu. Israel adalah anak Allah yang gagal dalam tugasnya.

Sekarang Yesus Kristus datang untuk memenuhi apa yang tidak dapat dipenuhi oleh umat Allah di Perjanjian Lama, yaitu menjadi anak Allah. Yesus adalah Anak Allah yang sejati, sebab Ia dapat memenuhi fungsi anak Allah, yaitu menunaikan tugas mempersembahkan seluruh hidup-Nya bagi Tuhan Allah, Bapa-Nya. Penunaian tugas itu dipenuhi hingga selesai di kayu salib, hingga titik darah yang penghabisan. Yesus Kristus adalah sekutu Allah yang sejati, sebab fungsi Israel sebagai sekutu Allah dipenuhi-Nya dengan secara sempurna.

Dari uraian sebelumnya jelas juga, bahwa sebutan Anak Allah bagi Yesus menunjukkan kepada “karya-Nya untuk menyelamatkan”. Yesus adalah Anak Allah, sebab di dalam Dia Tuhan Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai penyelamat umat-Nya. Yesus Kristus adalah alat Tuhan Allah untuk menyatakan atau memperkenalkan karya penyelamatan-Nya. Di dalam diri-Nya tampak sampai di mana Tuhan Allah menjadi sekutu umat-Nya. Oleh karena umat-Nya tidak dapat memenuhi tugasnya menjadi sekutu-Nya, maka ia dalam diri Yesus itu Tuhan Allah sendiri telah membuktikan hakekat-Nya yang sejati, yaitu bahwa Ia adalah sekutu umat-Nya. Sebab di dalam Yesus Kristus itu Tuhan Allah telah mendamaikan umat-Nya yang tidak setia kepada panggilannya itu dengan diri-Nya sendiri. Yesus Kristus adalah puncak turunnya Tuhan Allah untuk menemui manusia berdosa. Menjadi Anak Allah berarti menjadi jalannya Tuhan Allah bersekutu dengan umat-Nya secara akrab. Di dalam diri Yesus Kristus, Tuhan Allah telah memenuhi peranan-Nya sebagai sekutu umat-Nya hingga selesai. Bahkan dapat dikatakan, bahwa di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah sendiri telah mengganti peranan sekutu-Nya yang tidak setia, yaitu yang dilakukan di dalam menjadi serupa dengan daging yang dikuasai dosa.

Jika Yesus Kristus sebagai alat penyelamat Tuhan Allah disebut Anak Allah, hal itu bukan dimaksud dalam arti ontologis, artinya: bukan menunjuk kepada kesamaan keberadaan, atau bukan menunjuk kepada kesamaan tabiat atau zat. Bahwa Yesus adalah Anak Allah, hal itu ternyata di dalam firman dan karya-Nya. Dan pengertian itu mengandung dua segi:

Yesus Kristus adalah Anak Allah yang sejati, sebab hanya di dalam Dialah fungsi Anak Allah dilaksanakan dengan sempurna, yaitu mempersembahkan seluruh hidup-Nya bagi Tuhan Allah, dengan ketaatan yang sempurna. Manusia pertama karena dosanya tidak dapat memenuhi tugas sebagai anak Allah itu, dan Israel sebagai umat Allah dan sebagai anak Allah juga gagal di dalam penunaian tugasnya itu. Yesus Kristus adalah sekutu Allah yang sejati, yang mentaati segala kehendak Tuhan Allah hingga mati di kayu salib. Sebagai Anak Allah, Yesus Kristus mengganti fungsi manusia berdosa di hadapan Tuhan sebagai Bapanya. Sebagai ganti manusia, Yesus Kristus adalah Anak Allah, adalah manusia yang sejati.

Yesus Kristus adalah Anak Allah yang sejati, sebab Dialah yang mencerminkan kehidupan ilahi di dalam seluruh hidup-Nya secara sempurna. Bukankah sekutu Allah harus mencerminkan kehidupan Allah yang menjadi sekutunya, dan bukankah anak harus mencerminkan hidup bapanya? Di dalam Yesus Kristus tampak Tuhan Allah menjadi sekutu umat-Nya. Isi hati Tuhan Allah sebagai penyelamat umat-Nya telah dinyatakan secara sempurna di dalam firman dan karya-karya Kristus, sebagai seorang anak yang mencerminkan kehidupan bapanya. Oleh karena itu Yesus Kristus adalah satu-satunya Anak Allah. Ia adalah Anak Allah yang Tunggal. Di samping-Nya tidak ada yang pernah menyatakan kehidupan ilahi seperti yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus. Sebagai alat penyataan Allah yang sempurna Yesus Kristus adalah Anak Allah. Oleh karena di luar Yesus Kristus tidak ada pengenalan akan Tuhan Allah, maka sebagai penyataan Allah yang sempurna Ia disebut Allah juga. Akan tetapi harus diingat, bahwa keallahan Kristus itu tampak di dalam firman dan karya-Nya, bukan di dalam kesamaan keberadaan atau kesamaan tabiat atau zat. Dari firman dan karya-Nyalah orang dapat mengetahui, bagaimana Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya, atau bagaimana hakekat Tuhan Allah yang sejati. Itulah sebabnya Yesus dapat berkata “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”, bukan dalam tabiat atau zat Yesus, melainkan di dalam firman dan karya-Nya.

Demikian arti ungkapan Anak Allah dan Allah yang dikenakan kepada Yesus. Untuk melengkapi pengertian itu, perlu dibicarakan hal Yesus disebut Firman Allah.

 

 

  • Yesus Adalah Sang Firman

Di dalam Perjanjian Lama, firman Allah atau devar YHVH adalah firman yang bekerja. Firman Allah adalah alat penyataan atau alat perkenalan Tuhan Allah, atau dapat dikatakan juga, bahwa firman Allah adalah wajah Allah yang diarahkan kepada dunia ini, atau segi Allah yang diarahkan kepada dunia ini. Bukankah dari firman dan karya Tuhan Allah itu kita dapat mengenal-Nya? Demikian juga, bahwa firman Allah tadi dihubungkan dengan penjadian dan pembaharuan penjadian ini.

Di dalam Injil Yohanes, firman Allah ini dihubungkan dengan Yesus Kristus. Sebab di situ disebutkan, bahwa firman Allah itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah, tetapi kemudian telah menjadi manusia dan diam di antara kita, yang kemuliaan-Nya telah dilihat oleh Yohanes.

Dengan ini dinyatakan, bahwa Yesus Kristus, yaitu manusia Yesus Kristus, bukan berasal dari dunia ini, bukan berasal dari bawah, melainkan dari kekekalan, dari atas. Bagaimana kita harus mengartikan hal ini?

Pertama-tama harus diingat, bahwa maksud Yohanes dengan seluruh Injilnya (dari pasal 1 hingga pasal 21) adalah untuk menunjukkan, bahwa seluruh hidup Yesus Kristus adalah penyataan atau perkenalan Tuhan Allah, dengannya Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai pencipta, penyelamat dan pembebas umat-Nya, atau sebagai sekutu umat-Nya. Seluruh hidup Kristus, sejak awal hingga akhirnya, dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, serta kenaikan-Nya ke surga, semuanya itu adalah pengungkapan hakekat Tuhan Allah, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umatnya. Pokok pikiran Yohanes di dalam Injilnya itu ialah fungsi firman Allah sebagai alat penyataan Tuhan Allah, yang diungkapkan di dalam firman dan karya Yesus Kristus, seperti halnya dengan hakekat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya itu juga diungkapkan di dalam firman dan karya Yesus Kristus. Harus diingat, bahwa Yohaneslah yang mengungkapkan, bahwa barangsiapa melihat Yesus, ia melihat Allah Bapa.

Pokok pikiran Yohanes tersebut harus dipegang teguh, jika kita ingin mendekati kata-kata Yohanes yang mengungkapkan bahwa Firman itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Sebab kata-kata itu bermaksud menunjukkan, bahwa Firman Allah yang disabdakan oleh Tuhan Allah, tidak boleh dipisahkan dari Tuhan Allah sendiri. Sejak pada mulanya Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Firman itu disebut Allah, sebab hanya dengan Firman itulah Tuhan Allah menyatakan diri atau memperkenalkan diri, atau lebih tepat lagi: menyatakan atau memperkenalkan hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya. Orang tidak dapat tahu sedikitpun tentang hakekat Tuhan Allah yang sejati tanpa Firman itu atau tanpa Sabda Allah yang disabdakan. Firman itu bukan sesuatu yang berada di samping Tuhan Allah atau di luar Tuhan Allah. Sebab Firman Allah itu adalah “Tuhan Allah sendiri di dalam penyataan-Nya”. Firman Allah itu bukan Tuhan Allah di dalam zat-Nya atau tabiat-Nya, melainkan Tuhan Allah di dalam penyataan-Nya. Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya yang menyelamatkan umat-Nya. Firman Allah adalah karya penyelamatan Allah. Tiada Firman Allah tanpa Allah, artinya: tiada penyataan, tiada perkenalan tanpa yang dinyatakan atau diperkenalkan, seperti halnya tiada karya Allah tanpa Yang Bekerja, yaitu Tuhan Allah sendiri.

Alkitab tidak pernah hanya membicarakan Tuhan Allah pada diri-Nya sendiri, tanpa karya atau penyataan-Nya. Oleh karena itu tidak mungkin Firman Allah tadi disebutkan lepas dari Tuhan Allah sendiri.

Jikalau Yohanes menyebut hal pra-eksistensi Firman (artinya, Firman itu telah ada sebelum dunia dijadikan), Yohanes tidak mengadakan spekulasi atau pandangan khayalan tentang Firman itu. Dengan kata-katanya di Yohanes 1:1 yang sederhana ini Yohanes hanya ingin mengajarkan, bahwa Firman Allah tadi bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Di dalam bab 1 dari Injilnya itu, Yohanes sama sekali tidak bermaksud berspekulasi mengenai Firman. Setelah Yohanes sebentar menyebutkan asal Firman itu, segeralah ia membicarakan karya Firman, yaitu bahwa segala sesuatu dijadikan olehnya dan diselamatkan-Nya. Dengan Yohanes 1:1 itu seolah-olah kita diajak sebentar menjenguk ke belakang penampakan Yesus Kristus, yaitu Firman yang telah menjadi manusia, untuk menunjukkan, bahwa Yesus Kristus bukanlah berasal dari bawah, melainkan dari atas, titik. Lebih dari itu Yohanes tidak menghendakinya. Maka kita juga tidak perlu menyelidiki, bagaimana keadaan di belakang layar Yesus Kristus itu. Menurut Yohanes, yang penting bukanlah apa yang di belakang layar, melainkan apa yang dikerjakan Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat Allah. Yohanes ingin menunjukkan, bahwa jikalau Yesus Kristus disebut Firman yang semula bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya, hal itu dinyatakan di dalam karya penyelamatan-Nya. Dari karya penyelamatan-Nya yang diuraikan di seluruh Injil Yohanes, orang boleh mengetahui, bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Karya penyelamatan yang diuraikan di seluruh Injil Yohanes adalah bukti bahwa Yesus Kristus bukan berasal dari bawah, melainkan dari atas.

Apa yang dikemukakan oleh Yohanes di dalam awal Injilnya ini juga terdapat di dalam surat Ibrani, yaitu Ibrani 1:1-3. Di situ disebutkan, bahwa penjadian dunia ini terjadi karena Anak Allah, dan bahwa Anak Allah itu adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.

Ungkapan yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah itu berarti, bahwa Ia memiliki kemuliaan yang sama dengan Allah dan menjadi cermin yang memantulkan kemuliaan Allah. Adapun ungkapan yang mengatakan, bahwa Yesus Kristus adalah gambar wujud Allah berarti, bahwa Ia menampakkan hakekat Allah yang sejati, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya. Jadi Ibrani 1:1-3 ini menunjukkan, bahwa Yesus Kristus adalah alat penyataan Tuhan Allah yang sempurna (Sama dengan arti ungkapan: Firman).

Jadi di dalam surat Ibrani, firman Allah dihubungkan dengan Anak Allah dan dengan karya-Nya di dalam penjadian dan pembaharuan penjadian. Hal yang demikian sama dengan apa yang disebutkan di Yohanes 1. Selain daripada itu, perhatian penulis surat Ibrani juga tidak berhenti pada hal mengadakan pemandangan yang panjang lebar mengenai kesamaan Yesus Kristus dengan Tuhan Allah. Sebentar ia menunjukkan kepada hubungan yang kekal di antara Allah Bapa dan Anak, akan tetapi segera ia mengarahkan perhatiannya kepada karya penyelamatan Anak itu. Juga dari ayat-ayat dalam surat Ibrani ini jelas, bahwa Yesus Kristus adalah Allah di dalam penyataan-Nya. Ia adalah Allah, dilihat dari segi ini, bahwa di dalam Dialah Tuhan Allah menyatakan diri-Nya, bahwa di dalam Dialah Tuhan Allah sendiri menyatakan hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya.

Gagasan yang sama dengan ini juga diungkapkan oleh Rasul Paulus di dalam suratnya yang kepada jemaat Filipi, yaitu di Filipi 2:6-8. Di Filipi 2:6 disebutkan, bahwa Yesus Kristus semula dalam rupa Allah atau dalam wujud Allah [en morphê theou]. Menurut para ahli, kata morphê di sini menunjuk kepada kata yang dalam Kejadian 1:26 diterjemahkan dengan gambar Allah dan yang dalam Kolose 1:14-15 juga diterjemahkan demikian. Jikalau demikian, maka di Filipi 2:6 ini Rasul Paulus menunjukkan, bahwa Yesus Kristus adalah gambar Allah, yang semula ada pada Allah, dan yang kemudian mengosongkan diri-Nya menjadi manusia. Menjadi gambar Allah berarti: terpanggil untuk menampakkan di dalam hidupnya hidup ilahi. Manusia pertama dijadikan menurut gambar Allah atau menurut gambar dan rupa Allah. Hal ini berarti, bahwa manusia dipanggil untuk menampakkan di dalam hidupnya hidup ilahi. Padahal itu hanya mungkin, jikalau manusia mentaati kehendak Tuhan Allah. Akan tetapi manusia pertama tidak setia kepada tugasnya. Tidaklah demikian keadaan Yesus Kristus. Sekalipun Anak Allah adalah gambar Allah, artinya terpanggil untuk menampakkan hidup ilahi, namun Ia tidak berbuat seperti yang telah diperbuat oleh manusia pertama. Ia setia kepada tugas-Nya. Kesetiaan-Nya dinyatakan di dalam hal ini, bahwa Ia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba dan merendahkan diri-Nya serta taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Jadi bahwa Kristus adalah gambar Allah hal ini dinyatakan di dalam karya penyelamatan-Nya.

Jadi di sini tiada spekulasi mengenai pra-eksistensi Anak Allah. Setelah Rasul Paulus sebentar menunjukkan kepada asal Anak Allah, segeralah ia menunjukkan karya-Nya yang membuktikan hakekat-Nya sebagai gambar Allah tadi.

Kristus Sebagai Gambar Allah

Mengenai Kristus sebagai gambar Allah diuraikan juga di Kolose 1:14-15, 2 Korintus 4:4 dan Ibrani 1:3. Juga dari ayat-ayat ini tampak bahwa jikalau Kristus disebut gambar Allah yang tidak kelihatan, hal itu menunjuk kepada fungsi Kristus sebagai penyataan Tuhan Allah. Dengan cara yang tampak, yaitu di dalam karya penyelamatan-Nya, Kristus menyatakan Tuhan Allah.

Sebagai Anak Allah, Yesus adalah gambar Allah yang di dalam hidup-Nya menampakkan kehidupan ilahi secara sempurna, yang oleh karenanya disebut Allah.

Demikianlah Anak Allah, kecuali disebut Firman, yang bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya, juga disebut gambar Allah yang menampakkan hidup ilahi. Dan semuanya tampak di dalam karya penyelamatan-Nya.

Kepada dua macam kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya mengenai Yesus sebagai Anak Allah (yaitu hanya di dalam Dialah fungsi Anak Allah dilaksanakan dengan sempurna dan bahwa Dialah mencerminkan hidup ilahi di dalam seluruh hidup-Nya), dapat ditambahkan (berdasarkan uraian tambahan), bahwa jikalau Yesus Kristus disebut Anak Allah, hal itu bukan berarti bahwa Ia identik dengan Bapa, sebab Ia adalah Allah di dalam karya-Nya, atau Allah di dalam penyataan-Nya. Hal ini sama dengan Firman. Sekalipun Firman disebut Allah, hal itu tidak berarti, bahwa Firman itu identik dengan Allah. Juga sama dengan halnya gambar Allah, yang mencerminkan hidup ilahi, namun tidak identik dengan Allah.

Sekalipun demikian tidak boleh disimpulkan, bahwa Anak Allah adalah suatu Allah di samping Bapa, sehingga keduanya berada berdampingan. Yesus Kristus adalah Allah di dalam penyataan-Nya. Maka Anak Allah bukanlah Bapa dan sebaliknya Bapa bukanlah Anak. Anak Allah adalah Firman Allah, Sabda Allah, yang tidak dapat dipisahkan dengan Allah, dan Anak Allah adalah gambar Allah, yang tidak dapat dipisahkan dengan Allah sendiri.

Allah adalah Bapa di dalam penyataan-Nya atau karya-Nya sebagai sekutu umat-Nya, yang telah mengambil inisiatif atau prakarsa untuk menyelamatkan umat-Nya, dan yang telah memanggil umat-Nya untuk menjadi sekutu-Nya, atau menjadi anak-Nya, yang harus mentaati kehendak-Nya.

Allah adalah Anak di dalam penyataan-Nya atau di dalam karya-Nya untuk merealisasikan hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, ketika umat gagal memenuhi fungsinya sebagai umat Allah. Allah adalah Anak, yang telah merealisasikan tugas-Nya dengan sempurna, yaitu dengan ketaatan-Nya hingga di kayu salib.

Sang Firman dan Roh Kudus

Mengenai Roh Kudus dapat dikatakan, bahwa penyataan Tuhan Allah sebagai Roh juga berpusat pada Kristus.

Hal ini jelas dari wawancara yang diadakan oleh Yesus dengan orang perempuan Samaria di Yohanes 4. Segera orang perempuan Samaria itu menduga, bahwa Yesus adalah seorang nabi, segeralah ia mempersoalkan hal tempat di mana orang dapat menyembah Tuhan Allah dengan sebenarnya, yaitu: di bukit dekat Samaria itukah (seperti yang diajarkan oleh bangsanya) atau di Yerusalem (seperti yang diajarkan oleh orang Yahudi)? Yesus menjawab, bahwa saatnya akan datang, bahwa orang akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem, sebab Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Ungkapan “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” biasanya diterangkan demikian (terlebih-lebih oleh para orang kebatinan), bahwa cukuplah orang menyembah Allah di dalam batinnya, sebab Tuhan Allah adalah Roh, zat yang halus. Akan tetapi keterangan yang demikian itu sebenarnya tidak cocok dengan yang dimaksudkan oleh bagian Alkitab ini.

Jikalau di sini disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Roh, hal ini bukan berarti, bahwa Tuhan Allah adalah zat yang halus, yang tidak dapat diamati oleh indera manusia, seperti yang diajarkan oleh Plato. Kata Roh di sini harus dilihat dari latar belakang Perjanjian Lama, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah “sumber hidup yang dengan aktif menghidupkan”. Tuhan Allah adalah Roh, berarti bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang hadir berbuat, yang kehadiran-Nya memberikan daya hidup. Barangsiapa yang hendak menyembah Tuhan Allah yang kehadiran-Nya adalah kehadiran yang berbuat secara dinamis, ia harus juga menyembah-Nya dengan roh, artinya: ia harus menyembah Tuhan Allah “di tempat di mana kehadiran-Nya secara dinamis atau secara aktif dirasakan”. Selanjutnya disebutkan, bahwa barangsiapa yang menyembah Tuhan Allah yang demikian itu, ia harus menyembah-Nya dengan kebenaran, artinya: ia harus menyembah Tuhan Allah “di tempat kesetiaan-Nya kepada perjanjian-Nya dirasakan”. Jadi menurut kata Yesus, menyembah Tuhan Allah dalam roh dan kebenaran berarti: menyembah Tuhan Allah di tempat Tuhan Allah hadir dengan nyata dengan karya-Nya untuk menampakkan kekuatan kesetiaan-Nya, yang dilaksanakan dalam firman dan karya-Nya sebagai sekutu umat-Nya.

Bahwa perempuan Samaria mengerti maksud Yesus yang demikian itu, jelas dari kata-katanya, bahwa jikalau Mesias, yang juga disebut Kristus datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada mereka. Kata-kata itu menunjukkan, bahwa perempuan itu tahu, bahwa Mesias atau Kristus menjadi penjelmaan Allah sebagai sekutu umat-Nya, yang akan memberitahukan di mana Allah hadir dengan kekuatan kesetiaan-Nya. Pengakuan yang demikian itulah yang dinanti-nantikan oleh Yesus dari perempuan Samaria tersebut. Oleh karena itu segeralah Yesus berkata, bahwa Dialah Mesias yang juga disebut Kristus, yang diharapkan para orang Samaria itu.

Jadi menurut Yesus, sekarang di dalam diri-Nya orang dapat menyembah Tuhan Allah dengan kehadiran-Nya yang mendatangkan hidup. Sebab itu, Yesus Kristus adalah kehadiran Tuhan Allah sebagai Roh dalam karya-Nya yang menghidupkan.

Dari uraian ini kiranya jelas, bahwa gambaran Alkitab mengenai Tuhan Allah adalah bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang hidup dan bekerja, dan yang senantiasa bekerja. “Bapaku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Allah yang senantiasa bekerja ini telah mencurahkan hidup-Nya kepada dunia yang dijadikan-Nya. Dengan “menjadikan” itu Tuhan Allah telah menjadi Roh yang menghidupkan. Dan selanjutnya dengan Roh-Nya itu, Tuhan Allah juga telah memelihara dan melangsungkan hidup dunia ini.

Demikianlah arti ungkapan Roh di dalam Perjanjian Baru sama dengan ungkapan Roh di dalam Perjanjian Lama.

Bagaimana hubungan Roh ini dengan Yesus sebagai Anak Allah?

Di dalam Perjanjian Lama, raja disebut anak Allah. Hal itu disebabkan karena di dalam raja itu telah terangkumkan seluruh umat Israel sebagai anak Allah. Raja di Israel mewakili seluruh umat Allah sebagai sekutu Allah. Oleh karena itu Roh Allah atau kekuatan ilahi yang dinamis juga bekerja pada raja itu.

Di dalam Perjanjian Lama, kedudukan Mesias sebagai hamba Tuhan juga mendapat tugas yang khas dari Tuhan Allah, dan oleh karena itu Roh Allah juga bekerja di dalam Mesias sebagai Hamba Tuhan. Di situ Roh Allah bekerja sebagai roh hikmat dan pengertian, sebagai roh nasehat dan keperkasaan, sebagai roh pengenalan dan takut akan TUHAN. Di dalam Mesias itu terangkum juga seluruh umat-Nya, sebab Ia mewakili umat-Nya di dalam karya-Nya.

Karya Kristus yang dilakukan atas nama Allah Bapa adalah karya Allah Bapa sendiri di dalam hendak menyelamatkan umat-Nya. Maka karya Kristus di dalam penyelamatan-Nya itu dapat juga dipandang sebagai pelaksanaan Roh atau kekuatan ilahi yang dinamis di dalam menyelamatkan umat-Nya.

Jadi ada hubungan yang erat sekali di antara karya Kristus sebagai Anak Allah dan karya Roh Kudus sebagai kekuatan ilahi atau daya ilahi. Hubungan itu demikian eratnya, hingga Roh Kudus juga disebut Roh Kristus. Kristus mendatangi para orang milik-Nya di dalam Roh dan di dalam Roh itulah Ia bersama-sama dengan mereka. Di Yohanes 14:18 umpamanya, Yesus berkata, bahwa Ia tidak akan meninggalkan para murid-Nya sebagai yatim piatu, sebab Ia akan datang kembali kepada mereka. Dan kedatangan-Nya itu adalah kedatangan di dalam Roh. Di Matius 28:20 Yesus berjanji, ia menyertai para murid-Nya senantiasa sampai kepada akhir zaman. Dan hal ini juga terjadi di dalam Roh.

Demikianlah Alkitab menyamakan Roh dengan Kristus. Di 1 Yohanes 3:24 disebutkan, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam kita itu dari Roh yang telah dikaruniakan kepada kita.

* 2 Korintus 3:17
LAI TB, Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
KJV, Now the Lord is that Spirit: and where the Spirit of the Lord is, there is liberty.
TR, ο δε κυριος το πνευμα εστιν ου δε το πνευμα κυριου εκει ελευθερια
Translit, ho de kurios to pneuma estin ou de to pneuma kuriou ekei eleutheria

Telah ditunjukkan juga, bahwa di dalam Perjanjian Lama, Firman dan Roh dianggap sebagai sinonim.
Jika Roh itu seolah-olah diidentikkan dengan Kristus, maka yang dimaksud adalah “Kristus yang telah dibangkitkan dan dimuliakan”. Dapat dikatakan, bahwa Roh Kudus adalah kekuatan ilahi, dengan-Nya Yesus yang telah dimuliakan itu hadir dan bekerja di dalam gereja-Nya. Roh Kudus adalah Yesus sendiri, sepanjang Yesus Kristus yang telah dimuliakan itu menyerahkan diri-Nya kepada umat-Nya hingga dapat dialami oleh umat-Nya.

Dapat dikatakan, bahwa Roh Kudus adalah Yesus Kristus yang telah dimuliakan itu hadir berbuat.

Seperti halnya dengan hubungan Bapa dan Anak, demikianlah halnya dengan hubungan antara Kristus dengan Roh Kudus. Allah Anak dapat disamakan dengan Allah Bapa dilihat dari segi ini, bahwa Allah Anak adalah Allah Bapa yang bekerja untuk menyelamatkan. Demikian juga Roh Kudus dapat disamakan dengan Kristus, Anak Allah, dilihat dari segi ini, bahwa Roh itu adalah Kristus yang hadir berbuat untuk menjadikan orang-orang milik-Nya menikmati hasil karya penyelamatan-Nya.

Sama halnya dengan kesamaan Bapa dan Anak, demikianlah harus dikatakan, bahwa kesamaan Kristus dengan Roh Kudus itu bukanlah kesamaan di dalam segala hal. Roh Kudus adalah Kristus sebagai Tuhan yang telah dimuliakan, bukan sebagai Kristus yang menderita.

Bagaimanakah rumusan hasil penyelidikan terhadap bahan-bahan dari Alkitab ini?

Seperti yang telah dikemukakan, Gereja kuno merumuskan keyakinannya tentang Allah Tritunggal itu demikian, bahwa Tuhan Allah adalah satu dalam zat-Nya dan tiga dalam pribadi-Nya (una substantia, tres personae), atau dalam bahasa Yunani: satu dalam ousia-Nya, dan tiga dalam hypostasis-Nya.

Juga telah dikemukakan, bahwa ungkapan pribadi atau oknum sebenarnya pada zaman sekarang ini telah tidak dapat diterapkan lagi kepada ajaran tentang Allah Tritunggal, karena ungkapan ini sekarang telah mempunyai arti yang berlainan sekali dengan yang semula dimaksudkan oleh Gereja kuno tadi.

Juga telah dikemukakan, bahwa cara mengungkapkan ketritunggalan dengan istilah-istilah substansi dan persona itu masih terlalu dipengaruhi oleh gagasan Plato tentang adanya tabiat ilahi yang halus, yang akali dan rohani, yang tidak dapat diamati oleh indera manusia, dan lain sebagainya. Pokoknya keterangan yang tidak berdasarkan kepada gagasan Alkitab.

Alkitab tidak pernah mengadakan spekulasi mengenai zat Allah. Para penulis Alkitab tidak pernah menguraikan hakekat Allah dengan menarik kesimpulan-kesimpulan dari hukum akal mengenai yang wajib, yang mustahil, dan yang jaiz. Menurut Alkitab, hakekat Tuhan Allah adalah bahwa Ia menjadi sekutu umat-Nya. Dan hakekat ini diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya, hal itu dengan jelas diwujudkan di dalam hakekat Yesus, bukan dalam zat-Nya, melainkan dalam firman dan karya-Nya. Hakekat Tuhan Allah adalah hakekat dalam karya-Nya. Ia adalah Mahatinggi dalam firman dan karya-Nya. Ia adalah kudus dalam firman dan karya-Nya. Ia adalah esa dalam firman dan karya-Nya, demikian seterusnya. Demikian juga halnya dengan penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga-tiganya adalah penyataan hakekat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya yang dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya. Tuhan Allah adalah Bapa di dalam firman dan karya-Nya, Ia adalah Anak di dalam firman dan karya-Nya, dan ia adalah Roh Kudus di dalam firman dan karya-Nya. Ketritunggalan Allah adalah ketritunggalan di dalam firman dan karya-Nya.

Sebenarnya tiada keberatan sedikitpun untuk menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai υποστασις – HUPOSTASIS atau cara berada, asal υποστασις – HUPOSTASIS itu tidak diterangkan secara statis, melainkan secara aktif, secara dinamis, sebab hakekat Tuhan Allah adalah suatu hakekat dalam keaktifan atau dalam karya-Nya.

 

 

  • Doktrin Tritunggal, Apakah Menyerap Ajaran Agama Lain?

Tuhan Allah adalah Bapa di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang menciptakan, memanggil dan menyelamatkan umat-Nya. Tuhan Allah adalah Anak di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang menyatakan atau yang menjelmakan atau mewujudkan hakekat Bapa sebagai sekutu umat-Nya, hingga benar-benar umat Allah menjadi sekutu-Nya. Dan Tuhan Allah adalah Roh Kudus di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang membenarkan, menyucikan serta menyempurnakan umat-Nya.

Apakah pandangan ini tidak sama dengan pandangan Sabellius?

Sabellius mengajarkan, bahwa di dalam Perjanjian Lama, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya sebagai Bapa dan Pencipta, di dalam diri Yesus, Ia menampakkan diri sebagai Anak dan Penyelamat, dan akhirnya sejak hari Pentakosta, Ia menampakkan diri sebagai Roh Kudus, sehingga Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah penampakan diri Tuhan Allah yang secara berturut-turut. Akan tetapi tidaklah demikian penyataan Tuhan Allah menurut Alkitab. Sejak semula dan untuk selama-lamanya Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai pencipta, penyelamat dan pembebas umat-Nya. Sejak di Perjanjian Lama, Tuhan Allah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal itu semuanya diwujudkan dengan sejelas-jelasnya di dalam diri Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia.

Tuhan Allah adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus di dalam karya-Nya sejak semula hingga kini dan untuk selama-lamanya. Tuhan Allah adalah Tritunggal di dalam segala karya-Nya, baik di dalam penjadian, maupun di dalam penyelamatan dan pembebasan. Ia adalah Tritunggal dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, dahulu, sekarang, dan untuk selama-lamanya.

Mengenai anggapan adanya persamaan ajaran agama lain dengan ajaran Tritunggal ini, di bawah ini pembahasannya:

Pertama-tama di dalam Agama Hindu ada ajaran yang disebut Trimurti, yang di dalam agama Hindu Jawa disebut ajaran tentang Tri Purusa. Ajaran ini mengajarkan ada tiga bentuk (trimurti) dari zat yang mutlak (Brahman), yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di dalam kitab Mahabharata terdapat suatu ucapan yang masyhur, yaitu bahwa Prajapati menciptakan dalam bentuk Brahma, memelihara dalam bentuk manusia (Wisnu) dan merusak dalam bentuk Rudra, yaitu Siwa yang lain (Mahabharata III, 272, 46). Senada dengan ucapan di atas itu dikatakan mengenai Brahman, yaitu bahwa Brahman memiliki tiga penjelmaan, atma (jiwa perorangan), prakrti (alam) dan Isywara (Tuhan).

Di dalam prakteknya masing-masing mashab Hindu memiliki salah satu dewa menjadi dewanya yang tertinggi, sedang kedua dewa lainnya menjadi penjelmaannya, umpamanya mashab Siwa menganggap Siwa sebagai dewa yang tertinggi, yang identik dengan Brahman, dan yang kemudian demi kepentingan penciptaan, pemeliharaan dan pengrusakan, menjelma sebagai Brahma, Wisnu, dan Rudra.

Menurut keyakinan Hindu, dewa yang tertinggi, baik ia disebut Brahman, maupun Siwa, atau Wisnu, atau sebutan yang lain, dipandang sebagai Zat yang Mutlak, yang bebas dari segala hubungan dan sifat, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia. Jadi semacam tabiat ilahi dari Plato. Tokoh ini adalah zat yang transenden, yang tidak berbuat dan tidak berkehendak. Sebab seandainya zat ini berkehendak untuk berbuat, ia akan terikat kepada karma dan samsara. Oleh karena itu tokoh yang tertinggi ini memerlukan penjelmaan yang lebih kasar, yang lebih rendah untuk dapat berfungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur segala sesuatu. Itulah sebabnya ia menjelma dalam Brahma, Wisnu, dan Rudra. Ketiga penjelmaan ini dipandang sebagai bersamaan dengan perkembangan proses kosmos dengan hukumnya: lahir, berkembang, dan mati. Akan tetapi di dalam sistem yang mengerjakan, bahwa Brahman tidak terikat kepada pekerjaan, maka penjelmaan ini sebenarnya adalah khayalan belaka. Sebab dilihat dari pihak Brahman, penjelmaan ini tidak ada, penjelmaan ini hanya tampak sebagai penjelmaan jikalau dilihat dari pihak manusia.

Menurut anggapan orang India yang modern (Dr. S. Radhakrishnan), ajaran Trimurti mengajarkan tiga segi atau tiga aspek dari suatu kepribadian ilahi yang kompleks.

Jelas, bahwa pandangan agama Hindu tentang Trimurti atau Tri Purusa ini tiada sangkut-pautnya dengan pandangan Alkitab yang mengungkapkan hakekat Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan khayalan manusia, juga bukan khayalan Allah. Ketiga penyataan Allah itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya di dalam sejarah umat-Nya dan dialami oleh umat Allah sebagai kenyataan yang hidup.

Di dalam tasawwuf (umpamanya ajaran Abd. al-Karim al-Jili), Tuhan Allah dipandang sebagai zat yang mutlak atau zat yang akali secara murni, yang esa dalam arti filsafat, yaitu tanpa bagian dan tidak dibagi-bagi, tanpa sifat dan hubungan. Jadi hampir sama dengan ajaran Hindu mengenai Brahman. Dalam keadaan-Nya yang mutlak itu Tuhan disebut: kabut yang gelap (al-‘ama). Dalam keadaan yang mutlak ini Tuhan dapat disebut juga inti sari zat, yang memiliki aspek atau segi keluar, yaitu ahadiyya, di mana yang mutlak tadi sadar akan dirinya sebagai kesatuan. Ahadiyya ini memiliki dua aspek, yaitu huwiyya (ke-ia-an) yang menandai kesatuan batin, di mana yang mutlak sadar akan diri-Nya sebagai yang tidak jamak, dan aniyya (ke-aku-an), yang mewujudkan ungkapan ke luar dari huwiyya, yaitu kesatuan yang menyatakan diri dalam eksistensi di mana yang mutlak sadar akan diri-Nya sebagai kebenaran dari yang jamak.

Dapat dikatakan, bahwa di sini ada tiga macam kesadaran di dalam Tuhan Allah sebagai Yang Mutlak. Pertama-tama Tuhan sadar akan diri-Nya sebagai kesatuan yang murni dan esa (ahadiyya); kemudian Tuhan sadar akan diri-Nya sendiri sebagai yang mengandung di dalam-Nya yang jamak (huwiyya), dan akhirnya Tuhan sadar akan diri-Nya sebagai yang menyatakan yang jamak (aniyya).

Juga pandangan ini tidak dapat disamakan dengan ajaran Alkitab tentang Allah Tritunggal.

Di dalam Kebatinan Jaya ada satu aliran yang mengajarkan tentang ketritunggalan, yaitu Pangestu. Menurut Pangestu, Tuhan Allah yang Maha Esa itu disebut Tri Purusa, yang artinya: keadaan satu yang bersifat tiga, yaitu: Suksma Kawekas (Tuhan yang Sejati), yang di dalam bahasa Arab disebut Allah ta’ala, Suksma Sejati (Penuntun Sejati atau Guru Sejati), yaitu utusan Tuhan, dan akhirnya Roh Suci yaitu manusia sejati atau jiwa manusia sejati. Demikian disebutkan di dalam Kitab Sasangka Jati. Menurut Dr. Sumantri almarhum, ketiga sifat itu harus diterangkan sebagai tiga faset, dan harus diartikan demikian, bahwa Suksma Kawekas adalah Hidup Pertama dalam keadaannya yang masih tenang, tanpa gerak, tanpa kesadaran, seperti halnya dengan lautan sepi yang tanpa gelombang, atau seperti kata Hamzah Pansuri: seperti laut yang dalam. Suksma Sejati adalah Hidup Pertama dalam keadaannya yang aktif bekerja seperti lautan yang bergelombang. Adapun Roh Suci adalah Hidup Pertama yang melepaskan diri dari Tuhan, seperti halnya dengan titik air yang menguap melepaskan diri dari lautan yang bergelombang tadi, serta yang kemudian dipenjarakan di dalam tubuh.

Menurut Pangesti, Suksma Kawekas sama dengan Allah Bapa di dalam agama Kristen, Suksma Sejati sama dengan Allah Anak dan Roh Suci sama dengan Roh Suci di dalam ketritunggalan agama Kristen. Akan tetapi jelas, bahwa pendapat yang demikian bukan didasarkan atas penyelidikan yang seksama, sekalipun hal itu disebutkan di dalam Kitab Sasangka Jati.

Pertama harus dikemukakan, bahwa Pangestu tidak mengajarkan, bahwa hakekat Tuhan Allah adalah menjadi sekutu umat-Nya.

Kedua, sekalipun Pangestu mengatakan, bahwa Tuhan Allah memiliki tiga faset atau wajah, namun ternyata, menurut keterangan Dr. Sumantri, ketiga faset tadi adalah tiga pangkat dari tabiat ilahi atau ketuhanan yang makin lama makin rendah (lautan sepi yang tanpa gelombang, lautan gelombang, dan titik air yang menguap atau melepaskan diri dari lautan yang bergelombang). Oleh karena itu ajaran Pangesti ini sebenarnya adalah suatu ajaran emanasi, pengaliran ke luar dari zat ilahi, yang pada hakekatnya sama dengan ajaran Hindu tentang Brahman dan ajaran Tasawwuf tentang martabat.

Ketiga, Roh Suci di dalam ajaran Pangestu bukanlah daya ilahi yang dinamis, dengannya Allah hadir berbuat, melainkan bagian zat Allah yang dipenjarakan di dalam tubuh manusia.

Allah itu Esa

Bagi agama Islam, dosa yang tidak dapat diampuni ialah syirk, yaitu mempersekutukan Tuhan Allah. Dalam Sura 4:48 (terjemahan Departemen Agama) disebutkan, bahwa Tuhan Allah tidak akan mengampuni dosa syirk, sekalipun Tuhan Allah berkenan mengampuni segala dosa yang lain. Menurut para ulama Islam, orang Kristen berkesalahan terhadap syirk ini, karena mengajarkan tentang Allah yang Tritunggal. Menurut para ulama Islam, dosa orang Kristen ialah: menganggap bahwa di samping Allah ada yang berilmu, ada yang berkuasa, ada yang dapat disembah, dan bahwa orang dipandang sebagai dapat menyandarkan diri dan mempercayakan diri kepada yang lain daripada Allah.

Baik agama Islam maupun agama Kristen sebenarnya mengemukakan bahwa hanya ada Allah satu, dapat dibandingkan dengan keterangan tentang hakekat Allah yang diungkapkan dalam keesaan-Nya dalam tulisan sebelumnya. Hanya saja, memang ada perbedaan pendapat mengenai keesaan Allah ini. Ditinjau dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh para ulama Islam, diperoleh kesan bahwa yang ditekankan oleh mereka adalah keesaan dalam arti matematis. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, di dalam Alkitab yang ditekankan adalah keesaan dalam firman dan karya Tuhan Allah, keesaan yang bersifat etis, sehingga orang beriman diperingatkan supaya jangan hanya puas dengan percaya adanya Allah yang satu.

* Yakobus 2:19
LAI TB, Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”
KJV, Thou believest that there is one God; thou doest well: the devils also believe, and tremble.
TR, συ πιστευεις οτι ο θεος εις εστιν καλως ποιεις και τα δαιμονια πιστευουσιν και φρισσουσιν
Translit, su pisteueis hoti ho theos heis estin kalôs poieis kai ta daimonia pisteuousin kai phrissousin

Orang beriman diperingatkan supaya imannya disertai perbuatan.

Ada banyak ayat di dalam Al~Qur’an yang menentang dipersekutukannya Tuhan Allah. akan tetapi sebenarnya Alkitab tidak mengajarkan apa yang dituduhkan oleh Al~Qur’an. Di dalam Alkitab tiada soal tentang mempersekutukan Allah.

Apakah arti kepercayaan kepada Allah Tritunggal di dalam hidup kekristenan?

Setelah dibicarakan isi pandangan Alkitab tentang Allah Tritunggal, baiklah dibicarakan hal arti kepercayaan kepada Allah Tritunggal itu di dalam hidup kekristenan. Adakah arti itu? Atau, apakah ajaran tentang Allah Tritunggal itu sebenarnya hanya suatu sport otak saja? Adakah perbedaan antara hidup keagamaan orang yang percaya benar-benar, bahwa Allah adalah Tritunggal dengan hidup keagamaan orang yang tidak percaya bahwa Allah adalah Tritunggal? Pembicaraan soal ini cukup penting sebab jika seandainya tiada perbedaan dalam praktek hidup keagamaan di antara dua golongan itu, tiada gunanya untuk bersusah-payak membicarakan persoalan Allah Tritunggal itu.

Menurut Alkitab, manusia dijadikan segambar dan serupa dengan Allah, yang berarti, bahwa hidup manusia dihubungkan dengan Allahnya. Maka bagi kehidupan manusia itu ada suatu soal yang penting sekali, yaitu: dengan Allah yang bagaimanakah ia menghubungkan diri?

Pertama-tama perlu dikemukakan, bahwa ajaran Alkitab tentang Allah yang Tritunggal itu memperkenalkan Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya, artinya: sebagai Allah yang memihak, membali serta mencari keselamatan manusia.

Ajaran Deisme mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah Yang Mahatinggi, Yang Mahakuasa, dan Yang Mahaadil, dalam arti, bahwa Allah adalah yang transenden, yang menjadikan dunia dengan segala isinya serta yang akan mengadilinya. Sebagai Yang Mahatinggi, Allah adalah jauh dari manusia. Hubungan antara Tuhan Allah dan manusia lebih sebagai Raja diraja dengan hamba-hamba-Nya yang hina-dina. Memang, di dalam sistem ini Tuhan Allah juga memberi petunjuk tentang bagaimana manusia dapat menghambakan diri kepada Allahnya, akan tetapi pada akhirnya manusia sendirilah yang harus memeras segala tenaga untuk dapat memperkenankan hati Allahnya, guna menghindarkan diri dari Hakim yang tertinggi yang Mahaadil itu.

Di sini Tuhan Allah bagi manusia menjadi sedemikian jauh dan abstrak sehingga akhirnya tidak akan memuaskan akal manusia.

Sebaliknya, ajaran Pantheisme, yang termasuk di dalamnya ajaran kebatinan, mengajarkan, bahwa Allah berada di mana-mana seperti api berada di dalam kayu yang dibakarnya. Di sini Tuhan Allah bukan jauh di atas manusia, melainkan dekat sekali dengan manusia, bahkan sedemikian dekat hingga tiada lagi perbedaan antara Allah dan manusia. Manusia pada hakekatnya adalah Allah sendiri, sehingga sebenarnya tiada lagi hidup keagamaan. Di dalam persekutuan antara Allah dan manusia pada akhirnya tiada perbedaan antara Yang Disembah dan yang menyembah. Juga di sini ada jalan kelepasan, yaitu dengan melalui pengekangan hawa nafsu dan sebagainya, akan tetapi pada akhirnya juga manusia sendirilah yang harus mengerahkan segala tenaganya demi keselamatannya.

Kedua ajaran tersebut berbeda sekali dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan tentang Allah di dalam penyataan-Nya. Sebab ajaran Alkitab itu mengajarkan, bahwa Allah yang esa di dalam firman dan karya-Nya itu di satu pihak memang berbeda sekali dengan manusia, akan tetapi di lain pihak Allah juga dekat sekali dengan manusia. Tuhan Allah bukan hanya memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Mahakuasa, Pencipta dan Pemelihara serta Hakim seluruh umat manusia, akan tetapi Tuhan Allah juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Penyelamat dan pembebas umat-Nya. Ia adalah sekutu umat-Nya, bukan sembarang sekutu, melainkan sekutu yang demikian setia, sehingga sekalipun umat-Nya karena dosa-dosanya tidak setia dan tidak layak, namun sebagai Bapa Tuhan Allah tetap memihak kepada umat manusia sebagai anak-anak-Nya, serta menyelamatkannya di dalam Kristus, serta menyempurnakannya di dalam Roh Kudus.

Kedua, perlu dikemukakan, bahwa ajaran Alkitab tentang penyataan Allah sebagai yang Bapa, Anak dan Roh Kudus itu penting bagi pengenalan akan pekerjaan Tuhan Allah.

Apakah umpamanya arti penciptaan bagi ajaran Deisme? Apa sebab Tuhan Allah yang Mahatinggi, yang jauh dari manusia itu menciptakan dunia ini? Untuk apa Tuhan Allah menciptakan dunia? Sebenarnya di dalam ajaran Deisme tiada jawaban yang tepat mengenai persoalan ini. Penciptaan seolah-olah hanya mewujudkan hal yang kebetulan saja.

Juga Pantheisme tidak dapat menjawab persoalan ini dengan tepat. Penciptaan bagi Pantheisme justru menjadi sebabnya Tuhan Allah atau Yang Ilahi dipenjara di dalam benda.

Akan tetapi ajaran Alkitab tentang Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus itu memberi arti kepada penciptaan dunia ini secara mendalam sekali. Di sini tidak mungkin penciptaan dunia ini hanya mewujudkan suatu kejadian yang kebetulan saja, atau suatu nasib buruk. Dunia ada karena dikehendaki Tuhan Allah. Ia menjadikan dunia dengan segala isinya untuk memuliakan nama-Nya. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Dunia sebagai hasil karya Allah adalah baik. Manusia diperkenankan, bahkan dipanggil untuk mempergunakan dunia ini dengan segala isinya guna memuliakan Tuhan Allah. “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan atas burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. ” Dunia ini bukan sumber kejahatan. Alam dan anugerah tidaklah bertentangan, demikian juga hal penciptaan dan pembaharuan penciptaan.

Oleh karena Bapa dan llah Anak adalah satu di dalam karya-Nya, maka keduanya tidak saling bertentangan. Barangsiapa yang telah dipilih oleh Bapa, tentu diselamatkan oleh Anak, oleh karena pemilihan Bapa itu dilakukan di dalam Anak-Nya. Pemeliharaan Bapa atas umat-Nya membantu keselamatan umat-Nya itu. Maka orang yang beriman dapat yakin, bahwa Tuhan Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan baginya.

Oleh karena Anak dan Roh adalah satu di dalam karya-Nya, maka tiada pertentangan antara karya penyelamatan Kristus dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab sebagai kesaksian akan karya penyelamatan Kristus tidak bertentangan dengan pimpinan Roh yang diberikan di dalam hidup orang beriman. Sebab Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada orang beriman semua yang telah dikatakan Tuhan kepadanya.

Ketiga, ajaran Alkitab tentang Allah yang menyatakan dirinya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah penting bagi pengalaman orang beriman tentang Allah itu.

Orang memeluk ajaran Deisme mengalami Tuhan Allah sebagai Allah yang jauh tinggi daripada manusia, sedang orang Pantheis mengalami Allah sebagai Allah yang ada di dalamnya semata-mata.

Menurut Alkitab, oleh karena Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, maka orang beriman mengalami-Nya pertama-tama sebagai Yang Kudus, yang terpisah dari segala dosa, yang oleh karenanya jauh lebih tinggi daripada manusia dosa dan harus ditakutinya. Selain itu, Tuhan Allah juga dialami sebagai Yang Mahatinggi dan Mahamulia, kepada-Nya semua orang beriman merasa tergantung. Demikian juga Tuhan Allah dialami sebagai Raja diraja yang wajib ditaati dan disembah secara sempurna. Akan tetapi di samping itu semua orang beriman mengalami Tuhan Allah sebagai teman, sebagai penolong, yang melepaskan mereka dari segala kesengsaraan, yang sanggup memikul segala hukuman mereka. Tuhan Allah bukan hanya Yang Mengadili orang beriman, akan tetapi Ia juga Yang mengulurkan tangan-Nya untuk keselamatan mereka. Bahkan Tuhan Allah juga adalah Yang Mahadekat dengan mereka di dalam diri mereka. Karena Roh Kudus maka Allah juga yang menjadi Yang berdiam di dalam orang beriman. Yang menjadi penasehat mereka. Ia adalah hidup orang beriman. Di sinilah dapat dimengerti akan kata-kata rasul Paulus ini:

* Roma 8:31
LAI TB, Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
KJV, What shall we then say to these things? If God be for us, who can be against us?
TR, τι ουν ερουμεν προς ταυτα ει ο θεος υπερ ημων τις καθ ημων
Translit, ti oun eroumen pros tauta ei ho theos huper hêmôn tis kath hêmôn

* Roma 8:32
LAI TB, Ia, yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
KJV, He that spared not his own Son, but delivered him up for us all, how shall he not with him also freely give us all things?
TR, ος γε του ιδιου υιου ουκ εφεισατο αλλ υπερ ημων παντων παρεδωκεν αυτον πως ουχι και συν αυτω τα παντα ημιν χαρισεται
Translit, hos ge tou idiou huiou ouk epheisato all huper hêmôn pantôn paredôken auton pôs oukhi kai sun autô ta panta hêmin kharisetai
Agama Kristen berdiri dan jatuh bersama-sama dengan pengakuan kepada Allah yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ajaran ini adalah inti iman Kristen, dasar segala ajaran Kristen. Maka orang Kristen akan senantiasa memuji, “Hormat bagi Allah Bapa, hormat bagi Anak-Nya, hormat bagi Roh Penghibur, ketiganya yang Esa. Haleluya, haleluya, ketiganya yang Esa.”

 

Selesai.