When good things happen, we’ll see. When bad things happen, we’ll see.

Human life and its feelings are fluctuated like riding through mountainous landscape, it is easy to swift from peak to valley and back to peak again. When reaching a valley, sometimes we found a very deep one that make us think this is must be the deepest valley. But after continuing riding, we found another valley that apparently deeper than before. When we are deliberated from the scary valley and reaching a higher plateau land, we are abundant with joy that sometime make us think this is a final step, from now on everything is going to be good, we will be always in peak, without anticipated that another big hole waiting for us ahead.

What is the point of all of this? and how can we deal with this? Here a very good script from a series “David” by super deluxe channel. This 5 episode series, telling about the misery life of David (portrayed by Nathan Fielder) in slightly comedic way. David is a young but lonely and desperate guy who has to deal with illness, being fire from job, financial problem, and bad relationship with his ex wife. In the series finale, David try to hangs himself from a tree, until a sound from an invisible man telling him a story, below.

David I’m going to tell you a story. A poor man saved up and bought his son a beautiful white horse, even though he was very poor. One day the horse ran away, and the townspeople already told him, ha ha, you idiot. Spending all that money on a horse, now look you have nothing at all. But the old man just said, we will see.

The next day, the horse returned, bringing with him ten more beautiful white horses. And the people all said, you lucky as$hole. Look how many horses you have now. You are practically swimming in horses. But the old man said the same thing, we’ll see.

The next week the man’s son was grooming the horses when suddenly one of the horses kicked him square in the chest, which spooked the other horses, and they all trampled him to a pulp. At the hospital the townspeople saw the old man visiting his son and said, ha ha, you old bastard. That is for having so many horses in the first place, for rubbing your good fortune in our faces. And the old man said, we’ll see.

At the end of that year, war broke out with a neighboring country and all of the able bodied young men were drafted into the military. Except when they came to take the old man’s son, they saw that his bones had not healed properly. His nose was way off to one side. He had a twisted spine. And one of his legs was shaped basically like a staircase. Obviously he was deemed unfit for military service. And after the war the townspeople said, old man goddammit, you must be lucky after all. Our boys were taken to the front lines where they were cut down by artillery fire and mailed back to us in horrible little boxes. But you, you still have your son. And that was true. He did still have his son. But guess what the old man said. We’ll see ? Right.

There is a saying in the woods, David. Good timber isn’t born with ease, the stronger the breeze the stronger the trees. Seed your misfortunes, grow them into something worthwhile. Focus on each individual moment. And beauty and joy will begin to reveal themself to you, even in the unlikeliest of places. In some tree, for example, around your head, on a hill, under a bridge. Behind you, below your feet.

What a message! No more words need to explain it.

Janteloven (Law of Jante)

Janteloven is a list of 10 rules that considerably govern how Scandinavians should think about one another. Janteloven translated into English means “The Law of Jante”. Jantelov idea was created in 1933 by a Norwegian-born Danish author by the name of Aksel Sandemose via his book ‘En Flytning Krysser Sitt Spor’ (A fugitive crosses his tracks).

Translation of Janteloven in English :

  1. You’re not to think you are anything special.
  2. You’re not to think you are as good as us.
  3. You’re not to think you are smarter than us.
  4. You’re not to convince yourself that you are better than us.
  5. You’re not to think you know more than us.
  6. You’re not to think you are more important than us.
  7. You’re not to think you are good at anything.
  8. You’re not to laugh at us.
  9. You’re not to think anyone cares about you.
  10. You’re not to think you can teach us anything.

Personally, I found these rules are awesome and totally match with my point of view about self-pride. If I look and ponder these rules, I found some gems behind them. These rules refrain someone from “judging a book by its cover,” as the rules encourage assuming that he/she is no better than the person he/she is meeting. These rules also make individual success and achievement are unworthy and inappropriate to show to society. Just giving your best on something and no need to  “advertise” it because there is nothing special on it, even the result looks great. Always keep in mind that It just something that have to do, which is providing best effort in every tasks. Finally, these rules teach how to achieve true happiness. We must first look to ourselves to find happiness before comparing to outside factors such as co-workers or salary.

Biografi Martin Luther

Martin Luther

Dilahirkan pada 10 November 1483 dalam sebuah keluarga petani di Eisleben, Thuringen, Jerman, Luther beroleh nama Martinus pada 11 November 1483 ketika dibaptiskan. Ayahnya bernama Hans Luther dan ibunya bernama Margaretta. Keluarga Luther adalah keluarga yang saleh seperti biasanya golongan petani di Jerman.

Luther mendapatkan pendidikan dasarnya di Mansfeld, sebuah kota di mana ayahnya terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mansfeld, setelah pindah ke sana pada 1484. Pendidikan menengah dikecapnya di Magdeburg di sebuah sekolah yang diasuh oleh “saudara-saudara yang hidup rukun” (Broederschap des gemenen levens).

Pada tahun 1501 Luther memasuki Universitas Erfurt, suatu universitas terbaik di Jerman pada masa itu. Di sini ia belajar filsafat terutama filsafat Nominalis Occam dan teologia skolastika, serta untuk pertama kalinya Luther membaca Alkitab Perjanjian Lama yang ditemukannya dalam perpustakaan universitas tersebut. Orang tuanya menyekolahkan Luther di sekolah ini untuk persiapan memasuki fakultas hukum. Mereka menginginkan agar anak mereka menjadi seorang ahli hukum.

Pada tahun 1505 Luther menyelesaikan studi persiapannya dan sekarang ia boleh memasuki pendidikan ilmu hukumnya. Namun, pada 2 Juni 1505 terjadi suatu peristiwa yang membelokkkan seluruh kehidupannya. Dalam perjalanan pulang dari Mansfeld ke Erfurt tiba-tiba turun hujan lebat yang disertai dengan guntur dan kilat yang hebat. Luther sangat ketakutan. Ia merebahkan dirinya ke tanah sambil memohon keselamatan dari bahaya kilat. Luther berdoa kepada Santa Anna, yaitu orang kudus yang dipercayai sebagai pelindung dari bahaya kilat sebagai berikut.

“Santa Anna yang baik, tolonglah aku! Aku mau menjadi biarawan.”

Pada 16 Juli 1505 ia memasuki biara Serikat Eremit Augustinus di Erfurt dengan diiringi oleh sahabat-sahabatnya. Orang tuanya tidak turut mengantarkannya karena mereka tidak menyetujui keputusan Luther tersebut.

Luther berusaha untuk memenuhi peraturan-peraturan biara melebihi para biarawan lainnya. Ia banyak berpuasa, berdoa, dan menyiksa diri sehingga terlihat paling saleh dan rajin di antara semua para biarawan. Ia mengaku dosanya di hadapan imam setidaknya sekali seminggu. Dalam setiap ibadah doa, Luther mengucapkan 27 kali doa Bapa Kami dan Ave Maria. Luther membaca Alkitab dengan rajin dan teliti. Semua itu diperbuatnya untuk mencapai kepastian tentang keselamatannya. Sebenarnya, Luther mempunyai pergumulan yang berat, yaitu bagaimana memperoleh seorang Allah yang rahmani. Gereja mengajarkan bahwa Allah adalah seorang hakim yang akan menghukum orang yang tidak benar dan melepaskan orang yang benar. Luther merasa ia tidak mungkin menjadi orang yang benar. Ia pasti mendapat hukuman dari Allah yang akan bertindak sebagai hakim itu. Meski telah menjadi biarawan pergumulan rohani itu tidak kunjung selesai. Pergumulannya ini diceritakannya kepada pimpinan biara di Erfurt, yaitu Johann von Staupitz. Johann von Staupitz menasihatkannya agar tidak memikirkan apakah ia diselamatkan atau tidak. Yang penting adalah percaya kepada rahmat Kristus dan memandang pada luka-luka Kristus.

Sementara Luther bergumul mencari Allah yang rahmani itu, Luther ditahbiskan menjadi imam pada 2 Mei 1507. Orang tua serta beberapa sahabatnya hadir pada upacara penahbisan tersebut, serta menerima ekaristi pertama yang dilayani oleh Martin Luther. Kemudian Johann von Staupitz mengirim Luther untuk belajar teologia di Wittenberg sambil mengajar filsafat moral di sana. Itulah sebabnya, Luther dipindahkan ke biara Augustinus di Wittenberg pada tahun 1508. Namun setahun kemudian, ia kembali lagi ke Erfurt untuk mengajar dogmatika.

Di biara Erfurt, Luther mendapat kepercayaan dari pimpinan biara di Jerman untuk membahas peraturan-peraturan serikatnya di Roma pada tahun 1510. Luther sangat gembira karena dengan demikian ia akan berhadapan muka dengan Bapa Suci di Roma, serta berziarah ke tempat-tempat kudus dan berdoa di tangga Pilatus untuk pembebasan jiwa kakeknya dari api penyucian.

Luther ditemani oleh seorang biarawan serta seorang bruder berjalan kaki dari Erfurt ke Roma. Di Roma Luther tinggal selama empat minggu lamanya. Luther mengunjungi tempat-tempat kudus dan dengan lutut yang telanjang merangkak naik Scala Santa sambil mendoakan jiwa kakeknya di api penyucian. Scala Santa ini adalah sebuah tangga naik yang terdiri dari 28 anak tangga yang dipercayai sebagai tangga Pilatus yang dipindahkan dari Yerusalem ke Roma.

Di Roma Luther melihat keburukan-keburukan yang luar biasa. Para klerus hidup seenaknya saja. Nilai-nilai kekristenan sangat merosot di kota suci ini. Dalam kekecewaannya Luther berkata, “Jika seandainya ada neraka, berarti Roma telah dibangun di dalam neraka”. Luther telah mempunyai kesan bahwa dahulu Roma adalah kota yang tersuci di dunia, namun kini menjadi yang terburuk. Roma dibandingkannya dengan Yerusalem pada zaman nabi-nabi. Sekalipun demikian, kepercayaan Luther terhadap Gereja Katolik Roma tidak tergugat.

Setelah kembali dari Roma, Luther pindah ke biara di Wittenberg pada tahun 1511. Ia tinggal di sini sampai ia meninggal. Atas dorongan Johann von Staupitz, Luther belajar lagi sampai memperoleh gelar doktornya pada tahun 1512. Johann von Staupitz melihat bahwa Luther adalah seorang yang sangat pandai sehingga dianggap cocok untuk menjadi mahaguru. Di Wittenberg telah dibuka sebuah universitas baru oleh Frederick III yang Bijaksana pada tahun 1502. Frederick bersimpatik dengan Luther tatkala Frederick mendengar khotbah Luther sehingga ia mengangkat Luther menjadi mahaguru pada universitasnya itu. Selain itu, Luther diangkat menjadi pengawas dan pengurus dari sebelas biara serikatnya di Jerman.

Di Universitas Wittenberg Luther mulai mengajarkan tafsiran kitab Mazmur, kemudian surat Roma, Galatia, dan surat Ibrani. Sementara itu, pergumulan rohaninya mencari Allah yang rahmani terus berjalan. Barangkali pada tahun 1514 Luther menemukan jalan ke luar dari pergumulannya itu. Ia menemukan pengertian yang baru tentang perkataan-perkataan Paulus dalam Roma 1:16-17. Luther mengartikan kebenaran Allah sebagai rahmat Allah yang menerima orang-orang yang berdosa serta berputus asa terhadap dirinya, tetapi yang menolak orang-orang yang menganggap dirinya baik. Kebenaran Allah adalah sikap Allah terhadap orang-orang berdosa yang membenarkan manusia berdosa karena kebenaran-Nya. Tuhan Allah mengenakan kebenaran Kristus kepada manusia berdosa sehingga Tuhan Allah memandang manusia berdosa sebagai orang-orang benar. Tentang penemuannya itu Luther menulis, “Aku mulai sadar bahwa kebenaran Allah tidak lain daripada pemberian yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk memberi hidup kekal kepadanya; dan pemberian kebenaran itu harus disambut dengan iman. Injillah yang menyatakan kebenaran Allah itu, yakni kebenaran yang diterima oleh manusia, bukan kebenaran yang harus dikerjakannya sendiri. Dengan demikian, Tuhan yang rahmani itu membenarkan kita oleh rahmat dan iman saja. Aku seakan-akan diperanakkan kembali dan pintu firdaus terbuka bagiku. Pandanganku terhadap seluruh Alkitab berubah sama sekali karena mataku sudah celik sekarang.” Luther menyampaikan penemuannya itu di dalam kuliah-kuliahnya.

Penemuan Luther ini tidak menjadi titik meletusnya gerakan reformasi Luther. Titik meletusnya gerakan reformasi Luther adalah masalah penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa) pada masa pemerintahan Paus Leo X untuk pembangunan gedung Gereja Rasul Petrus di Roma dan pelunasan hutang Uskup Agung Albrecht dari Mainz. Dengan memiliki Surat Indulgensia, dengan cara membelinya, seseorang yang telah mengaku dosanya di hadapan imam tidak dituntut lagi untuk membuktikan penyesalannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan para penjual Surat Indulgensia (penghapusan siksa) melampaui batas-batas pemahaman teologis yang benar dengan mengatakan bahwa pada saat mata uang berdering di peti, jiwa akan melompat dari api penyucian ke surga, bahkan dikatakan juga bahwa surat itu dapat menghapuskan dosa.

Luther tidak dapat menerima praktik seperti itu dengan berdiam diri saja. Hatinya memberontak. Itulah sebabnya ia mengundang para intelektual Jerman untuk mengadakan perdebatan teologis mengenai Surat Indulgensia. Untuk maksud itu Luther merumuskan 95 dalil yang ditempelnya di pintu gerbang gereja istana Wittenberg, 31 Oktober 1517. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai Hari Reformasi.

Kehidupan Martin Luther

Dalil-dalil Luther sudah tersebar di seluruh Jerman hanya dalam sebulan. Akibatnya, Surat Indulgensia tidak laku lagi dan Luther dianggap sebagai penyebabnya. Paus Leo X menuntut agar Luther menarik kembali ajarannya yang sesat itu. Luther membalas permintaan Paus dengan memberi menjelaskan maksud setiap dalilnya dengan penuh penghormatan. Namun, Paus memerintahkan kepada Luther untuk menghadap hakim-hakim Paus di Roma dalam waktu enam puluh hari. Ini berarti bahwa Luther akan dibunuh.

Beruntunglah Frederick yang Bijaksana melindungi mahagurunya. Ia meminta kepada Paus agar Luther diperiksa di Jerman dan permintaan ini dikabulkan. Paus mengutus Kardinal Cajetanus untuk memeriksa Luther pada tahun 1518. Cajetanus meminta Luther menarik kembali dalil-dalilnya, namun Luther tidak mau. Cajetanus pun gagal dalam misinya.

Gerakan Reformasi Luther berjalan terus. Banyak kota dan wilayah Jerman memihak kepada Luther dan nama Luther mulai terkenal di luar Jerman. Kaum humanis, para petani Jerman bersimpatik kepadanya. Perdebatan teologis tentang Surat Indulgensia sebagaimana dimaksudkan dengan dalil-dalilnya tidak terjadi. Perdebatan itu baru terjadi pada bulan Juni 1519, di Leipzig. Dalam perdebatan ini Luther berhadapan dengan Johann Eck disertai oleh Carlstadt, rekan mahagurunya di Wittenberg. Dalam perdebatan ini Luther mengatakan bahwa paus-paus tidak bebas dari kesalahan-kesalahan. Konsili pun tidak luput dari kekeliruan-kekeliruan. Luther menunjuk kepada Konsili Constanz yang memutuskan hukuman mati atas Johanes Hus. Johann Eck menuduh Luther sebagai pengikut Johanes Hus. Dalam perdebatan ini pokok perdebatan telah bergeser dari Surat Indulgensia ke kekuasaan Paus. Menurut Luther yang berkuasa di kalangan orang-orang Kristen bukanlah Paus atau konsili, tetapi firman Allah saja. Kini Luther sudah siap untuk menerima kutuk dari Paus.

Sementara menunggu kutuk Paus, Luther menulis banyak karangan yang menjelaskan pandangan-pandangan teologianya. Tiga karangannya yang terpenting adalah “An den christlichen Adel deutscherNation: von des christlichen Standes Bessening” (Kepada kaum Bangsawan Kristen Jennan tentang perbaikan Masyarakat Kristen), 1520; “De Captivitate Babylonica Ecclesiae” (Pembuangan Babel untuk Gereja), Oktober 1520; “Von der Freiheit eines Christenmenschen” (Kebebasan seorang Kristen), 1520.

Tanggal 15 Juni 1520, bulla (surat resmi) ekskomunikasi dari Paus keluar. Bulla itu bernama “Exurge Domine”. Paus menyatakan bahwa dalam pandangan-pandangan Luther terdapat 41 pokok yang sesat. Ia meminta kepada Luther menarik kembali dalam tempo 60 hari dan jika tidak ia akan dijatuhi hukuman gereja. Namun, Luther membalas bulla itu dengan suatu karangan yang berjudul “Widder die Bullen des Endchrists” (Melawan bulla yang terkutuk dari si Anti-Krist). Pada 10 Desember 1520 Luther membakar bulla Paus tersebut bersama-sama dengan Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik Roma di depan gerbang kota Wittenberg dengan disaksikan oleh sejumlah besar mahasiswa dan mahaguru Universitas Wittenberg. Tindakan ini merupakan tanda pemutusan hubungannya dengan Gereja Katolik Roma. Kemudian keluarlah bulla kutuk Paus pada tanggal 3 Januari 1521. Luther kini berada di bawah kutuk gereja.

April 1521, Kaisar Karel V mengadakan rapat kekaisaran di Worms. Luther diundang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya dan karangan-karangannya. Kaisar Karel V menjanjikan perlindungan atas keselamatan jiwa Luther. Pada 18 April 1521, Luther mengadakan pembelaannya. Wakil Paus meminta agar Luther menarik kembali ajaran- ajarannya, namun Luther tidak mau. Kaisar Karel V ingin menepati janjinya kepada Luther sehingga sebelum rapat menjatuhkan keputusan atas dirinya, Luther diperintahkan untuk meninggalkan rapat. Pada 26 Mei 1521, dikeluarkanlah Edik Worms yang berisi antara lain: Luther dan para pengikutnya dikucilkan dari masyarakat; segala karangan Luther harus dibakar; dan Luther dapat ditangkap dan dibunuh oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun juga.

Ketika Luther melintasi hutan, tiba-tiba ia disergap oleh pasukan kuda yang bersenjata. Luther dibawa untuk disembunyikan di istana Wartburg atas perintah Frederick yang Budiman. Di sini Luther tinggal selama sepuluh bulan dengan memakai nama samaran Junker Georg. Di sini pulalah Luther mengerjakan terjemahan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani (naskah asli PB) ke dalam bahasa Jerman.

Sementara Luther bersembunyi di Wartburg terjadilah huru-hara di Wittenberg. Carlstadt muncul ke depan. Ia menilai bahwa Luther tidak berusaha untuk menghapus segala sesuatu yang berbau Katolik Roma. Ia menyerang hidup membiara dan menganjurkan agar para biarawan menikah. ia sendiri melayani misa dengan pakaian biasa dan roti serta anggur diberi kepada umat. Perubahan-perutahan ini memang didukung Luther. Tetapi kemudian Carlstadt dipengaruhi oleh nabi-nabi dari Zwickau yang bersifat radikal. Mereka menyerbu gedung-gedung gereja, menghancurkan altar-altar gereja, salib-salib, patung-patung, dan sebagainya. Huru-hara ini tidak dapat dikendalikan oleh Frederick yang Budiman. Luther mendengar huru-hara ini dan segera menuju Wittenberg. Luther berkhotbah selama seminggu di Wittenberg untuk meneduhkan suasana kota. Ia mengecam tindakan kekerasan serta radikal itu. Menurut Luther pembaharuan gereja tidak dapat dilakukan dengan kekerasan atau dengan jalan revolusi. Luther menghardik Carlstadt sehingga ia pergi ke Swiss.

Lutheran Rose, simbol yang umum untuk Gereja Lutheran

Pada tahun 1525 terjadilah pemberontakan petani di bawah pimpinan Muntzer. Luther mengecam dengan keras pemberontakan ini. Ia mengajak agar para bangsawan memadamkan pemberontakan ini. Dengan demikian Luther memisahkan dirinya dengan golongan-golongan radikal. Setelah pemberontakan itu, Luther menikah dengan Katharina von Bora, seorang bekas biarawati, pada tahun yang sama.

Perkembangan reformasi Luther berkembang dengan pesat. Namanya bukan saja terkenal di Jerman tetapi juga di luar negeri. Pada tahun 1537 Luther menulis suatu karangan yang berjudul “Pasal-Pasal Smalkalden” yang menguraikan pokok-pokok iman gereja reformatoris. Untuk keperluan jemaat dan pemimpin gereja (pendeta), Luther menyusun Katekismus Kecil dan Katekismus Besar. Ia kemudian meninggal pada 18 Februari 1546 dalam usia 62 tahun di Eisleben.

Artikel disalin tanpa ada perubahan teks dari : 

http://biokristi.sabda.org/martin_luther_1483_1546

 

17 Tanda-tanda Kurangnya Kerendahan Hati Menurut Josemaria Escriva

Berikut adalah daftar tanda-tanda kurangnya kerendahan hati menurut (St.) Josemaria Escriva, yang menurut saya sangat baik untuk direnungkan :  

  • Thinking that what you do or say is better than what others do or say (Berpikir bahwa apa yang dikatakan atau dilakukan lebih baik dari apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain)
  • Always wanting to get your own way (Selalu ingin menuruti kemauan sendiri)
  • Arguing when you are not right or — when you are — insisting stubbornly or with bad manners (Berdebat dengan keras kepala dan dengan sikap yang kurang baik tanpa peduli benar atau salah)
  • Giving your opinion without being asked for it (Menyatakan pendapat ketika tidak diminta)
  • Despising the point of view of others (Memandang rendah pendapat orang lain)
  • Not being aware that all the gifts and qualities you have are on loan (Tidak menganggap bakat-bakat serta kemampuan diri sebagai pinjaman dari Tuhan)
  • Not acknowledging that you are unworthy of all honour or esteem, even the ground you are treading on or the things you own (Tidak menyadari bahwa diri sendiri tidak layak atas segala penghargaan dan pujian, bahkan tidak atas bumi tempatnya berpijak dan atas barang-barang yang dimiliki)
  • Mentioning yourself as an example in conversation (Membicarakan diri sendiri sebagai contoh dalam percakapan-percakapan)
  • Speaking badly about yourself, so that they may form a good opinion of you, or contradict you (Berbicara buruk tentang diri sendiri sehingga orang lain kagum atau menyanggah dengan pujian)
  • Making excuses when rebuked (Membela diri apabila ditegur)
  • Hiding some humiliating faults from your director, so that he may not lose the good opinion he has of you (Menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang memalukan dari pembimbing rohani, sehingga kesan baiknya terhadapmu tidak berkurang)
  • Hearing praise with satisfaction, or being glad that others have spoken well of you (Senang menerima pujian dan penghargaan)
  • Being hurt that others are held in greater esteem than you (Sedih karena orang lain lebih dihargai)
  • Refusing to carry out menial tasks (Menolak melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh)
  • Seeking or wanting to be singled out (Berusaha menonjolkan diri)
  • Letting drop words of self-praise in conversation, or words that might show your honesty, your wit or skill, your professional prestige (Mempercakapkan kejujuran, kecerdasan, kecakapan atau gengsi jabatan diri sendiri)
  • Being ashamed of not having certain possessions (Merasa malu atas kekurangan diri sendiri)

 

Lord have mercy on us 

Christ have mercy on us 

Lord have mercy on us 

Cara-cara Mempraktekkan Kerendahan Hati Menurut Ibu Theresa Calcutta

Kerendahan hati merupakan ibu dari semua kebaikan, kemurnian, kedermawanan, dan kepatuhan. 

Berikut daftar cara-cara mepraktekkan kerendahan hati oleh Ibu Theresa Calcutta yang dapat kita teladani dan renungkan : 

  • Speak as little as possible about yourself.
  • Keep busy with your own affairs and not those of others.
  • Avoid curiosity.
  • Do not interfere in the affairs of others.
  • Accept small irritations with good humor.
  • Do not dwell on the faults of others.
  • Accept censures even if unmerited.
  • Give in to the will of others.
  • Accept insults and injuries.
  • Accept contempt, being forgotten and disregarded.
  • Be courteous and delicate even when provoked by someone.
  • Do not seek to be admired and loved.
  • Do not protect yourself behind your own dignity.
  • Give in, in discussions, even when you are right.
  • Choose always the more difficult task.

 

Lord have mercy on us 

Christ have mercy on us 

Lord have mercy on us

Ajaran Tentang Tuhan (Pandangan Kristen Protestan) Bagian 3

Tulisan dibawah ini merupakan salinan dari web http://www.sarapanpagi.org/ajaran-tentang-tuhan-allah-vt24.html tanpa ada penambahan apapun.

Bagian 3

 

 

  • Allah Menjadi Sekutu Umat-Nya, Manusia Menjadi Sekutu Allah

Telah dikemukakan sebelumnya, bahwa Alkitab tidak mengajarkan adanya suatu tabiat ilahi (divine nature), yang berdiri sendiri, yang bersifat akali atau rohani dalam arti tidak berwujud karena halusnya. Hakekat Tuhan Allah, menurut Alkitab, adalah menjadi sekutu umat-Nya, seperti hakekat manusia adalah menjadi sekutu Allah. Hakekat Tuhan Allah yang demikian itu diungkapkan atau dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya.

Hakekat Tuhan Allah yang satu itu, yaitu menjadi sekutu umat-Nya, dinyatakan atau diperkenalkan dengan bermacam-macam cara, umpamanya: sebagai Yang Mahatinggi, Yang Kudus, Yang Esa, dan sebagainya. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah juga wujud penyataan Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya tadi, yang dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya. Oleh karena itu maka kiranya keliru, jika kita mengira bahwa ungkapan Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu seolah-olah sebagai ungkapan yang dengan tiba-tiba dipergunakan di dalam Perjanjian Baru. Hal ini sama halnya dengan ungkapan-ungkapan yang lain, yang mengungkapkan hakekat Tuhan Allah tadi (kudus, kekal, dan lain sebagainya). Baik Yesus maupun para rasul, jika mempergunakan ungkapan-ungkapan itu tentu mendasarkan kepada apa yang telah dinyatakan oleh Tuhan Allah di dalam Perjanjian Lama. Oleh karena itu kita harus mulai dari meneliti arti ungkapan-ungkapan itu di dalam Perjanjian Lama, sesudah itu artinya di dalam Perjanjian Baru, untuk kemudian mengambil kesimpulan yang sesuai dengan yang dimaksud oleh Alkitab.

Bahwa Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri sebagai Bapa telah didapatkan di dalam Perjanjian Lama.

Dalam Ulangan 32:6 Musa berkata kepada umat Israel di dalam nyanyiannya, “Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?” Di dalam bagian Alkitab ini Musa mengingatkan kepada Israel, bahwa Tuhan Allah adalah Bapanya, sebab TUHAN itulah yang telah mencipta Israel dan yang telah menegakkan mereka. Bangsa Israel menjadi suatu bangsa yang bebas dan besar, tidak lain karena karya Tuhan Allah terhadap bangsa itu. Tuhanlah yang telah melepaskan Israel dari perhambaan di Mesir. Ialah yang mencipta Israel, dari yang bukan bangsa menjadi bangsa. Ialah yang telah menegakkan Israel baik terhadap Mesir maupun terhadap segala bahaya maut yang mengancam Israel di padang gurun. Oleh karena itu ungkapan Bapa ini di Yesaya 63:16 dihubungkan dengan ungkapan Penebus, sebab di situ disebutkan, bahwa nama Tuhan Allah sejak dahulu kala adalah Bapa dan Penebus Israel. Kehormatan Israel sebagai bangsa yang bebas merdeka adalah karya Tuhan Allah. Di Maleakhi 2:10 disebutkan juga bahwa Tuhan Allah adalah Bapa Israel, sebab Tuhan Allah itulah yang telah menciptakan Israel.

Dari apa yang telah diuraikan di atas, jelaslah kiranya bahwa jika Tuhan Allah disebut Bapa, hal itu bukan menunjuk kepada suatu keadaan yang statis, yang mandeg, melainkan hal itu dihubungkan dengan karya Allah yang telah ditujukan kepada Israel. Bahwa Tuhan Allah adalah Bapa Israel telah dibuktikan di dalam karya-Nya, umpamanya, pada waktu perjalanan Israel dari Mesir, dimana disebutkan, bahwa Tuhan Allah telah mendukung Israel seperti seseorang mendukung anaknya di sepanjang jalan yang ditempuh Israel hingga sampai di tempat di mana mereka itu sekarang berada, dan Tuhan Allah telah mengajari Israel seperti seseorang mengajari anaknya.

Segala perbuatan Allah yang telah dilakukan terhadap Israel itu disebabkan, karena seperti yang telah berulang kali disebutkan, Tuhan Allah berkenan menjadi sekutu umat-Nya. Bukan hanya pada waktu Israel berada di padang gurun, tetapi juga setelah Israel berdiam di tanah Kanaan, Tuhan Allah tetap dengan kasih dan belas kasihan menjadi penyelamat dan pembebas Israel, sekalipun Israel sebagai sekutu Tuhan Allah sering menginjak-injak kasih Bapanya.
Hubungan Bapa-Anak

Jika Tuhan Allah dipandang sebagai Bapa Israel, maka sebaliknya, Israel dipandang sebagai ANAK ALLAH.

Pada waktu Musa diutus menghadap Firaun di Mesir, ia diperintahkan oleh Tuhan Allah untuk mengatakan kepada Firaun, bahwa Israel adalah anak Allah, bahkan anak Allah yang sulung. Oleh karena itu Firaun harus memperkenankan Israel pergi beribadah kepada Tuhan Allah.

Ungkapan anak Allah ini di Perjanjian Lama bukan hanya dikenakan kepada Israel sebagai bangsa seluruhnya atau sebagai kesatuan, akan tetapi juga dikenakan kepada para raja, yang menjadi wakil Israel di hadapan Tuhan Allah. Kepada raja Daud umpamanya, Tuhan Allah berfirman, bahwa Ia akan menjadi Bapa Salomo, anak Daud, dan Salomo akan menjadi anak Allah. Itulah sebabnya maka Mazmur 2:7-8 menyebutkan, bahwa raja yang ditahbiskan di Sion adalah anak Allah.

Kecuali raja, para malaekat juga disebut anak-anak Allah.

Jadi ungkapan anak Allah di dalam Perjanjian Lama dipergunakan dalam tiga cara, yaitu: bagi keseluruhan umat Israel, bagi para raja sebagai wakil Israel dan bagi para malaekat. Singkatnya, ungkapan itu dipergunakan untuk mereka yang mendapat tugas pelayanan yang khas bagi Tuhan Allah. Umat Israel seluruhnya disebut anak Allah karena umat itu sebagai sekutu Allah mendapat tugas untuk melayani Tuhannya. Tuhan Allah telah memilih Israel sebagai sekutu-Nya, dengan maksud supaya Israel mentaati segala perintah Allah secara mutlak, seperti para anak mentaati bapanya. Kedudukannya sebagai sekutu Allah sama dengan keududukan sebagai anak Allah. Para raja disebut anak Allah, sebab para raja di tengah-tengah Israel menjadi wakil umat Allah di hadapan Tuhan Allah. Di dalam diri raja itu terangkumlah sekalian umat Israel, sebagai sekutu Tuhan Allah. Raja menjadi anak Allah, sebab seluruh Israel yang diwakilinya menjadi anak Allah.

Demikianlah ungkapan Bapa dan Anak di dalam Perjanjian Lama, jika dikenakan kepada Tuhan Allah dan umat-Nya, menunjukkan hubungan yang akrab sekali di antara Tuhan Allah dengan umat-Nya, berdasarkan peristiwa, bahwa Tuhan Allah telah memilih Israel menjadi sekutu-Nya, dan Tuhan Allah menjadi sekutu Israel.

 

 

  • Allah Menyatakan Diri-Nya sebagai Roh

Selanjutnya di dalam Perjanjian Lama Tuhan Allah sebagai sekutu Israel juga menyatakan diri-Nya sebagai Roh.

Arti dasar kata roh (Ibrani, רוח – RUAKH) adalah nafas, angin. Di dalam Perjanjian Lama, kata roh diterjemahkan dengan bermacam-macam kata. Di Mazmur 33:6 umpamanya, Kata רוח – RUAKH diterjemahkan dengan nafas dari mulut, sedangkan di Yeremia 10:14 diterjemahkan dengan nyawa dan lain sebagainya. Jika kata ruakh dikenakan kepada Tuhan Allah sendiri, maka Roh dipandang sebagai kekuatan atau kuasa yang menjadi alat Tuhan Allah bekerja. Hal itu umpamanya tampak dari Yehezkiel 37:9-10 di mana disebutkan, bahwa Roh dapat menjadikan tulang-tulang yang mati menjadi hidup. Di bagian Alkitab ini, Nabi Yehezkiel berada di dalam lembah di tengah-tengah tulang yang mati. Karena nubuat Nabi Yehezkiel datanglah Roh Allah seperti angin yang keras yang menghidupkan tulang-tulang itu menjadi manusia yang berdaging dan berurat dan sebagainya, sehingga mewujudkan suatu tentara yang besar. Demikianlah Roh Allah adalah daya atau kuasa Allah dengannya Allah menghidupkan. Dan oleh karena yang digambarkan dengan tulang-tulang yang mati itu adalah Israel yang telah mati secara rohani, maka Roh Allah yang menghidupi itu juga berarti daya atau kuasa Allah yang menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati secara rohani.

* Yesaya 44:3
LAI TB, Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.
KJV, For I will pour water upon him that is thirsty, and floods upon the dry ground: I will pour my spirit upon thy seed, and my blessing upon thine offspring:
Hebrew,
כִּי אֶצָּק־מַיִם עַל־צָמֵא וְנֹזְלִים עַל־יַבָּשָׁה אֶצֹּק רוּחִי עַל־זַרְעֶךָ וּבִרְכָתִי עַל־צֶאֱצָאֶיךָ׃
Translit, KÎ ‘ETSÂQ-MAYIM ‘AL-TSÂMÊ’ VENOZELÎM ‘AL-YABÂSYÂH ‘ETSOQ RÛKHÎ ‘AL-ZAR’EKHA ÛVIRKHÂTÎ ‘AL-TSE’ETSÂ’EYKHA

Selanjutnya dapat dikatakan, bahwa jika Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Roh, hal itu bukanlah suatu uraian yang bersifat filsafati, tetapi bahwa hal itu menyatakan Allah di dalam firman dan karya-Nya. Di Yesaya 31:3 umpamanya, Tuhan Allah membandingkan diri-Nya dengan Mesir. Di situ disebutkan, bahwa orang Mesir adalah manusia, bukan Allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Jadi orang Mesir disamakan dengan manusia, sedang kekuatan perangnya disamakan dengan makhluk yang lemah, yang berarti, bahwa kekuatan Mesir tidaklah berdaya. Sebaliknya Tuhan Allah disamakan dengan roh, yang berarti bahwa Tuhan Allah adalah kekuatan yang mutlak dan agung. Allah adalah Roh atau kekuatan yang dinamis. Sifat dinamis ini tampak di dalam karya Roh itu. Menurut Yesaya 32:15 dan ayat berikutnya, Roh Allah mengubah padang gurun menjadi kebun buah-buahan.

Demikianlah Roh adalah kekuatan atau kuasa ilahi yang bekerja sebagai alat atau sarana Tuhan Allah. Dengan Roh itu Tuhan Allah menghendaki para kerub pergi menuju ke tempat yang di hadapannya, memberikan kekuatan badaniah yang luar biasa, umpamanya kepada Simson, menjadikan orang dapat bernubuat, dan lain sebagainya.

Akhirnya Roh yang dinamis itu juga mengandung di dalamnya sifat-sifat yang etis. Hal ini terang dari Yesaya 30:1, yang mengancam dengan hukuman para anak yang murtad, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan oleh dorongan Roh Tuhan. Jadi Roh Allah yang dinamis tadi memang adalah kekuatan atau kekuasaan yang menciptakan hal-hal yang baru, yang ditujukan kepada tujuan keagamaan. Dalam arti inilah Roh Allah disebut: berada pada Mesias sebagai Roh hikmat dan pengertian, Roh nasehat dan keperkasaan, Roh pengenalan dan takut akan TUHAN. Dalam arti yang demikian itu juga dikatakan, bahwa Roh Tuhan ditaruhkan ke atas hamba TUHAN untuk menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.

Di dalam terang inilah disebutkan, bahwa keselamatan Israel terjadi oleh karena Roh Allah, yang akan memberikan hati yang baru kepada umat itu, yang akan mengubah hati yang keras dari Israel menjadi hati yang taat, dan menjadikan Israel menjadi umat Allah.

Oleh karena sifat Roh yang demikian itulah, maka ada hubungan yang erat sekali di antara firman dan Roh Allah. Bahkan dapat dikatakan, bahwa Roh Allah adalah sinonim dari firman Allah. Di Mazmur 33:6 disebutkan, “Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya (Roh-Nya) segala tentaranya.” Di sini diungkapkan suatu paralelisme Ibrani, yang mengungkapkan suatu gagasan dengan dua cara, tetapi yang mengandung arti yang sama. Maka kalimat “oleh firman TUHAN langit telah dijadikan” mengungkapkan gagasan yang sama dengan “oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.” Dengan demikian “Firman TUHAN” adalah sinonim dari “Nafas dari mulut-Nya.”

Demikianlah Roh Allah bagi Israel adalah kuasa Allah, yang menjadikan segala sesuatu. Hal yang demikian memang dialami oleh Israel di dalam sejarah hidupnya, sebab seperti yang telah dikemukakan di atas, Roh inilah yang mengaruniakan kecakapan kepada para hakim, kepada Daud, dan sebagainya.

Anak Allah dan anak-anak Allah

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan ungkapan Bapa, Anak, dan Roh dalam Perjanjian Lama adalah sebagai berikut:

1. Bapa adalah Tuhan Allah yang di dalam firman dan karya-Nya menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel. Tuhan Allah disebut Bapa, sebab Dialah yang menciptakan Israel, yang menyebabkan Israel dapat hidup sebagai bangsa yang bebas merdeka, dan Dialah yang telah memilih Israel untuk menjadi sekutu-Nya, dan oleh karena Dialah yang memberikan tugas yang khas kepada Israel. Oleh karena itu maka di satu pihak sebutan Bapa mengungkapkan ketinggian dan kemuliaan Tuhan Allah, akan tetapi di lain pihak juga menunjukkan kasih Tuhan Allah kepada umat-Nya. Kasih itu dinyatakan di dalam firman dan karya Tuhan Allah di dalam melepaskan Israel. Dengan nama Bapa ini Tuhan Allah menyatakan atau memberitahukan kepada Israel, bahwa Ia adalah penciptanya, penyelamatnya dan pembebasnya.

2. Sebutan anak dikenakan kepada Israel sebagai sekutu Allah untuk menunjukkan, bahwa Israel harus mentaati Tuhan Allahnya, sebagai anak mentaati Bapanya. Sebagai anak, Israel harus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Tuhan Allah, Bapanya.

3. Roh Allah adalah nafas Allah, atau asas hidup ilahi, yang dinyatakan di dalam karya-Nya yang dinamis, Roh inilah daya penciptaan Tuhan Allah yang menampakkan diri sebagai daya hidup dari firman Allah yang menciptakan. Maka Roh ini sama dengan yang diuraikan di dalam Mazmur 8:4 sebagai jari Allah atau tangan Allah yang menjadikan alam semesta dengan segala isinya. Roh ini jugalah yang menjadikan manusia dapat diperbaharui hidupnya. Demikianlah Roh Allah adalah Tuhan Allah sendiri dipandang dari segi daya hidup-Nya yang dinamis, yang menciptakan, baik dunia maupun pembaharuan manusia.

Gagasan tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang terdapat di dalam Perjanjian Lama itu juga terdapat di dalam Perjanjian Baru.
Bapa

Oleh Yesus Kristus, hubungan Tuhan Allah dengan umat-Nya, yaitu hubungan sebagai Bapa dan Anak-Nya, diperdalam. Juga di dalam Perjanjian Baru. Tuhan Allah disebut Bapa oleh umat-Nya. Secara indah sekali hal ini diungkapkan di dalam doa Bapa kami, yang memerintahkan kepada orang beriman supaya menyebut Tuhan Allah dengan Bapa kami yang di surga.

Sebutan yang di surga memang di satu pihak menunjukkan kepada Tuhan Allah sebagai Yang Mahatinggi, yang lain sekali dibanding dengan manusia, akan tetapi sebutan itu memang tidak hanya berhenti di situ saja. Sebab Bapa yang di surga itu adalah Bapa kami, atau secara umum Bapa kita. Di dalam ungkapan kita terkandung gagasan, bahwa yang berdoa mengamini, bahwa Tuhan Allah yang di surga itu adalah Bapa mereka, dan bahwa mereka adalah anak-anak Allah, yang hidup mereka bukan ditentukan sendiri, melainkan ditentukan dari surga, dari atas, dari Bapa mereka yang di surga. Itulah sebabnya, maka di dalam doa itu selanjutnya disebutkan tentang nama, kerajaan, dan kehendak Allah yang di surga yang secara berturut-turut harus dikuduskan, didatangkan dan dilaksanakan di dalam dunia ini. Kehidupan para anak ditentukan oleh yang di atas, yang di surga. Apa yang terjadi di surga dengan sempurna harus dilaksanakan juga di dalam dunia ini.

Setiap kali sebutan Bapa yang di surga dipergunakan, tentu dimaksud untuk menunjukkan hubungan antara dunia dengan surga, yaitu bahwa dunia ini ditentukan oleh kebenaran-kebenaran yang dari atas. Dengan sebutan Bapa yang di surga itu yang Mahatinggi menjadi dekat dan akrab dengan yang hina, yang di bawah.

Jadi sebutan Bapa yang di surga itu sebenarnya mewujudkan alat penyataan atau alat perkenalan Tuhan Allah yang benar. Setiap kali sebutan Bapa dipergunakan, tentu menunjuk kepada kasih Tuhan Allah terhadap umat-Nya, akan tetapi yang sebaliknya juga menuntut kasih dari umat-Nya. Hal ini umpamanya tampak di Matius 6:26 dan ayat berikutnya, yang memerintahkan kepada orang beriman supaya memandang kepada burung di langit dan bunga bakung di ladang, yang dipelihara oleh Tuhan Allah, Bapanya dengan secara sempurna. Demikian jugalah Bapa surgawi itu akan memelihara mereka. Mereka harus mau menyerahkan diri kepada Tuhan Allah, Bapa mereka.

Dari uraian di atas kiranya jelas, bahwa Tuhan Allah, jika Ia disebut Bapa di dalam Perjanjian Baru, bukanlah dalam arti bapa yang statis, yang tidak bergerak, bukan dalam arti bapa yang sama dengan kedudukan bapa duniawi (Bapa duniawi adalah bapa dalam arti yang statis, artinya: sekalipun bapa itu tidak memelihara anaknya, tidak berbuat apa-apa bagi anaknya – mungkin karena dipenjara, atau karena sebab-sebab lain – namun ia tetap menjadi bapa bagi anaknya, karena kedudukannya sebagai bapa ditentukan oleh kelahiran anak itu). Pengertian Bapa, jika dikenakan kepada Tuhan Allah, dikenakan dalam arti yang dinamis yang menunjukkan kepada Allah yang aktif dalam firman dan karya-Nya bagi keselamatan anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya. Tuhan Allah bukanlah Bapa bagi umat-Nya, seandainya Ia tidak berbuat apa-apa bagi umat-Nya.

anak-anak Allah

Pengertian anak Allah di dalam Perjanjian Baru juga memiliki arti yang lebih mendalam dibanding dengan pengertian di Perjanjian Lama. Juga di Perjanjian Baru menjadi anak Allah adalah hak utama dari umat Allah sebagai kesatuan, bukan sebagai individu. Rasul Paulus menggunakan ungkapan anak Allah silih berganti dengan ungkapan benih Abraham. Di Galatia 4:21 dan berikutnya, disebutkan bahwa kebebasan para anak Allah adalah kebebasan mereka yang dari Yerusalem yang surgawi. Oleh karena itu maka menjadi anak Allah berarti termasuk umat Allah yang baru. Pengangkatan menjadi anak Allah adalah tujuan dari karya penyelamatan Tuhan Allah yang besar itu.

* Yohanes 1:12
LAI TB, Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
KJV, But as many as received him, to them gave he power to become the sons of God, even to them that believe on his name:
TR, οσοι δε ελαβον αυτον εδωκεν αυτοις εξουσιαν τεκνα θεου γενεσθαι τοις πιστευουσιν εις το ονομα αυτου
Translit Interlinear, color=olive]hosoi {semua yang} de {tetapi} elabon {menerima} auton {Dia} edôken {Ia memberi} autois {kepada mereka} exousian {kuasa} tekna {anak-anak} theou {Allah} genesthai {untuk menjadi} tois {orang-orang yang} pisteuousin {percaya} eis {dalam} to onoma {nama} autou {Nya}[/color]

Gagasan yang beru di dalam Perjanjian Baru ialah, bahwa Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa, yang mengangkat para orang beriman menjadi anak-anak Allah, itu dilaksanakan di dalam diri Yesus Kristus dan dalam karya Roh Kudus. Bahwa orang beriman diangkat menjadi anak Allah adalah hasil karya pendamaian Yesus Kristus, yang menjadikan orang beriman menerima Roh Kudus, sehingga ia dapat berseru: Abba, ya Bapa.
Anak Allah

Sebagai sarana untuk menjadikan orang beriman menjadi anak Allah, Yesus sendiri juga disebut Anak Allah.

Alkitab terang membedakan antara Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan orang beriman sebagai anak Allah. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang Tunggal, Anak-Nya sendiri, sedang orang beriman diangkat menjadi anak Allah. Hal ini menunjukkan, bahwa ada perbedaan yang besar di antara hubungan Tuhan Allah sebagai Bapa dengan Yesus dan hubungan Tuhan Allah sebagai Bapa dengan orang beriman.

Untuk mendekati persoalan ini, kita harus kembali kepada pernyataan, bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi manusia. Telah dikemukakan, bahwa jika Yesus Kristus disebut Firman, hal itu berarti, bahwa Ia adalah alat atau sarana penyataan atau perkenalan Tuhan Allah yang sempurna, sehingga barangsiapa melihat Dia, ia melihat Allah.

Dalam Yohanes 17:6, 26 dapat disimpulkan, bahwa seluruh karya Kristus tidak lain adalah: menyatakan atau memperkenalkan nama Allah. Padahal menurut Yohanes 17:11-12, nama Allah adalah kekuasaan yang melindungi umat Allah, sebab di situ disebutkan, bahwa Yesus berdoa, agar Bapa memelihara para murid dalam nama-Nya. Jadi nama Allah Bapa itulah yang memelihara para orang milik Yesus. Oleh karena itu maka nama Allah, menurut Alkitab, bukan hanya sebutan yang kosong, seperti nama kita, bukan hal yang mati, melainkan “Tuhan Allah sendiri dalam karya pemeliharaan-Nya.” Nama Allah adalah hakekat Allah sendiri, yaitu bahwa Ia adalah sekutu umat-Nya. Dari nama-nama-Nya, yang menyatakan karya-Nya itulah Tuhan Allah dapat dikenal.

Maka apa yang dilakukan oleh Yesus terhadap para murid-Nya pada hakekatnya adalah: memperkenalkan Bapa kepada para murid-Nya. Akan tetapi hal “memperkenalkan Bapa kepada para murid-Nya” ini bukanlah diuraikan secara teori, bukan berwujud ajaran seperti seorang guru agama menerangkan kepada para muridnya, melainkan hal itu ditunjukkan di dalam karya-Nya. Itulah sebabnya Kristus dapat berkata, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Itulah juga sebabnya, bahwa menolak Yesus berarti menolak Tuhan Allah Bapa. Demikianlah “menyatakan nama Bapa” pada hakekatnya adalah “menyatakan Allah Bapa” atau “memperkenalkan Allah Bapa” itu sendiri. Dalam hal ini tampak di dalam firman dan karya Yesus. Seluruh hidup Kristus menampakkan bagaimana Tuhan Allah sebagai Bapa umat-Nya.

Sebagai sarana penyataan atau perkenalan Allah Bapa, yang menunjukkan di dalam seluruh hidupnya bagaimana Allah Bapa itu, Yesus sendiri disebut Anak Allah.
Arti ungkapan Anak Allah bagi Yesus pada dasarnya tidak berbeda dengan arti ungkapan itu, jika dikenakan kepada orang beriman yang disebut anak Allah.

Arti ungkapan anak Allah adalah bahwa Israel harus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Tuhan Allahnya, atau harus mencerminkan kehidupan ilahi di dalam hidupnya, seperti anak harus mencerminkan hidup bapanya. Hal ini hanya mungkin, jikalau Israel mentaati segala kehendak Tuhan Allah, sekutunya. Padahal mentaati kehendak Allah itu hanya mungkin, jikalau ada persekutuan yang akrab di antara Tuhan Allah dengan orang beriman. Hal ini semuanya berlaku juga bagi Yesus sebagai sarana penyataan Tuhan Allah.
Bagaimana hubungan Yesus Kristus dengan Tuhan Allah?

Dari Yohanes 6:57 yang menyebutkan, bahwa Anak hidup oleh Bapa, dan dari Yohanes 10:30 yang menyebutkan, bahwa keduanya, yaitu Bapa dan Anak, adalah satu, serta dari Yohanes 16:15 yang menyebutkan, bahwa segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Anak punya, sehingga apa yang menjadi milik Bapa juga menjadi milik Anak, karena telah diberikan Bapa kepada Anak, dapat kiranya diambil kesimpulan, bahwa Yesus Kristus mendapat bagian yang tiada taranya dari apa yang dimiliki Allah Bapa. Ada kesatuan yang erat sekali antara Allah Bapa dan Yesus Kristus.

Akan tetapi harus segera dicatat, bahwa kesatuan Tuhan Allah dengan Yesus itu bukanlah kesatuan yang terletak pada kesatuan tabiat yang statis, bukan dalam arti memiliki zat yang sama (bukan secara ontologis atau di bidang keberadaan), melainkan kesatuan di dalam karya atau perbuatan. Hal ini terang dari penjelasan Yesus Kristus sendiri. Di Yohanes 10:37-38, Ia berkata, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”

Dari kata-kata ini jelas, bahwa jikalau Yesus melakukan [Yunani, poiô/poieo] pekerjaan-pekerjaan Bapa, maka pekerjaan-pekerjaan [Yunani, erga/ergon] itu menjadi bukti, bahwa Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa. Bahwa Yesus satu dengan Allah Bapa, hal itu tampak dari pekerjaan-pekerjaan-Nya atau karya-karya-Nya.

Selanjutnya kesatuan Allah Bapa dan Yesus Kristus yang tampak di dalam karya-karya-Nya itu diungkapkan demikian, bahwa yang dikerjakan oleh Yesus itu adalah apa yang Ia lihat Bapa mengerjakannya, dan bahwa yang dilakukan oleh Yesus itu adalah apa yang telah ditugaskan oleh Allah Bapa kepada-Nya, sehingga segala pekerjaan Yesus tadi dilakukan atas nama Bapa, dan oleh karena itu pekerjaan yang dilakukan-Nya adalah pekerjaan Allah Bapa sendiri.

Demikianlah kiranya jelas, bahwa kesatuan Allah Bapa dengan Yesus sebagai Anak Allah adalah kesatuan di dalam karya-karya-Nya, bukan di dalam tabiat-Nya atau di dalam zat-Nya.

Kecuali mengerjakan pekerjaan Allah Bapa, Yesus sebagai Anak Allah juga membawakan firman atau sabda Allah Bapa (Yohanes 14:24 di mana Ia berkata, bahwa firman yang mereka dengar itu bukan dari Kristus sendiri, melainkan dari Bapa yang mengutus-Nya). Apa yang disabdakan oleh Yesus Kristus adalah apa yang telah diajarkan Bapa kepada-Nya. Demikianlah firman atau sabda yang telah dibawakan Yesus tidak boleh dipisahkan dari karya-karya-Nya. Jadi kedua-duanya, baik firman maupun karya Yesus menyatakan atau memperkenalkan Yang Mengutus dan Yang Diutus.

Dari apa yang telah dikemukakan di atas itu kiranya jelaslah bahwa sebutan Anak bagi Yesus berarti, bahwa Ia di dalam hidup-Nya melaksanakan apa yang telah direncanakan Allah Bapa, atau Ia menjadi penyataan Allah sebagai sekutu umat-Nya. Di dalam hidup-Nya, di dalam karya-karya-Nya Yesus menunjukkan atau menyatakan bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya, penyelamat umat-Nya. Di dalam diri Yesus dapat dilihat dan diketahui, bagaimana Tuhan Allah menyelamatkan umat-Nya.

* Roma 8:32,
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Menurut ayat di atas, melaksanakan rencana Tuhan Allah untuk menyelamatkan itu terlebih-lebih terjadi di dalam kematian Yesus. Jikalau menjadi Anak Allah berarti melaksanakan rencana Allah, maka dari ayat itu jelas, bahwa hal itu dilaksanakan hingga kematian-Nya. Sebab di dalam kematian-Nya itu terlaksana rencana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. “Menjadi Anak Allah” berarti: menjadi pelaksana perjanjian Allah dengan umat-Nya, yaitu “menderita dan mati bagi umat Allah.” Hal ini jelas juga dari Galatia 4:4, yang menyebutkan, “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”

Dapat dibandingkan dengan Roma 5:10 yang menyebutkan, bahwa ketika kita masih seteru kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya. Jadi memang Bapalah yang memberikan “cawan minuman” itu kepada Yesus Kristus sebagai Anak-Nya. Itulah sebabnya ketika rasul Petrus mengakui, bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, segera Yesus menghubungkan pengakuan sebagai Anak Allah itu dengan kesengsaraan-Nya. Di Markus 15:39 kepala pasukan Roma mengakui Kristus sebagai Anak Allah, pada waktu Yesus disalib.

Kasih Anak kepada Bapa diungkapkan di dalam kesetiaan Anak itu untuk memberikan nyawa-Nya.

Di dalam kesimpulan mengenai sebutan Anak Allah di dalam Perjanjian Lama telah dikemukakan, bahwa sebutan Anak Allah itu mengandung arti, bahwa Israel sebagai umat Allah atau sebagai sekutu Allah harus mentaati segala perintah Tuhan Allah, seperti halnya dengan anak mentaati Bapanya. Sebagai Anak Allah Israel harus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan Allah, Bapanya. Akan tetapi di dalam sejarah ternyata, bahwa Israel tidak mampu memenuhi tugasnya sebagai sekutu Allah itu. Israel adalah anak Allah yang gagal dalam tugasnya.

Sekarang Yesus Kristus datang untuk memenuhi apa yang tidak dapat dipenuhi oleh umat Allah di Perjanjian Lama, yaitu menjadi anak Allah. Yesus adalah Anak Allah yang sejati, sebab Ia dapat memenuhi fungsi anak Allah, yaitu menunaikan tugas mempersembahkan seluruh hidup-Nya bagi Tuhan Allah, Bapa-Nya. Penunaian tugas itu dipenuhi hingga selesai di kayu salib, hingga titik darah yang penghabisan. Yesus Kristus adalah sekutu Allah yang sejati, sebab fungsi Israel sebagai sekutu Allah dipenuhi-Nya dengan secara sempurna.

Dari uraian sebelumnya jelas juga, bahwa sebutan Anak Allah bagi Yesus menunjukkan kepada “karya-Nya untuk menyelamatkan”. Yesus adalah Anak Allah, sebab di dalam Dia Tuhan Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai penyelamat umat-Nya. Yesus Kristus adalah alat Tuhan Allah untuk menyatakan atau memperkenalkan karya penyelamatan-Nya. Di dalam diri-Nya tampak sampai di mana Tuhan Allah menjadi sekutu umat-Nya. Oleh karena umat-Nya tidak dapat memenuhi tugasnya menjadi sekutu-Nya, maka ia dalam diri Yesus itu Tuhan Allah sendiri telah membuktikan hakekat-Nya yang sejati, yaitu bahwa Ia adalah sekutu umat-Nya. Sebab di dalam Yesus Kristus itu Tuhan Allah telah mendamaikan umat-Nya yang tidak setia kepada panggilannya itu dengan diri-Nya sendiri. Yesus Kristus adalah puncak turunnya Tuhan Allah untuk menemui manusia berdosa. Menjadi Anak Allah berarti menjadi jalannya Tuhan Allah bersekutu dengan umat-Nya secara akrab. Di dalam diri Yesus Kristus, Tuhan Allah telah memenuhi peranan-Nya sebagai sekutu umat-Nya hingga selesai. Bahkan dapat dikatakan, bahwa di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah sendiri telah mengganti peranan sekutu-Nya yang tidak setia, yaitu yang dilakukan di dalam menjadi serupa dengan daging yang dikuasai dosa.

Jika Yesus Kristus sebagai alat penyelamat Tuhan Allah disebut Anak Allah, hal itu bukan dimaksud dalam arti ontologis, artinya: bukan menunjuk kepada kesamaan keberadaan, atau bukan menunjuk kepada kesamaan tabiat atau zat. Bahwa Yesus adalah Anak Allah, hal itu ternyata di dalam firman dan karya-Nya. Dan pengertian itu mengandung dua segi:

Yesus Kristus adalah Anak Allah yang sejati, sebab hanya di dalam Dialah fungsi Anak Allah dilaksanakan dengan sempurna, yaitu mempersembahkan seluruh hidup-Nya bagi Tuhan Allah, dengan ketaatan yang sempurna. Manusia pertama karena dosanya tidak dapat memenuhi tugas sebagai anak Allah itu, dan Israel sebagai umat Allah dan sebagai anak Allah juga gagal di dalam penunaian tugasnya itu. Yesus Kristus adalah sekutu Allah yang sejati, yang mentaati segala kehendak Tuhan Allah hingga mati di kayu salib. Sebagai Anak Allah, Yesus Kristus mengganti fungsi manusia berdosa di hadapan Tuhan sebagai Bapanya. Sebagai ganti manusia, Yesus Kristus adalah Anak Allah, adalah manusia yang sejati.

Yesus Kristus adalah Anak Allah yang sejati, sebab Dialah yang mencerminkan kehidupan ilahi di dalam seluruh hidup-Nya secara sempurna. Bukankah sekutu Allah harus mencerminkan kehidupan Allah yang menjadi sekutunya, dan bukankah anak harus mencerminkan hidup bapanya? Di dalam Yesus Kristus tampak Tuhan Allah menjadi sekutu umat-Nya. Isi hati Tuhan Allah sebagai penyelamat umat-Nya telah dinyatakan secara sempurna di dalam firman dan karya-karya Kristus, sebagai seorang anak yang mencerminkan kehidupan bapanya. Oleh karena itu Yesus Kristus adalah satu-satunya Anak Allah. Ia adalah Anak Allah yang Tunggal. Di samping-Nya tidak ada yang pernah menyatakan kehidupan ilahi seperti yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus. Sebagai alat penyataan Allah yang sempurna Yesus Kristus adalah Anak Allah. Oleh karena di luar Yesus Kristus tidak ada pengenalan akan Tuhan Allah, maka sebagai penyataan Allah yang sempurna Ia disebut Allah juga. Akan tetapi harus diingat, bahwa keallahan Kristus itu tampak di dalam firman dan karya-Nya, bukan di dalam kesamaan keberadaan atau kesamaan tabiat atau zat. Dari firman dan karya-Nyalah orang dapat mengetahui, bagaimana Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya, atau bagaimana hakekat Tuhan Allah yang sejati. Itulah sebabnya Yesus dapat berkata “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”, bukan dalam tabiat atau zat Yesus, melainkan di dalam firman dan karya-Nya.

Demikian arti ungkapan Anak Allah dan Allah yang dikenakan kepada Yesus. Untuk melengkapi pengertian itu, perlu dibicarakan hal Yesus disebut Firman Allah.

 

 

  • Yesus Adalah Sang Firman

Di dalam Perjanjian Lama, firman Allah atau devar YHVH adalah firman yang bekerja. Firman Allah adalah alat penyataan atau alat perkenalan Tuhan Allah, atau dapat dikatakan juga, bahwa firman Allah adalah wajah Allah yang diarahkan kepada dunia ini, atau segi Allah yang diarahkan kepada dunia ini. Bukankah dari firman dan karya Tuhan Allah itu kita dapat mengenal-Nya? Demikian juga, bahwa firman Allah tadi dihubungkan dengan penjadian dan pembaharuan penjadian ini.

Di dalam Injil Yohanes, firman Allah ini dihubungkan dengan Yesus Kristus. Sebab di situ disebutkan, bahwa firman Allah itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah, tetapi kemudian telah menjadi manusia dan diam di antara kita, yang kemuliaan-Nya telah dilihat oleh Yohanes.

Dengan ini dinyatakan, bahwa Yesus Kristus, yaitu manusia Yesus Kristus, bukan berasal dari dunia ini, bukan berasal dari bawah, melainkan dari kekekalan, dari atas. Bagaimana kita harus mengartikan hal ini?

Pertama-tama harus diingat, bahwa maksud Yohanes dengan seluruh Injilnya (dari pasal 1 hingga pasal 21) adalah untuk menunjukkan, bahwa seluruh hidup Yesus Kristus adalah penyataan atau perkenalan Tuhan Allah, dengannya Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai pencipta, penyelamat dan pembebas umat-Nya, atau sebagai sekutu umat-Nya. Seluruh hidup Kristus, sejak awal hingga akhirnya, dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, serta kenaikan-Nya ke surga, semuanya itu adalah pengungkapan hakekat Tuhan Allah, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umatnya. Pokok pikiran Yohanes di dalam Injilnya itu ialah fungsi firman Allah sebagai alat penyataan Tuhan Allah, yang diungkapkan di dalam firman dan karya Yesus Kristus, seperti halnya dengan hakekat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya itu juga diungkapkan di dalam firman dan karya Yesus Kristus. Harus diingat, bahwa Yohaneslah yang mengungkapkan, bahwa barangsiapa melihat Yesus, ia melihat Allah Bapa.

Pokok pikiran Yohanes tersebut harus dipegang teguh, jika kita ingin mendekati kata-kata Yohanes yang mengungkapkan bahwa Firman itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Sebab kata-kata itu bermaksud menunjukkan, bahwa Firman Allah yang disabdakan oleh Tuhan Allah, tidak boleh dipisahkan dari Tuhan Allah sendiri. Sejak pada mulanya Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Firman itu disebut Allah, sebab hanya dengan Firman itulah Tuhan Allah menyatakan diri atau memperkenalkan diri, atau lebih tepat lagi: menyatakan atau memperkenalkan hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya. Orang tidak dapat tahu sedikitpun tentang hakekat Tuhan Allah yang sejati tanpa Firman itu atau tanpa Sabda Allah yang disabdakan. Firman itu bukan sesuatu yang berada di samping Tuhan Allah atau di luar Tuhan Allah. Sebab Firman Allah itu adalah “Tuhan Allah sendiri di dalam penyataan-Nya”. Firman Allah itu bukan Tuhan Allah di dalam zat-Nya atau tabiat-Nya, melainkan Tuhan Allah di dalam penyataan-Nya. Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya yang menyelamatkan umat-Nya. Firman Allah adalah karya penyelamatan Allah. Tiada Firman Allah tanpa Allah, artinya: tiada penyataan, tiada perkenalan tanpa yang dinyatakan atau diperkenalkan, seperti halnya tiada karya Allah tanpa Yang Bekerja, yaitu Tuhan Allah sendiri.

Alkitab tidak pernah hanya membicarakan Tuhan Allah pada diri-Nya sendiri, tanpa karya atau penyataan-Nya. Oleh karena itu tidak mungkin Firman Allah tadi disebutkan lepas dari Tuhan Allah sendiri.

Jikalau Yohanes menyebut hal pra-eksistensi Firman (artinya, Firman itu telah ada sebelum dunia dijadikan), Yohanes tidak mengadakan spekulasi atau pandangan khayalan tentang Firman itu. Dengan kata-katanya di Yohanes 1:1 yang sederhana ini Yohanes hanya ingin mengajarkan, bahwa Firman Allah tadi bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Di dalam bab 1 dari Injilnya itu, Yohanes sama sekali tidak bermaksud berspekulasi mengenai Firman. Setelah Yohanes sebentar menyebutkan asal Firman itu, segeralah ia membicarakan karya Firman, yaitu bahwa segala sesuatu dijadikan olehnya dan diselamatkan-Nya. Dengan Yohanes 1:1 itu seolah-olah kita diajak sebentar menjenguk ke belakang penampakan Yesus Kristus, yaitu Firman yang telah menjadi manusia, untuk menunjukkan, bahwa Yesus Kristus bukanlah berasal dari bawah, melainkan dari atas, titik. Lebih dari itu Yohanes tidak menghendakinya. Maka kita juga tidak perlu menyelidiki, bagaimana keadaan di belakang layar Yesus Kristus itu. Menurut Yohanes, yang penting bukanlah apa yang di belakang layar, melainkan apa yang dikerjakan Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat Allah. Yohanes ingin menunjukkan, bahwa jikalau Yesus Kristus disebut Firman yang semula bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya, hal itu dinyatakan di dalam karya penyelamatan-Nya. Dari karya penyelamatan-Nya yang diuraikan di seluruh Injil Yohanes, orang boleh mengetahui, bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya. Karya penyelamatan yang diuraikan di seluruh Injil Yohanes adalah bukti bahwa Yesus Kristus bukan berasal dari bawah, melainkan dari atas.

Apa yang dikemukakan oleh Yohanes di dalam awal Injilnya ini juga terdapat di dalam surat Ibrani, yaitu Ibrani 1:1-3. Di situ disebutkan, bahwa penjadian dunia ini terjadi karena Anak Allah, dan bahwa Anak Allah itu adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.

Ungkapan yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah itu berarti, bahwa Ia memiliki kemuliaan yang sama dengan Allah dan menjadi cermin yang memantulkan kemuliaan Allah. Adapun ungkapan yang mengatakan, bahwa Yesus Kristus adalah gambar wujud Allah berarti, bahwa Ia menampakkan hakekat Allah yang sejati, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya. Jadi Ibrani 1:1-3 ini menunjukkan, bahwa Yesus Kristus adalah alat penyataan Tuhan Allah yang sempurna (Sama dengan arti ungkapan: Firman).

Jadi di dalam surat Ibrani, firman Allah dihubungkan dengan Anak Allah dan dengan karya-Nya di dalam penjadian dan pembaharuan penjadian. Hal yang demikian sama dengan apa yang disebutkan di Yohanes 1. Selain daripada itu, perhatian penulis surat Ibrani juga tidak berhenti pada hal mengadakan pemandangan yang panjang lebar mengenai kesamaan Yesus Kristus dengan Tuhan Allah. Sebentar ia menunjukkan kepada hubungan yang kekal di antara Allah Bapa dan Anak, akan tetapi segera ia mengarahkan perhatiannya kepada karya penyelamatan Anak itu. Juga dari ayat-ayat dalam surat Ibrani ini jelas, bahwa Yesus Kristus adalah Allah di dalam penyataan-Nya. Ia adalah Allah, dilihat dari segi ini, bahwa di dalam Dialah Tuhan Allah menyatakan diri-Nya, bahwa di dalam Dialah Tuhan Allah sendiri menyatakan hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya.

Gagasan yang sama dengan ini juga diungkapkan oleh Rasul Paulus di dalam suratnya yang kepada jemaat Filipi, yaitu di Filipi 2:6-8. Di Filipi 2:6 disebutkan, bahwa Yesus Kristus semula dalam rupa Allah atau dalam wujud Allah [en morphê theou]. Menurut para ahli, kata morphê di sini menunjuk kepada kata yang dalam Kejadian 1:26 diterjemahkan dengan gambar Allah dan yang dalam Kolose 1:14-15 juga diterjemahkan demikian. Jikalau demikian, maka di Filipi 2:6 ini Rasul Paulus menunjukkan, bahwa Yesus Kristus adalah gambar Allah, yang semula ada pada Allah, dan yang kemudian mengosongkan diri-Nya menjadi manusia. Menjadi gambar Allah berarti: terpanggil untuk menampakkan di dalam hidupnya hidup ilahi. Manusia pertama dijadikan menurut gambar Allah atau menurut gambar dan rupa Allah. Hal ini berarti, bahwa manusia dipanggil untuk menampakkan di dalam hidupnya hidup ilahi. Padahal itu hanya mungkin, jikalau manusia mentaati kehendak Tuhan Allah. Akan tetapi manusia pertama tidak setia kepada tugasnya. Tidaklah demikian keadaan Yesus Kristus. Sekalipun Anak Allah adalah gambar Allah, artinya terpanggil untuk menampakkan hidup ilahi, namun Ia tidak berbuat seperti yang telah diperbuat oleh manusia pertama. Ia setia kepada tugas-Nya. Kesetiaan-Nya dinyatakan di dalam hal ini, bahwa Ia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba dan merendahkan diri-Nya serta taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Jadi bahwa Kristus adalah gambar Allah hal ini dinyatakan di dalam karya penyelamatan-Nya.

Jadi di sini tiada spekulasi mengenai pra-eksistensi Anak Allah. Setelah Rasul Paulus sebentar menunjukkan kepada asal Anak Allah, segeralah ia menunjukkan karya-Nya yang membuktikan hakekat-Nya sebagai gambar Allah tadi.

Kristus Sebagai Gambar Allah

Mengenai Kristus sebagai gambar Allah diuraikan juga di Kolose 1:14-15, 2 Korintus 4:4 dan Ibrani 1:3. Juga dari ayat-ayat ini tampak bahwa jikalau Kristus disebut gambar Allah yang tidak kelihatan, hal itu menunjuk kepada fungsi Kristus sebagai penyataan Tuhan Allah. Dengan cara yang tampak, yaitu di dalam karya penyelamatan-Nya, Kristus menyatakan Tuhan Allah.

Sebagai Anak Allah, Yesus adalah gambar Allah yang di dalam hidup-Nya menampakkan kehidupan ilahi secara sempurna, yang oleh karenanya disebut Allah.

Demikianlah Anak Allah, kecuali disebut Firman, yang bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya, juga disebut gambar Allah yang menampakkan hidup ilahi. Dan semuanya tampak di dalam karya penyelamatan-Nya.

Kepada dua macam kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya mengenai Yesus sebagai Anak Allah (yaitu hanya di dalam Dialah fungsi Anak Allah dilaksanakan dengan sempurna dan bahwa Dialah mencerminkan hidup ilahi di dalam seluruh hidup-Nya), dapat ditambahkan (berdasarkan uraian tambahan), bahwa jikalau Yesus Kristus disebut Anak Allah, hal itu bukan berarti bahwa Ia identik dengan Bapa, sebab Ia adalah Allah di dalam karya-Nya, atau Allah di dalam penyataan-Nya. Hal ini sama dengan Firman. Sekalipun Firman disebut Allah, hal itu tidak berarti, bahwa Firman itu identik dengan Allah. Juga sama dengan halnya gambar Allah, yang mencerminkan hidup ilahi, namun tidak identik dengan Allah.

Sekalipun demikian tidak boleh disimpulkan, bahwa Anak Allah adalah suatu Allah di samping Bapa, sehingga keduanya berada berdampingan. Yesus Kristus adalah Allah di dalam penyataan-Nya. Maka Anak Allah bukanlah Bapa dan sebaliknya Bapa bukanlah Anak. Anak Allah adalah Firman Allah, Sabda Allah, yang tidak dapat dipisahkan dengan Allah, dan Anak Allah adalah gambar Allah, yang tidak dapat dipisahkan dengan Allah sendiri.

Allah adalah Bapa di dalam penyataan-Nya atau karya-Nya sebagai sekutu umat-Nya, yang telah mengambil inisiatif atau prakarsa untuk menyelamatkan umat-Nya, dan yang telah memanggil umat-Nya untuk menjadi sekutu-Nya, atau menjadi anak-Nya, yang harus mentaati kehendak-Nya.

Allah adalah Anak di dalam penyataan-Nya atau di dalam karya-Nya untuk merealisasikan hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, ketika umat gagal memenuhi fungsinya sebagai umat Allah. Allah adalah Anak, yang telah merealisasikan tugas-Nya dengan sempurna, yaitu dengan ketaatan-Nya hingga di kayu salib.

Sang Firman dan Roh Kudus

Mengenai Roh Kudus dapat dikatakan, bahwa penyataan Tuhan Allah sebagai Roh juga berpusat pada Kristus.

Hal ini jelas dari wawancara yang diadakan oleh Yesus dengan orang perempuan Samaria di Yohanes 4. Segera orang perempuan Samaria itu menduga, bahwa Yesus adalah seorang nabi, segeralah ia mempersoalkan hal tempat di mana orang dapat menyembah Tuhan Allah dengan sebenarnya, yaitu: di bukit dekat Samaria itukah (seperti yang diajarkan oleh bangsanya) atau di Yerusalem (seperti yang diajarkan oleh orang Yahudi)? Yesus menjawab, bahwa saatnya akan datang, bahwa orang akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem, sebab Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Ungkapan “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” biasanya diterangkan demikian (terlebih-lebih oleh para orang kebatinan), bahwa cukuplah orang menyembah Allah di dalam batinnya, sebab Tuhan Allah adalah Roh, zat yang halus. Akan tetapi keterangan yang demikian itu sebenarnya tidak cocok dengan yang dimaksudkan oleh bagian Alkitab ini.

Jikalau di sini disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Roh, hal ini bukan berarti, bahwa Tuhan Allah adalah zat yang halus, yang tidak dapat diamati oleh indera manusia, seperti yang diajarkan oleh Plato. Kata Roh di sini harus dilihat dari latar belakang Perjanjian Lama, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah “sumber hidup yang dengan aktif menghidupkan”. Tuhan Allah adalah Roh, berarti bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang hadir berbuat, yang kehadiran-Nya memberikan daya hidup. Barangsiapa yang hendak menyembah Tuhan Allah yang kehadiran-Nya adalah kehadiran yang berbuat secara dinamis, ia harus juga menyembah-Nya dengan roh, artinya: ia harus menyembah Tuhan Allah “di tempat di mana kehadiran-Nya secara dinamis atau secara aktif dirasakan”. Selanjutnya disebutkan, bahwa barangsiapa yang menyembah Tuhan Allah yang demikian itu, ia harus menyembah-Nya dengan kebenaran, artinya: ia harus menyembah Tuhan Allah “di tempat kesetiaan-Nya kepada perjanjian-Nya dirasakan”. Jadi menurut kata Yesus, menyembah Tuhan Allah dalam roh dan kebenaran berarti: menyembah Tuhan Allah di tempat Tuhan Allah hadir dengan nyata dengan karya-Nya untuk menampakkan kekuatan kesetiaan-Nya, yang dilaksanakan dalam firman dan karya-Nya sebagai sekutu umat-Nya.

Bahwa perempuan Samaria mengerti maksud Yesus yang demikian itu, jelas dari kata-katanya, bahwa jikalau Mesias, yang juga disebut Kristus datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada mereka. Kata-kata itu menunjukkan, bahwa perempuan itu tahu, bahwa Mesias atau Kristus menjadi penjelmaan Allah sebagai sekutu umat-Nya, yang akan memberitahukan di mana Allah hadir dengan kekuatan kesetiaan-Nya. Pengakuan yang demikian itulah yang dinanti-nantikan oleh Yesus dari perempuan Samaria tersebut. Oleh karena itu segeralah Yesus berkata, bahwa Dialah Mesias yang juga disebut Kristus, yang diharapkan para orang Samaria itu.

Jadi menurut Yesus, sekarang di dalam diri-Nya orang dapat menyembah Tuhan Allah dengan kehadiran-Nya yang mendatangkan hidup. Sebab itu, Yesus Kristus adalah kehadiran Tuhan Allah sebagai Roh dalam karya-Nya yang menghidupkan.

Dari uraian ini kiranya jelas, bahwa gambaran Alkitab mengenai Tuhan Allah adalah bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang hidup dan bekerja, dan yang senantiasa bekerja. “Bapaku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Allah yang senantiasa bekerja ini telah mencurahkan hidup-Nya kepada dunia yang dijadikan-Nya. Dengan “menjadikan” itu Tuhan Allah telah menjadi Roh yang menghidupkan. Dan selanjutnya dengan Roh-Nya itu, Tuhan Allah juga telah memelihara dan melangsungkan hidup dunia ini.

Demikianlah arti ungkapan Roh di dalam Perjanjian Baru sama dengan ungkapan Roh di dalam Perjanjian Lama.

Bagaimana hubungan Roh ini dengan Yesus sebagai Anak Allah?

Di dalam Perjanjian Lama, raja disebut anak Allah. Hal itu disebabkan karena di dalam raja itu telah terangkumkan seluruh umat Israel sebagai anak Allah. Raja di Israel mewakili seluruh umat Allah sebagai sekutu Allah. Oleh karena itu Roh Allah atau kekuatan ilahi yang dinamis juga bekerja pada raja itu.

Di dalam Perjanjian Lama, kedudukan Mesias sebagai hamba Tuhan juga mendapat tugas yang khas dari Tuhan Allah, dan oleh karena itu Roh Allah juga bekerja di dalam Mesias sebagai Hamba Tuhan. Di situ Roh Allah bekerja sebagai roh hikmat dan pengertian, sebagai roh nasehat dan keperkasaan, sebagai roh pengenalan dan takut akan TUHAN. Di dalam Mesias itu terangkum juga seluruh umat-Nya, sebab Ia mewakili umat-Nya di dalam karya-Nya.

Karya Kristus yang dilakukan atas nama Allah Bapa adalah karya Allah Bapa sendiri di dalam hendak menyelamatkan umat-Nya. Maka karya Kristus di dalam penyelamatan-Nya itu dapat juga dipandang sebagai pelaksanaan Roh atau kekuatan ilahi yang dinamis di dalam menyelamatkan umat-Nya.

Jadi ada hubungan yang erat sekali di antara karya Kristus sebagai Anak Allah dan karya Roh Kudus sebagai kekuatan ilahi atau daya ilahi. Hubungan itu demikian eratnya, hingga Roh Kudus juga disebut Roh Kristus. Kristus mendatangi para orang milik-Nya di dalam Roh dan di dalam Roh itulah Ia bersama-sama dengan mereka. Di Yohanes 14:18 umpamanya, Yesus berkata, bahwa Ia tidak akan meninggalkan para murid-Nya sebagai yatim piatu, sebab Ia akan datang kembali kepada mereka. Dan kedatangan-Nya itu adalah kedatangan di dalam Roh. Di Matius 28:20 Yesus berjanji, ia menyertai para murid-Nya senantiasa sampai kepada akhir zaman. Dan hal ini juga terjadi di dalam Roh.

Demikianlah Alkitab menyamakan Roh dengan Kristus. Di 1 Yohanes 3:24 disebutkan, kita mengetahui bahwa Allah ada di dalam kita itu dari Roh yang telah dikaruniakan kepada kita.

* 2 Korintus 3:17
LAI TB, Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
KJV, Now the Lord is that Spirit: and where the Spirit of the Lord is, there is liberty.
TR, ο δε κυριος το πνευμα εστιν ου δε το πνευμα κυριου εκει ελευθερια
Translit, ho de kurios to pneuma estin ou de to pneuma kuriou ekei eleutheria

Telah ditunjukkan juga, bahwa di dalam Perjanjian Lama, Firman dan Roh dianggap sebagai sinonim.
Jika Roh itu seolah-olah diidentikkan dengan Kristus, maka yang dimaksud adalah “Kristus yang telah dibangkitkan dan dimuliakan”. Dapat dikatakan, bahwa Roh Kudus adalah kekuatan ilahi, dengan-Nya Yesus yang telah dimuliakan itu hadir dan bekerja di dalam gereja-Nya. Roh Kudus adalah Yesus sendiri, sepanjang Yesus Kristus yang telah dimuliakan itu menyerahkan diri-Nya kepada umat-Nya hingga dapat dialami oleh umat-Nya.

Dapat dikatakan, bahwa Roh Kudus adalah Yesus Kristus yang telah dimuliakan itu hadir berbuat.

Seperti halnya dengan hubungan Bapa dan Anak, demikianlah halnya dengan hubungan antara Kristus dengan Roh Kudus. Allah Anak dapat disamakan dengan Allah Bapa dilihat dari segi ini, bahwa Allah Anak adalah Allah Bapa yang bekerja untuk menyelamatkan. Demikian juga Roh Kudus dapat disamakan dengan Kristus, Anak Allah, dilihat dari segi ini, bahwa Roh itu adalah Kristus yang hadir berbuat untuk menjadikan orang-orang milik-Nya menikmati hasil karya penyelamatan-Nya.

Sama halnya dengan kesamaan Bapa dan Anak, demikianlah harus dikatakan, bahwa kesamaan Kristus dengan Roh Kudus itu bukanlah kesamaan di dalam segala hal. Roh Kudus adalah Kristus sebagai Tuhan yang telah dimuliakan, bukan sebagai Kristus yang menderita.

Bagaimanakah rumusan hasil penyelidikan terhadap bahan-bahan dari Alkitab ini?

Seperti yang telah dikemukakan, Gereja kuno merumuskan keyakinannya tentang Allah Tritunggal itu demikian, bahwa Tuhan Allah adalah satu dalam zat-Nya dan tiga dalam pribadi-Nya (una substantia, tres personae), atau dalam bahasa Yunani: satu dalam ousia-Nya, dan tiga dalam hypostasis-Nya.

Juga telah dikemukakan, bahwa ungkapan pribadi atau oknum sebenarnya pada zaman sekarang ini telah tidak dapat diterapkan lagi kepada ajaran tentang Allah Tritunggal, karena ungkapan ini sekarang telah mempunyai arti yang berlainan sekali dengan yang semula dimaksudkan oleh Gereja kuno tadi.

Juga telah dikemukakan, bahwa cara mengungkapkan ketritunggalan dengan istilah-istilah substansi dan persona itu masih terlalu dipengaruhi oleh gagasan Plato tentang adanya tabiat ilahi yang halus, yang akali dan rohani, yang tidak dapat diamati oleh indera manusia, dan lain sebagainya. Pokoknya keterangan yang tidak berdasarkan kepada gagasan Alkitab.

Alkitab tidak pernah mengadakan spekulasi mengenai zat Allah. Para penulis Alkitab tidak pernah menguraikan hakekat Allah dengan menarik kesimpulan-kesimpulan dari hukum akal mengenai yang wajib, yang mustahil, dan yang jaiz. Menurut Alkitab, hakekat Tuhan Allah adalah bahwa Ia menjadi sekutu umat-Nya. Dan hakekat ini diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya, hal itu dengan jelas diwujudkan di dalam hakekat Yesus, bukan dalam zat-Nya, melainkan dalam firman dan karya-Nya. Hakekat Tuhan Allah adalah hakekat dalam karya-Nya. Ia adalah Mahatinggi dalam firman dan karya-Nya. Ia adalah kudus dalam firman dan karya-Nya. Ia adalah esa dalam firman dan karya-Nya, demikian seterusnya. Demikian juga halnya dengan penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga-tiganya adalah penyataan hakekat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya yang dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya. Tuhan Allah adalah Bapa di dalam firman dan karya-Nya, Ia adalah Anak di dalam firman dan karya-Nya, dan ia adalah Roh Kudus di dalam firman dan karya-Nya. Ketritunggalan Allah adalah ketritunggalan di dalam firman dan karya-Nya.

Sebenarnya tiada keberatan sedikitpun untuk menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai υποστασις – HUPOSTASIS atau cara berada, asal υποστασις – HUPOSTASIS itu tidak diterangkan secara statis, melainkan secara aktif, secara dinamis, sebab hakekat Tuhan Allah adalah suatu hakekat dalam keaktifan atau dalam karya-Nya.

 

 

  • Doktrin Tritunggal, Apakah Menyerap Ajaran Agama Lain?

Tuhan Allah adalah Bapa di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang menciptakan, memanggil dan menyelamatkan umat-Nya. Tuhan Allah adalah Anak di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang menyatakan atau yang menjelmakan atau mewujudkan hakekat Bapa sebagai sekutu umat-Nya, hingga benar-benar umat Allah menjadi sekutu-Nya. Dan Tuhan Allah adalah Roh Kudus di dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, sebab Dialah yang membenarkan, menyucikan serta menyempurnakan umat-Nya.

Apakah pandangan ini tidak sama dengan pandangan Sabellius?

Sabellius mengajarkan, bahwa di dalam Perjanjian Lama, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya sebagai Bapa dan Pencipta, di dalam diri Yesus, Ia menampakkan diri sebagai Anak dan Penyelamat, dan akhirnya sejak hari Pentakosta, Ia menampakkan diri sebagai Roh Kudus, sehingga Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah penampakan diri Tuhan Allah yang secara berturut-turut. Akan tetapi tidaklah demikian penyataan Tuhan Allah menurut Alkitab. Sejak semula dan untuk selama-lamanya Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai pencipta, penyelamat dan pembebas umat-Nya. Sejak di Perjanjian Lama, Tuhan Allah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal itu semuanya diwujudkan dengan sejelas-jelasnya di dalam diri Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia.

Tuhan Allah adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus di dalam karya-Nya sejak semula hingga kini dan untuk selama-lamanya. Tuhan Allah adalah Tritunggal di dalam segala karya-Nya, baik di dalam penjadian, maupun di dalam penyelamatan dan pembebasan. Ia adalah Tritunggal dalam hakekat-Nya sebagai sekutu umat-Nya, dahulu, sekarang, dan untuk selama-lamanya.

Mengenai anggapan adanya persamaan ajaran agama lain dengan ajaran Tritunggal ini, di bawah ini pembahasannya:

Pertama-tama di dalam Agama Hindu ada ajaran yang disebut Trimurti, yang di dalam agama Hindu Jawa disebut ajaran tentang Tri Purusa. Ajaran ini mengajarkan ada tiga bentuk (trimurti) dari zat yang mutlak (Brahman), yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di dalam kitab Mahabharata terdapat suatu ucapan yang masyhur, yaitu bahwa Prajapati menciptakan dalam bentuk Brahma, memelihara dalam bentuk manusia (Wisnu) dan merusak dalam bentuk Rudra, yaitu Siwa yang lain (Mahabharata III, 272, 46). Senada dengan ucapan di atas itu dikatakan mengenai Brahman, yaitu bahwa Brahman memiliki tiga penjelmaan, atma (jiwa perorangan), prakrti (alam) dan Isywara (Tuhan).

Di dalam prakteknya masing-masing mashab Hindu memiliki salah satu dewa menjadi dewanya yang tertinggi, sedang kedua dewa lainnya menjadi penjelmaannya, umpamanya mashab Siwa menganggap Siwa sebagai dewa yang tertinggi, yang identik dengan Brahman, dan yang kemudian demi kepentingan penciptaan, pemeliharaan dan pengrusakan, menjelma sebagai Brahma, Wisnu, dan Rudra.

Menurut keyakinan Hindu, dewa yang tertinggi, baik ia disebut Brahman, maupun Siwa, atau Wisnu, atau sebutan yang lain, dipandang sebagai Zat yang Mutlak, yang bebas dari segala hubungan dan sifat, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia. Jadi semacam tabiat ilahi dari Plato. Tokoh ini adalah zat yang transenden, yang tidak berbuat dan tidak berkehendak. Sebab seandainya zat ini berkehendak untuk berbuat, ia akan terikat kepada karma dan samsara. Oleh karena itu tokoh yang tertinggi ini memerlukan penjelmaan yang lebih kasar, yang lebih rendah untuk dapat berfungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur segala sesuatu. Itulah sebabnya ia menjelma dalam Brahma, Wisnu, dan Rudra. Ketiga penjelmaan ini dipandang sebagai bersamaan dengan perkembangan proses kosmos dengan hukumnya: lahir, berkembang, dan mati. Akan tetapi di dalam sistem yang mengerjakan, bahwa Brahman tidak terikat kepada pekerjaan, maka penjelmaan ini sebenarnya adalah khayalan belaka. Sebab dilihat dari pihak Brahman, penjelmaan ini tidak ada, penjelmaan ini hanya tampak sebagai penjelmaan jikalau dilihat dari pihak manusia.

Menurut anggapan orang India yang modern (Dr. S. Radhakrishnan), ajaran Trimurti mengajarkan tiga segi atau tiga aspek dari suatu kepribadian ilahi yang kompleks.

Jelas, bahwa pandangan agama Hindu tentang Trimurti atau Tri Purusa ini tiada sangkut-pautnya dengan pandangan Alkitab yang mengungkapkan hakekat Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan khayalan manusia, juga bukan khayalan Allah. Ketiga penyataan Allah itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya di dalam sejarah umat-Nya dan dialami oleh umat Allah sebagai kenyataan yang hidup.

Di dalam tasawwuf (umpamanya ajaran Abd. al-Karim al-Jili), Tuhan Allah dipandang sebagai zat yang mutlak atau zat yang akali secara murni, yang esa dalam arti filsafat, yaitu tanpa bagian dan tidak dibagi-bagi, tanpa sifat dan hubungan. Jadi hampir sama dengan ajaran Hindu mengenai Brahman. Dalam keadaan-Nya yang mutlak itu Tuhan disebut: kabut yang gelap (al-‘ama). Dalam keadaan yang mutlak ini Tuhan dapat disebut juga inti sari zat, yang memiliki aspek atau segi keluar, yaitu ahadiyya, di mana yang mutlak tadi sadar akan dirinya sebagai kesatuan. Ahadiyya ini memiliki dua aspek, yaitu huwiyya (ke-ia-an) yang menandai kesatuan batin, di mana yang mutlak sadar akan diri-Nya sebagai yang tidak jamak, dan aniyya (ke-aku-an), yang mewujudkan ungkapan ke luar dari huwiyya, yaitu kesatuan yang menyatakan diri dalam eksistensi di mana yang mutlak sadar akan diri-Nya sebagai kebenaran dari yang jamak.

Dapat dikatakan, bahwa di sini ada tiga macam kesadaran di dalam Tuhan Allah sebagai Yang Mutlak. Pertama-tama Tuhan sadar akan diri-Nya sebagai kesatuan yang murni dan esa (ahadiyya); kemudian Tuhan sadar akan diri-Nya sendiri sebagai yang mengandung di dalam-Nya yang jamak (huwiyya), dan akhirnya Tuhan sadar akan diri-Nya sebagai yang menyatakan yang jamak (aniyya).

Juga pandangan ini tidak dapat disamakan dengan ajaran Alkitab tentang Allah Tritunggal.

Di dalam Kebatinan Jaya ada satu aliran yang mengajarkan tentang ketritunggalan, yaitu Pangestu. Menurut Pangestu, Tuhan Allah yang Maha Esa itu disebut Tri Purusa, yang artinya: keadaan satu yang bersifat tiga, yaitu: Suksma Kawekas (Tuhan yang Sejati), yang di dalam bahasa Arab disebut Allah ta’ala, Suksma Sejati (Penuntun Sejati atau Guru Sejati), yaitu utusan Tuhan, dan akhirnya Roh Suci yaitu manusia sejati atau jiwa manusia sejati. Demikian disebutkan di dalam Kitab Sasangka Jati. Menurut Dr. Sumantri almarhum, ketiga sifat itu harus diterangkan sebagai tiga faset, dan harus diartikan demikian, bahwa Suksma Kawekas adalah Hidup Pertama dalam keadaannya yang masih tenang, tanpa gerak, tanpa kesadaran, seperti halnya dengan lautan sepi yang tanpa gelombang, atau seperti kata Hamzah Pansuri: seperti laut yang dalam. Suksma Sejati adalah Hidup Pertama dalam keadaannya yang aktif bekerja seperti lautan yang bergelombang. Adapun Roh Suci adalah Hidup Pertama yang melepaskan diri dari Tuhan, seperti halnya dengan titik air yang menguap melepaskan diri dari lautan yang bergelombang tadi, serta yang kemudian dipenjarakan di dalam tubuh.

Menurut Pangesti, Suksma Kawekas sama dengan Allah Bapa di dalam agama Kristen, Suksma Sejati sama dengan Allah Anak dan Roh Suci sama dengan Roh Suci di dalam ketritunggalan agama Kristen. Akan tetapi jelas, bahwa pendapat yang demikian bukan didasarkan atas penyelidikan yang seksama, sekalipun hal itu disebutkan di dalam Kitab Sasangka Jati.

Pertama harus dikemukakan, bahwa Pangestu tidak mengajarkan, bahwa hakekat Tuhan Allah adalah menjadi sekutu umat-Nya.

Kedua, sekalipun Pangestu mengatakan, bahwa Tuhan Allah memiliki tiga faset atau wajah, namun ternyata, menurut keterangan Dr. Sumantri, ketiga faset tadi adalah tiga pangkat dari tabiat ilahi atau ketuhanan yang makin lama makin rendah (lautan sepi yang tanpa gelombang, lautan gelombang, dan titik air yang menguap atau melepaskan diri dari lautan yang bergelombang). Oleh karena itu ajaran Pangesti ini sebenarnya adalah suatu ajaran emanasi, pengaliran ke luar dari zat ilahi, yang pada hakekatnya sama dengan ajaran Hindu tentang Brahman dan ajaran Tasawwuf tentang martabat.

Ketiga, Roh Suci di dalam ajaran Pangestu bukanlah daya ilahi yang dinamis, dengannya Allah hadir berbuat, melainkan bagian zat Allah yang dipenjarakan di dalam tubuh manusia.

Allah itu Esa

Bagi agama Islam, dosa yang tidak dapat diampuni ialah syirk, yaitu mempersekutukan Tuhan Allah. Dalam Sura 4:48 (terjemahan Departemen Agama) disebutkan, bahwa Tuhan Allah tidak akan mengampuni dosa syirk, sekalipun Tuhan Allah berkenan mengampuni segala dosa yang lain. Menurut para ulama Islam, orang Kristen berkesalahan terhadap syirk ini, karena mengajarkan tentang Allah yang Tritunggal. Menurut para ulama Islam, dosa orang Kristen ialah: menganggap bahwa di samping Allah ada yang berilmu, ada yang berkuasa, ada yang dapat disembah, dan bahwa orang dipandang sebagai dapat menyandarkan diri dan mempercayakan diri kepada yang lain daripada Allah.

Baik agama Islam maupun agama Kristen sebenarnya mengemukakan bahwa hanya ada Allah satu, dapat dibandingkan dengan keterangan tentang hakekat Allah yang diungkapkan dalam keesaan-Nya dalam tulisan sebelumnya. Hanya saja, memang ada perbedaan pendapat mengenai keesaan Allah ini. Ditinjau dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh para ulama Islam, diperoleh kesan bahwa yang ditekankan oleh mereka adalah keesaan dalam arti matematis. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, di dalam Alkitab yang ditekankan adalah keesaan dalam firman dan karya Tuhan Allah, keesaan yang bersifat etis, sehingga orang beriman diperingatkan supaya jangan hanya puas dengan percaya adanya Allah yang satu.

* Yakobus 2:19
LAI TB, Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”
KJV, Thou believest that there is one God; thou doest well: the devils also believe, and tremble.
TR, συ πιστευεις οτι ο θεος εις εστιν καλως ποιεις και τα δαιμονια πιστευουσιν και φρισσουσιν
Translit, su pisteueis hoti ho theos heis estin kalôs poieis kai ta daimonia pisteuousin kai phrissousin

Orang beriman diperingatkan supaya imannya disertai perbuatan.

Ada banyak ayat di dalam Al~Qur’an yang menentang dipersekutukannya Tuhan Allah. akan tetapi sebenarnya Alkitab tidak mengajarkan apa yang dituduhkan oleh Al~Qur’an. Di dalam Alkitab tiada soal tentang mempersekutukan Allah.

Apakah arti kepercayaan kepada Allah Tritunggal di dalam hidup kekristenan?

Setelah dibicarakan isi pandangan Alkitab tentang Allah Tritunggal, baiklah dibicarakan hal arti kepercayaan kepada Allah Tritunggal itu di dalam hidup kekristenan. Adakah arti itu? Atau, apakah ajaran tentang Allah Tritunggal itu sebenarnya hanya suatu sport otak saja? Adakah perbedaan antara hidup keagamaan orang yang percaya benar-benar, bahwa Allah adalah Tritunggal dengan hidup keagamaan orang yang tidak percaya bahwa Allah adalah Tritunggal? Pembicaraan soal ini cukup penting sebab jika seandainya tiada perbedaan dalam praktek hidup keagamaan di antara dua golongan itu, tiada gunanya untuk bersusah-payak membicarakan persoalan Allah Tritunggal itu.

Menurut Alkitab, manusia dijadikan segambar dan serupa dengan Allah, yang berarti, bahwa hidup manusia dihubungkan dengan Allahnya. Maka bagi kehidupan manusia itu ada suatu soal yang penting sekali, yaitu: dengan Allah yang bagaimanakah ia menghubungkan diri?

Pertama-tama perlu dikemukakan, bahwa ajaran Alkitab tentang Allah yang Tritunggal itu memperkenalkan Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya, artinya: sebagai Allah yang memihak, membali serta mencari keselamatan manusia.

Ajaran Deisme mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah Yang Mahatinggi, Yang Mahakuasa, dan Yang Mahaadil, dalam arti, bahwa Allah adalah yang transenden, yang menjadikan dunia dengan segala isinya serta yang akan mengadilinya. Sebagai Yang Mahatinggi, Allah adalah jauh dari manusia. Hubungan antara Tuhan Allah dan manusia lebih sebagai Raja diraja dengan hamba-hamba-Nya yang hina-dina. Memang, di dalam sistem ini Tuhan Allah juga memberi petunjuk tentang bagaimana manusia dapat menghambakan diri kepada Allahnya, akan tetapi pada akhirnya manusia sendirilah yang harus memeras segala tenaga untuk dapat memperkenankan hati Allahnya, guna menghindarkan diri dari Hakim yang tertinggi yang Mahaadil itu.

Di sini Tuhan Allah bagi manusia menjadi sedemikian jauh dan abstrak sehingga akhirnya tidak akan memuaskan akal manusia.

Sebaliknya, ajaran Pantheisme, yang termasuk di dalamnya ajaran kebatinan, mengajarkan, bahwa Allah berada di mana-mana seperti api berada di dalam kayu yang dibakarnya. Di sini Tuhan Allah bukan jauh di atas manusia, melainkan dekat sekali dengan manusia, bahkan sedemikian dekat hingga tiada lagi perbedaan antara Allah dan manusia. Manusia pada hakekatnya adalah Allah sendiri, sehingga sebenarnya tiada lagi hidup keagamaan. Di dalam persekutuan antara Allah dan manusia pada akhirnya tiada perbedaan antara Yang Disembah dan yang menyembah. Juga di sini ada jalan kelepasan, yaitu dengan melalui pengekangan hawa nafsu dan sebagainya, akan tetapi pada akhirnya juga manusia sendirilah yang harus mengerahkan segala tenaganya demi keselamatannya.

Kedua ajaran tersebut berbeda sekali dengan ajaran Alkitab yang mengajarkan tentang Allah di dalam penyataan-Nya. Sebab ajaran Alkitab itu mengajarkan, bahwa Allah yang esa di dalam firman dan karya-Nya itu di satu pihak memang berbeda sekali dengan manusia, akan tetapi di lain pihak Allah juga dekat sekali dengan manusia. Tuhan Allah bukan hanya memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Mahakuasa, Pencipta dan Pemelihara serta Hakim seluruh umat manusia, akan tetapi Tuhan Allah juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Penyelamat dan pembebas umat-Nya. Ia adalah sekutu umat-Nya, bukan sembarang sekutu, melainkan sekutu yang demikian setia, sehingga sekalipun umat-Nya karena dosa-dosanya tidak setia dan tidak layak, namun sebagai Bapa Tuhan Allah tetap memihak kepada umat manusia sebagai anak-anak-Nya, serta menyelamatkannya di dalam Kristus, serta menyempurnakannya di dalam Roh Kudus.

Kedua, perlu dikemukakan, bahwa ajaran Alkitab tentang penyataan Allah sebagai yang Bapa, Anak dan Roh Kudus itu penting bagi pengenalan akan pekerjaan Tuhan Allah.

Apakah umpamanya arti penciptaan bagi ajaran Deisme? Apa sebab Tuhan Allah yang Mahatinggi, yang jauh dari manusia itu menciptakan dunia ini? Untuk apa Tuhan Allah menciptakan dunia? Sebenarnya di dalam ajaran Deisme tiada jawaban yang tepat mengenai persoalan ini. Penciptaan seolah-olah hanya mewujudkan hal yang kebetulan saja.

Juga Pantheisme tidak dapat menjawab persoalan ini dengan tepat. Penciptaan bagi Pantheisme justru menjadi sebabnya Tuhan Allah atau Yang Ilahi dipenjara di dalam benda.

Akan tetapi ajaran Alkitab tentang Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus itu memberi arti kepada penciptaan dunia ini secara mendalam sekali. Di sini tidak mungkin penciptaan dunia ini hanya mewujudkan suatu kejadian yang kebetulan saja, atau suatu nasib buruk. Dunia ada karena dikehendaki Tuhan Allah. Ia menjadikan dunia dengan segala isinya untuk memuliakan nama-Nya. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Dunia sebagai hasil karya Allah adalah baik. Manusia diperkenankan, bahkan dipanggil untuk mempergunakan dunia ini dengan segala isinya guna memuliakan Tuhan Allah. “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan atas burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. ” Dunia ini bukan sumber kejahatan. Alam dan anugerah tidaklah bertentangan, demikian juga hal penciptaan dan pembaharuan penciptaan.

Oleh karena Bapa dan llah Anak adalah satu di dalam karya-Nya, maka keduanya tidak saling bertentangan. Barangsiapa yang telah dipilih oleh Bapa, tentu diselamatkan oleh Anak, oleh karena pemilihan Bapa itu dilakukan di dalam Anak-Nya. Pemeliharaan Bapa atas umat-Nya membantu keselamatan umat-Nya itu. Maka orang yang beriman dapat yakin, bahwa Tuhan Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan baginya.

Oleh karena Anak dan Roh adalah satu di dalam karya-Nya, maka tiada pertentangan antara karya penyelamatan Kristus dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab sebagai kesaksian akan karya penyelamatan Kristus tidak bertentangan dengan pimpinan Roh yang diberikan di dalam hidup orang beriman. Sebab Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada orang beriman semua yang telah dikatakan Tuhan kepadanya.

Ketiga, ajaran Alkitab tentang Allah yang menyatakan dirinya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah penting bagi pengalaman orang beriman tentang Allah itu.

Orang memeluk ajaran Deisme mengalami Tuhan Allah sebagai Allah yang jauh tinggi daripada manusia, sedang orang Pantheis mengalami Allah sebagai Allah yang ada di dalamnya semata-mata.

Menurut Alkitab, oleh karena Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, maka orang beriman mengalami-Nya pertama-tama sebagai Yang Kudus, yang terpisah dari segala dosa, yang oleh karenanya jauh lebih tinggi daripada manusia dosa dan harus ditakutinya. Selain itu, Tuhan Allah juga dialami sebagai Yang Mahatinggi dan Mahamulia, kepada-Nya semua orang beriman merasa tergantung. Demikian juga Tuhan Allah dialami sebagai Raja diraja yang wajib ditaati dan disembah secara sempurna. Akan tetapi di samping itu semua orang beriman mengalami Tuhan Allah sebagai teman, sebagai penolong, yang melepaskan mereka dari segala kesengsaraan, yang sanggup memikul segala hukuman mereka. Tuhan Allah bukan hanya Yang Mengadili orang beriman, akan tetapi Ia juga Yang mengulurkan tangan-Nya untuk keselamatan mereka. Bahkan Tuhan Allah juga adalah Yang Mahadekat dengan mereka di dalam diri mereka. Karena Roh Kudus maka Allah juga yang menjadi Yang berdiam di dalam orang beriman. Yang menjadi penasehat mereka. Ia adalah hidup orang beriman. Di sinilah dapat dimengerti akan kata-kata rasul Paulus ini:

* Roma 8:31
LAI TB, Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?
KJV, What shall we then say to these things? If God be for us, who can be against us?
TR, τι ουν ερουμεν προς ταυτα ει ο θεος υπερ ημων τις καθ ημων
Translit, ti oun eroumen pros tauta ei ho theos huper hêmôn tis kath hêmôn

* Roma 8:32
LAI TB, Ia, yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
KJV, He that spared not his own Son, but delivered him up for us all, how shall he not with him also freely give us all things?
TR, ος γε του ιδιου υιου ουκ εφεισατο αλλ υπερ ημων παντων παρεδωκεν αυτον πως ουχι και συν αυτω τα παντα ημιν χαρισεται
Translit, hos ge tou idiou huiou ouk epheisato all huper hêmôn pantôn paredôken auton pôs oukhi kai sun autô ta panta hêmin kharisetai
Agama Kristen berdiri dan jatuh bersama-sama dengan pengakuan kepada Allah yang menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ajaran ini adalah inti iman Kristen, dasar segala ajaran Kristen. Maka orang Kristen akan senantiasa memuji, “Hormat bagi Allah Bapa, hormat bagi Anak-Nya, hormat bagi Roh Penghibur, ketiganya yang Esa. Haleluya, haleluya, ketiganya yang Esa.”

 

Selesai.

 

Ajaran Tentang Tuhan (Pandangan Kristen Protestan) Bagian 2

Tulisan dibawah ini merupakan salinan dari web http://www.sarapanpagi.org/ajaran-tentang-tuhan-allah-vt24.html tanpa ada penambahan apapun.

Bagian 2

 

 

  • Bukti-bukti Adanya Tuhan

Israel mengungkapkan keyakinannya yang mengenai Tuhan Allah itu bukan karena ia terdorong oleh akalnya, yang ingin berfilsafat tentang Tuhan Allah, melainkan karena terdorong oleh kelimpahan kasih karunia Tuhan Allahnya, yang telah dianugerahkan kepadanya. Oleh karena itu Israel ingin memuji dan memuliakan Tuhannya.

Hingga kini masih banyak ahli agama yang mengira, bahwa mereka dapat membuktikan adanya Tuhan Allah. Sejak zaman Plato orang mencoba membuktikan hal ini. Tiap orang beragama merasa bahwa di dalam dirinya ada pengertian tentang Tuhan Allah. Manusia yang diberi akal itu ingin menjadikan lebih jelas dan lebih terang pengertian tentang Tuhan tadi dengan merenungkannya dan menyelidikinya. Orang belum puas, jika hanya merasa, bahwa Tuhan Allah ada, orang ingin mencoba menunjukkan, bahwa kepercayaannya kepada Tuhan Allah itu ada dasar-dasarnya. Itulah sebabnya maka di sepanjang zaman-zaman yang telah lampau hingga kini banyak ahli agama berusaha membenarkan kepercayaannya kepada Tuhan Allah itu. Terlebih-lebih pada zaman sekarang ini, di mana ajaran yang ahteistis mengancam kepercayaan kepada Tuhan Allah.

Sekalipun usaha yang demikian itu dapat dimengerti, namun perlu direnungkan kembali apa yang biasanya disebut bukti-bukti tentang adanya Allah itu. Sebab, jikalau seseorang mempergunakan suatu senjata guna menangkis serangan-serangan tertentu, ia harus yakin benar bahwa senjata itu memang benar-benar ampuh, atau apakah senjata itu hanya ampuh di dalam dugaan belaka.

Ada beberapa bukti yang akan dibicarakan seperti bukti ontologis, bukti kosmologis, bukti teologis dan bukti moril yang akan disampaikan lebih lanjut pada kesempatan berikutnya.
Bukti ontologis

Bukti ini ingin membuktikan bahwa Tuhan Allah ada, dengan menunjukkan kepada adanya pengertian tentang Tuhan. Tiap orang memiliki pengertian tentang Tuhan. Oleh karena tiap orang memiliki pengertian tentang Tuhan, maka Tuhan tentu ada. Bukti ini telah dipakai oleh Plato, dan kemudian dipergunakan oleh tokoh-tokoh Kristen dan Islam. Plato mengemukakan dalil yang demikian: Oleh karena di dalam pikiran manusia terdapat idea atau cita yang sifatnya umum, maka haruslah diambil kesimpulan, bahwa ada akal yang mutlak, yang merangkumkan segala idea atau cita. Idea yang merangkumkan segala idea ini adalah yang benar dan yang indah secara mutlak. Idea yang demikian itu adalah Tuhan.

Pada zaman pertengahan Anselmus membuat dalil, yang jika diuraikan secara bebas berbunyi: Sesuatu yang tertinggi (yaitu yang di atasnya tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi) tentu tidak hanya berada di dalam pikiran manusia saja, melainkan juga di luarnya. Sebab seandainya yang tertinggi (yang di atasnya tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi lagi) tadi hanya berada di dalam pikiran saja, maka sesuatu yang tertinggi itu tentulah juga harus dapat dipikirkan sebagai berada secara istimewa. Padahal ada lebih banyak hal yang dapat dipikirkan secara istimewa. Jika yang tertinggi itu hanya berada di dalam pikiran saja, tentu yang tertinggi tadi sama dengan apa yang di atasnya dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi lagi. Hal yang demikian tidak mungkin. Oleh karena itu kesimpulannya tidak dapat lain kecuali: sesuatu yang di atasnya tidak dapat dipikirkan yang lebih tinggi, tentu tidak hanya berada di dalam pikiran, melainkan juga berada di dalam kenyataan, bukan hanya berada di dalam akal, melainkan juga di dalam kenyataan. Demikianlah Tuhan Allah bukan hanya berada di dalam pikiran orang, melainkan juga berada di dalam kenyataan.

Jalan pikiran Anselmus ini sebenarnya meloncat, yaitu dari pikiran kepada eksistensi atau keberadaan. Apa yang dipikir belum tentu ada kenyataannya. (Tiap orang Jawa umpamanya memiliki pikiran tentang Semar, akan tetapi Semar adalah khayalan, tidak ada kenyataannya). Selanjutnya, eksistensi atau keberadaan itu bukanlah sifat yang menambah kekayaan sesuatu pengertian. (Seratus rupiah di dalam pikiran sama nilainya dengan seratus rupiah di dalam kenyataan). Suatu pengertian tidak akan ditambah sifat-sifatnya oleh keterangan apakah pengertian tadi hanya suatu idea atau apakah pengertian itu benar-benar ada. Demikian jugalah halnya dengan pengertian Tuhan.
Oleh karena itu bukti ontologis ini sebenarnya bukan bukti tentang adanya Tuhan Allah.
Bukti kosmologis atau kausalitas

Jika disingkat, bukti kosmologis ini dapat dirumuskan demikian: Segala yang ada memiliki suatu sebab (dunia ada, jadi dunia atau kosmos memiliki suatu sebab, yaitu Tuhan Allah). Itulah sebabnya bukti ini juga disebut bukti kausalitas.

Dengan bermacam-macam cara bukti ini dikemukakan. Ada yang mengatakan: oleh karena ada gerak, tentu ada yang menggerakkan, yang dirinya sendiri tidak digerakkan oleh sesuatupun. Atau: adanya segala sesuatu yang berubah mengharuskan orang menyimpulkan hal yang tidak berubah. Thomas Aquinas mengemukakan, bahwa adanya rentetan sebab-musabab menunjukkan kepada adanya sebab pertama, yaitu Tuhan Allah.

Juga bukti ini sebenarnya bukan bukti. Harus diakui, bahwa memang tidak ada sebab-musabab yang tiada akhirnya. Harus ada sebab pertama. Akan tetapi bahwa sebab pertama itu adalah Tuhan Allah, hal itu masih harus dibuktikan lagi. Di antara kosmos dan Tuhan Allah mungkin masih ada sebab-sebab yang banyak sekali. Bahwa sebab pertama adalah Tuhan Allah, sebenarnya bukan bukti. Bukti kosmologis ini paling banyak hanya dapat sampai kepada kesimpulan bahwa oleh karena tidak mungkin untuk menerima adanya sebab-musabab yang tiada akhirnya, maka harus ada suatu sebab pertama yang berdiri sendiri secara mutlak, yang menjadi sebab adanya dunia ini. Jika orang masih meneruskan uraiannya kepada Tuhan Allah, sebagai sebab pertama, ia meloncat kepada keyakinannya sendiri, yang memang telah menjadi prasangkanya. Perbuatan yang demikian tentu tidak akan dapat memuaskan orang yang memang mempunyai prasangka yang lain, yang tidak percaya atau tidak mau percaya kepada adanya Tuhan Allah.

Bukti teleologis (telos = tujuan)

Dalil pembuktian ini dirumuskan demikian: Oleh karena di dalam seluruh kosmos ada suatu tata tertib, suatu harmoni, suatu keselarasan dan suatu tujuan, maka harus ada suatu zat yang sadar, yang menentukan tujuan itu terlebih dahulu. Bahwa musim datang pada waktunya, tiap makhluk mendapat pemeliharaan masing-masing dan sebagainya, menunjukkan bahwa ada Tuhan Allah yang menjadikan dan mengatur semuanya itu.

Dibandingkan dengan kedua bukti yang telah dibicarakan di atas, bukti ini lebih kuat. Namun, adanya harmoni belum juga menunjukkan adanya Allah yang mengatur. Di sini orang sebenarnya juga meloncat kepada suatu keyakinan. Soalnya sebenarnya sama dengan bukti yang kosmologis tadi.

Bukti moril

Bukti ini mengemukakan, bahwa pada segala orang ada kesadaran tentang kesusilaan, yaitu pengertian mengenai yang baik dan yang jahat. Dari mana asalnya itu, jika tidak ada yang memberitakannya? Ini adalah pekerjaan Tuhan Allah.

Juga bukti ini belum dapat menyakinkan, sebab orang masih dapat mengemukakan, bahwa tata tertib kesusilaan tadi bukanlah suatu tata tertib yang berdiri sendiri, melainkan tata tertib yang timbul secara berangsur-angsur. Apa yang dianggap susila bagi bangsa yang satu tidak tentu diterima oleh bangsa yang lain, dan seterusnya.

Masih ada bukti-bukti yang lain, yang dikemukakan orang sebagai umpamanya: bukti sejarah, bukti persamaan antara bangsa-bangsa dan sebagainya, akan tetapi tidak akan dibicarakan.

Seperti yang telah dikemukakan, jikalau yang disebut bukti-bukti tadi diperhatikan benar, sebenarnya semuanya itu bukan bukti dalam arti kata yang benar. Bahwa yang ada di belakang semua yang ada ini adalah Tuhan Allah, hanya mungkin diamini oleh orang yang memang telah percaya tentang adanya Tuhan Allah. Israel dapat menemui Tuhan Allah di alam semesta, karena Israel telah mengenal Tuhan Allah terlebih dahulu sebagai sekutunya, yang kemudian menyatakan diri-Nya kepada Israel sebagai Pencipta alam semesta ini. Oleh karena itu, yang disangkakan bukti-bukti tadi lebih tepat dipandang sebagai kesaksian-kesaksian. Bagi orang yang telah percaya kepada Tuhan Allah, imannya dapat dikuatkan oleh kesaksian-kesaksian tadi, sedang kesaksian-kesaksian itu memang tidak menjadikan orang yang tidak percaya menjadi percaya.

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya telah dikemukakan, bagaimana Plato mengadakan pembaharuan di bidang pemikiran tentang Tuhan Allah, dan betapa besar pengaruh pembaharuan Plato itu di dalam dunia pemikiran tentang Tuhan Allah. Pandangan Plato tadi telah menggema di sepanjang zaman-zaman hingga kini.

Menurut Plato, yang disebut Tuhan adalah keberadaan yang ilahi yang bersifat rohani atau akali, dalam arti: yang keadaannya berlawanan dengan yang bendawi, yaitu keberadaan yang halus, yang tidak tampak, yang tidak dapat diraba. Yang ilahi, yang bersifat rohani atau akali itu jauh lebih tinggi daripada yang bendawi dan mengatasi yang bendawi itu. Oleh karena itu yang ilahi ini disebut transenden. Jadi sifat Tuhan yang transenden itu disebabkan karena sifatnya yang rohani atau akali, yang mengatasi yang bendawi.

Pandangan Plato yang demikian itu di sekitar awal tarikh Masehi telah diterapkan oleh Philo terhadap ajaran Alkitab yang mengenai Tuhan Allah. Kitab Perjanjian Lama memang menuh dengan gagasan tentang Tuhan Allah yang Mahatinggi. Kejadian 14:19 umpamanya, menyebutkan bahwa Abraham diberkati oleh Tuhan Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi.

Berdasarkan ayat-ayat semacam itu Philo mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah transenden, dalam arti yang diberikan oleh Plato, yaitu bahwa Tuhan Allah pada hakekatnya tidak dapat dihampiri oleh akal manusia. Sekalipun ada perbedaan di sana-sini, pada dasarnya teologia Kristen, dengan cara lebih atau kurang, mengikuti pandangan Philo ini. Pada umumnya gambaran teologia Kristen mengenai Tuhan Allah adalah demikian: Tuhan Allah adalah transenden. Hakekat-Nya atau zat-Nya tidak dapat dikenal oleh manusia secara mutlak.

Gambaran yang demikian tentang Tuhan Allah memang mempunyai segi-seginya yang menguntungkan, yaitu bahwa dengan demikian manusia dapat dipandang sebagai bergantung kepada Tuhan Allah saja. Tuhan Allah berbeda sekali dengan manusia. Ada jarak yang tidak terjembatani antara Tuhan Allah dan manusia. Akan tetapi segera orang akan merasa, bahwa dengan demikian manusia tidak mungkin mengenal Tuhan Allah. Manusia tidak dapat mengatakan apa-apa tentang Tuhan Allah. Segala pembicaraan tentang Tuhan Allah tiada dasarnya dan tiada gunanya. Oleh karena itu maka timbullah kemudian ajaran tentang penyataan atau wahyu Tuhan Allah, yang dipandang sebagai penyesuaian diri Tuhan Allah kepada keadaan manusia. Agar supaya Tuhan Allah yang transenden, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia itu, dapat dimengerti oleh manusia, maka Tuhan Allah di dalam penyataan atau wahyu-Nya harus menyesuaikan diri dengan kecakapan manusia. Di dalam penyataan atau wahyu-Nya itu Tuhan Allah memakai bentuk-bentuk manusiawi atau antropomorfisme.

Dengan demikian timbullah ajaran tentang dua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah. Ada pengetahuan tentang Tuhan Allah yang dimiliki oleh Tuhan Allah sendiri, yang tidak dapat diketahui oleh manusia, dan ada pengetahuan tentang Tuhan Allah yang dimiliki oleh manusia, yang berdasarkan penyataan atau wahyu Tuhan Allah. Oleh karena penyataan atau wahyu adalah penyesuaian Tuhan Allah dengan kecakapan manusia, maka kedua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah itu tidak bertindih-tepat atau identik.

Ajaran yang demikian sudah barang tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pengetahuan manusia tentang Tuhan Allah yang dimiliki manusia tadi dapat dipercaya seratus persen? Apakah tidak ada kemungkinan, bahwa keadaan Tuhan Allah yang sebenarnya sama sekali tidak cocok dengan pengetahuan yang dimiliki manusia tentang Tuhan Allah itu? Soalnya sama dengan seorang ibu yang harus menguraikan kepada anaknya yang masih kecil, bagaimana adiknya dilahirkan. Ibu ini di dalam keterangannya menyesuaikan diri dengan kecakapan anaknya, yang menghasilkan pengetahuan bagi anaknya yang berlainan sekali dengan kenyataannya.

Ajaran tentang dua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah itu juga terdapat di dalam agama-agama lain.

Agama Hindu umpamanya mengarakan tentang Para Brahman dan Apara Brahman, atau tentang Nirguna-Brahman dan Saguna Brahman. Para-Brahman adalah Brahman yang lebih tinggi dan Apara Brahman adalah Brahman yang lebih rendah. Para-Brahman tidak dapat dikenal oleh manusia, sebab bersifat transenden dan mutlak, tidak dapat ditembus oleh akal manusia. Hanya beberapa orang saja yang dapat mengenal Para-Brahman, yaitu orang-orang yang telah memiliki para-widya, pengetahuan yang lebih tinggi, yang menjadikan orang bersatu dengan Brahman. Apara-Brahman dapat dikenal oleh manusia, sebab keadaannya lebih rendah, lebih kasar. Pengetahuan tentang Apara-Brahman ini disebut apara-widya, yaitu pengetahuan yang lebih rendah, yang dapat dimiliki semua orang, dan yang tidak menyelamatkan.

Di dalam aliran Kebatinan diajarkan hal yang demikian itu juga. Tuhan Allah pada diri-Nya sendiri tidak dapat dikenal, tidak dapat dikatakan bagaimana (tan kena kinaya ngapa). Oleh karena itu orang tidak mungkin mengetahui zat yang ilahi itu.

Para ulama Islam berkata, Billa kaif wa laa tasbeh, yang artinya: tanpa mengatakan bagaimana dan tanpa mengadakan perbandingan. Orang tidak mungkin mengatakan apa-apa tentang zat Tuhan Allah. Tuhan Allah adalah Tuhan Allah.

Bukan dimaksudkan di sini untuk mengatakan bahwa semua ajaran tentang Tuhan Allah yang dikemukakan di atas oleh karenanya adalah sama saja. Ajaran teologia Kristen tidak sama dengan ajaran agama Hindu dan kebatinan Jawa, dan juga tidak sama dengan ajaran agama Islam. Yang penting di sini ialah menunjukkan, bahwa pandangan Plato tentang yang ilahi tadi dengan bermacam-macam cara telah menggema dalam pandangan para ahli agama dalam ajaran mereka yang mengenai hakekat Tuhan Allah.

 

  • Sifat-sifat Tuhan Allah

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya, biasanya orang membeda-bedakan antara ajaran tentang zat atau hakekat Tuhan Allah dan ajaran tentang sifat-sifat Tuhan Allah. Setelah ditentukan bahwa zat atau hakekat Tuhan Allah pada dirinya tidak dapat disebutkan bagaimana, orang lalu membicarakan tentang sifat-sifat Tuhan Allah, yaitu sebagai ajaran yang membicarakan tentang “bagaimana zat Tuhan Allah yang pada dirinya tidak dapat diketahui itu”. Jadi ajaran mengenai zat atau hakekat Tuhan Allah dan sifat-sifat Tuhan Allah dipisahkan.

Bahaya dari cara pembicaraan ini ialah bahwa hakekat Tuhan Allah dipisahkan dari sifatnya. Pada manusia hal yang demikian memang dapat dilakukan, misalnya: manusia masih tetap manusia, seandainya ia memiliki sifat bodoh, miskin, pincang, buta, dan lain sebagainya. Padahal yang demikian itu tidak mungkin diterapkan bagi Tuhan Allah. Tuhan Allah bukan Tuhan Allah lagi seandainya Ia tidak adil, tidak kudus, dan sebagainya. Teologia Kristen pada umumnya sadar akan hal ini. Oleh karenanya senantiasa memberi peringatan di dalam pembicaraannya tentang sifat-sifat Tuhan Allah. Umpamanya, Dr. Soedarmo dalam bukunya “Ichtisar Dogmatika” berkata, “Ada yang mengatakan, bahwa kata sifat tidak dapat dipakai oleh karena terlalu secara manusia, dan mengandung isi, bahwa sifat-sifat itu berdampingan yang satu dengan yang lain. Padahal pada Tuhan Allah segala sifat bertindih tepat oleh karena segala sifat adalah sempurna. Sifat yang satu tidak membatasi sifat yang lain. Maka ada yang mengganti kata sifat dengan kata kesempurnaan. Dan memang masih ada banyak kata-kata lain yang pernah dipakai sebagai pengganti sifat. Akan tetapi kata-kata lain tadi juga mengandung kekurangan-kekurangan, maka kita memakai sifat saja.”

Di dalam ajaran Kebatinan Jaya diadakan pembedaan antara zat, sifat, nama dan karya Tuhan Allah. Akan tetapi sifat, nama dan karya Tuhan Allah itu dipandang sebagai pangkat-pangkat emanasi Allah. Di dalam kebatinan Jawa umpamanya, hubungan antara zat dan sifat Allah digambarkan sebagai madu dan manisnya, yang tidak dapat dipisahkan, artinya: pangkat pertama dan pangkat kedua dari emanasi ilahi itu tidak boleh dipisahkan. Selanjutnya hubungan sifat dan nama, yaitu pangkat emanasi kedua dengan pangkat emanasi ketiga, digambarkan sebagai matahari dan sinarnya, yang tidak dapat dipisahkan. Akhirnya hubungan antara nama dan karya ilahi, sebagai pangkat yang ketiga dan keempat, digambarkan sebagai yang melihat di dalam cermin dan bayangannya di dalam cermin, sebab karya atau af’al Allah adalah kendaraan zat yang mutlak. Adapun nisbah antara zat yang mutlak dengan kendaraannya tadi seperti lautan dan ombaknya. Di sini memang tidak dibedakan antara zat dan sifat, akan tetapi karena sifat dipandang sebagai pangkat pengaliran keluar zat.

Di dalam agama Islam pembicaraan mengenai sifat-sifat Tuhan Allah mempunyai arti yang penting sekali. Justru di dalam ajaran Islam yang mengenai sifat-sifat Allah inilah kita melihat betapa besar pengaruh filsafat Yunani. Ayat-ayat Al~Qur’an diterangkan dengan memakai tiga macam hukum akal, yaitu:

1. Wajib, yang artinya: adanya (bahwa sesuatu ada) ditetapkan oleh akal, tetapi tidaknya (bahwa sesuatu tidak ada) tidak diterima oleh akal. Atau dapat dikatakan: akal menetapkan tidak boleh tidak (pasti). Apa yang wajib adalah apa yang tidak boleh tidak pasti ada.

2. Mustahil, yang artinya: tidaknya (bahwa sesuatu tidak ada) ditetapkan oleh akal, sedang adanya (bahwa sesuatu ada) tidak diterima oleh akal. Jadi akal menetapkan tidak boleh jadi. Mustahil adalah apa yang tidak boleh jadi.

3. Jaiz, yang artinya: adanya atau tidak adanya diterima oleh akal sebagai sama saja. Jadi akal menetapkan: boleh jadi. Jaiz adalah sama saja nilainya bagi akal.

Berdasarkan hukum akal yang demikian itu orang menerapkan sifat-sifat Allah, dengan berdalil: Jika akal kita memikirkan segala yang hidup (tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia), yang kenyataannya adalah: dilahirkan, berkembang, dan mati, akal itu sampai kepada kesimpulan, bahwa mustahil seandainya semuanya itu sejak semula terjadi dengan sendirinya. Jika demikian pasti (tidak boleh tidak) ada sesuatu yang menjadikan semuanya itu. Yang semula tiada, dijadikannya ada. Jadi pasti ada sesuatu yang wajib ada. Ada yang wajib ada ini disebut: wajib al wujud (wujud yang wajib), yang menjadikan segala sesuatu pada mula pertama. Wajib al wujud inilah Allah. Demikianlah sifat pertama dari Allah adalah wujud.

Jika Allah adalah wajib al wujud, zat yang harus ada, mustahil seandainya Ia dibatasi oleh waktu atau didahului oleh sesuatu yang semula tidak ada. Maka wajib al wujud itu harus lebih dahulu adanya daripada segala yang dijadikan. Jika demikian jadi Allah adalah tanpa awal dan tidak dibatasi oleh waktu. Keadaan Allah yang demikian ini disebut Qidam (asali). Demikianlah sifat Allah yang kedua adalah Qidam.

Apa yang tanpa awal dan tidak dibatasi oleh waktu, mustahil seandainya memiliki akhirnya. Sebab seandainya ia memiliki sifat akhirnya, ia dibatasi oleh waktu. Oleh karena itu Allah pasti tanpa akhir: Baqa (kekal). Demikianlah sifat Allah yang ketiga adalah Baqa.

Jika Allah itulah wujud yang wajib, yang tanpa awal dan tanpa akhir, mustahil seandainya ada sesuatu di luar Allah yang juga tanpa awal dan akhir. Segala sesuatu yang bukan Allah pasti baru (makhluk). Jadi, jika demikian maka Allah pasti berlainan atau berbeda dengan segala yang baru atau segala makhluk. Keadaan Allah yang demikian itu disebut Mukhalafatuhu lil hawadis (berlainan dengan yang dijadikan). Demikian sifat Allah keempat adalah Mukhalafatuhu lil hawadis.

Jika Allah adalah wujud yang wajib, yang tanpa awal dan tanpa akhir, serta yang berbeda dengan segala yang baru, mustahil seandainya Allah memerlukan sesuatu. Sebab makhluklah yang memerlukan sesuatu yang lain untuk melengkapi kehidupannya. Maka Tuhan Allah pasti tidak memerlukan tempat atau zat lain untuk kedudukan-Nya. Ia tidak mungkin tergantung dari apa yang dijadikan-Nya. Juga tanpa segala yang dijadikan itu Tuhan Allah telah puas dengan diri-Nya sendiri. Ia pasti adalah yang berdiri sendiri. Keadaan ini disebut Qiyamu binafsi (Ia berdiri dengan sendirinya). Demikianlah sifat Allah yang kelima adalah Qiyamu binafsi.

Jika Allah adalah yang berdiri sendiri, maka mustahil seandainya Ia terdiri dari bagian-bagian, seperti halnya dengan para makhluk. Maka Allah pastilah esa (wahid) dalam zat-Nya. Dan oleh karena Ia adalah wahid dalam zat-Nya, maka mustahil bahwa Ia disekutukan. Keadaan Allah yang demikian ini disebut Wahdaniyah. Demikianlah sifat Allah yang keenam adalah Wahdaniyah.

Keesaan Allah bukan hanya mengenai zat-Nya saja, melainkan juga sifat-sifat-Nya, artinya: tiada sifat Allah satupun yang memiliki dualisme (yang terdiri dari dua hal yang saling bertentangan). Oleh karena keadaan sifat-sifat Allah yang demikian itu, maka tiada makhluk yang memiliki sifat yang menyerupai Allah.

Akhirnya keesaan Allah juga mengenai karya atau af’al-Nya, artinya: segala perbuatan adalah perbuatan Allah.

Dengan cara demikian itulah seterusnya diuraikan bagaimana Allah yang esa itu berkuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, mendengar, melihat, dan berfirman. Ketujuh sifat ini disebut sifat-sifat ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menambahkan suatu konsep kepada Zat Allah.

Di samping ketujuh sifat ma’ani itu masih ada sifat-sifat lainnya, yang disebut sifat-sifat ma’nawiya, yaitu sifat-sifat yang mengkualifisir atau yang mengaktivir, yang menjalankan sifat-sifat ma’ani tadi, yaitu: yang berkuasa, yang berkehendak, yang mengetahui, yang menghidupkan, yang mendengar, yang melihat, yang berfirman.

Seluruhnya ada 20 sifat yang wajib. Untuk melengkapi ketiga hukum akal tersebut di atas, masih ditambahkan lagi 20 sifat yang mustahil dan satu sifat jaiz.

Dari cara para ulama memikirkan tentang sifat-sifat Allah ini dapat diambil pelajaran, betapa bahayanya untuk memakai pemikiran Yunani guna memecahkan persoalan tentang Allah. Sebab dari situ diperoleh kesan, seolah-olah wahyu Allah tentang keesaan-Nya, yang semula bermaksud menekankan bahwa tiada Allah yang lain kecuali Allah, dan yang menuntut supaya orang percaya dan menyembah kepada-Nya itu, karena pengaruh filsafat Yunani, makin lama makin jauh ditarik ke dalam teori-teori yang rasionalistis, yang hanya dimaksud guna memuaskan akal saja.

Sebelumnya telah dikemukakan bagaimana Israel dapat mengenal Tuhan Allah. Bukan Israel yang mencari Tuhan Allah pada gejala-gejala alam semesta, dan yang lalu merumuskan penemuannya, bukan. akan tetapi Tuhan Allahlah yang mencari Israel, ketika Israel masih mengeluh di bawah tekanan perhambaan di Mesir. Tuhan Allah itulah yang menemukan Israel dan yang memilihnya untuk dijadikan umat-Nya. Hal itu semuanya dilakukan oleh Tuhan Allah dengan karya-Nya yang menyelamatkan dan dengan Firman-Nya yang memerintahkan. Israel mengenal Tuhan Allah di dalam segala perbuatan atau karya Allah dan di dalam firman-Nya. Bagi Israel tiada jalan lain untuk mengenal Tuhan Allah kecuali dengan jalan mengenal karya dan firman Tuhan Allah di dalam sejarah. Di dalam karya dan firman-Nya tadilah Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya, bukan sebagai yang predikatif, artinya: bukan sebagai sesuatu yang bersifat ilahi, bukan sebagai ketuhanan, melainkan sebagai Tuhan yang hidup. Oleh karena itu bukan Israel yang menentukan siapa Tuhan Allah dan bagaimana Dia, dengan memutar otaknya, melainkan Tuhan Allahlah yang menentukan siapa Dia dan bagaimana Dia, yaitu dengan mendemostrasikan diri-Nya dalam karya dan firman-Nya. Tuhan Allah adalah diri-Nya sendiri, artinya: tidak dapat Ia dijabarkan daripada apapun. Hanya Tuhan Allah sendirilah yang berhak menyebut diri-Nya Allah.

Dari Keluaran 3:13-15 telah diketahui, bahwa Tuhan Allah yang menampakkan diri-Nya kepada Musa dan yang mengutus Musa untuk melepaskan Israel itu menyebut nama-Nya: AKU ADALAH AKU. Nama ini adalah keterangan dari nama יהוה – YHVH atau TUHAN. Dari uraian ini telah diketahui, bahwa arti nama itu adalah demikian, bahwa Tuhan Allah akan hadir dengan berbuat.

Dari Keluaran 3:15 dapat diketahui, bahwa יהוה – YHVH yang mengutus Musa melepaskan Israel, adalah Allah nenek-moyang Israel yaitu Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Dengan para nenek-moyang ini Tuhan Allah telah membuat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan para nenek-moyang itu menjadi besar dan akan diberi tanah Kanaan sebagai tanah-pusakanya. Sekarang Tuhan Allah akan memenuhi segala janji-Nya, yang kira-kira empat abad yang lalu telah diberikan kepada para nenek-moyang tadi. Tuhan Allah yang di dalam hidup para nenek-moyang Israel telah berkenan menjadi sekutu mereka, dengan membuat perjanjian dengan mereka, sekarang menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Israel, sekarang menemui Israel dan berjanji akan melepaskan Israel dari tanah perhambaan. Dengan ini TUHAN menyatakan, bahwa Ia berkenan juga untuk menjadi sekutu Israel. Tuhan Allah akan memihak Israel dan akan menjadikan Israel sebagai sekutu-Nya. Oleh karena itu maka seluruh penyataan atau perkenalan Tuhan Allah kepada Israel yang dinyatakan kepada Musa di Horeb, dapat diungkapkan demikian, “Aku adalah Allah yang akan membuktikan keallahan-Ku (yaitu bahwa Aku adalah Allah) dalam segala perbuatan atau karya-Ku sebagai sekutumu (sebagai partnermu), dan kamu akan menerima buktinya.”

Di dalam Alkitab Tuhan Allah tidak pernah dipandang sebagai lepas daripada menjadi sekutu Israel ini. Oleh karena itu jika kita hendak menguraikan hakekat atau zat Tuhan Allah menurut Alkitab, bukan menurut akal kita, kita harus mengingat hal ini. Sebab Alkitab sendiri tidak pernah memandang kepada Tuhan Allah sebagai zat atau hakekat yang mutlak secara filsafati, yang bebas daripada segala hubungan dan sifat, dan yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia, seperti yang diajarkan di dalam filsafat. Hakekat Tuhan Allah, menurut Alkitab, adalah hakekat yang justru senantiasa dihubungkan dengan Israel dan yang bekerja bagi Israel. Sebab menurut Alkitab, Tuhan Allah adalah sekutu Israel.

Jadi dapat dikatakan, bahwa nama Tuhan Allah yang kekal abadi, atau hakekat-Nya adalah menjadi sekutu Israel, atau Allah perjanjian. Di sinilah letak perbedaan yang besar sekali di antara ajaran Alkitab dengan ajaran agama-agama yang lain. Jika agama-agama yang lain memandang hakekat Tuhan Allah sebagai roh yang halus, yang tidak dapat dihayati, sebagai yang rohani dan akali, sebagai lawan daripada yang bendawi, maka Alkitab mengajarkan, bahwa hakekat Tuhan Allah adalah menjadi sekutu Israel atau menjadi sekutu umat-Nya.

Mungkin apa yang diajarkan oleh agama-agama yang lain itu benar, mungkin, sebab tidak ada yang dapat membuktikannya. Seandainyapun mungkin benar, bukan itulah yang dipentingkan oleh Alkitab. Alkitab tidak pernah memperhatikan Allah pada diri-Nya sendiri, akan tetapi Allah bagi kita, Allah dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya.

Menurut Alkitab, tidak ada perbedaan antara hakekat Tuhan Allah dengan sifat-sifat-Nya. Sifat Tuhan Allah adalah hakekat Tuhan Allah sendiri. Oleh karena itu di dalam ajaran agama Kristen sering yang biasanya disebut sifat Tuhan Allah ini disebut kebajikan atau kesempurnaan Tuhan Allah. Sebutan-sebutan itu agaknya masih juga dipengaruhi oleh pandangan Plato, yang membedakan antara hakekat dan sifat Tuhan, atau membedakan tabiat ilahi pada dirinya sendiri dan sifat-sifat tabiat ilahi itu.

 

 

  • Allah Menyatakan Diri-Nya

Hakekat Tuhan Allah adalah berada sebagai sekutu Israel atau sebagai sekutu umat-Nya. Hal ini berarti bahwa hakekat Israel atau hakekat umat Allah adalah menjadi sekutu Tuhan Allah.

Dengan bermacam cara hakekat Tuhan Allah, yaitu bahwa Ia adalah sekutu umat-Nya, dinyatakan di dalam sejarah Israel. Umpamanya: kepada Israel Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa, Yang tidak Berubah, Yang Kekal, Yang Kudus, Yang Benar, Yang Esa dan lain sebagainya.

Jikalau pengungkapan hakekat Tuhan Allah yang beraneka ragamnya itu diselidiki secara mendalam, akan tampaklah bahwa segala pengungkapan itu dapat dirangkumkan ke dalam dua kelompok, yaitu: pengungkapan hakekat Tuhan Allah yang menunjukkan kepada kelainan Tuhan Allah daripada manusia dan hakekat Tuhan Allah yang menunjukkan kasih Tuhan Allah kepada manusia, atau pengungkapan-pengungkapan yang menunjukkan pemisahan Tuhan Allah dari manusia dan pengungkapan-pengungkapan yang menunjukkan hubungan Tuhan Allah dengan manusia. Di satu pihak Tuhan Allah dipisahkan dari manusia, akan tetapi di lain pihak Ia dihubungkan dengan manusia. Adapun kelainan Tuhan Allah dari manusia itu bukan diungkapkan di dalam hal ini, bahwa Tuhan Allah adalah roh yang tidak dapat dilihat, sedang manusia adalah bendawi yang terikat kepada benda, akan tetapi kelainan itu diungkapkan di dalam firman dan karya Tuhan Allah. Di dalam firman dan karya-Nya itulah tampak bahwa Tuhan Allah berbeda sekali daripada manusia. Demikian juga hakekat Tuhan Allah yang mengungkapkan kasih-Nya atau yang mengungkapkan hubungan-Nya dengan manusia itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Dari firman dan karya-Nyalah tampak betapa Tuhan Allah mengasihi manusia.

Sekalipun pengelompokan tadi mungkin, namun pengelompokan ini tidak boleh dipandang sebagai pengelompokan yang mutlak. Sebab hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan di dalam segi yang satu tidak dapat dipisahkan dari hakekat-Nya yang diungkapkan dalam segi yang lain. Umpamanya: Kekudusan Tuhan Allah tidak dapat dipisahkan dari kekekalan-Nya, dan juga tidak dapat dipisahkan dari kebenaran dan kesetiaan-Nya; demikian seterusnya.

Hakekat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya tidak akan dibicarakan semua segi-seginya, di sini akan disampaikan beberapa saja, untuk menunjukkan kesatuannya, dan akhirnya akan dibicarakan pengungkapan hakekat Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang biasanya disebut Ketritunggalan Allah. Ketritunggalan akan dibahas terakhir, bukan karena ingin dibicarakan terlebih dahulu “suatu tokoh ilahi” yang umum, lalu menunjukkan bahwa “tokoh ilahi” itu adalah Tritunggal, sama sekali tidaklah demikian. Sebab hakekat Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya dan hakekat ini diungkapkan di dalam segala pengungkapan hakekat-Nya yang beraneka ragam itu, juga diungkapkan dalam penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, bahkan hakekat Tuhan Allah yang demikian itu secara sempurna diungkapkan di dalam penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Di Mazmur 2:4 disebutkan, bahwa Tuhan Allah bersemayam di Surga. Ungkapan ini pertama-tama menunjukkan, bahwa Tuhan Allah sedikit banyak tersembunyi bagi manusia. Sebab Surga atau langit disebut tinggi sekali atau jauh dari bumi. Di dalam bahasa Ibrani tidak ada pembedaan antara langit dan surga, sebab di dalam bahasa itu hanya ada satu kata untuk kedua pengertian itu, yaitu SYÂMAYIM. “Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi?” demikian ucapan Juru Mazmur di Mazmur 113:5. Bahwa Tuhan Allah disebut bersemayam di Surga, pertama-tama menunjukkan kepada adanya jarak di antara Tuhan Allah dan manusia, sedemikian jauh sehingga Tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia, tersembunyi bagi manusia.

Bahwa Tuhan Allah adalah demikian tinggi, menurut Alkitab, bukan karena Tuhan Allah adalah gaib, dalam arti: tidak berjasad, karena roh adanya dan bukan benda, juga bukan karena tabiat ilahi-Nya atau ketuhanan-Nya yang tidak mungkin (mustahil) ditembus oleh akal manusia, bukan. Sebab jika Israel bersaksi akan ketinggian Tuhan Allah itu bukan karena ia berspekulasi tentang Tuhan Allah, bukan karena Israel berpikir dengan memakai hukum akal, melainkan karena Israel mengenal Tuhan Allahnya dari firman dan karya-Nya. Kepada Israel senantiasa ditekankan, bahwa Tuhan Allah berbeda sekali dengan manusia. Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Tersembunyi, karena Tuhan Allah tidak menghendaki Israel terlalu dekat dengan Tuhannya, seperti yang terjadi di antara para orang kafir dengan para dewata mereka. Jarak antara Tuhan Allah dan manusia harus tetap dipelihara, karena Tuhan Allah bukanlah manusia. Inilah sebabnya, bahwa di Horeb, ketika Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Ia menyebut nama-Nya bukan dengan bentuk kata-nama-benda, melainkan dengan bentuk kata-kerja: Aku berada dengan berbuat. Tuhan tidak menghendaki nama-Nya disalahgunakan oleh Israel, seperti halnya yang terjadi dengan nama dewa-dewa yang dijadikan mantera oleh para pengikutnya.

Sekalipun demikian, bahwa Tuhan Allah adalah Mahatinggi, hal itu bukan hanya menunjukkan kelainan-Nya dengan manusia, melainkan juga kasih-Nya. Sebab Tuhan Allah yang jauh lebih tinggi daripada manusia dan yang lebih mulia itu, di Mazmur 2 tadi dikatakan, bahwa Ia tertawa, atau menertawakan segala perbuatan manusia yang memberontak kepada-Nya, dan mengolok-olok mereka. “Dia, yang bersemayam di Surga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka,” demikian Juru Mazmur. Di dalam Mazmur 2 ini digambarkan bahwa para bangsa-bangsa dan raja-raja dunia membuat persiapan untuk memberontak terhadap Raja, yang dilantik oleh Tuhan Allah di Sion. Dari ketinggian tempat persemayaman-Nya Tuhan Allah digambarkan sebagai melihat ke bawah dan melihat kesibukan para raja-raja itu dan tersenyum terhadap ketololan bangsa-bangsa dengan raja-rajanya itu. Dengan mendadak Tuhan Allah mengejutkan mereka itu hingga menjadi berantakan. Jadi, bahwa Tuhan Allah adalah Mahatinggi dan Mahamulia, menurut Mazmur 2, berarti bahwa Tuhan Allah memiliki segala kekuasaan yang mutlak atas segala kejadian di dunia ini, bahwa Ia sebagai Raja segala Raja bersemayam di atas singgasana-Nya, dengan nyata-nyata memerintah umat-Nya dan memerintah segala makhluk di bumi.

Teranglah, bahwa hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam kemahatinggian-Nya itu mengungkapkan karya Tuhan Allah atas dunia ini. Dan Mazmur 2 mengungkapkan, bahwa karya itu ditujukan untuk keselamatan umat-Nya, Israel. Tuhan menertawakan mereka yang memusuhi umat-Nya. Dengan demikian nyatalah bahwa kemahatinggian-Nya dipakai untuk menyatakan kasih-Nya terhadap umat-Nya.

Bahwa Tuhan Allah mempergunakan kemahatinggian-Nya untuk mengasihi umat-Nya lebih jelas lagi tampak di dalam Perjanjian Baru. Sebab di dalam Kristus Yang Mahatinggi itu telah menghampakan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia, demi keselamatan manusia. Di dalam firman yang menjadi manusia itu Tuhan Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya ketika Kristus dilahirkan para malaikat memuji, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Oleh karena Tuhan Allah adalah Mahatinggi, maka Ia tidak dapat dilihat oleh manusia. Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat ini juga bukan karena tabiat ilahi-Nya yang gaib, yang tidak berwujud, yang bersifat rohani dan akali, juga bukan karena kesimpulan akal Israel, melainkan karena Tuhan Allah tidak menghendaki dilihat oleh manusia. Oleh karena itu dalam Keluaran 33:20 Tuhan Allah memperingatkan Musa, bahwa Musa tidak akan tahan memandang wajah Tuhan Allah. Hal itu bukan disebabkan karena tabiat ilahi Tuhan Allah yang gaib, melainkan karena tidak ada orang yang memandang Tuhan Allah dapat hidup.

* Keluaran 33:20
LAI TB, Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”
KJV, And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר לֹא תוּכַל לִרְאֹת אֶת־פָּנָי כִּי לֹא־יִרְאַנִי הָאָדָם וָחָי׃
Translit, VAYO’MER LO’ TÛKHAL LIR’OT ‘ET-PÂNÂY KÏLO’-YIR’ANÏ HÂ’ÂDÂM VÂKHÂY

Sekalipun demikian, jikalau Tuhan Allah menghendaki manusia dapat juga sekedar melihat kemuliaan-Nya. Bukankah dalam Keluaran 33:23 disebutkan, bahwa Musa akan melihat belakang Tuhan Allah? Jadi, jikalau Tuhan menghendaki Ia dapat sekedar mengabulkan permohonan Musa. Teranglah bahwa hakekat Tuhan Allah yang tidak dapat dilihat itu bukan dihubungkan dengan tabiat-Nya yang gaib, yang berada di luar batas-batas pengamatan manusia. Di Keluaran 24:10, 11 disebutkan, bahwa tujuh puluh tua-tua Israel melihat Tuhan Allah, dan semuanya heran, bahwa tangan Tuhan Allah tidak diulurkan kepada mereka itu, artinya bahwa tangan Tuhan Allah tidak membunuh mereka. Hal ini menunjukkan, bahwa jikalau Tuhan Allah menghendaki, orang dapat juga melihat kemuliaan Tuhan Allah, sekalipun hanya sekedar saja.

Menurut Keluaran 33:11 Tuhan Allah berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya, artinya bahwa percakapan itu dilakukan di dalam persekutuan yang akrab sekali. Jadi dasar Musa dapat melihat Yang Tidak Dapat Dilihat itu adalah persekutuannya dengan Tuhan Allah yang akrab sekali. Juga Yohanes 1:18 menunjuk kepada gagasan yang demikian itu, sebab di situ disebutkan, bahwa tidak seorang pun yang pernah melihat Tuhan Allah; tetapi bahwa Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. Ungkapan di pangkuan Bapa menunjukkan kepada suatu persekutuan yang akrab sekali.

Demikianlah, bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat, hal itu bukanlah suatu sifat yang diterapkan oleh manusia kepada Tuhan Allah, yang disebabkan karena manusia tidak dapat melihat Tuhan Allah yang gaib. Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat, hal itu disebabkan karena karya Tuhan Allah sendiri. Tuhan Allah tidak menghendaki dilihat oleh manusia. Tiap pelanggaran terhadap kehendak itu dihukum dengan kematian.

Penyembunyian diri Allah ini didobrak dengan peristiwa Firman yang menjadi manusia dan yang kemudian berdiam di antara kita. Sekalipun demikian, pendobrakan ini belum secara sempurna. Memandang kepada Tuhan Allah secara sempurna masih ditangguhkan hingga kelak pada akhir zaman. Anak yang Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, itulah yang menyatakan Bapa kepada kita manusia. Sekarang manusia dapat memandang kepada Bapa. “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”. Persekutuan yang akrab di antara Tuhan Allah dan manusia seperti yang terjadi dalam diri Yesus Kristus, yaitu Firman yang menjadi manusia, sebelum itu belum pernah terjadi. Hal itu baru mungkin setelah Kristus mengorbankan diri-Nya demi pendamaian Allah dan manusia.

Demikianlah, Yang Tidak Tampak menjadi tampak di dalam diri Yesus, untuk mendamaikan manusia dosa dengan Tuhan Allah. Dari sini terang juga, bahwa hakekat Tuhan Allah ini tidak dapat dipisahkan dari kasih-Nya.
Tuhan Allah Kudus

Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat ada hubungannya dengan hakekat Allah yang dinyatakan atau diungkapkan di dalam kekudusan-Nya.

Kata kudus berasal dari pokok-kata Ibrani yang berarti memisahkan. Jika Tuhan Allah disebut kudus, hal itu berarti bahwa Ia dipisahkan dari segala yang dosa. Oleh karena itu maka di 1 Samuel 2:2 disebutkan, tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali TUHAN. Menurut Alkitab, kelainan Tuhan Allah, jika dibandingkan dengan manusia dan dewa, bukan terletak di dalam hal ini, bahwa Tuhan Allah adalah lebih halus, lebih gaib, lebih murni dan lain sebagainya, melainkan bahwa Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya yang dilaksanakan di dalam sejarah itu berbeda sekali dengan manusia dan dewa. Di dalam segala firman dan karya-Nya di dalam sejarah itulah tampak bahwa Tuhan Allah benar-benar tidak dapat bersekutu dengan dosa, bahwa Ia benar-benar dipisahkan dari dosa, bahwa Ia benar-benar kudus. Kekudusan Tuhan Allah bukan suatu teori, bukan hasil pemikiran akal manusia.

Demikianlah kekudusan Tuhan Allah menunjukkan kelainan Tuhan Allah daripada manusia. Akan tetapi pengertian kudus ini tidak pernah dipisahkan dari hubungan Tuhan Allah dengan umat-Nya. Justru di dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya itulah Tuhan Allah tampak sebagai Yang Kudus, yang tidak dapat bersekutu dengan dosa. Ia menghukum setiap orang yang menghinakan kekudusan-Nya. Kekudusan Tuhan Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya: umat Allah, yang adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah dari segala yang dosa, dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan Allahnya. Tanpa hidup yang kudus, tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah yang kudus. Di Yosua 24:19 dan berikutnya Yosua berkata, bahwa oleh karena Tuhan Allah adalah Allah yang kudus, maka Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa Israel, apabila Israel meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing.

Dari Yesaya 57:15 kita dapat mengetahui, bahwa kekudusan Tuhan Allah ada hubungannya dengan keadaan-Nya yang tidak dapat dilihat dan kemahatinggian-Nya. Sebab di situ disebutkan, “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya; ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus.'”

Sekalipun demikian, hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan di dalam kekudusan-Nya itu bukanlah hanya menunjuk kepada terpisah-Nya Tuhan Allah daripada segala yang dosa. Kekudusan Tuhan Allah justru menjadi jalannya Israel mendapat keselamatan. Dari Kitab Hosea umpamanya, kita dapat tahu bagaimana Israel pada waktu itu menghinakan kekudusan Tuhannya dengan melibatkan diri ke dalam upacara-upacara kebaktian bangsa kafir. Oleh karena itu mereka terkena hukuman Tuhan. Akan tetapi Tuhan Allah yang telah menghukum Israel itu akan menyembuhkan Israel lagi, dengan alasan, “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.”

Ancaman hukuman di sini diganti dengan pernyataan yang mengharukan dari kasih Tuhan Allah terhadap Israel. Tuhan Allah tidak akan dapat membinasakan Israel, karena kasih-Nya terhadap bangsa itu. Kasih ini menahan Tuhan Allah untuk mencurahkan murka-Nya secara sempurna. Tidak dapat disangkal, bahwa hukuman Tuhan mendatangi Israel juga, akan tetapi tidak sampai hingga kehancuran Israel. Hal itu, menurut firman Tuhan, karena Tuhan Allah adalah Allah, bukan manusia. Ia adalah “Yang Kudus di tengah-tengah mereka”. Sebagai Yang Kudus, Tuhan Allah berlainan sekali, jika dibandingkan dengan manusia yang dosa. Manusia dosa dalam kemarahannya sering tidak mengenal kasihan, sering hanya terseret oleh nafsu-nafsunya. Akan tetapi Tuhan Allah bukan manusia, oleh karena itu Tuhan dapat berbuat yang berlainan sekali dengan perbuatan manusia. Ia berbuat yang lebih baik dibanding dengan manusia. Di dalam kemurkaan-Nya, Tuhan Allah tidak mungkin terseret oleh daya-daya yang penuh dosa. Juga di dalam murka-Nya, Tuhan Allah ingat akan kasih-Nya.

Demikianlah hakekat Tuhan Allah yang menyatakan kekudusan-Nya itu menjadi jaminan bagi perjanjian-Nya dengan umat-Nya. Juga karena Tuhan adalah kudus, Ia akan tetap menjadi Sekutu Israel dan mencari keselamatan Israel.

Dari sini jelaslah bahwa kekudusan Tuhan Allah berhubungan dengan kebenaran dan keadilan-Nya, serta dengan kesetiaan-Nya. Karena Tuhan Allah adalah kudus, maka Ia tidak akan mengesampingkan tujuan-Nya, yaitu menjadi Sekutu umat-Nya. Untuk itu Yang Kudus didosakan. Di dalam korban Kristus, Firman yang menjadi manusia itu, keadilan dan kebaikan, kekudusan dan belas kasihan Tuhan Allah menjadi satu. Pengungkapan yang tertinggi dari kekudusan Tuhan Allah ialah bahwa Ia membenarkan orang durhaka.
Tuhan Allah Kekal

Di Kejadian 21:33 dan ayat-ayat lainnya disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang kekal.

Biasanya kata kekal diartikan sebagai keadaan yang tanpa waktu. Akan tetapi Alkitab tidak pernah memberikan arti yang demikian itu kepada pengertian kekal. Ungkapan kekal lebih menunjuk kepada waktu yang panjang, sejak dahulu hingga kini dan sampai selama-lamanya. Hal ini umpamanya jelas dari Ulangan 33:27 yang menyebutkan, bahwa di bawah Israel ada lengan-lengan yang kekal, yang mengusir musuh dari depan Israel. Kata kekal di sini berarti sejak dahulu, menunjuk ke belakang. Di Kejadian 9:16 disebutkan, bahwa Allah akan mengingat perjanjian-Nya yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup. Kata kekal di sini menunjuk ke depan, waktu yang tiada akhirnya. Oleh karena itu maka di Yesaya 44:6 disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian, dan bahwa tiada Allah lain kecuali Tuhan; dan di Wahyu 1:8 disebutkan, bahwa Tuhan adalah Alfa dan Omega, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang.

Jikalau dikatakan bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang kekal, hal itu bukan berarti, bahwa Tuhan Allah telah ada sejak dahulu kala secara statis, seperti umpamanya adanya matahari, bulan, dan bintang, dan sebagainya, yang telah ada sejak zaman purba kala, tanpa ada perubahan, bukan. Kehadiran Tuhan allah yang disebutkan sejak dahulu kala itu adalah suatu kehadiran yang aktif, yaitu kehadiran di dalam firman dan karya-Nya, sebagai sekutu umat-Nya. Bahwa Tuhan Allah adalah kekal, hal itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Hal ini jelas dari pengungkapan dalam Ulangan 33:27 di atas, yaitu bahwa Allah yang abadi adalah tempat perlindungan Israel dan bahwa di bawah Israel ada lengan-lengan yang kekal, yang mengusir musuh dari depan Israel. Bahwa Tuhan Allah secara abadi menjadi pelindung Israel berarti, bahwa sejak dahulu kala Tuhan Allah secara terus-menerus menjadi tempat di mana Israel dapat berlindung, sebab telah dibuktikan bahwa Tuhan Allah telah terus-menerus melepaskan Israel dari musuh-musuhnya. Demikianlah Israel mendapat jaminan, bahwa ia untuk selama-lamanya boleh berlindung di bawah naungan, atau di atas topangan Allahnya.

Bahwa Tuhan Allah adalah kekal, menurut Yesaya 40:28 berarti, bahwa Tuhan Allah tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sekalipun telah sekian abad lamanya Tuhan Allah melindungi Israel, akan tetapi tiada saat bahwa Tuhan Akkan tidak akan dapat melanjutkan perlindungan-Nya. Sebagai Yang Kekal, yang tidak berbatas waktunya, Tuhan hidup untuk selama-lamanya. Ia tidak akan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan waktu atau zaman. Ia akan tetap seperti keadaan-Nya, yaitu menjadi Sekutu Israel. Tuhan Allah bukanlah Allah yang terbatas kekuasaan-Nya. Ia mengatasi segala zaman. Maka di Yesaya 57:15 Tuhan Allah berfirman, bahwa sekalipun Ia bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus, namun Ia juga bersama-sama dengan orang yang remuk dan rendah hati. Keadaan boleh berganti-ganti, dan umat Israel boleh dipengaruhi oleh keadaan yang berganti-ganti itu, akan tetapi keadaan yang bagaimanapun juga tidak akan mengubah sikap Tuhan Allah. Sebab Tuhan Allah adalah kekal. Ia adalah Yang Mahakudus sejak dahulu kala.

Demikianlah bahwa Tuhan Allah adalah kekal, hal itu bukanlah hal yang membeku, bukan hal yang statis, melainkan kekekalan Allah adalah kekekalan yang hidup, yang tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan dan zaman. Dari sini juga terang, bahwa hakekat Tuhan Allah yang dinyatakan sebagai kekekalan itu berhubungan erat dengan kekudusan-Nya, dengan kesetiaan-Nya.

Juga di dalam Perjanjian Baru, hakekat Tuhan Allah yang mengungkapkan kekekalan-Nya itu dihubungkan dengan karya-Nya yang ditujukan kepada umat-Nya. Di 1 Korintus 2:7 umpamanya, Rasul Paulus mengatakan bahwa ia memberitakan hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia yang sebelum dunia dijadikan (kekal) telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Ungkapan yang diterjemahkan dengan sebelum dunia dijadikan ini di Kolose 1:26 diterjemahkan dengan dari abad ke abad. Juga di sini kekekalan bukan suatu hal yang statis, melainkan dihubungkan dengan karya Tuhan Allah.

Di dalam Perjanjian Baru terang bahwa Yang Kekal, yang meliputi segala sesuatu itu, mengikatkan diri kepada waktu di dalam diri Yesus Kristus. Di dalam diri Yesus Kristus, Yang Kekal membatasi diri dengan waktu, untuk menyelamatkan umat-Nya, sehingga dengan demikian tampaklah kasih Yang Kekal itu sebagai Sekutu umat-Nya. Sekalipun Yesus adalah manusia yang terikat kepada waktu, akan tetapi di dalam hidup yang dihidupi-Nya, yaitu di dalam firman dan karya-Nya, Ia menyatakan atau mengungkapkan Tuhan Allah yang kekal, yang tidak terikat kepada waktu itu. Di dalam firman dan karya Yesus tampaklah bagaimana Allah Yang Kekal itu. Dan oleh karena itu, sebagai yang menampakkan atau mengungkapkan Yang Kekal, Yesus sendiri disebut tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

Tuhan Allah Tidak Berubah

Sehubungan dengan hakekat Tuhan Allah yang dinyatakan sebagai kekudusan, kekekalan, dan sebagainya, Alkitab juga mengungkapkan, bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Tidak Berubah atau Yang Tetap Sama.

Di Mazmur 102:26-28 disebutkan, “Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. SEMUANYA ITU AKAN BINASA, TETAPI ENGKAU TETAP ADA, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan MEREKA BERUBAH, TETAPI ENGKAU TETAP SAMA, dan tahun-tahun-Mu tiada berkesudahan.” Dari ayat-ayat ini jelaslah hubungan antara kekekalan Tuhan Allah dan hakekat-Nya yang diungkapkan sebagai Allah Yang Tidak Berubah, atau Yang Tetap Sama. Bahwa Tuhan Allah tidak berubah diuraikan juga di Yakobus 1:17, di mana disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Bapa segala terang dan bahwa pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Bahwa Tuhan Tidak Berubah atau Tetap Sama, hal itu tidak berarti, bahwa Ia tidak bergerak, seperti gunung atau batu yang mati. Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama justru di dalam firman dan karya-Nya, supaya menjadi sekutu umat-Nya. Bahwa Tuhan tidak berubah atau tetap sama, berarti bahwa Ia tidak akan melepaskan umat-Nya yang telah menjadi sekutu-Nya itu, sekalipun umat-Nya sering mengubah sikapnya terhadap Tuhannya. Hal ini disebabkan karena Tuhan Allah terharu terhadap nasib sekutu-Nya. Bahwa Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama ada hubungannya yang erat sekali dengan kesetiaan-Nya. Dalam hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah atau yang tetap sama justru terkandung banyak gerak dan perbuatan. Sebab justru karena Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama, maka Ia harus bekerja guna menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi kesetiaan-Nya terhadap maksud-Nya untuk menjadi sekutu umat-Nya.

Di dalam terang inilah kita harus melihat hal sesal Tuhan Allah yang sering diungkapkan di dalam Alkitab.

Di 1 Samuel 15:29 umpamanya disebutkan, bahwa Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal, sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal. Firman ini diucapkan oleh Samuel kepada raja Saul, ketika raja Saul kembali dari memerangi bangsa Amalek. Di dalam memerangi bangsa Amalek itu raja Saul makin menampakkan kekerasan hatinya, dengan secara terang-terangan melanggar perintah Tuhan Allah. Raja Saul menawan raja Amalek dan merampas lembu-lembu bangsa Amalek dengan alasan akan dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Padahal Tuhan Allah dengan tegas memerintahkan supaya Saul menumpas segala orang Amalek dengan segala harta-bendanya. Sebagai raja yang mewakili umat Allah, Saul harus menampakkan ketaatannya yang sebesar-besarnya kepada Tuhan. Dengan perbuatannya itu raja Saul membahayakan kedudukan umat Israel sebagai sekutu Allah. Oleh karena Tuhan Allah telah sekali berfirman, bahwa Ia menjadi sekutu Israel, maka Ia tidak akan berubah dari putusan-Nya itu. Ia memegang teguh kepada apa yang telah direncanakan. Tiada seorangpun yang boleh mengeraskan hatinya guna meniadakan atau menggagalkan rencana Allah itu. Karena Saul berbuat demikian (akan menggagalkan kedudukan Allah sebagai sekutu umat-Nya) maka ia ditolak oleh Tuhan. Tuhan mengambil kerajaan dari tangan Saul, dan akan memberikannya kepada orang lain. Sekalipun Tuhan Allah sendiri yang telah memanggil Saul untuk menjadi raja, akan tetapi karena Saul akan merusak rencana Allah, Tuhan menarik kembali keputusan-Nya yang telah diambil terhadap Saul dengan alasan bahwa Saul membahayakan rencana Allah yang mengenai umat-Nya.

Perubahan sikap Tuhan Allah terhadap Saul adalah reaksi Tuhan Allah yang penuh emosi (renjana) terhadap perbuatan manusia. Tuhan Allah disakitkan hati-Nya, sehingga harus menarik kembali keputusan-Nya yang semula yang mengenai Saul. Oleh karena Tuhan tidak tahu menyesal, artinya: tidak pernah menyesali keputusan-Nya untuk menjadi sekutu Israel, maka Tuhan menyesalkan perbuatan Saul yang membahayakan keputusan Allah yang pokok tadi.

Demikianlah Tuhan Allah bukanlah Allah yang dingin, yang tidak pernah tergerak hati-Nya. Ia bereaksi terhadap perbuatan untuk-Nya. Firman dan karya-Nya adalah kongkrit bersejarah. Ia benar-benar turut menghayati kehidupan umat-Nya. Ia dapat berubah setiap waktu, artinya: Ia dapat mengubah setiap saat sikap-Nya terhadap umat-Nya, justru karena Ia tidak tahu menyesal, artinya: justru karena Ia tidak menyesal menjadi sekutu umat-Nya.

Di dalam terang inilah Kejadian 6:6 harus ditinjau. Di situ disebutkan, bahwa TUHAN ALLAH MENYESAL, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan bahwa hal itu memilukan hati-Nya.

Bahwa Tuhan Allah menyesal di sini ditujukan kepada perbuatan manusia yang membahayakan rencana Allah, menyelamatkan dunia ini. Manusia pada zaman Nuh membahayakan rencana Allah untuk menjadi sekutu manusia, yaitu dengan berbuat dosa yang menyolok sekali. Perbuatan mereka sama dengan perbuatan raja Saul. Oleh karena Tuhan Allah setia kepada rencana-Nya, artinya oleh karena Ia tetap sama atau tidak berubah terhadap rencana-Nya; maka Ia MENYESALKAN PERBUATAN MANUSIA pada zaman Nuh itu.

Demikianlah gagasan yang terkandung di dalam 1 Samuel 15:29 itu sebenarnya sama dengan gagasan yang terkandung di dalam Kejadian 6:6, sekalipun pengungkapannya berbeda. Keduanya menunjukkan, bahwa Tuhan Allah tidak menyesal bahwa Ia menjadi sekutu umat-Nya atau menjadi sekutu manusia, dan oleh karenanya Tuhan Allah menyesalkan perbuatan manusia yang membahayakan maksud-Nya yang mulia itu.

Masih ada ayat-ayat lainnya yang senada dengan ayat-ayat yang telah kita bicarakan, sebagai umpamanya Keluaran 32:13-14, yang menyebutkan bahwa TUHAN menyesal karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya; Yunus 4:2 yang menyebutkan, bahwa Allah adalah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya; Ibrani 13:8 yang menyebutkan, bahwa Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. akan tetapi ayat-ayat ini tidak akan dibicarakan.

Mengenai hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah atau yang tetap sama, dapat disimpulkan demikian, bahwa Tuhan Allah di dalam segala perubahan sikap-Nya itu adalah Allah yang tetap setia kepada diri-Nya sendiri. Bahwa Ia setia kepada diri-Nya sendiri, ini dapat diungkapkan dengan pengalimatan, bahwa Ia tidak menyesal, atau bahwa Ia menyesal, atau bahwa Ia tidak berubah, atau bahwa Ia meninjau kembali keputusan-Nya. Jika Tuhan Allah disebut Yang Tidak Berubah atau Yang Tidak Menyesal, hal itu diterapkan kepada keputusan-Nya untuk menjadi sekutu umat-Nya, sedang jika disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Yang Berubah atau Yang Menyesal hal itu ditetapkan kepada sikap umat-Nya yang membahayakan keputusan Tuhan Allah untuk menjadi sekutu umat-Nya tadi.

Di dalam Alkitab hubungan Tuhan Allah dengan manusia terjadi di dalam kejadian-kejadian yang konkrit di dalam sejarah. Di sepanjang sejarah itulah Tuhan Allah membuktikan dengan firman dan karya-Nya, bahwa Ia tetap sama, bahwa Ia Tidak Berubah, bahwa pada-Nya tidak ada perubahan, di dalam menjadi sekutu umat-Nya. Ia setia kepada keputusan itu sampai selama-lamanya. Jelaslah bahwa kesetiaan Tuhan Allah terhadap diri-Nya sendiri dan terhadap rencana-Nya adalah kekal selama-lamanya. Agar Tuhan Allah dapat setia kepada diri-Nya dan kepada maksud-Nya, sering Ia harus mengubah jalan-Nya demi keselamatan umat-Nya yang sering tidak setia itu.

Berdasarkan hal itu semuanya, hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah itu barangkali lebih tepat dikalimatkan dengan ungkapan keteguhan-Nya atau bahwa Tuhan Allah dapat dipercaya.

 

 

  • Tuhan Allah itu Esa

Jikalau Alkitab merumuskan pengakuan iman umat Allah tentang Tuhan Allah, rumusan diungkapkan demikian: “Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:4-5).

Kata-kata ini diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel, ketika Musa akan meninggalkan Israel karena mati. Ucapan ini sebenarnya mewujudkan suatu pengakuan iman yang ditekankan kepada Israel pada waktu itu, agar supaya Israel jangan melupakannya. Pengakuan iman ini bukanlah rumusan Musa sebagai hasil pemikiran akalnya, yang diperolehnya dengan memandang kepada gejala-gejala alam semesta, atau disimpulkan dari hukum akal, melainkan didasarkan atas pengalaman-pengalaman Musa dan pengalaman-pengalaman umat Israel sendiri, sejak Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dengan melepaskan Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Di sepanjang sejarah dari Mesir hingga di dataran Moab itu, yang kira-kira 40 tahun lamanya, Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dan telah membuktikan kepada mereka dengan firman dan karya-Nya siapa Tuhan Allah itu.

* Ulangan 6:4
LAI-TB, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
KJV, Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:
Hebrew,
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃
Translit interlinear, SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} ‘ELOHEINÛ {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} EKHAD {esa}”

Pertama-tama di sini diakui, bahwa Allah Israel adalah TUHAN atau יהוה – YHVH. Arti nama יהוה – YHVH ini telah dibicarakan sebelumnya, yaitu bahwa dengan nama ini Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel. Sebagai sekutu Israel Tuhan Allah adalah Allah yang setia, yang memenuhi segala janji-Nya. Dengan mengingatkan kepada nama itu Musa bermaksud menekankan, bahwa TUHAN adalah setia, yang benar-benar telah memegang teguh kepada apa yang telah difirmankan dan diperbuat. Bahwa TUHAN adalah Allah yang setia, bukanlah suatu teori bagi Musa dan bagi bangsa Israel di dalam Firman dan karya Tuhan Allah di sepanjang sejarah Israel hingga kini dan akan diteruskan di dalam kelanjutan sejarah itu. Nama TUHAN atau YHVH adalah sama dengan nama yang disebutkan di Yesaya 44:6 dan Wahyu 1:8, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian.

TUHAN atau יהוה – YHVH selanjutnya disebut esa. Ungkapan yang diterjemahkan dengan “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” dalam bahasa aslinya berbunyi, YHVH ‘ELOHEYNU YHVH ‘EKHAD, yang dapat diterjemahkan seperti yang terjadi di dalam terjemahan baru ini, tetapi juga dapat diterjemahkan dengan “TUHAN adalah Allah kita, TUHAN saja”, artinya, bahwa tiada Allah lain, yang menjadi Allah kita, kecuali TUHAN. Bagaimanapun kata ‘ekhâd diterjemahkan (dengan esa atau saja) di dalam hubungan pernyataan ini teranglah bahwa kata ‘ekhâd itu menunjukkan kepada TUHAN yang khas terhadap allah-allah yang lain, dan bertentangan dengan allah-allah yang lain, yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel.

Pertama-tama ungkapan itu menunjukkan, bahwa bagi Israel, berdasarkan firman dan karya Allah, tidak ada Allah yang lain, kecuali TUHAN. Hal yang demikian juga dinyatakan oleh Musa di Ulangan 4:39, yang berbunyi, “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHAN-lah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.”

Secara polemis (artinya: secara perang pandangan) adanya allah-allah yang lain seolah-olah diakui. Akan tetapi secara polemis juga ditunjukkan, bahwa Tuhan Allah adalah lain dibanding dengan allah-allah tadi. Umpamanya dewa Baal. Sekalipun oleh para penyembahnya diakui, bahwa ada satu Baal, namun dewa ini disembah menurut tempat dan keadaannya: ada Baal-Berit, Baal-Gad, Baal-Hazor, Baal-Peor, dan sebagainya. Akan tetapi TUHAN adalah satu, di mana saja; tiada TUHAN-Sinai, TUHAN-Silo, TUHAN-Yerusalem, TUHAN adalah TUHAN, di mana saja Ia disembah.

Selanjutnya, dengan bermacam-macam cara, kemuliaan Tuhan Allah yang jauh melebihi para allah yang lain itu ditunjukkan. Di Yeremia 16:20 umpamanya disebutkan, bahwa Allah buatan manusia itu bukan allah. Di Mazmur 115:4 disebutkan, bahwa berhala-berhala itu adalah perak dan emas, buatan tangan manusia; maka berhala-berhala di Yesaya 41:29 disebut hampa, angin dan kesia-siaan, yang menurut nabi Zakharia, akan dilenyapkan namanya. Berdasarkan hal itu semua maka kepada Israel dinyatakan atau diproklamasikan, bahwa hanya TUHAN-lah yang benar-benar Allah, hanya Dia saja.

Dari uraian di atas teranglah kiranya, bahwa kata ‘ekhâd atau esa di dalam pengakuan iman Israel sekali-kali bukan dimaksud guna menekankan kepada satunya angka secara matematis. Sebab hal yang demikian memang tidak pernah dihadapi oleh Israel. Israel tidak pernah dihadapkan dengan persoalan: ada Allah satu atau lebih dari satu. Dewa-dewa atau berhala-berhala atau allah-allah yang lain tidak pernah dipandang sebagai Allah, hanya secara polemis saja mereka diakui. Bagi Israel persoalannya bukan ada yang ilahi secara umum, lalu TUHAN juga disebut yang ilahi. Bagi Israel tidak ada ketuhanan dalam arti yang umum, lalu TUHAN adalah termasuk ketuhanan itu. Bagi Israel TUHAN adalah satu-satunya yang ilahi, atau lebih tepat TUHAN adalah satu-satunya Tuhan. Di luar TUHAN atau YHVH tidak ada yang dapat disebut Tuhan. Sebab bagi Israel hanya TUHAN-lah yang di dalam firman dan karya-Nya telah memperkenalkan diri sebagai Allah. Berdasarkan keyakinan yang demikian, maka ungkapan TUHAN itu esa bermaksud juga mengungkapkan, bahwa TUHAN adalah esa di dalam firman dan karya-Nya, bukan di dalam bilangan atau jumlahnya. TUHAN adalah esa di dalam firman dan karya-Nya, seperti juga halnya dengan Ia adalah Mahatinggi di dalam firman dan karya-Nya, Yang Kudus di dalam firman dan karya-Nya, dan lain sebagainya. Segi hakekat TUHAN yang satu atau esa ini tidak bertentangan dengan segi-segi yang lain dari hakekat Tuhan Allah tadi. Dari apa yang telah diuraikan tentang kekudusan, kekekalan, dan lain sebagainya, hal ini tampak dengan jelas sekali. Segala firman yang diperintahkan dan segala karya yang dilakukan Tuhan Allah menampakkan satu hal, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya, yang mencari keselamatan umat-Nya, yang menciptakan, memelihara serta menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya.

Oleh karena TUHAN, Allah Israel telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Israel sebagai Yang Esa di dalam firman dan karya-Nya, maka Musa memerintahkan kepada Israel, supaya Israel mengasihi Allah dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, artinya: seluruh eksistensi Israel harus dipersembahkan kepada TUHAN-nya. Oleh karena Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya sebagai yang esa atau satu, maka Israel diharuskan mempersembahkan segala tenaga dan daya yang ada padanya sebagai pengabdian yang satu atau yang esa kepada Tuhannya. Pengabdian kepada TUHAN yang esa di dalam firman dan karya-Nya harus dilakukan secara esa di dalam kata-kata dan perbuatan, secara lahir dan batin. Seluruh eksistensinya sebagai satu kesatuan atau keesaan harus dipersembahkan kepada Tuhannya. Penyataan atau perkenalan Tuhan Allah sebagai Sekutu Israel harus dijawab oleh Israel sebagai sekutu Allah.

Berdasarkan uraian di atas, kiranya ungkapan esa di sini lebih tepat diartikan sebagai pengertian yang etis, sebab keesaan Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya tadi segera dihubungkan dengan kasih yang esa kepada-Nya. Hanya TUHAN-lah yang Allah adanya, dan yang menjadi sekutu Israel, maka hanya TUHAN-lah yang patut dikasihi. Di luar TUHAN tidak ada yang patut dikasihi sebagai sekutu Israel.

Pengertian tentang keesaan Tuhan Allah yang demikian itu terdapat juga di dalam Perjanjian Baru. Hal ini umpamanya jelas dari perkataan Yesus Kristus:

* Markus 12:29
LAI TB, Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
KJV, And Jesus answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; The Lord our God is one Lord:
TR, ο δε ιησους απεκριθη αυτω οτι πρωτη πασων των εντολων ακουε ισραηλ κυριος ο θεος ημων κυριος εις εστιν
Translit , ho de iêsous apekrithê autô hoti prôtê asôn tôn entolôn akoue israêl kurios ho theos hêmôn kurios heis estin

* Yohanes 17:3
LAI TB, Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
KJV, And this is life eternal, that they might know thee the only true God, and Jesus Christ, whom thou hast sent.
TR, αυτη δε εστιν η αιωνιος ζωη ινα γινωσκωσιν σε τον μονον αληθινον θεον και ον απεστειλας ιησουν χριστον
Translit Interlinear, hautê de estin hê aiônios zôê hina ginôskôsin se ton monon alêthinon theon kai hon apesteilas iêsoun khhriston

Yohanes 17:3 : Kata-kata yang diterjemahkan dengan satu-satunya Allah yang benar adalah ton monon alêthinon theon, yang juga dapat diterjemahkan dengan Allah yang satu dan benar atau satu-satunya yang benar-benar Allah. Maka jelaslah kiranya bahwa menurut Perjanjian Baru tidak ada Allah lain kecuali Tuhan Allah. Keesaan Allah di sini juga bukan hasil pemikiran spekulatif, yang diperoleh dengan menjabarkan dari hukum akal. Juga di sini keesaan Allah dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya, yang semuanya menunjuk kepada Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya. Hal ini jelas dari dihubungkannya keesaan Allah tadi dengan pengutusan Yesus Kristus sebagai Firman yang telah menjadi manusia, yang justru menjadi bukti bagi umat Allah bahwa Tuhan Allah adalah penyelamatnya.

Juga di dalam Perjanjian Baru kata esa atau monon tidak menekankan pada angka satu secara matematis. Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru senantiasa mementingkan konsekuensi dari penyembahan kepada satu-satunya yang boleh disebut Allah itu. Penyembahan kepada Tuhan Allah yang satu-satunya itu membawa konsekuensi secara etis. Kepada pemuda yang kaya, umpamanya, yang merasa telah memenuhi segala hukum Tuhan Allah, Yesus berkata, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan; juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Yang dimaksud oleh Yesus di sini ialah, bahwa jika pemuda itu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allah, harus mengasihi-Nya dengan seluruh eksistensinya, dengan seluruh miliknya, sehingga jika perlu, semua harus dapat dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Hal yang demikian itu juga dikemukakan oleh Yesus kepada Marta, jika Yesus berkata, “Tetapi hanya satu saja yang perlu, ‘Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya'”. Marta masih memikirkan hal-hal yang banyak sekali, dan belum menyerahkan seluruh eksistensinya kepada Yesus. Di sekitar Kristus dan di sekitar Tuhan Allah hanya ada satu hal saja yang perlu, yaitu kasih yang sedalam-dalamnya, yang dinyatakan dengan seluruh eksistensi manusia.

Di dalam Perjanjian Baru gagasan ini semua mendapat arti yang jauh lebih mendalam lagi, sebab satu-satunya Allah yang benar itu ternyata di dalam firman dan karya-Nya telah memberikan kesempurnaan kasih-Nya, yaitu di dalam pengutusan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Maka konsekuensi etis dari penyembahan kepada Tuhan Allah yang benar-benar Allah tadi, bagi hidup bersama ialah bahwa orang beriman harus sehati dan sejiwa.

Menurut Alkitab, percaya bahwa hanya ada Allah satu, memang baik sekali. Akan tetapi jika hanya berhenti di situ saja, jauh belum mencukupi. Pengakuan bahwa Tuhan Allah adalah satu atau esa, membawa konsekuensi. Di Yakobus 2:19 disebutkan, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”

Yang penting ialah menaati perintah Tuhan Allah, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan segenap kuatnya dan mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Lahir dan batin hidup umat Allah harus dipersembahkan kepada Tuhan dan sesamanya.

 

  • Doktrin Allah Tritunggal

Tuhan Allah, yang sebagai sekutu umat-Nya, telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Esa tadi, selanjutnya dengan firman dan karya-Nya, juga menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang di dalam ajaran Kristen biasanya disebut Tritunggal.

Di dalam Alkitab tidak ada banyak ayat yang mengungkapkan ketritunggalan itu secara langsung. Kita mendengar perintah Yesus untuk membaptiskan di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus; Rasul Paulus mengucapkan berkatnya sebagai “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus”, yang secara lebih luas lagi disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini:

* 1 Korintus 12:4-6,
“Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”

* Efesus 4:4-6,
“satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.”

* 1 Petrus 1:1-2,
“Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.”

* Yudas 20-21,
“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.”

Akan tetapi secara tidak langsung ada banyak ayat di dalam Perjanjian Baru yang menunjuk kepada ketritunggalan itu.

Di dalam berita tentang kelahiran Yesus, malaikat berkata, bahwa anak Maria itu akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, serta bahwa Roh Kudus akan turun atas Maria, serta kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaunginya. Pada waktu Yesus dibaptis, Roh Allah turun ke atas-Nya seperti burung merpati, dan bahwa Tuhan Allah berfirman, “Inilah Anak yang Kukasihi.”

Selain dari itu, Yesus sendiri mengaku di hadapan Sanhedrin, bahwa Ia adalah Anak Allah. Di hadapan orang Yahudi, Ia menyebut Tuhan Allah Bapa-Nya, sedang orang lain menyebut Dia Anak Allah. Mengenai Roh Kudus disebutkan, bahwa Yesus akan mengutus Roh-Nya dari Bapa dan sebagainya.

Semua ayat ini, yang masih dapat ditambah lagi dengan banyak sekali, tidak boleh diabaikan begitu saja.

Di sepanjang sejarah Gereja telah timbul penafsiran-penafsiran gagasan tentang Tuhan Allah yang telah dicetuskan oleh Plato. Segala pernyataan ini harus dilihat di dalam terang yang menerangi hakekat Tuhan Allah, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu di dalam semuanya itu Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu umat-Nya di dalam firman dan karya-Nya.

Pada abad-abad yang pertama, Gereja yang masih muda itu dihadapkan dengan persoalan-persoalan sebagai berikut:

1. Pengakuan yang diambil-alih dari ajaran Yahudi, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah esa.
2. Pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Oleh karena itu maka segeralah timbul persoalan, apakah dengan demikian orang Kristen tidak menyembah kepada Allah yang lebih dari satu?

Di sepanjang sejarah Gereja, tampaklah pergumulan Gereja yang masih muda itu untuk merumuskan kepercayaannya yang mengenai Tuhan Allah. Di dalam pergumulan tadi dapat disaksikan bagaimana Gereja di satu pihak berusaha untuk menghindarkan diri dari bahaya “mempertahankan keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggalannya”, artinya bahwa orang sedemikian menekankan kepada ajaran bahwa Allah adalah esa, sehingga sebutan Bapa, Anak, dan Roh Kudus seolah-olah hanya dipandang sebagai sifat-sifat Allah saja. Di lain pihak dapat disaksikan pula, bagaimana Gereja bergumul untuk menghindarkan diri dari bahaya “mempertahankan ketritunggalan Allah dengan melepaskan keesaannya”, artinya bahwa orang sedemikian menekankan kepada perbedaan di antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sehingga ketiganya itu seolah-olah berdiri sendiri-sendiri tanpa ada kesatuan.

Pada abad ketiga di Roma muncullah Praxeas yang mengajarkan bahwa Tuhan Allah adalah Roh. Sebagai Roh, Tuhan Allah disebut Bapa. Allah ini telah mengenakan daging atau menjadi manusia. Allah yang telah mengenakan daging ini disebut Anak. Di dalam diri Yesus Kristus, Bapa dan Anak menjadi satu, dalam arti demikian, bahwa sang manusia Yesus, yang daging adanya, adalah Anak, sedang Kristusnya, yang Roh adanya, adalah Bapa. Yang dilahirkan adalah Anak, yaitu sang manusia Yesus di dalam diri Juru Selamat. Sebenarnya Anak inilah yang menderita sengsara, sebab Allah Bapa, yang Roh adanya, tidak dapat menderita. Tetapi oleh karena Allah Bapa telah memasuki daging (Kristus memasuki Yesus) ia turut menderita juga. Ajaran ini disebut Patripassianisme, artinya, bahwa Bapa turut menderita sengsara. Di sini Praxeas membedakan antara daging (Anak) dan Roh (Bapa) di dalam diri Yesus Kristus. Sebenarnya, menurut Praxeas, Bapa dan Anak (Roh dan daging, atau Kristus dan Yesus) ini adalah Pribadi yang satu, yaitu Allah.

Dari uraian di atas jelas, bahwa Praxeas mempertahankan keesaan Allah. Tuhan Allah adalah satu. Bapa dan Anak adalah satu Pribadi, yaitu pribadi Tuhan Allah. Tetapi Praxeas melepaskan ketritunggalan atau di sini lebih tepat disebut kedwitunggalan. Sebutan Bapa dan Anak tidak menunjukkan perbedaan, kecuali sebagai Roh dan daging di dalam diri Juruselamat Yesus Kristus.

Gereja pada waktu itu menolak ajaran ini.

Sabellius :

Mempertahankan keesaan Tuhan Allah dan melepaskan ketritunggalan-Nya ini juga dilakukan oleh Sabellius (meninggal pada tahun 215). Ia mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah esa. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah modalitas atau cara menampakkan diri Tuhan Allah yang esa itu. Semula, yaitu di dalam Perjanjian Lama, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya di dalam wajah atau modus Bapa, yaitu sebagai Pencipta dan Pemberi Hukum. Sesudah itu Tuhan Allah menampakkan diri-Nya di dalam wajah Anak, yaitu sebagai Juruselamat yang melepaskan umat-Nya, yang dimulai dari kelahiran Kristus hingga kenaikan-Nya ke surga. Akhirnya Tuhan Allah sejak hari Pentakosta menampakkan diri-Nya di dalam wajah Roh Kudus, yaitu sebagai Yang Menghidupkan. Jadi ketiga sebutan tadi adalah suatu urut-urutan penampakan Tuhan Allah di dalam sejarah.

Untuk menjelaskan pendapatnya itu Sabellius memakai gambaran matahari. Allah Bapa dapat diumpamakan dengan matahari dalam penampakannya, sedang Allah Anak adalah matahari dalam sinarnya, dan Allah Roh Kudus adalah matahari dalam kekuatannya menyinarkan panas. Ketritunggalan di sini dipandang sebagai ketritunggalan penampakan yang berganti-ganti atau bergiliran. Yang menampakkan diri adalah Tuhan Allah yang satu itu.

Pernah ada suatu keterangan mengenai ketritunggalan Allah, yang sama dengan keterangan Sabellius, yaitu ketritunggalan itu dapat diterangkan demikian: Bapak Presiden di tengah-tengah keluarganya menjadi kepala keluarga, di tengah-tengah angkatan bersenjata menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata, di tengah-tengah rakyat menjadi kepala negara. Orangnya satu, tetapi tampil dalam tiga wajah.

Demikianlah Sabellius juga mempertahankan keesaan Tuhan Allah, tetapi ketritunggalan-Nya dilepaskan. Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanya sebutan saja bagi Allah yang satu itu.

Sebaliknya ada golongan ahli pikir Kristen pada waktu itu yang berusaha mempertahankan ketritunggalan Allah, tetapi melepaskan keesaan-Nya, artinya bahwa Allah Bapa, Allah Anak (atau Yesus Kristus) dan Roh Kudus dibedakan sedemikian rupa, hingga ketiganya berdiri sendiri-sendiri, tanpa kesatuan.

Paulus dari Samosata :

Hal ini umpamanya dilakukan oleh Paulus dari Samosata, yang meninggal pada tahun 260. Menurut Paulus, Tuhan Allah hanya dapat dipandang sebagai satu pribadi saja. Tetapi di dalam diri Allah dapat dibedakan antara Logos (Firman) dan Hikmat. Logos dapat disebut Anak, sedang Hikmat dapat disebut Roh. Logos bukanlah suatu pribadi, melainkan suatu kekuatan yang tidak berpribadi. Logos ini telah bekerja pada diri Musa dan para nabi di dalam Perjanjian Lama, selanjutnya Ia juga bekerja di dalam diri Yesus, anak Maria. Juruselamat Yesus Kristus adalah manusia, yang datangnya dari bawah. Akan tetapi padanya telah bekerja Logos atau Firman, yang datangnya dari atas. Logos atau Firman ini dapat juga disebut manusia batin dari Yesus, sang Juru Selamat itu. Kediaman Logos atau Firman di dalam diri Yesus Kristus sama dengan kediaman Hikmat atau Roh di dalam diri para nabi di Perjanjian Lama. Perbedaannya ialah, bahwa pada Yesus kediaman Hikmat atau Roh tadi mempunyai sifat yang khas:

Yesus Kristus adalah rumah Allah, yang didiami oleh Roh Allah atau Hikmat Allah dengan sempurna. Seperti halnya dengan dua oknum yang dapat memiliki kesatuan kegemaran dan kehendak, demikianlah halnya dengan Tuhan Allah dan Kristus. Kesatuan kegemaran dan kehendak yang demikian itu terjadi karena kasih. Karena kasih dan kehendak-Nya yang tidak berubah, maka Kristus dipersatukan dengan Tuhan Allah, sehingga Ia bukan hanya dapat tidak berdosa, melainkan juga dapat mengalahkan dosa-dosa nenek moyang-Nya. Sebagai upah kasih-Nya yang demikian itu, ia dikaruniai nama yang di atas segala nama, dan mendapat hak untuk mengadili dan memiliki kehormatan Allah, Ia diangkat menjadi Anak Allah.

Demikianlah Paulus dari Samosata mempertahankan perbedaan antara Allah Bapa dan Yesus Kristus. Keduanya dipisahkan hingga berdiri sendiri-sendiri tanpa kesatuan. Ia mempertahankan ketritunggalan (atau di sini kedwitunggalan) dengan melepaskan keesaan-Nya.

Origenes :

Hal yang demikian juga dilakukan oleh Origenes (meninggal tahun 254). Menurut Origenes, Tuhan Allah adalah satu atau esa, sebagai lawan dari segala yang banyak. Tuhan ini menjadi sebab segala sesuatu yang berada. Dengan perantaraan Logos atau Firman, Tuhan Allah, yang Roh adanya itu, berhubungan dengan dunia benda. Logos ini berdiri sendiri sebagai suatu zat, yang memiliki kesadaran ilahi dan asas-asas duniawi. Ia adalah gambaran Allah yang sempurna. Sejak kekal ia dilahirkan dari Allah. Karena kekuasaan kehendak ilahi ia terus-menerus dilahirkan dari zat ilahi. Ia memiliki tabiat yang sama dengan Allah, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Ia satu dengan Allah, akan tetapi sebagai yang keluar dari Allah Bapa, Ia lebih rendah daripada Allah Bapa. Ia adalah pangkat pertama dari perpindahan dari Yang Esa kepada Yang Banyak, atau pangkat kedua di dalam zat Allah.

Aktivitas Logos atau Anak ini juga lebih rendah dibanding dengan aktivitas Bapa. Ia adalah pelaksana kehendak Allah Bapa, yang melaksanakan instruksi Allah Bapa, sebagai umpamanya penjadian.

Roh Kudus dianggapnya juga sebagai zat yang ada pada Allah, yaitu pangkat ketiga di dalam zat Allah itu. Roh Kudus ini adanya karena Anak. Hubungannya dengan Anak sama dengan hubungan Anak dengan Bapa. Bidang kerja-Nya juga lebih sempit dibanding dengan bidang kerja Anak. Bapa adalah asas beradanya segala sesuatu, sedang Roh Kudus adalah asas penyucian segala sesuatu.

Jadi ketritunggalan Allah dipandang sebagai berpangkat-pangkat. Oleh karena itu ajaran ini disebut subordinasianisme. Di sini perbedaan di antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus dipertahankan, akan tetapi kesatuannya ditiadakan.

Demikianlah secara singkat pergumulan Gereja yang masih muda itu untuk merumuskan ajarannya mengenai penyataan Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Di Konsili di Nikea (325) Gereja menentukan syahadatnya untuk mempertahankan ketritunggalan di dalam keesaan dan keesaan di dalam ketritunggalan. Bunyi syahadat itu demikian:

“Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, segala yang kehilatan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal, yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah sejati dari Allah sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat dengan Sang Bapa …. dan seterusnya. Aku percaya kepada Roh Kudus, yang jadi Tuhan dan yang menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak …. dan seterusnya.

Dari perumusan ini jelas, bahwa dengan tegas diajarkan tentang Allah Tritunggal, Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang bersama-sama disembah dan dimuliakan.

Perlu diperhatikan, bahwa Gereja di sini mengakui Allah Tritunggal, akan tetapi tidak memberi penjelasan secara teologis.

Tertulianus :

Orang yang besar sekali pengaruhnya bagi perumusan ajaran Tritunggal ini adalah Tertullianus (120 – 225). Darinyalah istilah substansi atau zat dan persona atau pribadi dikenakan kepada ajaran Tritunggal. Ia merumuskan, bahwa Tuhan Allah adalah satu di dalam substansi-Nya atau Dzat-Nya dan tiga di dalam persona-Nya atau pribadi-Nya atau oknum-Nya (una substantia, tres personae).

Tertullianus sendiri mengajarkan demikian: Tuhan Allah memiliki pada diri-Nya akal atau budi. Budi ini dilahirkan atau dikeluarkan di dalam Firman atau Logos-Nya pada waktu penjadian alam semesta. Jadi Firman atau Logos itu keluar atau dilahirkan dari budi, seperti batang pohon keluar dari akarnya, atau seperti sungai keluar dari sumbernya, atau sebagai sinar keluar dari matahari. Oleh karena itu, maka Firman atau Logos tadi disebut Anak. Mula-mula Roh Kudus adalah satu dengan Firman, tidak terpisah dari Firman atau Logos, juga pada waktu Logos atau Firman menjadi manusia dan menderita sengsara. Baru setelah Kristus ditinggikan, Roh itu keluar dari Bapa dan Anak. Keluarnya Roh Kudus dari anak sama dengan keluarnya buah dari batang pohonnya, atau seperti arus keluar dari sungai, atau seperti berkas sinar keluar dari sinar. Jadi hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus digambarkan seperti hubungan: akar – batang – buah, atau sumber – sungai- arus, atau matahari – sinar – berkas sinar. Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki satu substansi, sedang mereka adalah tiga persona atau pribadi atau oknum. Adapun yang dimaksud dengan substansi oleh Tertullianus adalah apa yang berada secara kongkrit (sebagai umpamanya: batu, tanah, dan sebagainya), dan yang dimaksud dengan persona adalah yang menjadi subyek.

Sekalipun Gereja pada waktu itu tidak menerima ajaran Tertullianus, akan tetapi perumusannya tentang adanya satu substansi dan tiga persona mempengaruhi pemikiran-pemikiran Gereja dari zaman sesudah Tertullianus. Di sepanjang sejarah Gereja, perumusan ini telah menimbulkan salah paham yang banyak sekali. Hal ini, demikian banyak teolog berpendapat, disebabkan oleh istilah-istilah yang dipergunakan di dalam bahasa Latin dan Yunani bagi pengertian-pengertian substansi dan persona tidaklah tepat, terlebih-lebih yang mengenai pengertian persona atau pribadi, atau oknum. Akan tetapi, salah paham itu terlebih-lebih disebabkan oleh pengungkapan-pengungkapan itu didasarkan atas pandangan Plato yang mengenai tabiat ilahi atau ketuhanan seperti yang telah diuraikan di atas.

Dalam abad-abad sesudah Konsili di Nikea itu, pergumulan tentang perumusan Tritunggal masih belum memuaskan segala pihak.

Agustinus :

Augustinus umpamanya, merumuskan ketritunggal itu demikian, bahwa hubungan Bapa, Anak, dan Roh Kudus di dalam zat ilahi adalah sebagai ingatan, akal, dan kehendak, atau sebagai yang mengasihi, sasaran kasih dan kasih. Roh bukan hanya suatu fungsi, melainkan suatu tindakan kasih, ikatan yang menghubungkan Bapa dan Anak.

Thomas Aquinas :

Thomas Aquinas mengatakan, bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah cara berada ilahi yang berdiri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan persona adalah cara berada.

John Calvin :

Calvin menerangkan persona sebagai suatu hal yang berdiri sendiri di dalam kehidupan ilahi, yang satunya dibedakan dengan yang lain, karena sifat-sifat ilahi yang khas ilahi semata-mata.

Demikianlah ada perumusan yang bermacam-macam mengenai ketritunggalan tadi.

Substansi dan Persona Allah Tritunggal

Kata substansi adalah ousia di dalam bahasa Yunani, sedang kata persona adalah hupostasis atau hypostasis. Yang dimaksud Tertullianus dengan substansi adalah apa yang berada secara kongkrit, sedang yang dimaksud dengan persona adalah apa yang menjadi subyek.

Di dalam bahasa Yunani yang disebut dengan ousia ialah apa yang membedakan satu macam atau satu rumpun dengan macam atau rumpun yang lain, serta yang memberi ciri khas kepada macam atau rumpun itu. Umpamanya: rumpun mangga; ousia mangga adalah ciri-cirinya yang membedakan rumpun ini dengan rumpun yang lain (umpamanya: jambu) dan ciri-ciri yang khas pada mangga yang menjadikan mangga berbeda dengan jambu. Ousia atau substansi manusia, atau juga disebut zat atau hakekat manusia, adalah apa yang membedakan manusia daripada binatang dan daripada tumbuh-tumbuhan serta daripada Allah, pendeknya: yang menjadikan manusia disebut manusia, bukan binatang atau tumbuh-tumbuhan atau Allah. Demikian juga halnya dengan ousia atau substansi Allah, ialah apa yang membedakan Allah dari manusia dan makhluk-makhluk yang lain yang oleh Plato disebut tabiat ilahi atau ketuhanan, yang harus dibedakan dengan tabiat insani atau kemanusiaan.
Yang dimaksud dengan hypostasis atau persona adalah apa yang membedakan satu individu dari individu yang lain, serta yang membedakan ciri khas kepada individu itu di dalam satu rumpun atau satu macam, umpamanya: buah jeruk ada bermacam-macam, ada jeruk keprok, jeruk pecel, dan sebagainya. Semuanya itu termasuk rumpun jeruk, akan tetapi yang sebuah berbeda dengan yang lain. (Atau juga jeruk pada satu pohon, yang sebuah berbeda dengan yang lain).

Diterapkan kepada Tuhan Allah, hal itu diterangkan sebagai berikut, bahwa Bapa, Anak, Roh Kudus adalah tiga hypostasis di dalam satu ousia atau tiga persona di dalam satu substansi, atau tiga oknum di dalam satu Dzat.

Sejak abad ke-18 pengertian persona atau oknum telah dianggap sebagai suatu kekuatan yang berdiri sendiri dengan secara sadar, atau suatu swadaya yang sadar, yang dengan kekuatan kesusilaannya mempertahankan diri terhadap kekuatan-kekuatan yang tidak berpribadi di sekitarnya. Sejak abad ke-18 ini sebenarnya pengertian persona atau oknum telah tidak mungkin lagi diterapkan guna mengungkapkan pengertian Alkitab yang mengenai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sebab memang bukan pengertian yang seperti itulah yang dimaksud oleh Gereja kuno ketika merumuskan ajarannya tentang ketritunggalan Allah. Oleh karena itu maka banyak para ahli teologia sekarang yang menerjemahkan ungkapan υποστασις – HUPOSTASIS atau persona bukan dengan oknum, melainkan dengan cara berada (seinsweise atau mode of existence) , sehingga ketritunggalan dirumuskan demikian: Allah adalah satu di dalam substansi-Nya, tetapi memiliki tiga cara berada.

Cara menerangkan ini juga masih kabur, karena masih terlalu dipengaruhi oleh gagasan Plato mengenai adanya suatu tabiat ilahi atau ketuhanan tadi.

Bersambung ke bagian 3