Ajaran Tentang Tuhan (Pandangan Kristen Protestan) Bagian 2

Tulisan dibawah ini merupakan salinan dari web http://www.sarapanpagi.org/ajaran-tentang-tuhan-allah-vt24.html tanpa ada penambahan apapun.

Bagian 2

 

 

  • Bukti-bukti Adanya Tuhan

Israel mengungkapkan keyakinannya yang mengenai Tuhan Allah itu bukan karena ia terdorong oleh akalnya, yang ingin berfilsafat tentang Tuhan Allah, melainkan karena terdorong oleh kelimpahan kasih karunia Tuhan Allahnya, yang telah dianugerahkan kepadanya. Oleh karena itu Israel ingin memuji dan memuliakan Tuhannya.

Hingga kini masih banyak ahli agama yang mengira, bahwa mereka dapat membuktikan adanya Tuhan Allah. Sejak zaman Plato orang mencoba membuktikan hal ini. Tiap orang beragama merasa bahwa di dalam dirinya ada pengertian tentang Tuhan Allah. Manusia yang diberi akal itu ingin menjadikan lebih jelas dan lebih terang pengertian tentang Tuhan tadi dengan merenungkannya dan menyelidikinya. Orang belum puas, jika hanya merasa, bahwa Tuhan Allah ada, orang ingin mencoba menunjukkan, bahwa kepercayaannya kepada Tuhan Allah itu ada dasar-dasarnya. Itulah sebabnya maka di sepanjang zaman-zaman yang telah lampau hingga kini banyak ahli agama berusaha membenarkan kepercayaannya kepada Tuhan Allah itu. Terlebih-lebih pada zaman sekarang ini, di mana ajaran yang ahteistis mengancam kepercayaan kepada Tuhan Allah.

Sekalipun usaha yang demikian itu dapat dimengerti, namun perlu direnungkan kembali apa yang biasanya disebut bukti-bukti tentang adanya Allah itu. Sebab, jikalau seseorang mempergunakan suatu senjata guna menangkis serangan-serangan tertentu, ia harus yakin benar bahwa senjata itu memang benar-benar ampuh, atau apakah senjata itu hanya ampuh di dalam dugaan belaka.

Ada beberapa bukti yang akan dibicarakan seperti bukti ontologis, bukti kosmologis, bukti teologis dan bukti moril yang akan disampaikan lebih lanjut pada kesempatan berikutnya.
Bukti ontologis

Bukti ini ingin membuktikan bahwa Tuhan Allah ada, dengan menunjukkan kepada adanya pengertian tentang Tuhan. Tiap orang memiliki pengertian tentang Tuhan. Oleh karena tiap orang memiliki pengertian tentang Tuhan, maka Tuhan tentu ada. Bukti ini telah dipakai oleh Plato, dan kemudian dipergunakan oleh tokoh-tokoh Kristen dan Islam. Plato mengemukakan dalil yang demikian: Oleh karena di dalam pikiran manusia terdapat idea atau cita yang sifatnya umum, maka haruslah diambil kesimpulan, bahwa ada akal yang mutlak, yang merangkumkan segala idea atau cita. Idea yang merangkumkan segala idea ini adalah yang benar dan yang indah secara mutlak. Idea yang demikian itu adalah Tuhan.

Pada zaman pertengahan Anselmus membuat dalil, yang jika diuraikan secara bebas berbunyi: Sesuatu yang tertinggi (yaitu yang di atasnya tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi) tentu tidak hanya berada di dalam pikiran manusia saja, melainkan juga di luarnya. Sebab seandainya yang tertinggi (yang di atasnya tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi lagi) tadi hanya berada di dalam pikiran saja, maka sesuatu yang tertinggi itu tentulah juga harus dapat dipikirkan sebagai berada secara istimewa. Padahal ada lebih banyak hal yang dapat dipikirkan secara istimewa. Jika yang tertinggi itu hanya berada di dalam pikiran saja, tentu yang tertinggi tadi sama dengan apa yang di atasnya dapat dipikirkan sesuatu yang lebih tinggi lagi. Hal yang demikian tidak mungkin. Oleh karena itu kesimpulannya tidak dapat lain kecuali: sesuatu yang di atasnya tidak dapat dipikirkan yang lebih tinggi, tentu tidak hanya berada di dalam pikiran, melainkan juga berada di dalam kenyataan, bukan hanya berada di dalam akal, melainkan juga di dalam kenyataan. Demikianlah Tuhan Allah bukan hanya berada di dalam pikiran orang, melainkan juga berada di dalam kenyataan.

Jalan pikiran Anselmus ini sebenarnya meloncat, yaitu dari pikiran kepada eksistensi atau keberadaan. Apa yang dipikir belum tentu ada kenyataannya. (Tiap orang Jawa umpamanya memiliki pikiran tentang Semar, akan tetapi Semar adalah khayalan, tidak ada kenyataannya). Selanjutnya, eksistensi atau keberadaan itu bukanlah sifat yang menambah kekayaan sesuatu pengertian. (Seratus rupiah di dalam pikiran sama nilainya dengan seratus rupiah di dalam kenyataan). Suatu pengertian tidak akan ditambah sifat-sifatnya oleh keterangan apakah pengertian tadi hanya suatu idea atau apakah pengertian itu benar-benar ada. Demikian jugalah halnya dengan pengertian Tuhan.
Oleh karena itu bukti ontologis ini sebenarnya bukan bukti tentang adanya Tuhan Allah.
Bukti kosmologis atau kausalitas

Jika disingkat, bukti kosmologis ini dapat dirumuskan demikian: Segala yang ada memiliki suatu sebab (dunia ada, jadi dunia atau kosmos memiliki suatu sebab, yaitu Tuhan Allah). Itulah sebabnya bukti ini juga disebut bukti kausalitas.

Dengan bermacam-macam cara bukti ini dikemukakan. Ada yang mengatakan: oleh karena ada gerak, tentu ada yang menggerakkan, yang dirinya sendiri tidak digerakkan oleh sesuatupun. Atau: adanya segala sesuatu yang berubah mengharuskan orang menyimpulkan hal yang tidak berubah. Thomas Aquinas mengemukakan, bahwa adanya rentetan sebab-musabab menunjukkan kepada adanya sebab pertama, yaitu Tuhan Allah.

Juga bukti ini sebenarnya bukan bukti. Harus diakui, bahwa memang tidak ada sebab-musabab yang tiada akhirnya. Harus ada sebab pertama. Akan tetapi bahwa sebab pertama itu adalah Tuhan Allah, hal itu masih harus dibuktikan lagi. Di antara kosmos dan Tuhan Allah mungkin masih ada sebab-sebab yang banyak sekali. Bahwa sebab pertama adalah Tuhan Allah, sebenarnya bukan bukti. Bukti kosmologis ini paling banyak hanya dapat sampai kepada kesimpulan bahwa oleh karena tidak mungkin untuk menerima adanya sebab-musabab yang tiada akhirnya, maka harus ada suatu sebab pertama yang berdiri sendiri secara mutlak, yang menjadi sebab adanya dunia ini. Jika orang masih meneruskan uraiannya kepada Tuhan Allah, sebagai sebab pertama, ia meloncat kepada keyakinannya sendiri, yang memang telah menjadi prasangkanya. Perbuatan yang demikian tentu tidak akan dapat memuaskan orang yang memang mempunyai prasangka yang lain, yang tidak percaya atau tidak mau percaya kepada adanya Tuhan Allah.

Bukti teleologis (telos = tujuan)

Dalil pembuktian ini dirumuskan demikian: Oleh karena di dalam seluruh kosmos ada suatu tata tertib, suatu harmoni, suatu keselarasan dan suatu tujuan, maka harus ada suatu zat yang sadar, yang menentukan tujuan itu terlebih dahulu. Bahwa musim datang pada waktunya, tiap makhluk mendapat pemeliharaan masing-masing dan sebagainya, menunjukkan bahwa ada Tuhan Allah yang menjadikan dan mengatur semuanya itu.

Dibandingkan dengan kedua bukti yang telah dibicarakan di atas, bukti ini lebih kuat. Namun, adanya harmoni belum juga menunjukkan adanya Allah yang mengatur. Di sini orang sebenarnya juga meloncat kepada suatu keyakinan. Soalnya sebenarnya sama dengan bukti yang kosmologis tadi.

Bukti moril

Bukti ini mengemukakan, bahwa pada segala orang ada kesadaran tentang kesusilaan, yaitu pengertian mengenai yang baik dan yang jahat. Dari mana asalnya itu, jika tidak ada yang memberitakannya? Ini adalah pekerjaan Tuhan Allah.

Juga bukti ini belum dapat menyakinkan, sebab orang masih dapat mengemukakan, bahwa tata tertib kesusilaan tadi bukanlah suatu tata tertib yang berdiri sendiri, melainkan tata tertib yang timbul secara berangsur-angsur. Apa yang dianggap susila bagi bangsa yang satu tidak tentu diterima oleh bangsa yang lain, dan seterusnya.

Masih ada bukti-bukti yang lain, yang dikemukakan orang sebagai umpamanya: bukti sejarah, bukti persamaan antara bangsa-bangsa dan sebagainya, akan tetapi tidak akan dibicarakan.

Seperti yang telah dikemukakan, jikalau yang disebut bukti-bukti tadi diperhatikan benar, sebenarnya semuanya itu bukan bukti dalam arti kata yang benar. Bahwa yang ada di belakang semua yang ada ini adalah Tuhan Allah, hanya mungkin diamini oleh orang yang memang telah percaya tentang adanya Tuhan Allah. Israel dapat menemui Tuhan Allah di alam semesta, karena Israel telah mengenal Tuhan Allah terlebih dahulu sebagai sekutunya, yang kemudian menyatakan diri-Nya kepada Israel sebagai Pencipta alam semesta ini. Oleh karena itu, yang disangkakan bukti-bukti tadi lebih tepat dipandang sebagai kesaksian-kesaksian. Bagi orang yang telah percaya kepada Tuhan Allah, imannya dapat dikuatkan oleh kesaksian-kesaksian tadi, sedang kesaksian-kesaksian itu memang tidak menjadikan orang yang tidak percaya menjadi percaya.

Dalam tulisan-tulisan sebelumnya telah dikemukakan, bagaimana Plato mengadakan pembaharuan di bidang pemikiran tentang Tuhan Allah, dan betapa besar pengaruh pembaharuan Plato itu di dalam dunia pemikiran tentang Tuhan Allah. Pandangan Plato tadi telah menggema di sepanjang zaman-zaman hingga kini.

Menurut Plato, yang disebut Tuhan adalah keberadaan yang ilahi yang bersifat rohani atau akali, dalam arti: yang keadaannya berlawanan dengan yang bendawi, yaitu keberadaan yang halus, yang tidak tampak, yang tidak dapat diraba. Yang ilahi, yang bersifat rohani atau akali itu jauh lebih tinggi daripada yang bendawi dan mengatasi yang bendawi itu. Oleh karena itu yang ilahi ini disebut transenden. Jadi sifat Tuhan yang transenden itu disebabkan karena sifatnya yang rohani atau akali, yang mengatasi yang bendawi.

Pandangan Plato yang demikian itu di sekitar awal tarikh Masehi telah diterapkan oleh Philo terhadap ajaran Alkitab yang mengenai Tuhan Allah. Kitab Perjanjian Lama memang menuh dengan gagasan tentang Tuhan Allah yang Mahatinggi. Kejadian 14:19 umpamanya, menyebutkan bahwa Abraham diberkati oleh Tuhan Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi.

Berdasarkan ayat-ayat semacam itu Philo mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah transenden, dalam arti yang diberikan oleh Plato, yaitu bahwa Tuhan Allah pada hakekatnya tidak dapat dihampiri oleh akal manusia. Sekalipun ada perbedaan di sana-sini, pada dasarnya teologia Kristen, dengan cara lebih atau kurang, mengikuti pandangan Philo ini. Pada umumnya gambaran teologia Kristen mengenai Tuhan Allah adalah demikian: Tuhan Allah adalah transenden. Hakekat-Nya atau zat-Nya tidak dapat dikenal oleh manusia secara mutlak.

Gambaran yang demikian tentang Tuhan Allah memang mempunyai segi-seginya yang menguntungkan, yaitu bahwa dengan demikian manusia dapat dipandang sebagai bergantung kepada Tuhan Allah saja. Tuhan Allah berbeda sekali dengan manusia. Ada jarak yang tidak terjembatani antara Tuhan Allah dan manusia. Akan tetapi segera orang akan merasa, bahwa dengan demikian manusia tidak mungkin mengenal Tuhan Allah. Manusia tidak dapat mengatakan apa-apa tentang Tuhan Allah. Segala pembicaraan tentang Tuhan Allah tiada dasarnya dan tiada gunanya. Oleh karena itu maka timbullah kemudian ajaran tentang penyataan atau wahyu Tuhan Allah, yang dipandang sebagai penyesuaian diri Tuhan Allah kepada keadaan manusia. Agar supaya Tuhan Allah yang transenden, yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia itu, dapat dimengerti oleh manusia, maka Tuhan Allah di dalam penyataan atau wahyu-Nya harus menyesuaikan diri dengan kecakapan manusia. Di dalam penyataan atau wahyu-Nya itu Tuhan Allah memakai bentuk-bentuk manusiawi atau antropomorfisme.

Dengan demikian timbullah ajaran tentang dua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah. Ada pengetahuan tentang Tuhan Allah yang dimiliki oleh Tuhan Allah sendiri, yang tidak dapat diketahui oleh manusia, dan ada pengetahuan tentang Tuhan Allah yang dimiliki oleh manusia, yang berdasarkan penyataan atau wahyu Tuhan Allah. Oleh karena penyataan atau wahyu adalah penyesuaian Tuhan Allah dengan kecakapan manusia, maka kedua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah itu tidak bertindih-tepat atau identik.

Ajaran yang demikian sudah barang tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pengetahuan manusia tentang Tuhan Allah yang dimiliki manusia tadi dapat dipercaya seratus persen? Apakah tidak ada kemungkinan, bahwa keadaan Tuhan Allah yang sebenarnya sama sekali tidak cocok dengan pengetahuan yang dimiliki manusia tentang Tuhan Allah itu? Soalnya sama dengan seorang ibu yang harus menguraikan kepada anaknya yang masih kecil, bagaimana adiknya dilahirkan. Ibu ini di dalam keterangannya menyesuaikan diri dengan kecakapan anaknya, yang menghasilkan pengetahuan bagi anaknya yang berlainan sekali dengan kenyataannya.

Ajaran tentang dua macam pengetahuan tentang Tuhan Allah itu juga terdapat di dalam agama-agama lain.

Agama Hindu umpamanya mengarakan tentang Para Brahman dan Apara Brahman, atau tentang Nirguna-Brahman dan Saguna Brahman. Para-Brahman adalah Brahman yang lebih tinggi dan Apara Brahman adalah Brahman yang lebih rendah. Para-Brahman tidak dapat dikenal oleh manusia, sebab bersifat transenden dan mutlak, tidak dapat ditembus oleh akal manusia. Hanya beberapa orang saja yang dapat mengenal Para-Brahman, yaitu orang-orang yang telah memiliki para-widya, pengetahuan yang lebih tinggi, yang menjadikan orang bersatu dengan Brahman. Apara-Brahman dapat dikenal oleh manusia, sebab keadaannya lebih rendah, lebih kasar. Pengetahuan tentang Apara-Brahman ini disebut apara-widya, yaitu pengetahuan yang lebih rendah, yang dapat dimiliki semua orang, dan yang tidak menyelamatkan.

Di dalam aliran Kebatinan diajarkan hal yang demikian itu juga. Tuhan Allah pada diri-Nya sendiri tidak dapat dikenal, tidak dapat dikatakan bagaimana (tan kena kinaya ngapa). Oleh karena itu orang tidak mungkin mengetahui zat yang ilahi itu.

Para ulama Islam berkata, Billa kaif wa laa tasbeh, yang artinya: tanpa mengatakan bagaimana dan tanpa mengadakan perbandingan. Orang tidak mungkin mengatakan apa-apa tentang zat Tuhan Allah. Tuhan Allah adalah Tuhan Allah.

Bukan dimaksudkan di sini untuk mengatakan bahwa semua ajaran tentang Tuhan Allah yang dikemukakan di atas oleh karenanya adalah sama saja. Ajaran teologia Kristen tidak sama dengan ajaran agama Hindu dan kebatinan Jawa, dan juga tidak sama dengan ajaran agama Islam. Yang penting di sini ialah menunjukkan, bahwa pandangan Plato tentang yang ilahi tadi dengan bermacam-macam cara telah menggema dalam pandangan para ahli agama dalam ajaran mereka yang mengenai hakekat Tuhan Allah.

 

  • Sifat-sifat Tuhan Allah

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya, biasanya orang membeda-bedakan antara ajaran tentang zat atau hakekat Tuhan Allah dan ajaran tentang sifat-sifat Tuhan Allah. Setelah ditentukan bahwa zat atau hakekat Tuhan Allah pada dirinya tidak dapat disebutkan bagaimana, orang lalu membicarakan tentang sifat-sifat Tuhan Allah, yaitu sebagai ajaran yang membicarakan tentang “bagaimana zat Tuhan Allah yang pada dirinya tidak dapat diketahui itu”. Jadi ajaran mengenai zat atau hakekat Tuhan Allah dan sifat-sifat Tuhan Allah dipisahkan.

Bahaya dari cara pembicaraan ini ialah bahwa hakekat Tuhan Allah dipisahkan dari sifatnya. Pada manusia hal yang demikian memang dapat dilakukan, misalnya: manusia masih tetap manusia, seandainya ia memiliki sifat bodoh, miskin, pincang, buta, dan lain sebagainya. Padahal yang demikian itu tidak mungkin diterapkan bagi Tuhan Allah. Tuhan Allah bukan Tuhan Allah lagi seandainya Ia tidak adil, tidak kudus, dan sebagainya. Teologia Kristen pada umumnya sadar akan hal ini. Oleh karenanya senantiasa memberi peringatan di dalam pembicaraannya tentang sifat-sifat Tuhan Allah. Umpamanya, Dr. Soedarmo dalam bukunya “Ichtisar Dogmatika” berkata, “Ada yang mengatakan, bahwa kata sifat tidak dapat dipakai oleh karena terlalu secara manusia, dan mengandung isi, bahwa sifat-sifat itu berdampingan yang satu dengan yang lain. Padahal pada Tuhan Allah segala sifat bertindih tepat oleh karena segala sifat adalah sempurna. Sifat yang satu tidak membatasi sifat yang lain. Maka ada yang mengganti kata sifat dengan kata kesempurnaan. Dan memang masih ada banyak kata-kata lain yang pernah dipakai sebagai pengganti sifat. Akan tetapi kata-kata lain tadi juga mengandung kekurangan-kekurangan, maka kita memakai sifat saja.”

Di dalam ajaran Kebatinan Jaya diadakan pembedaan antara zat, sifat, nama dan karya Tuhan Allah. Akan tetapi sifat, nama dan karya Tuhan Allah itu dipandang sebagai pangkat-pangkat emanasi Allah. Di dalam kebatinan Jawa umpamanya, hubungan antara zat dan sifat Allah digambarkan sebagai madu dan manisnya, yang tidak dapat dipisahkan, artinya: pangkat pertama dan pangkat kedua dari emanasi ilahi itu tidak boleh dipisahkan. Selanjutnya hubungan sifat dan nama, yaitu pangkat emanasi kedua dengan pangkat emanasi ketiga, digambarkan sebagai matahari dan sinarnya, yang tidak dapat dipisahkan. Akhirnya hubungan antara nama dan karya ilahi, sebagai pangkat yang ketiga dan keempat, digambarkan sebagai yang melihat di dalam cermin dan bayangannya di dalam cermin, sebab karya atau af’al Allah adalah kendaraan zat yang mutlak. Adapun nisbah antara zat yang mutlak dengan kendaraannya tadi seperti lautan dan ombaknya. Di sini memang tidak dibedakan antara zat dan sifat, akan tetapi karena sifat dipandang sebagai pangkat pengaliran keluar zat.

Di dalam agama Islam pembicaraan mengenai sifat-sifat Tuhan Allah mempunyai arti yang penting sekali. Justru di dalam ajaran Islam yang mengenai sifat-sifat Allah inilah kita melihat betapa besar pengaruh filsafat Yunani. Ayat-ayat Al~Qur’an diterangkan dengan memakai tiga macam hukum akal, yaitu:

1. Wajib, yang artinya: adanya (bahwa sesuatu ada) ditetapkan oleh akal, tetapi tidaknya (bahwa sesuatu tidak ada) tidak diterima oleh akal. Atau dapat dikatakan: akal menetapkan tidak boleh tidak (pasti). Apa yang wajib adalah apa yang tidak boleh tidak pasti ada.

2. Mustahil, yang artinya: tidaknya (bahwa sesuatu tidak ada) ditetapkan oleh akal, sedang adanya (bahwa sesuatu ada) tidak diterima oleh akal. Jadi akal menetapkan tidak boleh jadi. Mustahil adalah apa yang tidak boleh jadi.

3. Jaiz, yang artinya: adanya atau tidak adanya diterima oleh akal sebagai sama saja. Jadi akal menetapkan: boleh jadi. Jaiz adalah sama saja nilainya bagi akal.

Berdasarkan hukum akal yang demikian itu orang menerapkan sifat-sifat Allah, dengan berdalil: Jika akal kita memikirkan segala yang hidup (tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia), yang kenyataannya adalah: dilahirkan, berkembang, dan mati, akal itu sampai kepada kesimpulan, bahwa mustahil seandainya semuanya itu sejak semula terjadi dengan sendirinya. Jika demikian pasti (tidak boleh tidak) ada sesuatu yang menjadikan semuanya itu. Yang semula tiada, dijadikannya ada. Jadi pasti ada sesuatu yang wajib ada. Ada yang wajib ada ini disebut: wajib al wujud (wujud yang wajib), yang menjadikan segala sesuatu pada mula pertama. Wajib al wujud inilah Allah. Demikianlah sifat pertama dari Allah adalah wujud.

Jika Allah adalah wajib al wujud, zat yang harus ada, mustahil seandainya Ia dibatasi oleh waktu atau didahului oleh sesuatu yang semula tidak ada. Maka wajib al wujud itu harus lebih dahulu adanya daripada segala yang dijadikan. Jika demikian jadi Allah adalah tanpa awal dan tidak dibatasi oleh waktu. Keadaan Allah yang demikian ini disebut Qidam (asali). Demikianlah sifat Allah yang kedua adalah Qidam.

Apa yang tanpa awal dan tidak dibatasi oleh waktu, mustahil seandainya memiliki akhirnya. Sebab seandainya ia memiliki sifat akhirnya, ia dibatasi oleh waktu. Oleh karena itu Allah pasti tanpa akhir: Baqa (kekal). Demikianlah sifat Allah yang ketiga adalah Baqa.

Jika Allah itulah wujud yang wajib, yang tanpa awal dan tanpa akhir, mustahil seandainya ada sesuatu di luar Allah yang juga tanpa awal dan akhir. Segala sesuatu yang bukan Allah pasti baru (makhluk). Jadi, jika demikian maka Allah pasti berlainan atau berbeda dengan segala yang baru atau segala makhluk. Keadaan Allah yang demikian itu disebut Mukhalafatuhu lil hawadis (berlainan dengan yang dijadikan). Demikian sifat Allah keempat adalah Mukhalafatuhu lil hawadis.

Jika Allah adalah wujud yang wajib, yang tanpa awal dan tanpa akhir, serta yang berbeda dengan segala yang baru, mustahil seandainya Allah memerlukan sesuatu. Sebab makhluklah yang memerlukan sesuatu yang lain untuk melengkapi kehidupannya. Maka Tuhan Allah pasti tidak memerlukan tempat atau zat lain untuk kedudukan-Nya. Ia tidak mungkin tergantung dari apa yang dijadikan-Nya. Juga tanpa segala yang dijadikan itu Tuhan Allah telah puas dengan diri-Nya sendiri. Ia pasti adalah yang berdiri sendiri. Keadaan ini disebut Qiyamu binafsi (Ia berdiri dengan sendirinya). Demikianlah sifat Allah yang kelima adalah Qiyamu binafsi.

Jika Allah adalah yang berdiri sendiri, maka mustahil seandainya Ia terdiri dari bagian-bagian, seperti halnya dengan para makhluk. Maka Allah pastilah esa (wahid) dalam zat-Nya. Dan oleh karena Ia adalah wahid dalam zat-Nya, maka mustahil bahwa Ia disekutukan. Keadaan Allah yang demikian ini disebut Wahdaniyah. Demikianlah sifat Allah yang keenam adalah Wahdaniyah.

Keesaan Allah bukan hanya mengenai zat-Nya saja, melainkan juga sifat-sifat-Nya, artinya: tiada sifat Allah satupun yang memiliki dualisme (yang terdiri dari dua hal yang saling bertentangan). Oleh karena keadaan sifat-sifat Allah yang demikian itu, maka tiada makhluk yang memiliki sifat yang menyerupai Allah.

Akhirnya keesaan Allah juga mengenai karya atau af’al-Nya, artinya: segala perbuatan adalah perbuatan Allah.

Dengan cara demikian itulah seterusnya diuraikan bagaimana Allah yang esa itu berkuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, mendengar, melihat, dan berfirman. Ketujuh sifat ini disebut sifat-sifat ma’ani, yaitu sifat-sifat yang menambahkan suatu konsep kepada Zat Allah.

Di samping ketujuh sifat ma’ani itu masih ada sifat-sifat lainnya, yang disebut sifat-sifat ma’nawiya, yaitu sifat-sifat yang mengkualifisir atau yang mengaktivir, yang menjalankan sifat-sifat ma’ani tadi, yaitu: yang berkuasa, yang berkehendak, yang mengetahui, yang menghidupkan, yang mendengar, yang melihat, yang berfirman.

Seluruhnya ada 20 sifat yang wajib. Untuk melengkapi ketiga hukum akal tersebut di atas, masih ditambahkan lagi 20 sifat yang mustahil dan satu sifat jaiz.

Dari cara para ulama memikirkan tentang sifat-sifat Allah ini dapat diambil pelajaran, betapa bahayanya untuk memakai pemikiran Yunani guna memecahkan persoalan tentang Allah. Sebab dari situ diperoleh kesan, seolah-olah wahyu Allah tentang keesaan-Nya, yang semula bermaksud menekankan bahwa tiada Allah yang lain kecuali Allah, dan yang menuntut supaya orang percaya dan menyembah kepada-Nya itu, karena pengaruh filsafat Yunani, makin lama makin jauh ditarik ke dalam teori-teori yang rasionalistis, yang hanya dimaksud guna memuaskan akal saja.

Sebelumnya telah dikemukakan bagaimana Israel dapat mengenal Tuhan Allah. Bukan Israel yang mencari Tuhan Allah pada gejala-gejala alam semesta, dan yang lalu merumuskan penemuannya, bukan. akan tetapi Tuhan Allahlah yang mencari Israel, ketika Israel masih mengeluh di bawah tekanan perhambaan di Mesir. Tuhan Allah itulah yang menemukan Israel dan yang memilihnya untuk dijadikan umat-Nya. Hal itu semuanya dilakukan oleh Tuhan Allah dengan karya-Nya yang menyelamatkan dan dengan Firman-Nya yang memerintahkan. Israel mengenal Tuhan Allah di dalam segala perbuatan atau karya Allah dan di dalam firman-Nya. Bagi Israel tiada jalan lain untuk mengenal Tuhan Allah kecuali dengan jalan mengenal karya dan firman Tuhan Allah di dalam sejarah. Di dalam karya dan firman-Nya tadilah Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya, bukan sebagai yang predikatif, artinya: bukan sebagai sesuatu yang bersifat ilahi, bukan sebagai ketuhanan, melainkan sebagai Tuhan yang hidup. Oleh karena itu bukan Israel yang menentukan siapa Tuhan Allah dan bagaimana Dia, dengan memutar otaknya, melainkan Tuhan Allahlah yang menentukan siapa Dia dan bagaimana Dia, yaitu dengan mendemostrasikan diri-Nya dalam karya dan firman-Nya. Tuhan Allah adalah diri-Nya sendiri, artinya: tidak dapat Ia dijabarkan daripada apapun. Hanya Tuhan Allah sendirilah yang berhak menyebut diri-Nya Allah.

Dari Keluaran 3:13-15 telah diketahui, bahwa Tuhan Allah yang menampakkan diri-Nya kepada Musa dan yang mengutus Musa untuk melepaskan Israel itu menyebut nama-Nya: AKU ADALAH AKU. Nama ini adalah keterangan dari nama יהוה – YHVH atau TUHAN. Dari uraian ini telah diketahui, bahwa arti nama itu adalah demikian, bahwa Tuhan Allah akan hadir dengan berbuat.

Dari Keluaran 3:15 dapat diketahui, bahwa יהוה – YHVH yang mengutus Musa melepaskan Israel, adalah Allah nenek-moyang Israel yaitu Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Dengan para nenek-moyang ini Tuhan Allah telah membuat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan para nenek-moyang itu menjadi besar dan akan diberi tanah Kanaan sebagai tanah-pusakanya. Sekarang Tuhan Allah akan memenuhi segala janji-Nya, yang kira-kira empat abad yang lalu telah diberikan kepada para nenek-moyang tadi. Tuhan Allah yang di dalam hidup para nenek-moyang Israel telah berkenan menjadi sekutu mereka, dengan membuat perjanjian dengan mereka, sekarang menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Israel, sekarang menemui Israel dan berjanji akan melepaskan Israel dari tanah perhambaan. Dengan ini TUHAN menyatakan, bahwa Ia berkenan juga untuk menjadi sekutu Israel. Tuhan Allah akan memihak Israel dan akan menjadikan Israel sebagai sekutu-Nya. Oleh karena itu maka seluruh penyataan atau perkenalan Tuhan Allah kepada Israel yang dinyatakan kepada Musa di Horeb, dapat diungkapkan demikian, “Aku adalah Allah yang akan membuktikan keallahan-Ku (yaitu bahwa Aku adalah Allah) dalam segala perbuatan atau karya-Ku sebagai sekutumu (sebagai partnermu), dan kamu akan menerima buktinya.”

Di dalam Alkitab Tuhan Allah tidak pernah dipandang sebagai lepas daripada menjadi sekutu Israel ini. Oleh karena itu jika kita hendak menguraikan hakekat atau zat Tuhan Allah menurut Alkitab, bukan menurut akal kita, kita harus mengingat hal ini. Sebab Alkitab sendiri tidak pernah memandang kepada Tuhan Allah sebagai zat atau hakekat yang mutlak secara filsafati, yang bebas daripada segala hubungan dan sifat, dan yang tidak dapat ditembus oleh akal manusia, seperti yang diajarkan di dalam filsafat. Hakekat Tuhan Allah, menurut Alkitab, adalah hakekat yang justru senantiasa dihubungkan dengan Israel dan yang bekerja bagi Israel. Sebab menurut Alkitab, Tuhan Allah adalah sekutu Israel.

Jadi dapat dikatakan, bahwa nama Tuhan Allah yang kekal abadi, atau hakekat-Nya adalah menjadi sekutu Israel, atau Allah perjanjian. Di sinilah letak perbedaan yang besar sekali di antara ajaran Alkitab dengan ajaran agama-agama yang lain. Jika agama-agama yang lain memandang hakekat Tuhan Allah sebagai roh yang halus, yang tidak dapat dihayati, sebagai yang rohani dan akali, sebagai lawan daripada yang bendawi, maka Alkitab mengajarkan, bahwa hakekat Tuhan Allah adalah menjadi sekutu Israel atau menjadi sekutu umat-Nya.

Mungkin apa yang diajarkan oleh agama-agama yang lain itu benar, mungkin, sebab tidak ada yang dapat membuktikannya. Seandainyapun mungkin benar, bukan itulah yang dipentingkan oleh Alkitab. Alkitab tidak pernah memperhatikan Allah pada diri-Nya sendiri, akan tetapi Allah bagi kita, Allah dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya.

Menurut Alkitab, tidak ada perbedaan antara hakekat Tuhan Allah dengan sifat-sifat-Nya. Sifat Tuhan Allah adalah hakekat Tuhan Allah sendiri. Oleh karena itu di dalam ajaran agama Kristen sering yang biasanya disebut sifat Tuhan Allah ini disebut kebajikan atau kesempurnaan Tuhan Allah. Sebutan-sebutan itu agaknya masih juga dipengaruhi oleh pandangan Plato, yang membedakan antara hakekat dan sifat Tuhan, atau membedakan tabiat ilahi pada dirinya sendiri dan sifat-sifat tabiat ilahi itu.

 

 

  • Allah Menyatakan Diri-Nya

Hakekat Tuhan Allah adalah berada sebagai sekutu Israel atau sebagai sekutu umat-Nya. Hal ini berarti bahwa hakekat Israel atau hakekat umat Allah adalah menjadi sekutu Tuhan Allah.

Dengan bermacam cara hakekat Tuhan Allah, yaitu bahwa Ia adalah sekutu umat-Nya, dinyatakan di dalam sejarah Israel. Umpamanya: kepada Israel Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa, Yang tidak Berubah, Yang Kekal, Yang Kudus, Yang Benar, Yang Esa dan lain sebagainya.

Jikalau pengungkapan hakekat Tuhan Allah yang beraneka ragamnya itu diselidiki secara mendalam, akan tampaklah bahwa segala pengungkapan itu dapat dirangkumkan ke dalam dua kelompok, yaitu: pengungkapan hakekat Tuhan Allah yang menunjukkan kepada kelainan Tuhan Allah daripada manusia dan hakekat Tuhan Allah yang menunjukkan kasih Tuhan Allah kepada manusia, atau pengungkapan-pengungkapan yang menunjukkan pemisahan Tuhan Allah dari manusia dan pengungkapan-pengungkapan yang menunjukkan hubungan Tuhan Allah dengan manusia. Di satu pihak Tuhan Allah dipisahkan dari manusia, akan tetapi di lain pihak Ia dihubungkan dengan manusia. Adapun kelainan Tuhan Allah dari manusia itu bukan diungkapkan di dalam hal ini, bahwa Tuhan Allah adalah roh yang tidak dapat dilihat, sedang manusia adalah bendawi yang terikat kepada benda, akan tetapi kelainan itu diungkapkan di dalam firman dan karya Tuhan Allah. Di dalam firman dan karya-Nya itulah tampak bahwa Tuhan Allah berbeda sekali daripada manusia. Demikian juga hakekat Tuhan Allah yang mengungkapkan kasih-Nya atau yang mengungkapkan hubungan-Nya dengan manusia itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Dari firman dan karya-Nyalah tampak betapa Tuhan Allah mengasihi manusia.

Sekalipun pengelompokan tadi mungkin, namun pengelompokan ini tidak boleh dipandang sebagai pengelompokan yang mutlak. Sebab hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan di dalam segi yang satu tidak dapat dipisahkan dari hakekat-Nya yang diungkapkan dalam segi yang lain. Umpamanya: Kekudusan Tuhan Allah tidak dapat dipisahkan dari kekekalan-Nya, dan juga tidak dapat dipisahkan dari kebenaran dan kesetiaan-Nya; demikian seterusnya.

Hakekat Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya tidak akan dibicarakan semua segi-seginya, di sini akan disampaikan beberapa saja, untuk menunjukkan kesatuannya, dan akhirnya akan dibicarakan pengungkapan hakekat Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang biasanya disebut Ketritunggalan Allah. Ketritunggalan akan dibahas terakhir, bukan karena ingin dibicarakan terlebih dahulu “suatu tokoh ilahi” yang umum, lalu menunjukkan bahwa “tokoh ilahi” itu adalah Tritunggal, sama sekali tidaklah demikian. Sebab hakekat Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya dan hakekat ini diungkapkan di dalam segala pengungkapan hakekat-Nya yang beraneka ragam itu, juga diungkapkan dalam penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, bahkan hakekat Tuhan Allah yang demikian itu secara sempurna diungkapkan di dalam penyataan-Nya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Di Mazmur 2:4 disebutkan, bahwa Tuhan Allah bersemayam di Surga. Ungkapan ini pertama-tama menunjukkan, bahwa Tuhan Allah sedikit banyak tersembunyi bagi manusia. Sebab Surga atau langit disebut tinggi sekali atau jauh dari bumi. Di dalam bahasa Ibrani tidak ada pembedaan antara langit dan surga, sebab di dalam bahasa itu hanya ada satu kata untuk kedua pengertian itu, yaitu SYÂMAYIM. “Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi?” demikian ucapan Juru Mazmur di Mazmur 113:5. Bahwa Tuhan Allah disebut bersemayam di Surga, pertama-tama menunjukkan kepada adanya jarak di antara Tuhan Allah dan manusia, sedemikian jauh sehingga Tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia, tersembunyi bagi manusia.

Bahwa Tuhan Allah adalah demikian tinggi, menurut Alkitab, bukan karena Tuhan Allah adalah gaib, dalam arti: tidak berjasad, karena roh adanya dan bukan benda, juga bukan karena tabiat ilahi-Nya atau ketuhanan-Nya yang tidak mungkin (mustahil) ditembus oleh akal manusia, bukan. Sebab jika Israel bersaksi akan ketinggian Tuhan Allah itu bukan karena ia berspekulasi tentang Tuhan Allah, bukan karena Israel berpikir dengan memakai hukum akal, melainkan karena Israel mengenal Tuhan Allahnya dari firman dan karya-Nya. Kepada Israel senantiasa ditekankan, bahwa Tuhan Allah berbeda sekali dengan manusia. Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Tersembunyi, karena Tuhan Allah tidak menghendaki Israel terlalu dekat dengan Tuhannya, seperti yang terjadi di antara para orang kafir dengan para dewata mereka. Jarak antara Tuhan Allah dan manusia harus tetap dipelihara, karena Tuhan Allah bukanlah manusia. Inilah sebabnya, bahwa di Horeb, ketika Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Ia menyebut nama-Nya bukan dengan bentuk kata-nama-benda, melainkan dengan bentuk kata-kerja: Aku berada dengan berbuat. Tuhan tidak menghendaki nama-Nya disalahgunakan oleh Israel, seperti halnya yang terjadi dengan nama dewa-dewa yang dijadikan mantera oleh para pengikutnya.

Sekalipun demikian, bahwa Tuhan Allah adalah Mahatinggi, hal itu bukan hanya menunjukkan kelainan-Nya dengan manusia, melainkan juga kasih-Nya. Sebab Tuhan Allah yang jauh lebih tinggi daripada manusia dan yang lebih mulia itu, di Mazmur 2 tadi dikatakan, bahwa Ia tertawa, atau menertawakan segala perbuatan manusia yang memberontak kepada-Nya, dan mengolok-olok mereka. “Dia, yang bersemayam di Surga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka,” demikian Juru Mazmur. Di dalam Mazmur 2 ini digambarkan bahwa para bangsa-bangsa dan raja-raja dunia membuat persiapan untuk memberontak terhadap Raja, yang dilantik oleh Tuhan Allah di Sion. Dari ketinggian tempat persemayaman-Nya Tuhan Allah digambarkan sebagai melihat ke bawah dan melihat kesibukan para raja-raja itu dan tersenyum terhadap ketololan bangsa-bangsa dengan raja-rajanya itu. Dengan mendadak Tuhan Allah mengejutkan mereka itu hingga menjadi berantakan. Jadi, bahwa Tuhan Allah adalah Mahatinggi dan Mahamulia, menurut Mazmur 2, berarti bahwa Tuhan Allah memiliki segala kekuasaan yang mutlak atas segala kejadian di dunia ini, bahwa Ia sebagai Raja segala Raja bersemayam di atas singgasana-Nya, dengan nyata-nyata memerintah umat-Nya dan memerintah segala makhluk di bumi.

Teranglah, bahwa hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam kemahatinggian-Nya itu mengungkapkan karya Tuhan Allah atas dunia ini. Dan Mazmur 2 mengungkapkan, bahwa karya itu ditujukan untuk keselamatan umat-Nya, Israel. Tuhan menertawakan mereka yang memusuhi umat-Nya. Dengan demikian nyatalah bahwa kemahatinggian-Nya dipakai untuk menyatakan kasih-Nya terhadap umat-Nya.

Bahwa Tuhan Allah mempergunakan kemahatinggian-Nya untuk mengasihi umat-Nya lebih jelas lagi tampak di dalam Perjanjian Baru. Sebab di dalam Kristus Yang Mahatinggi itu telah menghampakan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia, demi keselamatan manusia. Di dalam firman yang menjadi manusia itu Tuhan Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya ketika Kristus dilahirkan para malaikat memuji, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Oleh karena Tuhan Allah adalah Mahatinggi, maka Ia tidak dapat dilihat oleh manusia. Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat ini juga bukan karena tabiat ilahi-Nya yang gaib, yang tidak berwujud, yang bersifat rohani dan akali, juga bukan karena kesimpulan akal Israel, melainkan karena Tuhan Allah tidak menghendaki dilihat oleh manusia. Oleh karena itu dalam Keluaran 33:20 Tuhan Allah memperingatkan Musa, bahwa Musa tidak akan tahan memandang wajah Tuhan Allah. Hal itu bukan disebabkan karena tabiat ilahi Tuhan Allah yang gaib, melainkan karena tidak ada orang yang memandang Tuhan Allah dapat hidup.

* Keluaran 33:20
LAI TB, Lagi firman-Nya: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”
KJV, And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר לֹא תוּכַל לִרְאֹת אֶת־פָּנָי כִּי לֹא־יִרְאַנִי הָאָדָם וָחָי׃
Translit, VAYO’MER LO’ TÛKHAL LIR’OT ‘ET-PÂNÂY KÏLO’-YIR’ANÏ HÂ’ÂDÂM VÂKHÂY

Sekalipun demikian, jikalau Tuhan Allah menghendaki manusia dapat juga sekedar melihat kemuliaan-Nya. Bukankah dalam Keluaran 33:23 disebutkan, bahwa Musa akan melihat belakang Tuhan Allah? Jadi, jikalau Tuhan menghendaki Ia dapat sekedar mengabulkan permohonan Musa. Teranglah bahwa hakekat Tuhan Allah yang tidak dapat dilihat itu bukan dihubungkan dengan tabiat-Nya yang gaib, yang berada di luar batas-batas pengamatan manusia. Di Keluaran 24:10, 11 disebutkan, bahwa tujuh puluh tua-tua Israel melihat Tuhan Allah, dan semuanya heran, bahwa tangan Tuhan Allah tidak diulurkan kepada mereka itu, artinya bahwa tangan Tuhan Allah tidak membunuh mereka. Hal ini menunjukkan, bahwa jikalau Tuhan Allah menghendaki, orang dapat juga melihat kemuliaan Tuhan Allah, sekalipun hanya sekedar saja.

Menurut Keluaran 33:11 Tuhan Allah berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya, artinya bahwa percakapan itu dilakukan di dalam persekutuan yang akrab sekali. Jadi dasar Musa dapat melihat Yang Tidak Dapat Dilihat itu adalah persekutuannya dengan Tuhan Allah yang akrab sekali. Juga Yohanes 1:18 menunjuk kepada gagasan yang demikian itu, sebab di situ disebutkan, bahwa tidak seorang pun yang pernah melihat Tuhan Allah; tetapi bahwa Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. Ungkapan di pangkuan Bapa menunjukkan kepada suatu persekutuan yang akrab sekali.

Demikianlah, bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat, hal itu bukanlah suatu sifat yang diterapkan oleh manusia kepada Tuhan Allah, yang disebabkan karena manusia tidak dapat melihat Tuhan Allah yang gaib. Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat, hal itu disebabkan karena karya Tuhan Allah sendiri. Tuhan Allah tidak menghendaki dilihat oleh manusia. Tiap pelanggaran terhadap kehendak itu dihukum dengan kematian.

Penyembunyian diri Allah ini didobrak dengan peristiwa Firman yang menjadi manusia dan yang kemudian berdiam di antara kita. Sekalipun demikian, pendobrakan ini belum secara sempurna. Memandang kepada Tuhan Allah secara sempurna masih ditangguhkan hingga kelak pada akhir zaman. Anak yang Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, itulah yang menyatakan Bapa kepada kita manusia. Sekarang manusia dapat memandang kepada Bapa. “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”. Persekutuan yang akrab di antara Tuhan Allah dan manusia seperti yang terjadi dalam diri Yesus Kristus, yaitu Firman yang menjadi manusia, sebelum itu belum pernah terjadi. Hal itu baru mungkin setelah Kristus mengorbankan diri-Nya demi pendamaian Allah dan manusia.

Demikianlah, Yang Tidak Tampak menjadi tampak di dalam diri Yesus, untuk mendamaikan manusia dosa dengan Tuhan Allah. Dari sini terang juga, bahwa hakekat Tuhan Allah ini tidak dapat dipisahkan dari kasih-Nya.
Tuhan Allah Kudus

Bahwa Tuhan Allah tidak dapat dilihat ada hubungannya dengan hakekat Allah yang dinyatakan atau diungkapkan di dalam kekudusan-Nya.

Kata kudus berasal dari pokok-kata Ibrani yang berarti memisahkan. Jika Tuhan Allah disebut kudus, hal itu berarti bahwa Ia dipisahkan dari segala yang dosa. Oleh karena itu maka di 1 Samuel 2:2 disebutkan, tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali TUHAN. Menurut Alkitab, kelainan Tuhan Allah, jika dibandingkan dengan manusia dan dewa, bukan terletak di dalam hal ini, bahwa Tuhan Allah adalah lebih halus, lebih gaib, lebih murni dan lain sebagainya, melainkan bahwa Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya yang dilaksanakan di dalam sejarah itu berbeda sekali dengan manusia dan dewa. Di dalam segala firman dan karya-Nya di dalam sejarah itulah tampak bahwa Tuhan Allah benar-benar tidak dapat bersekutu dengan dosa, bahwa Ia benar-benar dipisahkan dari dosa, bahwa Ia benar-benar kudus. Kekudusan Tuhan Allah bukan suatu teori, bukan hasil pemikiran akal manusia.

Demikianlah kekudusan Tuhan Allah menunjukkan kelainan Tuhan Allah daripada manusia. Akan tetapi pengertian kudus ini tidak pernah dipisahkan dari hubungan Tuhan Allah dengan umat-Nya. Justru di dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya itulah Tuhan Allah tampak sebagai Yang Kudus, yang tidak dapat bersekutu dengan dosa. Ia menghukum setiap orang yang menghinakan kekudusan-Nya. Kekudusan Tuhan Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya: umat Allah, yang adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah dari segala yang dosa, dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan Allahnya. Tanpa hidup yang kudus, tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah yang kudus. Di Yosua 24:19 dan berikutnya Yosua berkata, bahwa oleh karena Tuhan Allah adalah Allah yang kudus, maka Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa Israel, apabila Israel meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing.

Dari Yesaya 57:15 kita dapat mengetahui, bahwa kekudusan Tuhan Allah ada hubungannya dengan keadaan-Nya yang tidak dapat dilihat dan kemahatinggian-Nya. Sebab di situ disebutkan, “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya; ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus.'”

Sekalipun demikian, hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan di dalam kekudusan-Nya itu bukanlah hanya menunjuk kepada terpisah-Nya Tuhan Allah daripada segala yang dosa. Kekudusan Tuhan Allah justru menjadi jalannya Israel mendapat keselamatan. Dari Kitab Hosea umpamanya, kita dapat tahu bagaimana Israel pada waktu itu menghinakan kekudusan Tuhannya dengan melibatkan diri ke dalam upacara-upacara kebaktian bangsa kafir. Oleh karena itu mereka terkena hukuman Tuhan. Akan tetapi Tuhan Allah yang telah menghukum Israel itu akan menyembuhkan Israel lagi, dengan alasan, “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.”

Ancaman hukuman di sini diganti dengan pernyataan yang mengharukan dari kasih Tuhan Allah terhadap Israel. Tuhan Allah tidak akan dapat membinasakan Israel, karena kasih-Nya terhadap bangsa itu. Kasih ini menahan Tuhan Allah untuk mencurahkan murka-Nya secara sempurna. Tidak dapat disangkal, bahwa hukuman Tuhan mendatangi Israel juga, akan tetapi tidak sampai hingga kehancuran Israel. Hal itu, menurut firman Tuhan, karena Tuhan Allah adalah Allah, bukan manusia. Ia adalah “Yang Kudus di tengah-tengah mereka”. Sebagai Yang Kudus, Tuhan Allah berlainan sekali, jika dibandingkan dengan manusia yang dosa. Manusia dosa dalam kemarahannya sering tidak mengenal kasihan, sering hanya terseret oleh nafsu-nafsunya. Akan tetapi Tuhan Allah bukan manusia, oleh karena itu Tuhan dapat berbuat yang berlainan sekali dengan perbuatan manusia. Ia berbuat yang lebih baik dibanding dengan manusia. Di dalam kemurkaan-Nya, Tuhan Allah tidak mungkin terseret oleh daya-daya yang penuh dosa. Juga di dalam murka-Nya, Tuhan Allah ingat akan kasih-Nya.

Demikianlah hakekat Tuhan Allah yang menyatakan kekudusan-Nya itu menjadi jaminan bagi perjanjian-Nya dengan umat-Nya. Juga karena Tuhan adalah kudus, Ia akan tetap menjadi Sekutu Israel dan mencari keselamatan Israel.

Dari sini jelaslah bahwa kekudusan Tuhan Allah berhubungan dengan kebenaran dan keadilan-Nya, serta dengan kesetiaan-Nya. Karena Tuhan Allah adalah kudus, maka Ia tidak akan mengesampingkan tujuan-Nya, yaitu menjadi Sekutu umat-Nya. Untuk itu Yang Kudus didosakan. Di dalam korban Kristus, Firman yang menjadi manusia itu, keadilan dan kebaikan, kekudusan dan belas kasihan Tuhan Allah menjadi satu. Pengungkapan yang tertinggi dari kekudusan Tuhan Allah ialah bahwa Ia membenarkan orang durhaka.
Tuhan Allah Kekal

Di Kejadian 21:33 dan ayat-ayat lainnya disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang kekal.

Biasanya kata kekal diartikan sebagai keadaan yang tanpa waktu. Akan tetapi Alkitab tidak pernah memberikan arti yang demikian itu kepada pengertian kekal. Ungkapan kekal lebih menunjuk kepada waktu yang panjang, sejak dahulu hingga kini dan sampai selama-lamanya. Hal ini umpamanya jelas dari Ulangan 33:27 yang menyebutkan, bahwa di bawah Israel ada lengan-lengan yang kekal, yang mengusir musuh dari depan Israel. Kata kekal di sini berarti sejak dahulu, menunjuk ke belakang. Di Kejadian 9:16 disebutkan, bahwa Allah akan mengingat perjanjian-Nya yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup. Kata kekal di sini menunjuk ke depan, waktu yang tiada akhirnya. Oleh karena itu maka di Yesaya 44:6 disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian, dan bahwa tiada Allah lain kecuali Tuhan; dan di Wahyu 1:8 disebutkan, bahwa Tuhan adalah Alfa dan Omega, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang.

Jikalau dikatakan bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang kekal, hal itu bukan berarti, bahwa Tuhan Allah telah ada sejak dahulu kala secara statis, seperti umpamanya adanya matahari, bulan, dan bintang, dan sebagainya, yang telah ada sejak zaman purba kala, tanpa ada perubahan, bukan. Kehadiran Tuhan allah yang disebutkan sejak dahulu kala itu adalah suatu kehadiran yang aktif, yaitu kehadiran di dalam firman dan karya-Nya, sebagai sekutu umat-Nya. Bahwa Tuhan Allah adalah kekal, hal itu diungkapkan di dalam firman dan karya-Nya. Hal ini jelas dari pengungkapan dalam Ulangan 33:27 di atas, yaitu bahwa Allah yang abadi adalah tempat perlindungan Israel dan bahwa di bawah Israel ada lengan-lengan yang kekal, yang mengusir musuh dari depan Israel. Bahwa Tuhan Allah secara abadi menjadi pelindung Israel berarti, bahwa sejak dahulu kala Tuhan Allah secara terus-menerus menjadi tempat di mana Israel dapat berlindung, sebab telah dibuktikan bahwa Tuhan Allah telah terus-menerus melepaskan Israel dari musuh-musuhnya. Demikianlah Israel mendapat jaminan, bahwa ia untuk selama-lamanya boleh berlindung di bawah naungan, atau di atas topangan Allahnya.

Bahwa Tuhan Allah adalah kekal, menurut Yesaya 40:28 berarti, bahwa Tuhan Allah tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sekalipun telah sekian abad lamanya Tuhan Allah melindungi Israel, akan tetapi tiada saat bahwa Tuhan Akkan tidak akan dapat melanjutkan perlindungan-Nya. Sebagai Yang Kekal, yang tidak berbatas waktunya, Tuhan hidup untuk selama-lamanya. Ia tidak akan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan waktu atau zaman. Ia akan tetap seperti keadaan-Nya, yaitu menjadi Sekutu Israel. Tuhan Allah bukanlah Allah yang terbatas kekuasaan-Nya. Ia mengatasi segala zaman. Maka di Yesaya 57:15 Tuhan Allah berfirman, bahwa sekalipun Ia bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus, namun Ia juga bersama-sama dengan orang yang remuk dan rendah hati. Keadaan boleh berganti-ganti, dan umat Israel boleh dipengaruhi oleh keadaan yang berganti-ganti itu, akan tetapi keadaan yang bagaimanapun juga tidak akan mengubah sikap Tuhan Allah. Sebab Tuhan Allah adalah kekal. Ia adalah Yang Mahakudus sejak dahulu kala.

Demikianlah bahwa Tuhan Allah adalah kekal, hal itu bukanlah hal yang membeku, bukan hal yang statis, melainkan kekekalan Allah adalah kekekalan yang hidup, yang tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan dan zaman. Dari sini juga terang, bahwa hakekat Tuhan Allah yang dinyatakan sebagai kekekalan itu berhubungan erat dengan kekudusan-Nya, dengan kesetiaan-Nya.

Juga di dalam Perjanjian Baru, hakekat Tuhan Allah yang mengungkapkan kekekalan-Nya itu dihubungkan dengan karya-Nya yang ditujukan kepada umat-Nya. Di 1 Korintus 2:7 umpamanya, Rasul Paulus mengatakan bahwa ia memberitakan hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia yang sebelum dunia dijadikan (kekal) telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Ungkapan yang diterjemahkan dengan sebelum dunia dijadikan ini di Kolose 1:26 diterjemahkan dengan dari abad ke abad. Juga di sini kekekalan bukan suatu hal yang statis, melainkan dihubungkan dengan karya Tuhan Allah.

Di dalam Perjanjian Baru terang bahwa Yang Kekal, yang meliputi segala sesuatu itu, mengikatkan diri kepada waktu di dalam diri Yesus Kristus. Di dalam diri Yesus Kristus, Yang Kekal membatasi diri dengan waktu, untuk menyelamatkan umat-Nya, sehingga dengan demikian tampaklah kasih Yang Kekal itu sebagai Sekutu umat-Nya. Sekalipun Yesus adalah manusia yang terikat kepada waktu, akan tetapi di dalam hidup yang dihidupi-Nya, yaitu di dalam firman dan karya-Nya, Ia menyatakan atau mengungkapkan Tuhan Allah yang kekal, yang tidak terikat kepada waktu itu. Di dalam firman dan karya Yesus tampaklah bagaimana Allah Yang Kekal itu. Dan oleh karena itu, sebagai yang menampakkan atau mengungkapkan Yang Kekal, Yesus sendiri disebut tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

Tuhan Allah Tidak Berubah

Sehubungan dengan hakekat Tuhan Allah yang dinyatakan sebagai kekudusan, kekekalan, dan sebagainya, Alkitab juga mengungkapkan, bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Tidak Berubah atau Yang Tetap Sama.

Di Mazmur 102:26-28 disebutkan, “Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. SEMUANYA ITU AKAN BINASA, TETAPI ENGKAU TETAP ADA, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan MEREKA BERUBAH, TETAPI ENGKAU TETAP SAMA, dan tahun-tahun-Mu tiada berkesudahan.” Dari ayat-ayat ini jelaslah hubungan antara kekekalan Tuhan Allah dan hakekat-Nya yang diungkapkan sebagai Allah Yang Tidak Berubah, atau Yang Tetap Sama. Bahwa Tuhan Allah tidak berubah diuraikan juga di Yakobus 1:17, di mana disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Bapa segala terang dan bahwa pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Bahwa Tuhan Tidak Berubah atau Tetap Sama, hal itu tidak berarti, bahwa Ia tidak bergerak, seperti gunung atau batu yang mati. Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama justru di dalam firman dan karya-Nya, supaya menjadi sekutu umat-Nya. Bahwa Tuhan tidak berubah atau tetap sama, berarti bahwa Ia tidak akan melepaskan umat-Nya yang telah menjadi sekutu-Nya itu, sekalipun umat-Nya sering mengubah sikapnya terhadap Tuhannya. Hal ini disebabkan karena Tuhan Allah terharu terhadap nasib sekutu-Nya. Bahwa Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama ada hubungannya yang erat sekali dengan kesetiaan-Nya. Dalam hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah atau yang tetap sama justru terkandung banyak gerak dan perbuatan. Sebab justru karena Tuhan Allah tidak berubah atau tetap sama, maka Ia harus bekerja guna menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi kesetiaan-Nya terhadap maksud-Nya untuk menjadi sekutu umat-Nya.

Di dalam terang inilah kita harus melihat hal sesal Tuhan Allah yang sering diungkapkan di dalam Alkitab.

Di 1 Samuel 15:29 umpamanya disebutkan, bahwa Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal, sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal. Firman ini diucapkan oleh Samuel kepada raja Saul, ketika raja Saul kembali dari memerangi bangsa Amalek. Di dalam memerangi bangsa Amalek itu raja Saul makin menampakkan kekerasan hatinya, dengan secara terang-terangan melanggar perintah Tuhan Allah. Raja Saul menawan raja Amalek dan merampas lembu-lembu bangsa Amalek dengan alasan akan dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Padahal Tuhan Allah dengan tegas memerintahkan supaya Saul menumpas segala orang Amalek dengan segala harta-bendanya. Sebagai raja yang mewakili umat Allah, Saul harus menampakkan ketaatannya yang sebesar-besarnya kepada Tuhan. Dengan perbuatannya itu raja Saul membahayakan kedudukan umat Israel sebagai sekutu Allah. Oleh karena Tuhan Allah telah sekali berfirman, bahwa Ia menjadi sekutu Israel, maka Ia tidak akan berubah dari putusan-Nya itu. Ia memegang teguh kepada apa yang telah direncanakan. Tiada seorangpun yang boleh mengeraskan hatinya guna meniadakan atau menggagalkan rencana Allah itu. Karena Saul berbuat demikian (akan menggagalkan kedudukan Allah sebagai sekutu umat-Nya) maka ia ditolak oleh Tuhan. Tuhan mengambil kerajaan dari tangan Saul, dan akan memberikannya kepada orang lain. Sekalipun Tuhan Allah sendiri yang telah memanggil Saul untuk menjadi raja, akan tetapi karena Saul akan merusak rencana Allah, Tuhan menarik kembali keputusan-Nya yang telah diambil terhadap Saul dengan alasan bahwa Saul membahayakan rencana Allah yang mengenai umat-Nya.

Perubahan sikap Tuhan Allah terhadap Saul adalah reaksi Tuhan Allah yang penuh emosi (renjana) terhadap perbuatan manusia. Tuhan Allah disakitkan hati-Nya, sehingga harus menarik kembali keputusan-Nya yang semula yang mengenai Saul. Oleh karena Tuhan tidak tahu menyesal, artinya: tidak pernah menyesali keputusan-Nya untuk menjadi sekutu Israel, maka Tuhan menyesalkan perbuatan Saul yang membahayakan keputusan Allah yang pokok tadi.

Demikianlah Tuhan Allah bukanlah Allah yang dingin, yang tidak pernah tergerak hati-Nya. Ia bereaksi terhadap perbuatan untuk-Nya. Firman dan karya-Nya adalah kongkrit bersejarah. Ia benar-benar turut menghayati kehidupan umat-Nya. Ia dapat berubah setiap waktu, artinya: Ia dapat mengubah setiap saat sikap-Nya terhadap umat-Nya, justru karena Ia tidak tahu menyesal, artinya: justru karena Ia tidak menyesal menjadi sekutu umat-Nya.

Di dalam terang inilah Kejadian 6:6 harus ditinjau. Di situ disebutkan, bahwa TUHAN ALLAH MENYESAL, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan bahwa hal itu memilukan hati-Nya.

Bahwa Tuhan Allah menyesal di sini ditujukan kepada perbuatan manusia yang membahayakan rencana Allah, menyelamatkan dunia ini. Manusia pada zaman Nuh membahayakan rencana Allah untuk menjadi sekutu manusia, yaitu dengan berbuat dosa yang menyolok sekali. Perbuatan mereka sama dengan perbuatan raja Saul. Oleh karena Tuhan Allah setia kepada rencana-Nya, artinya oleh karena Ia tetap sama atau tidak berubah terhadap rencana-Nya; maka Ia MENYESALKAN PERBUATAN MANUSIA pada zaman Nuh itu.

Demikianlah gagasan yang terkandung di dalam 1 Samuel 15:29 itu sebenarnya sama dengan gagasan yang terkandung di dalam Kejadian 6:6, sekalipun pengungkapannya berbeda. Keduanya menunjukkan, bahwa Tuhan Allah tidak menyesal bahwa Ia menjadi sekutu umat-Nya atau menjadi sekutu manusia, dan oleh karenanya Tuhan Allah menyesalkan perbuatan manusia yang membahayakan maksud-Nya yang mulia itu.

Masih ada ayat-ayat lainnya yang senada dengan ayat-ayat yang telah kita bicarakan, sebagai umpamanya Keluaran 32:13-14, yang menyebutkan bahwa TUHAN menyesal karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya; Yunus 4:2 yang menyebutkan, bahwa Allah adalah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya; Ibrani 13:8 yang menyebutkan, bahwa Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. akan tetapi ayat-ayat ini tidak akan dibicarakan.

Mengenai hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah atau yang tetap sama, dapat disimpulkan demikian, bahwa Tuhan Allah di dalam segala perubahan sikap-Nya itu adalah Allah yang tetap setia kepada diri-Nya sendiri. Bahwa Ia setia kepada diri-Nya sendiri, ini dapat diungkapkan dengan pengalimatan, bahwa Ia tidak menyesal, atau bahwa Ia menyesal, atau bahwa Ia tidak berubah, atau bahwa Ia meninjau kembali keputusan-Nya. Jika Tuhan Allah disebut Yang Tidak Berubah atau Yang Tidak Menyesal, hal itu diterapkan kepada keputusan-Nya untuk menjadi sekutu umat-Nya, sedang jika disebutkan, bahwa Tuhan Allah adalah Yang Berubah atau Yang Menyesal hal itu ditetapkan kepada sikap umat-Nya yang membahayakan keputusan Tuhan Allah untuk menjadi sekutu umat-Nya tadi.

Di dalam Alkitab hubungan Tuhan Allah dengan manusia terjadi di dalam kejadian-kejadian yang konkrit di dalam sejarah. Di sepanjang sejarah itulah Tuhan Allah membuktikan dengan firman dan karya-Nya, bahwa Ia tetap sama, bahwa Ia Tidak Berubah, bahwa pada-Nya tidak ada perubahan, di dalam menjadi sekutu umat-Nya. Ia setia kepada keputusan itu sampai selama-lamanya. Jelaslah bahwa kesetiaan Tuhan Allah terhadap diri-Nya sendiri dan terhadap rencana-Nya adalah kekal selama-lamanya. Agar Tuhan Allah dapat setia kepada diri-Nya dan kepada maksud-Nya, sering Ia harus mengubah jalan-Nya demi keselamatan umat-Nya yang sering tidak setia itu.

Berdasarkan hal itu semuanya, hakekat Tuhan Allah yang diungkapkan dalam keadaan-Nya yang tidak berubah itu barangkali lebih tepat dikalimatkan dengan ungkapan keteguhan-Nya atau bahwa Tuhan Allah dapat dipercaya.

 

 

  • Tuhan Allah itu Esa

Jikalau Alkitab merumuskan pengakuan iman umat Allah tentang Tuhan Allah, rumusan diungkapkan demikian: “Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:4-5).

Kata-kata ini diucapkan oleh Musa kepada bangsa Israel, ketika Musa akan meninggalkan Israel karena mati. Ucapan ini sebenarnya mewujudkan suatu pengakuan iman yang ditekankan kepada Israel pada waktu itu, agar supaya Israel jangan melupakannya. Pengakuan iman ini bukanlah rumusan Musa sebagai hasil pemikiran akalnya, yang diperolehnya dengan memandang kepada gejala-gejala alam semesta, atau disimpulkan dari hukum akal, melainkan didasarkan atas pengalaman-pengalaman Musa dan pengalaman-pengalaman umat Israel sendiri, sejak Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dengan melepaskan Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Di sepanjang sejarah dari Mesir hingga di dataran Moab itu, yang kira-kira 40 tahun lamanya, Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dan telah membuktikan kepada mereka dengan firman dan karya-Nya siapa Tuhan Allah itu.

* Ulangan 6:4
LAI-TB, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
KJV, Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD:
Hebrew,
שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד ׃
Translit interlinear, SYEMA’ {dengarlah} YISRA’EL {Israel} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} ‘ELOHEINÛ {Allah kita} YEHOVAH {YHVH dibaca Adonai, TUHAN} EKHAD {esa}”

Pertama-tama di sini diakui, bahwa Allah Israel adalah TUHAN atau יהוה – YHVH. Arti nama יהוה – YHVH ini telah dibicarakan sebelumnya, yaitu bahwa dengan nama ini Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu Israel. Sebagai sekutu Israel Tuhan Allah adalah Allah yang setia, yang memenuhi segala janji-Nya. Dengan mengingatkan kepada nama itu Musa bermaksud menekankan, bahwa TUHAN adalah setia, yang benar-benar telah memegang teguh kepada apa yang telah difirmankan dan diperbuat. Bahwa TUHAN adalah Allah yang setia, bukanlah suatu teori bagi Musa dan bagi bangsa Israel di dalam Firman dan karya Tuhan Allah di sepanjang sejarah Israel hingga kini dan akan diteruskan di dalam kelanjutan sejarah itu. Nama TUHAN atau YHVH adalah sama dengan nama yang disebutkan di Yesaya 44:6 dan Wahyu 1:8, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah yang terdahulu dan yang terkemudian.

TUHAN atau יהוה – YHVH selanjutnya disebut esa. Ungkapan yang diterjemahkan dengan “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” dalam bahasa aslinya berbunyi, YHVH ‘ELOHEYNU YHVH ‘EKHAD, yang dapat diterjemahkan seperti yang terjadi di dalam terjemahan baru ini, tetapi juga dapat diterjemahkan dengan “TUHAN adalah Allah kita, TUHAN saja”, artinya, bahwa tiada Allah lain, yang menjadi Allah kita, kecuali TUHAN. Bagaimanapun kata ‘ekhâd diterjemahkan (dengan esa atau saja) di dalam hubungan pernyataan ini teranglah bahwa kata ‘ekhâd itu menunjukkan kepada TUHAN yang khas terhadap allah-allah yang lain, dan bertentangan dengan allah-allah yang lain, yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel.

Pertama-tama ungkapan itu menunjukkan, bahwa bagi Israel, berdasarkan firman dan karya Allah, tidak ada Allah yang lain, kecuali TUHAN. Hal yang demikian juga dinyatakan oleh Musa di Ulangan 4:39, yang berbunyi, “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHAN-lah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.”

Secara polemis (artinya: secara perang pandangan) adanya allah-allah yang lain seolah-olah diakui. Akan tetapi secara polemis juga ditunjukkan, bahwa Tuhan Allah adalah lain dibanding dengan allah-allah tadi. Umpamanya dewa Baal. Sekalipun oleh para penyembahnya diakui, bahwa ada satu Baal, namun dewa ini disembah menurut tempat dan keadaannya: ada Baal-Berit, Baal-Gad, Baal-Hazor, Baal-Peor, dan sebagainya. Akan tetapi TUHAN adalah satu, di mana saja; tiada TUHAN-Sinai, TUHAN-Silo, TUHAN-Yerusalem, TUHAN adalah TUHAN, di mana saja Ia disembah.

Selanjutnya, dengan bermacam-macam cara, kemuliaan Tuhan Allah yang jauh melebihi para allah yang lain itu ditunjukkan. Di Yeremia 16:20 umpamanya disebutkan, bahwa Allah buatan manusia itu bukan allah. Di Mazmur 115:4 disebutkan, bahwa berhala-berhala itu adalah perak dan emas, buatan tangan manusia; maka berhala-berhala di Yesaya 41:29 disebut hampa, angin dan kesia-siaan, yang menurut nabi Zakharia, akan dilenyapkan namanya. Berdasarkan hal itu semua maka kepada Israel dinyatakan atau diproklamasikan, bahwa hanya TUHAN-lah yang benar-benar Allah, hanya Dia saja.

Dari uraian di atas teranglah kiranya, bahwa kata ‘ekhâd atau esa di dalam pengakuan iman Israel sekali-kali bukan dimaksud guna menekankan kepada satunya angka secara matematis. Sebab hal yang demikian memang tidak pernah dihadapi oleh Israel. Israel tidak pernah dihadapkan dengan persoalan: ada Allah satu atau lebih dari satu. Dewa-dewa atau berhala-berhala atau allah-allah yang lain tidak pernah dipandang sebagai Allah, hanya secara polemis saja mereka diakui. Bagi Israel persoalannya bukan ada yang ilahi secara umum, lalu TUHAN juga disebut yang ilahi. Bagi Israel tidak ada ketuhanan dalam arti yang umum, lalu TUHAN adalah termasuk ketuhanan itu. Bagi Israel TUHAN adalah satu-satunya yang ilahi, atau lebih tepat TUHAN adalah satu-satunya Tuhan. Di luar TUHAN atau YHVH tidak ada yang dapat disebut Tuhan. Sebab bagi Israel hanya TUHAN-lah yang di dalam firman dan karya-Nya telah memperkenalkan diri sebagai Allah. Berdasarkan keyakinan yang demikian, maka ungkapan TUHAN itu esa bermaksud juga mengungkapkan, bahwa TUHAN adalah esa di dalam firman dan karya-Nya, bukan di dalam bilangan atau jumlahnya. TUHAN adalah esa di dalam firman dan karya-Nya, seperti juga halnya dengan Ia adalah Mahatinggi di dalam firman dan karya-Nya, Yang Kudus di dalam firman dan karya-Nya, dan lain sebagainya. Segi hakekat TUHAN yang satu atau esa ini tidak bertentangan dengan segi-segi yang lain dari hakekat Tuhan Allah tadi. Dari apa yang telah diuraikan tentang kekudusan, kekekalan, dan lain sebagainya, hal ini tampak dengan jelas sekali. Segala firman yang diperintahkan dan segala karya yang dilakukan Tuhan Allah menampakkan satu hal, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah sekutu umat-Nya, yang mencari keselamatan umat-Nya, yang menciptakan, memelihara serta menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya.

Oleh karena TUHAN, Allah Israel telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Israel sebagai Yang Esa di dalam firman dan karya-Nya, maka Musa memerintahkan kepada Israel, supaya Israel mengasihi Allah dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, artinya: seluruh eksistensi Israel harus dipersembahkan kepada TUHAN-nya. Oleh karena Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya sebagai yang esa atau satu, maka Israel diharuskan mempersembahkan segala tenaga dan daya yang ada padanya sebagai pengabdian yang satu atau yang esa kepada Tuhannya. Pengabdian kepada TUHAN yang esa di dalam firman dan karya-Nya harus dilakukan secara esa di dalam kata-kata dan perbuatan, secara lahir dan batin. Seluruh eksistensinya sebagai satu kesatuan atau keesaan harus dipersembahkan kepada Tuhannya. Penyataan atau perkenalan Tuhan Allah sebagai Sekutu Israel harus dijawab oleh Israel sebagai sekutu Allah.

Berdasarkan uraian di atas, kiranya ungkapan esa di sini lebih tepat diartikan sebagai pengertian yang etis, sebab keesaan Tuhan Allah di dalam firman dan karya-Nya tadi segera dihubungkan dengan kasih yang esa kepada-Nya. Hanya TUHAN-lah yang Allah adanya, dan yang menjadi sekutu Israel, maka hanya TUHAN-lah yang patut dikasihi. Di luar TUHAN tidak ada yang patut dikasihi sebagai sekutu Israel.

Pengertian tentang keesaan Tuhan Allah yang demikian itu terdapat juga di dalam Perjanjian Baru. Hal ini umpamanya jelas dari perkataan Yesus Kristus:

* Markus 12:29
LAI TB, Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
KJV, And Jesus answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; The Lord our God is one Lord:
TR, ο δε ιησους απεκριθη αυτω οτι πρωτη πασων των εντολων ακουε ισραηλ κυριος ο θεος ημων κυριος εις εστιν
Translit , ho de iêsous apekrithê autô hoti prôtê asôn tôn entolôn akoue israêl kurios ho theos hêmôn kurios heis estin

* Yohanes 17:3
LAI TB, Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
KJV, And this is life eternal, that they might know thee the only true God, and Jesus Christ, whom thou hast sent.
TR, αυτη δε εστιν η αιωνιος ζωη ινα γινωσκωσιν σε τον μονον αληθινον θεον και ον απεστειλας ιησουν χριστον
Translit Interlinear, hautê de estin hê aiônios zôê hina ginôskôsin se ton monon alêthinon theon kai hon apesteilas iêsoun khhriston

Yohanes 17:3 : Kata-kata yang diterjemahkan dengan satu-satunya Allah yang benar adalah ton monon alêthinon theon, yang juga dapat diterjemahkan dengan Allah yang satu dan benar atau satu-satunya yang benar-benar Allah. Maka jelaslah kiranya bahwa menurut Perjanjian Baru tidak ada Allah lain kecuali Tuhan Allah. Keesaan Allah di sini juga bukan hasil pemikiran spekulatif, yang diperoleh dengan menjabarkan dari hukum akal. Juga di sini keesaan Allah dinyatakan di dalam firman dan karya-Nya, yang semuanya menunjuk kepada Tuhan Allah sebagai sekutu umat-Nya. Hal ini jelas dari dihubungkannya keesaan Allah tadi dengan pengutusan Yesus Kristus sebagai Firman yang telah menjadi manusia, yang justru menjadi bukti bagi umat Allah bahwa Tuhan Allah adalah penyelamatnya.

Juga di dalam Perjanjian Baru kata esa atau monon tidak menekankan pada angka satu secara matematis. Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru senantiasa mementingkan konsekuensi dari penyembahan kepada satu-satunya yang boleh disebut Allah itu. Penyembahan kepada Tuhan Allah yang satu-satunya itu membawa konsekuensi secara etis. Kepada pemuda yang kaya, umpamanya, yang merasa telah memenuhi segala hukum Tuhan Allah, Yesus berkata, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan; juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Yang dimaksud oleh Yesus di sini ialah, bahwa jika pemuda itu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allah, harus mengasihi-Nya dengan seluruh eksistensinya, dengan seluruh miliknya, sehingga jika perlu, semua harus dapat dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Hal yang demikian itu juga dikemukakan oleh Yesus kepada Marta, jika Yesus berkata, “Tetapi hanya satu saja yang perlu, ‘Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya'”. Marta masih memikirkan hal-hal yang banyak sekali, dan belum menyerahkan seluruh eksistensinya kepada Yesus. Di sekitar Kristus dan di sekitar Tuhan Allah hanya ada satu hal saja yang perlu, yaitu kasih yang sedalam-dalamnya, yang dinyatakan dengan seluruh eksistensi manusia.

Di dalam Perjanjian Baru gagasan ini semua mendapat arti yang jauh lebih mendalam lagi, sebab satu-satunya Allah yang benar itu ternyata di dalam firman dan karya-Nya telah memberikan kesempurnaan kasih-Nya, yaitu di dalam pengutusan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Maka konsekuensi etis dari penyembahan kepada Tuhan Allah yang benar-benar Allah tadi, bagi hidup bersama ialah bahwa orang beriman harus sehati dan sejiwa.

Menurut Alkitab, percaya bahwa hanya ada Allah satu, memang baik sekali. Akan tetapi jika hanya berhenti di situ saja, jauh belum mencukupi. Pengakuan bahwa Tuhan Allah adalah satu atau esa, membawa konsekuensi. Di Yakobus 2:19 disebutkan, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”

Yang penting ialah menaati perintah Tuhan Allah, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan segenap kuatnya dan mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Lahir dan batin hidup umat Allah harus dipersembahkan kepada Tuhan dan sesamanya.

 

  • Doktrin Allah Tritunggal

Tuhan Allah, yang sebagai sekutu umat-Nya, telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Esa tadi, selanjutnya dengan firman dan karya-Nya, juga menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang di dalam ajaran Kristen biasanya disebut Tritunggal.

Di dalam Alkitab tidak ada banyak ayat yang mengungkapkan ketritunggalan itu secara langsung. Kita mendengar perintah Yesus untuk membaptiskan di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus; Rasul Paulus mengucapkan berkatnya sebagai “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus”, yang secara lebih luas lagi disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini:

* 1 Korintus 12:4-6,
“Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”

* Efesus 4:4-6,
“satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.”

* 1 Petrus 1:1-2,
“Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.”

* Yudas 20-21,
“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.”

Akan tetapi secara tidak langsung ada banyak ayat di dalam Perjanjian Baru yang menunjuk kepada ketritunggalan itu.

Di dalam berita tentang kelahiran Yesus, malaikat berkata, bahwa anak Maria itu akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi, serta bahwa Roh Kudus akan turun atas Maria, serta kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaunginya. Pada waktu Yesus dibaptis, Roh Allah turun ke atas-Nya seperti burung merpati, dan bahwa Tuhan Allah berfirman, “Inilah Anak yang Kukasihi.”

Selain dari itu, Yesus sendiri mengaku di hadapan Sanhedrin, bahwa Ia adalah Anak Allah. Di hadapan orang Yahudi, Ia menyebut Tuhan Allah Bapa-Nya, sedang orang lain menyebut Dia Anak Allah. Mengenai Roh Kudus disebutkan, bahwa Yesus akan mengutus Roh-Nya dari Bapa dan sebagainya.

Semua ayat ini, yang masih dapat ditambah lagi dengan banyak sekali, tidak boleh diabaikan begitu saja.

Di sepanjang sejarah Gereja telah timbul penafsiran-penafsiran gagasan tentang Tuhan Allah yang telah dicetuskan oleh Plato. Segala pernyataan ini harus dilihat di dalam terang yang menerangi hakekat Tuhan Allah, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu di dalam semuanya itu Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai sekutu umat-Nya di dalam firman dan karya-Nya.

Pada abad-abad yang pertama, Gereja yang masih muda itu dihadapkan dengan persoalan-persoalan sebagai berikut:

1. Pengakuan yang diambil-alih dari ajaran Yahudi, yaitu bahwa Tuhan Allah adalah esa.
2. Pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Oleh karena itu maka segeralah timbul persoalan, apakah dengan demikian orang Kristen tidak menyembah kepada Allah yang lebih dari satu?

Di sepanjang sejarah Gereja, tampaklah pergumulan Gereja yang masih muda itu untuk merumuskan kepercayaannya yang mengenai Tuhan Allah. Di dalam pergumulan tadi dapat disaksikan bagaimana Gereja di satu pihak berusaha untuk menghindarkan diri dari bahaya “mempertahankan keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggalannya”, artinya bahwa orang sedemikian menekankan kepada ajaran bahwa Allah adalah esa, sehingga sebutan Bapa, Anak, dan Roh Kudus seolah-olah hanya dipandang sebagai sifat-sifat Allah saja. Di lain pihak dapat disaksikan pula, bagaimana Gereja bergumul untuk menghindarkan diri dari bahaya “mempertahankan ketritunggalan Allah dengan melepaskan keesaannya”, artinya bahwa orang sedemikian menekankan kepada perbedaan di antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sehingga ketiganya itu seolah-olah berdiri sendiri-sendiri tanpa ada kesatuan.

Pada abad ketiga di Roma muncullah Praxeas yang mengajarkan bahwa Tuhan Allah adalah Roh. Sebagai Roh, Tuhan Allah disebut Bapa. Allah ini telah mengenakan daging atau menjadi manusia. Allah yang telah mengenakan daging ini disebut Anak. Di dalam diri Yesus Kristus, Bapa dan Anak menjadi satu, dalam arti demikian, bahwa sang manusia Yesus, yang daging adanya, adalah Anak, sedang Kristusnya, yang Roh adanya, adalah Bapa. Yang dilahirkan adalah Anak, yaitu sang manusia Yesus di dalam diri Juru Selamat. Sebenarnya Anak inilah yang menderita sengsara, sebab Allah Bapa, yang Roh adanya, tidak dapat menderita. Tetapi oleh karena Allah Bapa telah memasuki daging (Kristus memasuki Yesus) ia turut menderita juga. Ajaran ini disebut Patripassianisme, artinya, bahwa Bapa turut menderita sengsara. Di sini Praxeas membedakan antara daging (Anak) dan Roh (Bapa) di dalam diri Yesus Kristus. Sebenarnya, menurut Praxeas, Bapa dan Anak (Roh dan daging, atau Kristus dan Yesus) ini adalah Pribadi yang satu, yaitu Allah.

Dari uraian di atas jelas, bahwa Praxeas mempertahankan keesaan Allah. Tuhan Allah adalah satu. Bapa dan Anak adalah satu Pribadi, yaitu pribadi Tuhan Allah. Tetapi Praxeas melepaskan ketritunggalan atau di sini lebih tepat disebut kedwitunggalan. Sebutan Bapa dan Anak tidak menunjukkan perbedaan, kecuali sebagai Roh dan daging di dalam diri Juruselamat Yesus Kristus.

Gereja pada waktu itu menolak ajaran ini.

Sabellius :

Mempertahankan keesaan Tuhan Allah dan melepaskan ketritunggalan-Nya ini juga dilakukan oleh Sabellius (meninggal pada tahun 215). Ia mengajarkan, bahwa Tuhan Allah adalah esa. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah modalitas atau cara menampakkan diri Tuhan Allah yang esa itu. Semula, yaitu di dalam Perjanjian Lama, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya di dalam wajah atau modus Bapa, yaitu sebagai Pencipta dan Pemberi Hukum. Sesudah itu Tuhan Allah menampakkan diri-Nya di dalam wajah Anak, yaitu sebagai Juruselamat yang melepaskan umat-Nya, yang dimulai dari kelahiran Kristus hingga kenaikan-Nya ke surga. Akhirnya Tuhan Allah sejak hari Pentakosta menampakkan diri-Nya di dalam wajah Roh Kudus, yaitu sebagai Yang Menghidupkan. Jadi ketiga sebutan tadi adalah suatu urut-urutan penampakan Tuhan Allah di dalam sejarah.

Untuk menjelaskan pendapatnya itu Sabellius memakai gambaran matahari. Allah Bapa dapat diumpamakan dengan matahari dalam penampakannya, sedang Allah Anak adalah matahari dalam sinarnya, dan Allah Roh Kudus adalah matahari dalam kekuatannya menyinarkan panas. Ketritunggalan di sini dipandang sebagai ketritunggalan penampakan yang berganti-ganti atau bergiliran. Yang menampakkan diri adalah Tuhan Allah yang satu itu.

Pernah ada suatu keterangan mengenai ketritunggalan Allah, yang sama dengan keterangan Sabellius, yaitu ketritunggalan itu dapat diterangkan demikian: Bapak Presiden di tengah-tengah keluarganya menjadi kepala keluarga, di tengah-tengah angkatan bersenjata menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata, di tengah-tengah rakyat menjadi kepala negara. Orangnya satu, tetapi tampil dalam tiga wajah.

Demikianlah Sabellius juga mempertahankan keesaan Tuhan Allah, tetapi ketritunggalan-Nya dilepaskan. Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanya sebutan saja bagi Allah yang satu itu.

Sebaliknya ada golongan ahli pikir Kristen pada waktu itu yang berusaha mempertahankan ketritunggalan Allah, tetapi melepaskan keesaan-Nya, artinya bahwa Allah Bapa, Allah Anak (atau Yesus Kristus) dan Roh Kudus dibedakan sedemikian rupa, hingga ketiganya berdiri sendiri-sendiri, tanpa kesatuan.

Paulus dari Samosata :

Hal ini umpamanya dilakukan oleh Paulus dari Samosata, yang meninggal pada tahun 260. Menurut Paulus, Tuhan Allah hanya dapat dipandang sebagai satu pribadi saja. Tetapi di dalam diri Allah dapat dibedakan antara Logos (Firman) dan Hikmat. Logos dapat disebut Anak, sedang Hikmat dapat disebut Roh. Logos bukanlah suatu pribadi, melainkan suatu kekuatan yang tidak berpribadi. Logos ini telah bekerja pada diri Musa dan para nabi di dalam Perjanjian Lama, selanjutnya Ia juga bekerja di dalam diri Yesus, anak Maria. Juruselamat Yesus Kristus adalah manusia, yang datangnya dari bawah. Akan tetapi padanya telah bekerja Logos atau Firman, yang datangnya dari atas. Logos atau Firman ini dapat juga disebut manusia batin dari Yesus, sang Juru Selamat itu. Kediaman Logos atau Firman di dalam diri Yesus Kristus sama dengan kediaman Hikmat atau Roh di dalam diri para nabi di Perjanjian Lama. Perbedaannya ialah, bahwa pada Yesus kediaman Hikmat atau Roh tadi mempunyai sifat yang khas:

Yesus Kristus adalah rumah Allah, yang didiami oleh Roh Allah atau Hikmat Allah dengan sempurna. Seperti halnya dengan dua oknum yang dapat memiliki kesatuan kegemaran dan kehendak, demikianlah halnya dengan Tuhan Allah dan Kristus. Kesatuan kegemaran dan kehendak yang demikian itu terjadi karena kasih. Karena kasih dan kehendak-Nya yang tidak berubah, maka Kristus dipersatukan dengan Tuhan Allah, sehingga Ia bukan hanya dapat tidak berdosa, melainkan juga dapat mengalahkan dosa-dosa nenek moyang-Nya. Sebagai upah kasih-Nya yang demikian itu, ia dikaruniai nama yang di atas segala nama, dan mendapat hak untuk mengadili dan memiliki kehormatan Allah, Ia diangkat menjadi Anak Allah.

Demikianlah Paulus dari Samosata mempertahankan perbedaan antara Allah Bapa dan Yesus Kristus. Keduanya dipisahkan hingga berdiri sendiri-sendiri tanpa kesatuan. Ia mempertahankan ketritunggalan (atau di sini kedwitunggalan) dengan melepaskan keesaan-Nya.

Origenes :

Hal yang demikian juga dilakukan oleh Origenes (meninggal tahun 254). Menurut Origenes, Tuhan Allah adalah satu atau esa, sebagai lawan dari segala yang banyak. Tuhan ini menjadi sebab segala sesuatu yang berada. Dengan perantaraan Logos atau Firman, Tuhan Allah, yang Roh adanya itu, berhubungan dengan dunia benda. Logos ini berdiri sendiri sebagai suatu zat, yang memiliki kesadaran ilahi dan asas-asas duniawi. Ia adalah gambaran Allah yang sempurna. Sejak kekal ia dilahirkan dari Allah. Karena kekuasaan kehendak ilahi ia terus-menerus dilahirkan dari zat ilahi. Ia memiliki tabiat yang sama dengan Allah, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Ia satu dengan Allah, akan tetapi sebagai yang keluar dari Allah Bapa, Ia lebih rendah daripada Allah Bapa. Ia adalah pangkat pertama dari perpindahan dari Yang Esa kepada Yang Banyak, atau pangkat kedua di dalam zat Allah.

Aktivitas Logos atau Anak ini juga lebih rendah dibanding dengan aktivitas Bapa. Ia adalah pelaksana kehendak Allah Bapa, yang melaksanakan instruksi Allah Bapa, sebagai umpamanya penjadian.

Roh Kudus dianggapnya juga sebagai zat yang ada pada Allah, yaitu pangkat ketiga di dalam zat Allah itu. Roh Kudus ini adanya karena Anak. Hubungannya dengan Anak sama dengan hubungan Anak dengan Bapa. Bidang kerja-Nya juga lebih sempit dibanding dengan bidang kerja Anak. Bapa adalah asas beradanya segala sesuatu, sedang Roh Kudus adalah asas penyucian segala sesuatu.

Jadi ketritunggalan Allah dipandang sebagai berpangkat-pangkat. Oleh karena itu ajaran ini disebut subordinasianisme. Di sini perbedaan di antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus dipertahankan, akan tetapi kesatuannya ditiadakan.

Demikianlah secara singkat pergumulan Gereja yang masih muda itu untuk merumuskan ajarannya mengenai penyataan Tuhan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Di Konsili di Nikea (325) Gereja menentukan syahadatnya untuk mempertahankan ketritunggalan di dalam keesaan dan keesaan di dalam ketritunggalan. Bunyi syahadat itu demikian:

“Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, segala yang kehilatan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal, yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah sejati dari Allah sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat dengan Sang Bapa …. dan seterusnya. Aku percaya kepada Roh Kudus, yang jadi Tuhan dan yang menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak …. dan seterusnya.

Dari perumusan ini jelas, bahwa dengan tegas diajarkan tentang Allah Tritunggal, Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang bersama-sama disembah dan dimuliakan.

Perlu diperhatikan, bahwa Gereja di sini mengakui Allah Tritunggal, akan tetapi tidak memberi penjelasan secara teologis.

Tertulianus :

Orang yang besar sekali pengaruhnya bagi perumusan ajaran Tritunggal ini adalah Tertullianus (120 – 225). Darinyalah istilah substansi atau zat dan persona atau pribadi dikenakan kepada ajaran Tritunggal. Ia merumuskan, bahwa Tuhan Allah adalah satu di dalam substansi-Nya atau Dzat-Nya dan tiga di dalam persona-Nya atau pribadi-Nya atau oknum-Nya (una substantia, tres personae).

Tertullianus sendiri mengajarkan demikian: Tuhan Allah memiliki pada diri-Nya akal atau budi. Budi ini dilahirkan atau dikeluarkan di dalam Firman atau Logos-Nya pada waktu penjadian alam semesta. Jadi Firman atau Logos itu keluar atau dilahirkan dari budi, seperti batang pohon keluar dari akarnya, atau seperti sungai keluar dari sumbernya, atau sebagai sinar keluar dari matahari. Oleh karena itu, maka Firman atau Logos tadi disebut Anak. Mula-mula Roh Kudus adalah satu dengan Firman, tidak terpisah dari Firman atau Logos, juga pada waktu Logos atau Firman menjadi manusia dan menderita sengsara. Baru setelah Kristus ditinggikan, Roh itu keluar dari Bapa dan Anak. Keluarnya Roh Kudus dari anak sama dengan keluarnya buah dari batang pohonnya, atau seperti arus keluar dari sungai, atau seperti berkas sinar keluar dari sinar. Jadi hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus digambarkan seperti hubungan: akar – batang – buah, atau sumber – sungai- arus, atau matahari – sinar – berkas sinar. Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki satu substansi, sedang mereka adalah tiga persona atau pribadi atau oknum. Adapun yang dimaksud dengan substansi oleh Tertullianus adalah apa yang berada secara kongkrit (sebagai umpamanya: batu, tanah, dan sebagainya), dan yang dimaksud dengan persona adalah yang menjadi subyek.

Sekalipun Gereja pada waktu itu tidak menerima ajaran Tertullianus, akan tetapi perumusannya tentang adanya satu substansi dan tiga persona mempengaruhi pemikiran-pemikiran Gereja dari zaman sesudah Tertullianus. Di sepanjang sejarah Gereja, perumusan ini telah menimbulkan salah paham yang banyak sekali. Hal ini, demikian banyak teolog berpendapat, disebabkan oleh istilah-istilah yang dipergunakan di dalam bahasa Latin dan Yunani bagi pengertian-pengertian substansi dan persona tidaklah tepat, terlebih-lebih yang mengenai pengertian persona atau pribadi, atau oknum. Akan tetapi, salah paham itu terlebih-lebih disebabkan oleh pengungkapan-pengungkapan itu didasarkan atas pandangan Plato yang mengenai tabiat ilahi atau ketuhanan seperti yang telah diuraikan di atas.

Dalam abad-abad sesudah Konsili di Nikea itu, pergumulan tentang perumusan Tritunggal masih belum memuaskan segala pihak.

Agustinus :

Augustinus umpamanya, merumuskan ketritunggal itu demikian, bahwa hubungan Bapa, Anak, dan Roh Kudus di dalam zat ilahi adalah sebagai ingatan, akal, dan kehendak, atau sebagai yang mengasihi, sasaran kasih dan kasih. Roh bukan hanya suatu fungsi, melainkan suatu tindakan kasih, ikatan yang menghubungkan Bapa dan Anak.

Thomas Aquinas :

Thomas Aquinas mengatakan, bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah cara berada ilahi yang berdiri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan persona adalah cara berada.

John Calvin :

Calvin menerangkan persona sebagai suatu hal yang berdiri sendiri di dalam kehidupan ilahi, yang satunya dibedakan dengan yang lain, karena sifat-sifat ilahi yang khas ilahi semata-mata.

Demikianlah ada perumusan yang bermacam-macam mengenai ketritunggalan tadi.

Substansi dan Persona Allah Tritunggal

Kata substansi adalah ousia di dalam bahasa Yunani, sedang kata persona adalah hupostasis atau hypostasis. Yang dimaksud Tertullianus dengan substansi adalah apa yang berada secara kongkrit, sedang yang dimaksud dengan persona adalah apa yang menjadi subyek.

Di dalam bahasa Yunani yang disebut dengan ousia ialah apa yang membedakan satu macam atau satu rumpun dengan macam atau rumpun yang lain, serta yang memberi ciri khas kepada macam atau rumpun itu. Umpamanya: rumpun mangga; ousia mangga adalah ciri-cirinya yang membedakan rumpun ini dengan rumpun yang lain (umpamanya: jambu) dan ciri-ciri yang khas pada mangga yang menjadikan mangga berbeda dengan jambu. Ousia atau substansi manusia, atau juga disebut zat atau hakekat manusia, adalah apa yang membedakan manusia daripada binatang dan daripada tumbuh-tumbuhan serta daripada Allah, pendeknya: yang menjadikan manusia disebut manusia, bukan binatang atau tumbuh-tumbuhan atau Allah. Demikian juga halnya dengan ousia atau substansi Allah, ialah apa yang membedakan Allah dari manusia dan makhluk-makhluk yang lain yang oleh Plato disebut tabiat ilahi atau ketuhanan, yang harus dibedakan dengan tabiat insani atau kemanusiaan.
Yang dimaksud dengan hypostasis atau persona adalah apa yang membedakan satu individu dari individu yang lain, serta yang membedakan ciri khas kepada individu itu di dalam satu rumpun atau satu macam, umpamanya: buah jeruk ada bermacam-macam, ada jeruk keprok, jeruk pecel, dan sebagainya. Semuanya itu termasuk rumpun jeruk, akan tetapi yang sebuah berbeda dengan yang lain. (Atau juga jeruk pada satu pohon, yang sebuah berbeda dengan yang lain).

Diterapkan kepada Tuhan Allah, hal itu diterangkan sebagai berikut, bahwa Bapa, Anak, Roh Kudus adalah tiga hypostasis di dalam satu ousia atau tiga persona di dalam satu substansi, atau tiga oknum di dalam satu Dzat.

Sejak abad ke-18 pengertian persona atau oknum telah dianggap sebagai suatu kekuatan yang berdiri sendiri dengan secara sadar, atau suatu swadaya yang sadar, yang dengan kekuatan kesusilaannya mempertahankan diri terhadap kekuatan-kekuatan yang tidak berpribadi di sekitarnya. Sejak abad ke-18 ini sebenarnya pengertian persona atau oknum telah tidak mungkin lagi diterapkan guna mengungkapkan pengertian Alkitab yang mengenai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sebab memang bukan pengertian yang seperti itulah yang dimaksud oleh Gereja kuno ketika merumuskan ajarannya tentang ketritunggalan Allah. Oleh karena itu maka banyak para ahli teologia sekarang yang menerjemahkan ungkapan υποστασις – HUPOSTASIS atau persona bukan dengan oknum, melainkan dengan cara berada (seinsweise atau mode of existence) , sehingga ketritunggalan dirumuskan demikian: Allah adalah satu di dalam substansi-Nya, tetapi memiliki tiga cara berada.

Cara menerangkan ini juga masih kabur, karena masih terlalu dipengaruhi oleh gagasan Plato mengenai adanya suatu tabiat ilahi atau ketuhanan tadi.

Bersambung ke bagian 3