Ajaran Tentang Tuhan (Pandangan Kristen Protestan) Bagian 1

Tulisan dibawah ini merupakan salinan dari web http://www.sarapanpagi.org/ajaran-tentang-tuhan-allah-vt24.html tanpa ada penambahan apapun.

Bagian 1

Apakah mungkin manusia dari dirinya sendiri mengenal Allah, apakah ada jalan yang berpangkal dari manusia menuju ke pengetahuan tentang Allah?

Plato menjawab pertanyaan ini secara positif: YA, ADA. Oleh karena pengaruh Plato besar sekali di dalam pemikiran theologia Kristen dan Islam, maka akan dibicarakan pandangannya secara singkat.

Kira-kira empat abad sebelum Masehi, Plato memprotes ajaran agama yang berlaku di Yunani. Cerita-cerita tentang para dewata yang memiliki sifat-sifat seperti manusia, misalnya bahwa mereka saling tipu-menipu, saling bunuh-membunuh, berebutan wanita, dan sebagainya dipandangnya sebagai merusak moral para pemuda. Oleh karena itu dengan mengadakan sensor terhadap para penyair, harus diusahakan adanya kesatuan di dalam kelakuan para dewata, yaitu bahwa para dewata harus hanya melakukan hal-hal yang benar dan adil saja. Mereka harus menjadi sumber segala yang baik, yang harus dilakukan oleh manusia. Pokoknya, para dewata jangan dijadikan sumber kejahatan. Plato sendiri tidak menuntut adanya satu ilah atau tuhan, asal semuanya memiliki satu tabiat (nature) yaitutabiat ilahi (divine nature) . Segala perbuatan para dewata tidak boleh bertentangan dengan tabiat ilahiitu. Tuhan jangan dipandang sebagai manusia, Tuhan harus dipandang sebagai keberadaan sejati (the real being) , zat yang bersifat akali atau rohani serta yang tidak berubah (the true, intelligible and immutable being).

Yang penting ialah, bahwa cara berada Tuhan harus diubah dari cara berada yang bersifat jasmaniah (material) menjadi cara berada yang akali atau rohani (immaterial).

Zat yang ilahi, yang keadaannya akali atau rohani tadi, berada di belakang dan di atas kosmos atau dunia yang tampak ini, yaitu di dunia idea atau cita. Dengan demikian zat yang ilahi ini berada secara transenden, sebab tabiatnya adalah suatu kenyataan yang sukar ditembus oleh akal manusia. Kosmos yang tampak ini lebih menyelubungi hakekat yang ilahi daripada menyingkapkannya. Terlebih-lebih jikalau orang ragu-ragu akan kecakapan akalnya, maka yang ilahi ini akan makin menjadi tidak dapat dikenal.

Untunglah bahwa jiwa manusia keadaannya sama seperti yang ilahi tadi, yaitu bersifat akali, karena jiwa manusia juga berasal dari dunia idea atau cita. Dengan demikian, sekalipun zat ilahi tadi transenden, dalam arti tidak dapat ditembus oleh akal manusia, namun manusia dapat juga mengenalnya, yaitu dengan jalan seolah-olah mengupas Tuhan keluar dari selubungnya, dengan perantaraan akal manusia.

Jadi Tuhan bukan menyatakan diri atau memperkenalkan diri, bukan keluar membuka selubung-Nya, melainkan Ia yang terselubung oleh kosmos tadi, dikupas manusia, dikeluarkan dari selubung-Nya.

Jikalau pandangan Plato ini kita tinjau secara mendalam, kita mendapat kesan, bahwa sebenarnya akal manusialah yang menentukan bagaimana seharusnya Tuhan. Selanjutnya, pengertian tentang Tuhan juga menjadi kabur. Dengan ajarannya tentang tabiat ilahi itu sebenarnya ilah atau tuhan menjadi pengertian yang predikatif, artinya: pengertian yang menunjuk kepada nama sifat. Tuhan menjadi ketuhanan atau yang ilahi. Dengan sendirinya tuhan seperti ini menjadi sasaran pemikiran manusia. Tuhan dianggap penting, bukan sebagai subyek yang berbuat, melainkan sebagai obyek atau sasaran yang menyinarkan sinar. Jika tuhan ini dipandang sebagai sebab segala sesuatu, hal itu bukan karena ia berbuat dengan tindakan-tindakannya, melainkan karena ia seolah-olah menarik segala sesuatu, tanpa dapat ditentang, seperti halnya dengan sebuah magnit menarik kikiran besi.

Dari uraian di atas kiranya juga jelas, bahwa yang menjadi dalil Plato ialah yang ilahi itulah Tuhan, bukan Tuhan adalah yang ilahi. Bagi Plato yang penting ialah yang ilahi dahulu, seolah-olah ada sesuatu yang ilahi, lalu yang ilahi ini dianggap Tuhan.

Pengaruh pandangan Plato ini ternyata besar sekali. Pada zaman di sekitar tarikh Masehi, telah menjadi pendapat umum di daerah sekitar Laut Tengah, bahwa yang disebut Tuhan harus memiliki tabiat ilahi, dan bahwa tabiat ilahi ini harus bersifat rohani dan akali (spiritualist dan intellectualist), dalam arti sebagai lawan dari segala yang bersifat bendawi atau jasmani (materialist). Segala sesuatu yang tidak memenuhi tabiat ilahi ini harus ditolak sebagai Tuhan. Manusia, sepanjang ia lebih daripada yang jasmani, mendapat bagian dari tabiat yang ilahi itu.

Mengherankan sekali bahwa pandangan yang demikian itu, yaitu bahwa akal manusia sendirilah yang menentukan bagaimana seharusnya yang ilahi, hingga berabad-abad mempengaruhi, bahkan menguasai pemikiran tentang Allah, bukan hanya di antara para ahli pikir Kristen, tetapi juga para ahli pikir Islam.

Gereja Roma Katolik umpamanya mengajarkan, bahwa ada jalan dari akal manusia kepada Allah. Dengan mempelajari alam semesta, manusia dapat mengenal Allah. Tetapi pengetahuan melalui akal ini belum sempurna, oleh karena itu di samping pengetahuan tentang Allah dengan perantaraan akal itu manusia masih memerlukan pengetahuan tentang Allah yang berdasarkan penyataan atau wahyu. Ajaran Roma Katolik yang mengenal pengetahuan tentang Allah yang dengan perantaraan akal itu disebut thelogia naturalis, theologia kodrati atau alami.

Bahwa manusia dengan akalnya dapat mengenal Allah, juga diajarkan oleh para ulama Islam. Menurut Dr. H.M. Rasjidi dalam Filsafat Agama, hingga sekarang yang berlaku dalam dunia Islam ialah, bahwa Tuhan telah memberi akal kepada manusia. Dengan akal itu manusia dapat memikirkan hal-hal yang melingkunginya dengan alam kehidupannya dan akhirnya ia dapat mengetahui dengan akalnya tentang adanya Tuhan dan sifat-sifat Tuhan, kemudian Tuhan menambah suatu hal baru, yaitu menurunkan wahyu kepada beberapa orang yang diangkatnya sebagai utusan-Nya, di antaranya kepada nabi Musa, nabi Isa dan yang terakhir kepada nabi Muhammad.
Pemikiran yang mendewa-dewakan akal sebenarnya pemikiran yang dipengaruhi sekali oleh Plato, seperti yang di sepanjang abad-abad hingga sekarang menguasai dunia Barat.

Semua agama didasarkan atas keyakinan bahwa Allah atau yang dipertuhan memperkenalkan diri kepada manusia, sehingga manusia kenal Tuhannya, sekalipun pengenalan itu tidak sempurna. Karena pengenalan itulah, maka manusia dapat menyembah Tuhannya. Apakah mungkin manusia dari dirinya sendiri mengenal Tuhan, apakah ada jalan yang berpangkal dari manusia menuju ke pengetahuan tentang Tuhan atau yang dipertuhan?

Sekalipun demikian, tiada kesamaan tentang soal bagaimana Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Pada umumnya agama-agama mengajarkan, bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dan kehendak-Nya kepada manusia dengan perantaraan bisikan ilahi, dalam arti Tuhan memperkenalkan diri-Nya dan kehendak-Nya dengan membisikkan kehendak-Nya di dalam hati sanubari manusia, baik orang itu berfungsi sebagai imam atau pendeta, maupun berfungsi sebagai resi, atau nabi atau guru/kyai. Di dalam agama Islam kita mendengar bagaimana pada malam yang terkenal sebagai Lailatul-Qadar, atau malam Kebesaran (17 Ramadhan) Allah dengan perantaraan malaekat Jibril membisikkan perintah-Nya kepada nabi Muhammad SAW di bukit hira. Suara ilahi itu didengar di dalam hatinya, yang kemudian dibukukan di dalam kitab Al~Qur’an.

Menurut Alkitab Perjanjian Lama, sebenarnya tidak hanya ada satu atau dua kata saja yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan Allah dengan manusia. Dalam kitab Kejadian 12:1-3 Allah berfirman kepada Abraham supaya ia pergi dari negerinya dan dari sanak saudaranya serta dari rumah bapanya ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya dengan janji, bahwa Allah akan menjadikan Abraham menjadi bangsa yang besar, dan menjadikan dia berkat bagi para bangsa. Di sini tidak diperoleh kesan bahwa firman itu diberikan dengan bisikan ilahi di dalam hati Abraham, sebab cara pertemuan Allah dengan Abraham ini berkali-kali diulangi sebagai pertemuan pribadi dengan pribadi, sebagai pertemuan antara aku dan engkau.

* Kejadian 12:1-3,
12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dijumpai pula kisah pertemuan Allah dengan Yakub, dengan Musa, dan dengan tokoh-tokoh yang lain di Perjanjian Lama, juga pertemuan Allah dengan Israel sebagai bangsa.

Di dalam Perjanjian Lama disebutkan juga bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya dengan melalui karya-karya-Nya, baik yang dilakukan dalam bentuk penampakan-penampakan (semak duri yang bernyala, tugu awan, malaekat Tuhan, dan sebagainya) maupun yang dilakukan dalam bentuk perbuatan-perbuatan besar yang menakjubkan (menyeberangi Laut Teberau, manna, manna, air keluar dari batu karang, dan sebagainya). Semua itu adalah sarana Allah guna memperkenalkan diri atau menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Jikalau segala perkenalan Allah itu diselidiki secara mendalam, tampaknya segala kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kepada perkenalan Allah kepada manusia itu hampir semuanya dikaitkan dengan penyataan tentang janji Allah. Allah memperkenalkan diri-Nya di dalam janji-janji-Nya dan di dalam sejarah janji-janji itu.

Di dalam Alkitab Perjanjian Baru, banyak kata-kata yang dipakai untuk mengungkapkan perkenalan atau penyataan Allah itu. Dari sekian banyak kata-kata itu mungkin kata αποκαλυπτω – apokaluptô (“reveal, pengungkapan”) dan φανεροω – phaneroô (“terbuka”) merupakan kata yang mempunyai arti yang agak khas, asal pengertian perkenalan atau penyataan Allah tadi tidak hanya dijabarkan dari kata-kata ini saja.

Kata αποκαλυπτω – apokaluptô berarti mengambil tutup atau mengambil selubung, sehingga tampaklah apa yang tertutup atau diselubungi. Kata phaneroô berarti terbuka, karena disingkapkan selubungnya. Perbedaan antara kedua kata itu ialah demikian, bahwa kata yang pertama menunjuk kepada tindakan mengambil tutup, sedangkan kata yang kedua menunjuk kepada hasil penyingkapan selubung tadi.

Berdasarkan makna kata itu, yang diungkapkan dengan istilah penyataan atau perkenalan adalah gagasan, bahwa sesuatu yang semula tertutup atau tidak dapat diketahui, karena diselubungi, menjadi dapat diketahui, karena selubungnya telah disingkapkan.

Kata-kata ini bukan hanya dikenakan kepada Allah saja, melainkan juga dipergunakan hal-hal lain, misalnya:

* 1 Korintus 3:13
LAI TB, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.
KJV, Every man’s work shall be made manifest: for the day shall declare it, because it shall be revealed by fire; and the fire shall try every man’s work of what sort it is.
TR, εκαστου το εργον φανερον γενησεται η γαρ ημερα δηλωσει οτι εν πυρι αποκαλυπτεται και εκαστου το εργον οποιον εστιν το πυρ δοκιμασει
Translit, hekastou to ergon phaneron genêsetai ho gar hêmera delôsei hoti en puri apokaluptetai [to uncover, to make known] kai hekastou to ergon hopoion estin to pur dokimasei.

Di sini dinyatakan bahwa sekali kelak pekerjaan masing-masing orang anak nampak yaitu bahwa hakekat pekerjaan orang yang sekarang masih belum dapat diketahui itu, kelak akan terbuka.

Jika kata-kata itu dikenakan kepada Allah, maka maksudnya ialah bahwa Allah yang semula tidak dikenal oleh manusia, sekarang dapat dikenal, sebab telah terbuka selubung-Nya. hanya saja, pembukaan selubung itu, menurut Alkitab, bukan perbuatan manusia, melainkan karya Allah sendiri.

Sekalipun kata “αποκαλυπσις – apokalupsis” (kata nama benda dari kata kerja αποκαλυπτω – apokaluptô) di dalam Alkitab diterjemahkan dengan wahyu (yaitu kitab yang terakhir dari Alkitab), namun di sini dipilih terjemahan penyataan . hal ini disebabkan karena kata wahyu mempunyai arti yang berlainan dengan kata “αποκαλυπσις – apokalupsis” tadi.

Dalam pengertian penyataan yang diajarkan Alkitab terkandung gagasan, bahwa Allah “keluar dari tempat persembunyian-Nya”, memperkenalkan diri-Nya kepada umat manusia. Ia menyingkapkan selubung yang menyelubungi-Nya, dengan “tampil ke depan”, “berbuat di dalam sejarah” dan menyatakan kehendak-Nya di dalam hidup manusia. Ilustrasi sederhana, jika saya pindah ke sebuah desa atau kampung yang orang-orangnya belum kenal dengan saya, maka orang-orang desa atau kampung tadi akan mengenal saya dari kata-kata dan perbuatan saya. Dari situ mereka akan tahu, apakah saya ini orang baik hati atau tidak, dan seterusnya.

Jikalau kita menyelidiki pemikiran Timur, sebenarnya akal justru dianggap sebagai merintangi pengetahuan tentang Allah atau tentang Yang dipertuhan.

Kira-kira delapan abad sebelum Masehi di India ada suatu revolusi pemikiran di bidang keagamaan. Semula hidup keagamaan dikuasai oleh para imam atau para Brahmana. Yang dianggap terpenting di dalam hidup keagamaan adalah korban, yang harus dipersembahkan sesuai dengan upacara yang diperlukan. Padahal upacara-upacara korban tadi demikian berbelit-belit, sehingga hanya para Brahmana-lah yang dapat mempersembahkan korban dengan berhasil. Dengan demikian seluruh kehidupan manusia dikuasai oleh para Brahmana.

Dari golongan para ksatriya timbullah reaksi yang sedemikian hebat, sehingga dapat memberi jurusan yang baru di dalam seluruh kehidupan keagamaan pada waktu itu. Itulah tahap sejarah keagamaan Hindu yang menimbulkan kitab-kitab Upanisad. Sejak zaman itu timbullah gagasan, yang hingga kini tersebar di seluruh dunia Timur, bahwa Tuhan adalah suatu daya-hidup yang maha besar, yang berada di dalam segala makhluk. Daya yang tersembunyi di dalam dunia ini, sebagai jiwa yang terpendam di dalam tubuh. Tuhan, yaitu Brahman, adalah satu-satunya zat yang nyata, sedang di luar Tuhan tidak ada yang nyata.

Akal manusia tidak dapat menembus Tuhan yang mutlak, yang transenden itu. Akal hanya menunjuk kepada adanya perbedaan-perbedaan dan kepada adanya banyak benda. Oleh karena itu akal manusia menyesatkan. Dengan akalnya manusia tidak mungkin mengenal Tuhannya. Jika kita ingin mengenal Tuhan, kita harus menempuh jalan mistik atau kebatinan, artinya, kita harus menyelam ke dalam hati sanubari kita sendiri, di mana kita, dengan meninggalkan akal dan perasaan, akan dapat bersekutu dengan Tuhan. Di dalam hati sanubari yang terdalam itu tiada lagi perbedaan, tiada perkara-perkara yang banyak dan beraneka ragam, tiada akal lagi. Di sinilah ketenangan, ketenteraman, kesatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Itulah Tuhan.

Jika pandangan tentang Tuhan yang demikian ini kita selidiki secara seksama, akan dapat diketahui, bahwa Tuhan di sini dipandang sebagai Yang Mutlak dalam arti filsafati, artinya: Tuhan adalah suatu idea yang tertinggi, yang abstrak, yang bebas dari segala hubungan dan sifat. Tuhan yang demikian sudah tentu sukar untuk dianggap sebagai “Yang menyatakan diri” atau “Yang memperkenalkan diri” kepada manusia. Manusialah yang di sini tampak giat berusaha untuk mengenal Tuhannya. Oleh karena hal yang demikian tidak mungkin dilakukan dengan perantaraan akalnya, maka dilakukannya melalui jalan mistik. Sukar sekali di sini untuk menggambarkan Tuhan sebagai suatu pribadi yang benar-benar berkehendak, dan sebagainya.

Alkitab dengan tegas menyatakan, bahwa tiada jalan dari pihak manusia kepada Tuhan Allah. Dari Alkitab kita dapat mengetahui bahwa mula-mula bukan Israel yang mencari Tuhan Allah, melainkan sebaliknya, Tuhan Allahlah yang mencari Israel dan yang memperkenalkan atau menyatakan diri-Nya kepada Israel. Dengan karya-karya-Nya yang besar di dalam sejarah umat Israel, Tuhan Allah telah menyatakan diri-Nya atau memperkenalkan diri-Nya kepada umat-Nya. Semuanya itu demi kelepasan dan kepentingan Israel. Bahwa Israel mengenal Tuhan Allahnya, hal itu bukan karena Israel mempergunakan akalnya untuk menjelajahi alam semesta, juga bukan karena Israel menyelami lubuk hatinya,melainkan karena Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya atau menyatakan diri-Nya kepada Israel.

Di dalam agama mana saja, sering disaksikan, baik secara teoritis maupun secara praktis, bagaimana manusia mencoba memperalat Tuhannya bagi kemuliaan, kebahagiaan dan kesenangannya sendiri.

Di dalam agama Weda kuno umpamanya, dapat disaksikan bagaimana manusia menyanjung-nyanjung para dewata dengan korban-korban serta doanya, dengan maksud agar para dewata itu senang dan oleh karenanya berkenan memberkati manusia. Secara praktis banyak juga orang beragama yang bersikap demikian terhadap Tuhannya. Mereka harus hidup dengan baik, harus beramal dan sebagainya supaya Tuhan berkenan kepada mereka, lalu memberkati mereka, dan terlebih-lebih memberikan hadiah surga. Segala sesuatu dengan demikian diukur dengan ukuran manusia. Jika Tuhan tidak cocok dengan ukuran manusia, haruslah Ia ditolak.

Alkitab menunjukkan dengan jelas, bahwa Tuhan Allah bukanlah alat guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan manusia, bukan sarana untuk memberikan kesenangan dan kepuasan manusia. Tuhan Allah jauh lebih tinggi daripada manusia. Tuhan Allahlah yang memanggil manusia supaya mengabdi kepada-Nya, supaya mentaati perintah-perintah-Nya. Jadi bukan sebaliknya, bukan Tuhan Allah yang harus mengabdi kepada manusia serta memenuhi segala keinginan manusia.

Oleh karena itu tujuan terakhir dari penyataan Tuhan Allah bukanlah kebahagiaan manusia, melainkan kemuliaan dan kehormatan Tuhan Allah sendiri.

* Roma 11:36
LAI TB, Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
KJV, For of him, and through him, and to him, are all things: to whom be glory for ever. Amen.
TR, οτι εξ αυτου και δι αυτου και εις αυτον τα παντα αυτω η δοξα εις τους αιωνας αμην
Translit, hoti ex autou kai di autou kai eis auton ta panta autô hê doxa eis tous aiônas amên

Barangsiapa mencari Tuhan Allah, dialah yang berbahagia dan mendapatkan hidup sejati di dalam mencari dan melayani Tuhan Allah.
Dengan alat-alat apakah Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada manusia?

Berdasarkan keyakinan Kristen, Alkitab adalah kesaksian mengenai pengalaman para orang yang pernah bertemu atau bergaul dengan Tuhan Allah, maka akan diselidiki kesaksian-kesaksian itu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas.

Kita berpangkal pada Keluaran 3:13-15 di mana disebutkan, bahwa Tuhan Allah memanggil Musa supaya mengeluarkan umat Israel dari tanah perhambaan di Mesir. Pada kesempatan ini Musa bertanya kepada Tuhan Allah, bagaimana ia harus menjawab, seandainya Israel akan menanyakan siapa yang mengutusnya. Hal ini disebabkan karena mungkin Israel sudah tidak dapat membeda-bedakan siapa Tuhan Allahnya dan siapa para dewa orang Mesir.

* Keluaran 3:14
LAI TB, Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU’ Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.
KJV, And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים אֶל־מֹשֶׁה אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה וַיֹּאמֶר כֹּה תֹאמַר לִבְנֵי יִשְׂרָאֵל אֶהְיֶה שְׁלָחַנִי אֲלֵיכֶם׃
Translit interlinear, VAYO’MER {dan Dia berfirman} ‘ELOHÏM {Allah} ‘EL-MOSYEH {kepada Musa} ‘EHEYEH {Aku akan ada} ‘ASYER {yang} ‘EHEYEH {Aku akan ada} VAYO’MER {dan Dia berfirman} KOH {demikian} TO’MAR {engkau harus berkata} LIVENÊY {kepada anak-anak} YISERÂ’ÊL {Israel} ‘EHEYEH {Aku akan ada} SYELÂKHANÏ {mengutus aku} ‘ALÊYKHEM {ke atas kalian}

Tuhan Allah menjawab, bahwa nama-Nya adalah: “AKU ADALAH AKU”, yang dalam bahasa aslinya berbunyi: משה אהיה אשר אהיה – ‘EHEYEH ‘ASYER ‘EHEYEH.

Kata אהיה – ‘EHEYEH, yang berarti Aku akan ada berasal dari kata היה – HÂYÂH , hê’-yõd-hê’, yang menurut para ahli mewujudkan rangkuman dari kata-kata: berada, menjadi dan bekerja (to be, to become dan to work) . Yang harus diperhatikan ialah, bahwa di sini nama Tuhan Allah diungkapkan dengan bentuk kata-kerja, kata yang hidup, bukan dengan kata-nama-benda, kata yang mati. Hal ini menunjukkan, bahwa dengan demikian Tuhan Allah bagi Israel bukanlah Tuhan Allah yang tidak bergerak, bukanlah Tuhan Allah yang mati, melainkan Tuhan Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika.

Oleh karena itu maka, menurut beberapa ahli, secara bebas ungkapan ini dapat diterjemahkan dengan, “Aku akan hadir, berbuat”, atau “Aku akan hadir dengan berbuat”. Pokoknya, kehadiran Tuhan Allah bagi Israel bukan seperti kehadiran barang yang mati (meja, kursi, dan sebagainya), melainkan suatu kehadiran yang di dalam perbuatan-Nya, Israel akan mengenal Tuhan Allah dari perbuatan-perbuatan atau karya-karya Tuhan Allah, yang ditujukan kepada kepentingan Israel.

Hal itu memang terbukti di dalam sejarah umat Israel. Di sepanjang sejarah umat ini dapat dilacak bagaimana Tuhan Allah telah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan karya-karya-Nya.

Pertama-tama Tuhan Allah memperkenalkan diri kepada Israel dengan menampakkan diri dalam tanda-tanda yang menjadikan Israel tahu bahwa Tuhan Allah hadir. Penampakan ini di dalam bahasa Yunani disebut theophani. Di sini Tuhan Allah menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh Israel, sehingga Israel sadar bahwa mereka berhadapan dengan Tuhan Allah sendiri. Umpamanya, Tuhan Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak duri, Tuhan Allah menampakkan diri kepada Israel di dalam tiang awan, dalam awan yang padat yang disertai guruh dan kilat di atas gunung Sinai, di dalam kemuliaan-Nya yang melalui Musa, menampakkan diri kepada Gideon sebagai malaekat Tuhan, dan seterusnya.

  • Theophani :

Theophani atau penampakan diri Tuhan Allah ini bukanlah kehadiran Tuhan Allah yang tanpa keaktifan dan tanpa waktu, melainkan dengan manampakkan diri ini Tuhan Allah hadir dengan nyata atau mendatangi umat-Nya serta berada di tengah-tengah umat-Nya. Ia berdiam di antara umat-Nya. Maka penampakan diri ini termasuk perbuatan atau karya Tuhan Allah yang historis, baik yang mendatangkan hukuman maupun yang mendatangkan pertolongan.

Selanjutnya Tuhan Allah menyatakan diri-Nya kepada Israel dengan mujizat atau perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan. Segala perbuatan atau karya Tuhan Allah sebenarnya adalah mujizat. Mujizat ini ada bermacam-macam, sebagai umpamanya mujizat yang diadakan guna mengeluarkan Israel dari Mesir, untuk memelihara Israel dalam pengembaraannya di padang gurun, untuk memasukkan Israel ke tanah Kanaan, untuk menolong Israel dari penindasan bangsa-bangsa yang berdiam di sekitar tanah Kanaan, dan sebagainya.

Akhirnya Tuhan Allah berfirman dengan firman atau sabda yang dapat didengar guna menyatakan atau memberitahukan kehendak-Nya. Firman ini dapat diberikan di dalam penglihatan atau wahyu, seperti yang terjadi pada para nabi, dapat juga diberikan di dalam impian dan sebagainya. Pembicaraan Tuhan Allah yang terbanyak, yang pernah terjadi di antara Tuhan Allah dengan manusia, ialah pembicaraan yang diadakan Tuhan Allah dengan Musa, yang di dalam Alkitab disebut “berbicara dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya”. Jikalau segala pembicaraan ini diperhatikan, tidak diperoleh kesan seolah-olah Tuhan Allah memberikan bisikan ilahi, melainkan Tuhan Allah berfirman dari luar, seperti yang terjadi di dalam pembicaraan di antara aku dan engkau.

Dengan perantaraan ketiga cara berkomunikasi itulah Israel dapat mengenal Tuhan Allahnya dengan sebenarnya, bukan secara teori, melainkan berdasarkan pengalaman. Bahwa Tuhan Allah adalah Mahakuasa, umpamanya, bagi Israel bukanlah suatu teori, bukan suatu ajaran yang didengar dari seorang guru, sekalipun guru itu Musa, juga bukan hasil renungan atau spekulasi, yang diperoleh karena akalnya menjelajahi alam semesta ini. Demikian juga pengatahuan Israel bahwa Tuhan Allah adalah yang Mahakudus, atau yang Mahaadil, dan sebagainya. Israel mengenal Tuhan Allah karena Tuhan Allah dengan firman dan karya-karya yang menakjubkan tampil di tengah-tengah sejarah Israel.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan yang demikian itulah maka ada di antara para ahli yang menduga, bahwa sebutan יהוה – YHVH (“TUHAN” dalam huruf kapital) bagi Allah itu didasarkan atas ketakjuban Israel kepada segala karya Allah yang besar itu. Kata יהוה – YHVH ada sangkut-pautnya dengan kata-kata אהיה – ‘EHEYEH di dalam Kejadian 3:14 tersebut di atas, yaitu sama-sama diturunkan dari kata-kerja היה – HÂYÂH.

Kata יהוה – YHVH dipandang sebagai diturunkan dari kata seru Yahu, kata yang menunjukkan ketakjuban. Jika dugaan ini benar, maka lebih jelas lagi, bahwa Tuhan Allah memperkenalkan diri atau menyatakan diri kepada Israel dengan karya-karyanya, bukan dengan bisikan ilahi.

Penyataan atau perkenalan Tuhan Allah yang dengan penampakan diri dan mujizat serta dengan firman-Nya itu semua dapat dirangkumkan sebagai penyataan atau perkenalan Tuhan Allah dengan firman-Nya.

Penyataan Tuhan Allah yang dengan penampakan diri (theophani) adalah karya Tuhan Allah di dalam sejarah umat-Nya yang penuh dengan dinamika, di mana Tuhan Allah keluar dari persembunyian-Nya, sehingga Israel yakin, bahwa mereka bertemu dengan Tuhan Allah. Demikian juga halnya dengan penyataan Tuhan Allah yang dengan mujizat. Oleh karena itu maka kedua cara penyataan diri Allah ini dapat dirangkumkan menjadi penyataan Allah yang dengan karya-Nya di dalam sejarah Israel. Dengan demikian ketiga macam cara penyataan Allah tadi dapat dirangkumkan di dalam penyataan Allah yang dengan karya dan firman-Nya.

Kedua penyataan ini pun dapat dirangkumkan menjadi satu, yaitu penyataan yang dengan firman-Nya.

Kata yang dipakai di dalam Perjanjian Lama bagi firman adalah rbd-DBR, dâlet-bêt-rêsy, DÂBAR. Kata dâbar berarti perkataan, akan tetapi bukan perkataan yang kosong. Dâbar adalah perkataan yang telah berisikan latar belakang atau dasar yang terkandung di dalam perkataan itu. (Di tangan manusia sering perkataan tidak cocok dengan isinya, sebagai ilustrasi: A adalah seorang yang jujur, sedang sebenarnya tidaklah demikian). Kata dâbar senantiasa cocok dengan perkara yang diungkapkan di dalam perkataan itu. Oleh karena itu sifat terpenting dari kata dâbar ialah kebenaran.

* 2 Samuel 7:28
LAI TB, Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.
KJV, And now, O Lord GOD, thou art that God, and thy words be true, and thou hast promised this goodness unto thy servant:
Hebrew,
וְעַתָּה ׀ אֲדֹנָי יְהוִה אַתָּה־הוּא הָאֱלֹהִים וּדְבָרֶיךָ יִהְיוּ אֱמֶת וַתְּדַבֵּר אֶל־עַבְדְּךָ אֶת־הַטֹּובָה הַזֹּאת׃
Translit, VE’ATÂH ‘ADONÂY YEHOVÂH (baca ADONÂY YEHOVIH) ‘ATÂH-HÛ’ HÂ’ELOHÏM ÛDEVÂREYKHA YIHYÛ ‘EMET VATEDABÊR ‘EL-’AVDEKHA ‘ET-HATÕVÂH HAZO’T

* Yesaya 55:10-11
55:10 LAI TB, Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
KJV, For as the rain cometh down, and the snow from heaven, and returneth not thither, but watereth the earth, and maketh it bring forth and bud, that it may give seed to the sower, and bread to the eater:
Hebrew,
כִּי כַּאֲשֶׁר יֵרֵד הַגֶּשֶׁם וְהַשֶּׁלֶג מִן־הַשָּׁמַיִם וְשָׁמָּה לֹא יָשׁוּב כִּי אִם־הִרְוָה אֶת־הָאָרֶץ וְהֹולִידָהּ וְהִצְמִיחָהּ וְנָתַן זֶרַע לַזֹּרֵעַ וְלֶחֶם לָאֹכֵל׃
Translit, KÏ KA’ASYER YÊRÊD HAGESYEM VEHASYELEG MIN-HASYÂMAYIM VESYÂMÂH LO’ YÂSYÛV KÏ ‘IM-HIRVÂH ‘ET-HÂ’ÂRETS VEHÕLÏDÂH VEHITSMÏKHÂH VENÂTAN ZERA’ LAZORÊA’ VELEKHEM LÂ’OKHÊL

55:11 LAI TB, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
KJV, So shall my word be that goeth forth out of my mouth: it shall not return unto me void, but it shall accomplish that which I please, and it shall prosper in the thing whereto I sent it.
Hebrew,
כֵּן יִהְיֶה דְבָרִי אֲשֶׁר יֵצֵא מִפִּי לֹא־יָשׁוּב אֵלַי רֵיקָם כִּי אִם־עָשָׂה אֶת־אֲשֶׁר חָפַצְתִּי וְהִצְלִיחַ אֲשֶׁר שְׁלַחְתִּיו׃
Translit, KÊN YIHYEH DEVÂRÏ ‘ASYER YÊTSÊ’ MIPÏ LO’-YÂSYÛV ‘ÊLAY RÊYQÂM KÏ ‘IM-’ÂSÂH ‘ET-’ASYER KHÂFATSTÏ VEHITSLÏAKH ‘ASYER SYELAKHTÏV

Dari ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa firman Tuhan Allah adalah firman yang bekerja, bukan firman yang mati. Sebab di situ disebutkan, bahwa firman Tuhan tidak akan kembali dengan hampa, melainkan akan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Tuhan Allah, seperti hujan dan salju yang turun dari langit tidak akan kembali lagi ke situ, melainkan akan mengairi bumi dan membuatnya subur sehingga memberikan hasil yang diharapkannya.

Selanjutnya, bahwa firman Tuhan Allah adalah firman yang bekerja, bukan firman yang mati, ternyata dari karya penjadian Tuhan Allah. Di Mazmur 33:9, umpamanya disebutkan, “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.”

Sebaliknya Perjanjian Lama juga mengatakan, bahwa pekerjaan Tuhan Allah adalah juga firman-Nya. Pekerjaan atau karya Tuhan Allah dipakai oleh Allah untuk berfirman. Mazmur 19:2-4 umpamanya mengatakan, bahwa langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya dan seterusnya.

Demikianlah dari Perjanjian Lama dapat diambil kesimpulan, bahwa firman Tuhan Allah adalah firman yang bekerja, dan sebaliknya, bahwa pekerjaan atau karya Tuhan Allah adalah pekerjaan yang berbicara. Jadi jika demikian, maka firman Tuhan Allah tidak dapat dibedakan dengan karya-Nya, sedangkan karya Tuhan Allah juga tidak dapat dibedakan dengan firman-Nya. Keduanya adalah sama, dan mewujudkan dua segi dari satu kenyataan. Oleh karena itu, maka alat penyataan atau perkenalan Tuhan Allah, yaitu firman dan karya-Nya, dapat dirangkumkan menjadi penyataan Tuhan Allah yang dengan firman-Nya. Firman Tuhan Allah adalah alat komunikasi Tuhan Allah dengan manusia.

Di dalam Perjanjian Baru ada gagasan yang baru, yaitu bahwa penyataan atau perkenalan Tuhan Allah yang dengan firman-Nya itu diwujudkan di dalam diri Yesus Kristus.

Di Markus 2:2 disebutkan, bahwa Yesus memberitakan firman kepada orang banyak (dapat dibandingkan dengan Lukas 8:1, yang menyebutkan bahwa Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah, juga Lukas 11:28). Di sini Yesus disejajarkan dengan para nabi di dalam Perjanjian Lama, yang memberitakan Firman Tuhan Allah. Sekalipun demikian, jikalau pemberitaan para penulis Injil itu diperhatikan, kesejajaran itu tidaklah persis sama. Ada perbedaan yang besar sekali di antara para nabi di dalam Perjanjian Lama dan Yesus.

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengutus para muridnya menghadap Yesus untuk mengetahui apakah Yesus ini adalah orang yang benar-benar dinantikan Israel, atau apakah bukan, para murid Yohanes diperintahkan memberitakan kepada Yohanes apa yang telah mereka dengar dan lihat. “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” Dari sini dapat diketahui, bahwa kata-kata Yesus tidak sama dengan kata-kata para nabi di Perjanjian Lama. Para nabi memberitakan firman Tuhan Allah yang bekerja, akan tetapi di sini firman Yesus adalah firman yang bekerja sendiri. Firman-Nya telah menyembuhkan para orang sakit dan telah membawa kabar kegirangan, sehingga harus disimpulkan, bahwa para murid Yohanes harus memberitakan kepada Yohanes, bahwa Firman Kristus adalah Firman Allah.

Selain daripada itu, yang perlu diperhatikan di dalam bagian Injil ini ialah, bahwa firman Kristus dapat dilihat dan didengar. Firman itu dapat dilihat di dalam karya-Nya yang menyembuhkan dan dapat didengar di dalam pemberitaan kabar baik kepada yang miskin.

Di Lukas 1:2 Lukas mengatakan, bahwa para rasul menjadi penyaksi mata dan pelayan Firman. Yang disaksikan oleh para rasul adalah karya penyelamatan Kristus dan yang diberitakan adalah karya-Nya itu. Oleh karena itu kata pelayan Firman berarti: pelayan Kristus. Di sini Kristus diidentikkan dengan Firman Allah. Hal yang demikian juga terdapat di Kisah Para Rasul 11:1, “Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.”

Ada bagian Injil yang lebih mendalam lagi membicarakan hal ini, yaitu Yohanes 1.

Di Yohanes 1:1, 14 disebutkan, bahwa Yesus Kristus adalah Firman, yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan Allah adanya, tetapi yang kemudian menjadi manusia. Dengan ini jelaslah bahwa Yesus adalah pengejawantahan firman Allah, dan di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah berfirman kepada manusia. Oleh karena itu apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh Yesus adalah alat-alat Tuhan Allah untuk berfirman kepada manusia. Tuhan Allah berfirman dan menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya melalui Yesus dan di dalam diri-Nya. Maka Yesus Kristus adalah puncak dan akhir penyataan Tuhan Allah kepada manusia.

Hal ini akan menjadi lebih jelas lagi jikalau ditinjau Ibrani 1:3 yang menyebutkan, bahwa Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.

Kata yang diterjemahkan dengan cahaya yaitu apaugasma-apaugasma sebenarnya berarti “cahaya yang disinarkan dari”, sehingga kata itu menunjukkan, bahwa cahaya itu berasal dari sumber cahaya, serta memiliki sifat-sifat serta watak yang sama dengan sumber cahaya tadi. Oleh karena itu maka ungkapan cahaya kemuliaan Allah tadi menunjukkan, bahwa Yesus memiliki kemuliaan yang sama dengan kemuliaan Tuhan Allah. Dan selanjutnya ungkapan ini juga dapat diterangkan bahwa Yesus adalah cermin yang mencerminkan Tuhan Allah.

Kata kedua yang diterjemahkan dengan gambar wujud yaitu kata Yunani carakthr-kharaktêr sebenarnya berarti tindasan, tembusan, cetakan atau cap dari Allah. Dengan ungkapan ini ditentukan, bahwa Yesus menampakkan hakekat Tuhan Allah yang sebenarnya.

Di Ibrani 1:3 ini dengan singkat dikemukakan, bahwa Yesus Kristus adalah alat penyataan Allah yang sempurna atau alat dengannya Tuhan Allah memperkenalkan diri secara sempurna. Oleh karena itu dapat dimengerti, jika Yesus di Yohanes 14:9 berkata, bahwa barangsiapa telah melihat Dia, ia telah melihat Bapa. Sebab di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah memperkenalkan diri kepada manusia secara sempurna. Di dalam diri Yesus itu Tuhan Allah memperkenalkan isi hati-Nya.

Demikianlah Yesus Kristus, sebagai Firman yang pada mulanya ada pada Allah dan bersama-sama dengan Allah, dan yang kemudian menjadi manusia, adalah penyataan Tuhan Allah yang sempurna. Ia adalah penyataan Tuhan Allah dengan firman yang secara kongkrit. Oleh karena itu maka segala penyataan Tuhan Allah, baik yang dengan firman-Nya maupun yang dengan karya-Nya, di dalam diri Yesus menjadi satu secara sempurna.

Sekalipun Yesus Kristus adalah puncak dan akhir penyataan Tuhan Allah, namun hal itu tidak berarti, bahwa Kristus adalah satu-satunya penyataan Tuhan Allah.

Pertama-tama hal ini jelas dari Ibrani 1:1-2, yang menyebutkan, bahwa setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.

Di sini firman Tuhan kepada nenek moyang disebutkan bersama-sama dengan firman Tuhan Allah di dalam Anak-Nya. Jika demikian maka penyataan-penyataan Tuhan Allah sejak zaman nenek-yoyang hingga zaman Yesus dipandang sebagai suatu rentetan kejadian-kejadian yang terjadi di dalam suatu sejarah yang panjang, dengan cara yang bermacam-macam, dan yang menyatakan hal yang bermacam-macam juga. Jadi penyataan Tuhan Allah sebenarnya adalah pluriform atau beranekaragam, sedang Yesus adalah puncak dan akhir segala penyataan yang pluriform itu.

Jikalau Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya, Ia tidak memperkenalkan diri-Nya sepenuhnya atau secara sempurna pada saat itu. Penyataan-Nya atau perkenalan-Nya setiap waktu diselaraskan dengan keadaan orang yang menerima penyataan tadi. Bukankah penyataan Tuhan Allah itu dikaitkan dengan janji-janji-Nya? Umpamanya, setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai Pembalas Hukum dan sebagai Pengasih. Kepada Abraham Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya sebagai yang Mahakuasa, yang dapat memberikan anak kepada Abraham, meski Sarai disebutkan mandul. Di Horeb Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai Tuhan Allah perjanjian. Demikian seterusnya.

Penyataan-penyataan Tuhan Allah kepada para nenek-moyang tadi oleh Alkitab jelas dipandang sebagai penyataan yang benar-benar nyata. Menurut Yesaya 1:3 dan Yeremia 2:3 umpamanya, dosa bangsa Israel ialah bahwa bangsa itu tidak mau mengakui adanya penyataan Tuhan Allah kepada nenek-moyang mereka.

Bahwa Tuhan Allah bukan hanya menyatakan diri di dalam Kristus saja, selanjutnya dapat diuraikan sebagai berikut:

Dari Alkitab diketahui, bahwa segera Israel mengenal Tuhan Allahnya sebagai “Allah yang berbuat”, yang dengan nyata bertindak di dalam sejarah, maka segera terdengarlah pemberitaan, bahwa Tuhan Allah yang “Mahakuasa di dalam sejarah” itu adalah juga Tuhan Allah yang “Mahakuasa di dalam alam semesta”. Dialah yang menggempakan bumi dan menghancurkan bukit-bukit, bahkan Dialah yang menjadikan itu semuanya.

Di Yeremia 27 disebutkan, bahwa pada waktu itu datanglah utusan dari beberapa negara tetangga di Yerusalem untuk meminta kepada Yehuda, agar mau menggabungkan diri dengan para raja tetangga tadi untuk memberontak terhadap Babel. Sebagian besar rakyat Yehuda menyambut ajakan itu dengan girang. Akan tetapi raja Zedekia ragu-ragu. Dengan suatu tindakan yang simbolis Yeremia diperintahkan oleh Tuhan Allah untuk memberitakan, bahwa Yehuda harus menyerah kepaa Babel. Pemberitaan yang demikian itu disertai ucapan yang demikian, “Akulah yang menjadikan bumi, manusia dan hewan yang ada di atas bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan dengan lengan-Ku yang terentang, dan Aku memberikannya kepada orang yang benar di mata-Ku.”

Firman ini bermaksud menunjukkan, bahwa Tuhan Allah yang Mahakuasa, yang menjadikan langit dan bumi serta segala isinya itu telah memberikan kekuasaan atas dunia kepada Babel. Oleh karena itu suatu pemberontakan terhadap Babel akan membawa kecelakaan kepada Yehuda. Di sini kemahakuasaan Tuhan Allah di dalam sejarah dikembalikan kepada dasar, bahwa Tuhan Allahlah yang menjadikan segala sesuatu. Tindakan Tuhan Allah yang Mahakuasa di dalam sejarah tadi dikatakan sebagai berlandaskan kepada kemahakuasaan-Nya sebagai Al-khalik, dan hal itu terjadi dengan secara erat sekali. Memang, menurut Perjanjian Lama bentuk sejarah, yaitu karya Tuhan Allah di dalam sejarah, adalah karya-Nya yang sama dengan menjadikan. Kata yang dipergunakan untuk mengungkapkan karya Tuhan Allah di dalam sejarah adalah sama dengan kata yang dipergunakan untuk mengucapkan penjadian, yaitu kata arb-bârâ’.

Kata ברא – BÂRÂ’ kecuali dipergunakan untuk menyebutkan karya penjadian, juga dipergunakan untuk mengungkapkan mujizat-mujizat Tuhan Allah.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa Tuhan Allah bukanlah hanya menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan perantaraan karya-Nya yang ditujukan kepada penyelamatan umat Israel, akan tetapi Ia juga memperkenalkan diri-Nya dengan perantaraan karya-Nya di dalam alam semesta. Oleh karena itu segera setelah Israel mengenal Tuhan Allahnya dengan perantaraan firman dan karya-Nya yang ditujukan kepadanya, maka terbukalah mata Israel, dan dapatlah ia melihat Tuhan Allahnya di dalam segala karya-Nya. Alam semesta, yang semula seolah-olah bisa, sekarang dapat berbicara. Itulah sebabnya juru Mazmur dapat berkata, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Demikian juga Mazmur 19 dapat mengatakan, bahwa langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.

Para juru Mazmur di sini tidak melihat adanya ketegangan di antara karya Tuhan Allah di dalam alam semesta dan karya-Nya di dalam penyelamatan.

Bukan hanya alam semesta “sebagai hasil karya tangan Allah” saja yang menyatakan atau memperkenalkan Tuhan Allah kepada manusia, melainkan juga “karya Allah untuk memelihara” alam semesta itu. Mazmur 33 mengajak kita untuk memuji Tuhan Allah, karena kesetiaan-Nya terhadap segala perbuatan tangan-Nya. Bumi telah dipenuhi dengan kemurahan Allah. Tuhan bukan hanya menjadikan alam semesta, akan tetapi Dia jugalah yang memeliharanya. Dialah yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi dan yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput, dan seterusnya.

Berdasarkan hal itu semua, maka Rasul Paulus di Roma 1:19-12 dapat mengatakan, bahwa apa yang dapat diketahui manusia tentang Allah telah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka sehingga apa yang tidak nampak dari-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia dijadikan. Akan tetapi hal ini bukan berarti, bahwa segala manusia dengan akalnya dapat mengenal Tuhan Allah, seperti yang diajarkan oleh Plato, yaitu dengan mempelajari alam semesta. Kata yang diterjemahkan dengan karya-Nya di dalam ayat 20 ialah poihma-poiêma, yang kiranya lebih tepat diterjemahkan dengan hal-hal yang dikerjakan, yaitu karya Tuhan Allah atau perbuatan-perbuatan-Nya di dalam sejarah, yang setiap waktu dihadapi oleh manusia. Dengan perbuatan-perbuatan Tuhan Allah di dalam sejarah inilah manusia sejak semula dan setiap saat dikonfrontasikan dengan Tuhan Allah.

Demikianlah dapat disimpulkan, bahwa ada sejarah penyataan Tuhan Allah yang menuju kepada puncak penyataan tadi, yaitu Yesus Kristus, dan ada penyataan Tuhan Allah yang melalui hasil karya-Nya di dalam alam semesta dan di dalam pemeliharaan serta pemerintah-Nya terhadap dunia. Maka kiranya tidaklah benar, jika penyataan Tuhan Allah hanya dipandang sebagai terjadi pada diri Yesus Kristus semata-mata.

Telah diuraikan, bahwa Tuhan Allah menyatakan diri-Nya dengan firman dan karya-Nya guna menyelamatkan umat manusia, dan bahwa penyataan ini dapat dirangkumkan di dalam penyataan dengan firman-Nya, yang berpuncak pada diri Kristus. Di samping itu masih ada penyataan Tuhan Allah dengan hasil karya-Nya di dalam alam semesta, baik dalam alam semesta itu sendiri, maupun di dalam segala kejadian yang terjadi di dalam alam semesta, dan bahwa penyataan ini hanya dapat dilihat dan dimengerti oleh umat Allah, yang telah mengenal Allah sebagai Allahnya.
Penyataan dua macam ini biasanya disebut penyataan yang khusus dan penyataan yang umum.

Yang dimaksud dengan penyataan yang khusus ialah penyataan yang diberikan Tuhan Allah dengan firman dan karya-Nya, yang berpusat pada Kristus. Penyataan ini disebut khusus, karena hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman saja. Penyataan ini dapat menyelamatkan manusia.

Yang dimaksud dengan penyataan yang umum ialah penyataan Tuhan Allah yang dengan perantaraan firman dan karya-Nya di dalam alam semesta, di dalam sejarah dan juga di dalam hati sanubari manusia. Penyataan ini disebut umum, karena diperuntukkan bagi manusia pada umumnya, tanpa terkecuali. Penyataan ini tidak dapat menyelamatkan manusia.

  • Teologia Naturalis

Istilah khusus dan umum menunjukkan, bahwa pembedaan penyataan Allah itu ditentukan oleh mereka yang menjadi sasaran atau obyek penyataan itu, artinya: pembedaan penyataan itu disesuaikan dengan mereka yang diberi penyataan. Cara membeda-bedakan penyataan yang demikian itu di dalam sejarah ternyata telah dapat menimbulkan salah faham yang besar sekali. Sering ada tuduhan seolah-olah ajaran tentang penyataan yang umum itu mengajarkan bahwa manusia dengan akalnya sendiri dapat mengenal Tuhan Allah seperti yang biasanya disebut theologia naturalis.

Oleh karena itu barangkali lebih baik mengadakan pembedaan penyataan tadi bukan menurut sasaran yang menerima penyataan, melainkan menurut sifat penyataan itu sendiri. Di dalam uraian ini akan dicoba mengadakan pembedaan yang menurut sifat penyataan itu. Oleh karena itu di sini dibedakan antara penyataan yang langsung, yaitu penyataan yang secara langsung diberikan oleh Tuhan Allah kepada manusia dengan perantaraan firman dan karya-Nya yang berpusat kepada Kristus, dan penyataan yang tidak langsung, yaitu penyataan yang diberikan oleh Tuhan Allah dengan firman dan karya-Nya, akan tetapi yang dengan melalui alam semesta sebagai buah karya-Nya. Penyataan ini disebut tidak langsung, sebab datangnya kepada manusia secara tidak langsung seperti yang terjadi pada penyataan yang pertama tadi.

Keberatan yang lain terhadap istilah umum dan khusus ialah, bahwa Yesus Kristus, sebagai puncak penyataan dengan firman dan karya Allah, bukan dimaksudkan hanya untuk mereka yang terpilih semata-mata, melainkan untuk seluruh dunia. Bukanlah dalam Matius 28:18-20 Yesus memerintahkan supaya Injil atau berita kegirangan diberitakan kepada segala bangsa? Oleh karena itulah maka para rasul setelah menerima Roh Kudus diperintahkan untuk menjadi saksi, bukan hanya di Yerusalem atau di seluruh tanah Yudea dan Samaria saja, melainkan hingga sampai di ujung bumi. Demikian juga dalam 1 Timotius 2:4 disebutkan, bahwa Tuhan Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Apalagi dalam 1 Yohanes 2:2 dikatakan, bahwa Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Hal ini disebabkan karena Tuhan Allah telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.

Demikianlah ada keberatan-keberatan yang asasi untuk mengatakan bahwa penyataan yang khusus tadi hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang terpilih saja.

Telah diuraikan sebelumnya bahwa penyataan yang tidak langsung ialah penyataan Tuhan Allah yang diberikan dengan karya-Nya di dalam alam semesta dan di dalam karya pemeliharaan-Nya atau di dalam sejarah.

Penyataan Tuhan Allah ini bersuara terus, artinya Tuhan Allah di sepanjang sejarah umat manusia, sejak dahulu kala terus-menerus menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya dengan karya-Nya di dalam alam dan di dalam sejarah.
Yang menjadi persoalan ialah, apakah karena itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang kafir mengenal Tuhan Allah?

Dalam Roma 1:19 disebutkan, “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.” Ayat ini seolah-olah menegaskan, bahwa orang kafir memang mengenal Tuhan Allah.

Agar supaya kita dapat menempatkan ayat ini pada tempatnya yang sewajarnya, perlulah kita menyelidiki ayat-ayat yang lain terlebih dahulu:

1 Korintus 1:21 mengatakan, bahwa dunia (yaitu manusia yang dikuasai dosa) tidak mengenal Allah oleh hikmatnya sendiri, sedang Galatia 4:8 mengatakan, bahwa orang-orang Galatia dahulu, sebelum percaya, mereka tidak mengenal Allah dan memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. Selain daripada itu 1 Tesalonika 4:5 juga mengatakan, bahwa Tuhan Allah menghendaki orang-orang Kristen di Tesalonika hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, yaitu para orang kafir. Masih ada ayat-ayat lainnya yang mengemukakan hal ini, akan tetapi kiranya cukuplah untuk, berdasarkan ayat-ayat tersebut, mengatakan, bahwa menurut Alkitab orang kafir tidak mengenal Allah.

Apakah kiranya Roma 1:19 itu bertentangan dengan kesaksian bagian-bagian lain dari Alkitab tadi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menyelidiki apa artinya mengenal Tuhan Allah, dan apa yang dimaksud, jika dikatakan bahwa orang kafir tidak mengenal Tuhan Allah.

Menurut Yohanes 16:3, mengenal Allah berarti memiliki hidup yang kekal, yaitu berada di dalam persekutuan dengan Allah. Sebab di situ dikatakan oleh Yesus, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Jikalau kita tinjau di dalam terang ini, kita harus mengatakan, bahwa suasana yang meliputi seluruh Roma 1 tidaklah suasana hidup kekal seperti yang dikatakan oleh Yesus, bahkan, bahwa seluruh orang kafir tidak mengenal Allah itu juga terdapat dalam seluruh Roma 1 tadi.

Roma 1:18 menyebutkan, bahwa murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia. Jadi tiada persekutuan yang menyelamatkan antara Allah dan para orang fasik dan lalim. Juga Roma 1:22 menyebutkan, bahwa para orang itu sekalipun berbuat seolah-olah penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh, dengan menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, dan sebagainya. Selanjutnya Roma 1:24 mengungkapkan, bahwa Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Dan akhirnya Roma 1:28 mengatakan, bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas.

Semua ayat-ayat itu menunjukkan, bahwa murka Allah telah dicurahkan kepada mereka, sehingga dapat disimpulkan, bahwa Roma 1 juga mengajarkan, bahwa orang kafir tidak mengenal Allah, sehingga tidak ada persekutuan di antara mereka dan Allah.

Roma 1:19 yang dipersoalkan tadi ditempatkan di tengah-tengah suasana yang demikian itu. Maka jika di situ disebutkan, bahwa apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, maka arti ungkapan itu tentu tidak sama dengan yang dimaksudkan di dalam Alkitab sebagai keseluruhan tentang hal pengenalan tentang Allah itu.

Rahasia keadaan orang kafir ini dapat disingkapkan dengan meneliti Roma 1:18, ayat yang mendahului Roma 1:19, yang menybutkan, bahwa orang-orang itu “menindas kebenaran dengan kelaliman.”

Kata yang diterjemahkan dengan menindas adalah κατεχω – katekhô, yang secara harafiah berarti: menawan, memegang dengan kokoh, menekan ke bawah, menindas. Selanjutnya, kata yang diterjemahkan dengan kelaliman adalah en adikia-en adikia, yang lebih tepat diterjemahkan dengan di dalam kelaliman.

Jadi bagian ayat ini mengandung gagasan: menawan atau menekan ke bawah, menindas di dalam kelaliman. Adapun yang ditawan atau ditindas dan ditekan ke bawah ialah kebenaran. Dengan demikian keadaan orang kafir dapat disimpulkan demikian: Di dalam hidupnya sehari-hari Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada mereka itu, yaitu dengan perbuatan-perbuatan atau karya-karya-Nya di dalam sejarah hidup mereka. Akan tetapi kebenaran Allah ini ditawan, ditindas, ditekan ke bawah ke dalam kelaliman, sehingga kebenaran Allah tadi tidak tampak lagi, sedang yang tampak adalah kelaliman. (Ingat kepada apa yang disebut kompleks harga kurang di dalam ilmu jiwa). Manusia tidak mau mengakui kebenaran, bahwa Allah menyapa mereka dengan karya-karya-Nya. Mereka memilih kelaliman. Sungguhpun mereka itu mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya, sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

Gagasan yang tercantum di dalam bagian Alkitab ini ialah, bahwa ditimbuskannya atau ditekannya ke bawah pengetahuan tadi terjadi dengan tidak sadar, tetapi sekaligus, bersamaan dengan saat pengetahuan tadi diterimanya. Pada saat mereka menerima penyataan atau perkenalan atau sapaan Allah, pada saat itu jugalah penyataan itu ditindas. Kebenaran Allah ditindas di dalam kelaliman. Kata di dalam ini menunjukkan suasana atau iklim penindasan tadi. Oleh karena kebenaran Allah ditindas ke dalam kelaliman, maka yang timbul atau tampak adalah kelaliman, yaitu dalam bentuk penyembahan kepada patung-patung manusia atau binatang-binatang dan sebagainya.

Demikianlah orang kafir memang menerima penyataan Tuhan Allah, artinya Tuhan Allah terus-menerus menyapa mereka dengan karya-Nya yang besar, dengan kemurahan-Nya dan sebagainya. Akan tetapi orang kafir tidak mengenal Tuhan Allah yang sejati. Penyataan Tuhan Allah yang tidak langsung tadi bersuara terus, akan tetapi penyataan itu ditindas oleh manusia dan diganti dengan kedustaan dan kelaliman.

Gereja Roma Katolik mengajarkan apa yang disebut teologia naturalis atau teologia kodrati atau teologia alamiah. Yang dimaksud dengan teologia naturalis ialah, bahwa pengetahuan tentang Allah dapat diperoleh dengan menggunakan akal manusia.

Dasar ajaran itu adalah demikian: sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, ia memiliki dua hal, yaitu keadaan yang kodrati, atau keadaan manusia sebagai makhluk dengan hukum-hukum kodratnya, dan keadaan yang adikodrati, yang melebihi keadaannya yang kodrati itu. Sebagai makhluk yang kodrati, manusia adalah makhluk yang lengkap, yang memiliki akal dan kesusilaan.

Sebagai makhluk yang adikodrati, manusia menjadi gambar yang serupa dengan Allah, yang menjadikan manusia dapat mengenal Allah secara mendalam. Akan tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ia kehilangan gambar Allah, yaitu kehilangan alatnya untuk mengenal Allah secara mendalam. Oleh karena itu manusia tidak lagi dapat mengenal Allah secara mendalam. Sekalipun demikian, keadaan kodrat manusia masih utuh. Dengan akalnya manusia masih dapat mengenal Allah sekalipun pengenalan itu tidak secara mendalam.

Jalan yang dilalui akal untuk mendapatkan pengetahuan akan Tuhan Allah ialah:

1. Jalan causalitas, yaitu jalan dengan mencari sebab-sebab segala sesuatu. Dengan jalan itu akhirnya akal akan sampai kepada sebab yang pertama. Adapun sebab pertama itu adalah Tuhan Allah.

2. Jalan negationis, jalan penyangkalan, yang dengannya akal manusia akan sampai kepada pengetahuan, bahwa Tuhan Allah tidak sama dengan para makhluk.

3. Jalan eminentiae, yaitu jalan melalui hal-hal yang tampak menonjol, yang menjadikan akal manusia akan sampai kepada pengetahuan, bahwa Tuhan Allah jauh lebih tinggi daripada para makhluk.

Pengetahuan tentang Tuhan Allah yang bersifat kodrati ini tidak memerlukan penyataan Tuhan Allah. Sebab dengan terang yang ada pada akal manusia, orang dapat mengenal Tuhan Allah.
Ajaran teologia naturalis ini jelas tidak cocok dengan apa yang disebut penyataan Tuhan Allah yang tidak langsung.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, puncak penyataan atau perkenalan Allah yang secara langsung adalah Yesus Kristus, yaitu firman yang telah menjadi manusia.

Apa isi penyataan Tuhan Allah yang langsung itu? Apakah yang diperkenalkan Allah kepada manusia secara langsung? Sudah tentu keadaan atau hakekat-Nya sendiri. Hakekat Tuhan Allah itu diperkenalkan dengan cara yang bermacam-macam, yang semuanya melukiskan hakekat ilahi dalam segala seginya. Hakekat Allah itu diungkapkan di dalam segala firman dan karya-Nya, baik yang di dalam Perjanjian Lama, maupun yang di dalam Perjanjian Baru yang terjadi di dalam diri Yesus Kristus, sebagai puncak penyataan Allah.

Jadi, umpamanya bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Maha Kuasa, yang terbukti dari karya pembebasan-Nya yang dilakukan terhadap Israel, atau bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Maha Murah, yang terbukti dari karya pemeliharaan-Nya terhadap Israel selama mengembara di padang guruh pasir, atau bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang Maha Kudus, yang terbukti dari karya penghukuman-Nya terhadap segala dosa Israel, dan lain sebagainya, semuanya itu menonjolkan keadaan atau hakekat Tuhan Allah. Dengan segala karya-Nya itu Tuhan Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri. “Akulah yang hadir berbuat.” “Jikalau kamu ingin tahu siapa aku, lihatlah segala perbuatan-Ku.”

Segala pengungkapan hakekat Allah yang dengan firman dan karya-Nya itu dapat dirangkumkan dalam satu ungkapan, bahwa dengan semuanya itu Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan kasih-Nya. Dengan semuanya itu Tuhan Allah bermaksud untuk memperkenalkan diri-Nya sebagai yang mengasihi umat-Nya. Oleh karena itu tepatlah, jikalau rasul Yohanes di Yohanes 4:8 merangkumkan hakekat Allah sebagai kasih. Ia berkata, “Allah adalah kasih.”

Adapun menurut Yohanes, kasih itu dinyatakan demikian, bahwa Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup oleh-Nya. Jadi intisari hakekat Tuhan Allah, yang diperkenalkan kepada manusia adalah kasih-Nya kepada manusia itu. Puncak serta pengungkapan kasih Allah terletak pada pengutusan Anak-Nya ke dalam dunia. Bukankah di dalam Kristus itu Tuhan Allah sudah mendamaikan isi dunia dengan diri-Nya sendiri?

Demikianlah penyataan Tuhan Allah yang langsung itu memuncak di dalam firman yang menjadi manusia.

Telah diuraikan sebelumnya, bahwa Tuhan Allah menyatakan diri-Nya kepada Israel dengan firman dan karya-Nya di dalam sejarah atau di dalam firman dan karya-Nya yang membuat sejarah. Juga telah dikemukakan, bahwa penyataan Tuhan Allah pada hakekatnya adalah penyataan kasih-Nya, yang dengannya Tuhan Allah telah mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri.

Oleh karena segala penyataan atau perkenalan itu terjadi di dalam sejarah, maka kita menyaksikan Tuhan Allah beraksi, berbuat, berkarya di dalam sejarah Israel dengan karya-karya-Nya yang besar dan menakjubkan, yang menjadikan Israel berseru, “Yahu!” Karya-karya Tuhan Allah yang besar dan menakjubkan itu umpamanya: pengeluaran Israel dari Mesir, penawanan Israel di Babel serta pengeluarannya dari Babel. Kita juga menyaksikan karya Tuhan Allah yang melalui segala perbuatan Kristus, sengsara dan wafat-Nya serta kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga.

Sebagai kejadian-kejadian yang menjadi sejarah, maka segala kejadian yang besar dan menakjubkan itu hanya terjadi sekali dan tidak akan diulangi lagi. Padahal penyataan Tuhan Allah bukanlah hanya diperuntukkan bagi mereka, yang hidup pada waktu kejadian-kejadian yang besar dan menakjubkan itu terjadi. Tuhan Allah adalah Allah yang hidup, sejak dahulu hingga sekarang, dan sampai selama-lamanya. Oleh karena itu penyataan-Nya bukanlah hal yang mati, tetapi yang hidup. Tuhan Allah terus bekerja di dalam sejarah sejak dahulu hingga kini, dan sampai selama-lamanya, untuk mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri. Maka penyataan Tuhan Allah tadi diperuntukkan bagi segala bangsa di segala zaman dan tempat.

Demi keselamatan seluruh umat manusia di segala zaman dan tempat itu penyataan Tuhan Allah harus diteruskan dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain. Seandainya itu hanya diteruskan secara lisan di sepanjang sejarah umat manusia, tentu penyataan itu dapat ditambah atau dikurangi oleh manusia yang meneruskannya. Maka, perlulah penyataan Tuhan Allah yang hanya terjadi sekali untuk selama-lamanya itu dibukukan.

Dengan dibukukannya itu kesaksian menjadi tetap, sehingga terjagalah kemurnian penyataan Tuhan Allah. Itulah sebabnya, maka dalam Perjanjian Lama, sementara Tuhan Allah masih melaksanakan karya-karya-Nya yang besar dan menakjubkan untuk membuktikan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya, telah terdengar perintah Tuhan Allah untuk menulis penyataan-Nya. Dalam Keluaran 17:14 Musa diperintahkan untuk menuliskan “perang Israel dengan Amalek” dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan. Dalam Keluaran 24:3-7 disebutkan tentang adanya sebuah “kitab perjanjian” yang ditulis atas perintah Tuhan Allah sendiri. Demikianlah seterusnya.

Demikianlah orang-orang yang menyaksikan bagaimana Tuhan Allah memperkenalkan kasih-Nya kepada mereka, baik pada waktu girang, maupun pada waktu susah, diwajibkan meneruskan berita tentang karya Tuhan Allah itu kepada orang lain serta kepada keturunan yang berikutnya. Dan inilah yang menjadi dasar pembukuan firman Tuhan, sebagai kesaksian tentang apa yang telah difirmankan oleh Tuhan Allah demi keselamatan umat manusia.

 

 

  • Pernyataan Allah

Selanjutnya dapat dikemukakan, bahwa pembukuan penyataan Tuhan Allah itu menjadikan kita, orang-orang yang hidup setelah zaman Yesus dapat bersekutu dengan Tuhan Allah. Hal ini diutarakan oleh rasul Yohanes di 1 Yohanes 1:1-3. Gagasan yang terkandung di dalam bagian Alkitab ini adalah sebagai berikut:

Tuhan Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Firman yang menjadi manusia. Rasul Yohanes telah menyaksikan hal itu dengan matanya sendiri. Ia percaya kepada penyataan Tuhan Allah di dalam Firman-Nya yang menjadi manusia itu. Dengan demikian Yohanes mengamini penyataan Allah itu, yang menjadikan dia memperoleh persekutuan dengan Allah Bapa di dalam Kristus.

Sekarang Yohanes menyaksikan penyataan Allah di dalam Kristus itu kepada mereka yang dikirimi suratnya. Jika mereka percaya kepada kesaksian Yohanes itu, mereka tidak menganggap Yohanes sebagai penipu. Hal ini berarti bahwa ada persekutuan antara Yohanes sebagai penyaksi mata dengan mereka itu. Percaya kepada kesaksian Yohanes sebagai kesaksian yang benar berarti, bahwa mereka percaya kepada Yesus Kristus sebagai penyataan Tuhan Allah untuk mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri. Dengan demikian maka orang-orang itu bersekutu dengan Kristus, yang menjadikan mereka juga didamaikan dengan Tuhan Allah. Demikianlah penyaksian penyataan Tuhan Allah tadi menjadikan orang lain dapat bersekutu dengan Tuhan Allah sendiri.

Akhirnya kita dapat mengatakan, bahwa pembukuan penyataan Tuhan Allah itu bermaksud agar supaya “kita, orang-orang yang hidup sesudah zaman Yesus Kristus, dapat percaya”, bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, dan oleh karenanya mendapat hidup yang kekal.

Itulah sebabnya maka segera setelah Kristus naik ke surga kita menyaksikan para rasul menuliskan penyataan Allah yang disaksikan di dalam diri Yesus Kristus, dengan maksud agar supaya kita dapat mengetahui kebenaran Kristus.

Bagaimanakah pelaksanaan pembukuan penyataan Tuhan itu? Soal ini dapat dijelaskan demikian: Dalam 2 Timotius 3:16 disebutkan, bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Di sini disebutkan adanya tulisan yang diilhamkan Allah yang bermanfaat untuk mengajar, dan sebagainya. Di sini tidak dibedakan antara wahyu dan ilhame, seperti yang diajarkan oleh para ulama Islam. Karena pengertian tentang hal itu memang berlainan sekali.

Kata yang diterjemahkan dengan diilhamkan adalah θεοπνευστος – theopneustos, yang secara harfiah berarti: dihembus, dimasuki angin atau nafas Allah. Maka ungkapan “tulisan yang diilhamkan” berarti tulisan yang ke dalamnya dihembuskan atau ditiupkan nafas atau roh Allah.

Bagaimana ungkapan ini harus diartikan? Untuk menjelaskan hal itu kita akan berpangkal dari beberapa ayat lain:

Matius 1:22 mengatakan, bahwa Maria melahirkan Yesus itu supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi, yaitu apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam Yesaya 7:14.

Matius 2:15 mengatakan, bahwa Yesus harus dibawa ke Mesir itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi, yaitu apa yang tercantum di Hosea 11:1. Demikian masih ada ayat-ayat lainnya yang senada dengan ayat-ayat ini. Di dalam ayat-ayat ini disebutkan, bahwa Tuhan Allah berfirman oleh nabi, atau jikalau dikatakan secara harafiah “dengan melalui nabi”, sebab kata aslinya berbunyi δια του προφητου – dia tou prophètou. Pokoknya Tuhan Allah berfirman dengan memakai mulut nabi sebagai perantara.

Hal yang demikian bukan hanya berlaku bagi apa yang diucapkan oleh nabi, yaitu pemberitaan dengan lisan, melainkan juga berlaku bagi apa yang ditulisnya, yaitu pemberitaan dengan tertulis.

Ayat lain yang harus diperhatikan adalah 2 Petrus 1:21, yang mengatakan, bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Menurut ayat ini para nabi yang dipakai oleh Tuhan Allah untuk menubuatkan kehendak-Nya itu didorong oleh Roh Kudus. Pendorongan ini harus dibedakan dengan “pimpinan” Roh Kudus, yang disebutkan di Roma 8:14, yang diberikan kepada segala orang beriman. Didorong oleh Roh Kudus di sini menunjuk kepada suatu tindakan Roh Kudus yang secara khusus.

Dua hal yang tampak jelas dari bahan-bahan tersebut di atas, yaitu:

1. Bahwa Tuhan Allahlah yang berfirman. Maka Dialah yang memiliki gagasan.
2. Bahwa manusia (yaitu para nabi atau rasul atau orang lain) berkata-kata atau menulis, karena didorong oleh Roh Kudus.

Yang menjadi persoalan selanjutnya ialah bagaimana kerja-sama antara Roh Kudus dan manusia itu? Apakah di dalam soal pengilhaman ini manusia hanya pasif saja, hanya berfungsi sebagai mesin, atau apakah manusia di sini juga aktif, bekerja sendiri, dan sebagainya?

Usaha-usaha yang telah pernah dikemukakan sebagai pemecahan persoalan ini ada bermacam-macam, yaitu umpamanya:
Pengilhaman yang mekanis

Yang dimaksud dengan pengilhaman yang mekanis ialah bahwa manusia di dalam pengilhaman tadi hanya berfungsi sebagai mekanik atau mesin. Segala inisiatif dan keaktifan-pokok ada pada Tuhan Allah. Pandangan seperti ini umpamanya dikemukakan oleh para orang Kristen yang berpendirian, bahwa Alkitab diilhamkan secara harafiah, kata demi kata. Tiap kata dan ungkapan dianggap sebagai diilhamkan atau dihembuskan oleh Allah, atau dibisikkan oleh Allah. Oleh karena itu Alkitab harus diterima seperti apa adanya, tidak boleh diubah sama sekali.

Pada agama lain pandangan yang demikian terdapat di dalam agama Hindu, yang mengajarkan, bahwa mantera-mantera di dalam Kitab Weda dan juga isi kitab-kitab Brahmana dan Upanisad diterima sebagai dibisikkan oleh dewa yang tertinggi dengan perantaraan para resi, para Brahmana dan para Guru.

Demikian juga pengilhaman yang mekanis ini diajarkan oleh para ulama Islam. Bagi agama Islam, Firman Tuhan sebagai Kitab adalah kekal. Firman itu secara kekal tertulis di dalam lawh al mahfuz. Oleh malaikat Jibril, firman itu pada waktunya diturunkan kepada nabi atau rasul, di antaranya yang terakhir kepada Nabi Muhammad SAW. Sang nabi mengucapkan firman itu, yang dicatat oleh yang mendengarnya, dan akhirnya dikumpulkan di dalam Al~Qur’an. Oleh karenanya bunyi Al~Qur’an sama dengan firman yang tertulis di dalam lawh al mahfuz tadi.

Menurut pandangan para ahli Alkitab pengilhaman mekanis ini tidak mungkin diterapkan kepada alkitab, sebab:
1. Lukas 1:3 menunjukkan, bahwa Lukas menyurat Injilnya yang ditujukan kepada Teofilus itu setelah ia menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya. Jadi Injil Lukas tidak dibisikkan oleh Roh Kudus, melainkan hasil penyelidikan yang seksama.

2. Apa yang dibisikkan atau didiktekan tentu memberikan hasil yang sama, baik yang mengenai bahasa, maupun gagasan, dan sebagainya. Padahal di dalam Alkitab terang, bahwa masing-masing penulis memiliki gayanya sendiri-sendiri. Umpamanya: cara menulis Matius lain dengan cara menulis Lukas atau Markus atau Yohanes. Bahasa mereka juga berlainan sekali.

3. Dari Alkitab terang juga bahwa bakat para penulis juga dipergunakan. Umpamanya: Daud sebagai penyair, lain caranya menyaksikan pertemuannya dengan Tuhan Allah dibanding dengan Musa atau Paulus.

Dari sini teranglah bahwa para penulis Alkitab tidak hanya berfungsi sebagai corong atau sebagai mesin saja. Sebab mereka mengadakan penyelidikan sendiri, menentukan maksudnya sendiri dan memilih caranya sendiri di dalam pekerjaan menyaksikan penyataan Tuhan Allah yang hidup itu.

Pengilhaman yang negatif atau pasif

Pandangan ini mengajarkan, bahwa para penulis Alkitab dijaga oleh Roh Kudus jangan sampai tersesat. Jadi yang diilhami adalah para penulisnya. Mereka dibantu oleh Roh Kudus, sehingga apa yang diucapkan atau ditulis sesuai dengan kehendak Tuhan Allah. Pandangan ini umpamanya dahulu diikuti oleh Gereja Roma Katolik.

Juga pandangan ini tidak sesuai dengan gagasan yang tercantum di dalam Alkitab. Sebab di sini dengan jelas disebutkan, bahwa yang diilhamkan adalah tulisan-tulisannya atau Alkitabnya, bukan penulisnya.
Pengilhaman yang dinamis

Menurut pandangan ini hati para penulis diperbaharui oleh Tuhan Allah, sehingga pengilhaman identik dengan kelahiran kedua kali. Pengilhaman ialah kecakapan yang diberikan oleh Roh Kudus di dalam jabatan sebagai penulis. Makin dekat penulis dengan Kristus, makin dapat dipercaya hasil penulisannya. Oleh karena itu maka tulisan para rasul dianggap sebagai lebih dapat dipercaya daripada tulisan para murid rasul atau tulisan orang-orang setelah zaman para rasul. Matius dan Yohanes umpamanya lebih dapat dipercaya daripada Markus dan Lukas. Demikian seterusnya. Jadi kewibawaan Alkitab tergantung dari penulisnya.

Pandangan ini dikemukakan oleh F. Schleiermacher.

Menurut para ahli Alkitab, pandangan yang demikian ini juga tidak sesuai dengan gagasan Alkitab sendiri. Sebab Alkitab menunjukkan, bahwa ada juga orang-orang, yang sekalipun tidak tergolong orang beriman, namun dipergunakan juga oleh Tuhan Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Kita ingat akan Bileam, yang memberitakan kehendak Tuhan Allah, dan Kayafas, yang memberitakan tentang perlunya Yesus mati bagi umat Allah.

Pengilhaman yang organis

Pandangan inilah yang sesuai dengan pemberitaan Alkitab.
Kata organ tidak memberi pengertian yang khas, sebab kata ini hanya berarti alat. Jadi dengan istilah ini hanya diungkapkan bahwa di dalam pengilhaman itu Tuhan Allah memakai manusia sebagai alat-Nya. Oleh karena itu ungkapan ini agaknya belum menjamin kemurnian artinya. Sebab ada orang-orang, yang sekalipun mengatakan bahwa Alkitab diilhamkan secara organis, namun dalam prakteknya memegang teguh kepada pengilhaman yang mekanis, karena tidak berani meninggalkan penafsiran yang fundamentalistis.

Untuk mendekati arti ungkapan organis itu kita akan berpangkal dari Kisah Para Rasul 9:15, di mana Yesus memerintahkan kepada Ananias supaya pergi mengunjungi Saulus di tempat ia untuk sementara berada, dengan alasan, bahwa Saulus adalah alat pilihan Kristus untuk memberitakan nama-Nya kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Di sini Saulus, yang kemudian bernama Paulus, disebut alat pilihan Kristus “untuk memberitakan nama-Nya” atau untuk memberitakan Injil atau firman Allah.

Karena menjadi alat pilihan Kristus itulah kita menyaksikan bagaimana Paulus di seluruh Kisah Para Rasul menjelajah Asia Kecil dan Yunani, bahkan hingga di Roma (dan mungkin juga di Spanyol) untuk memberitakan Injil. Hal itu semula dilakukan dengan secara lisan, tetapi kemudian, ketika timbul kesukaran-kesukaran di beberapa jemaat, juga secara tertulis dengan surat-surat kirimannya.

Bagaimana segala pekerjaan Paulus itu dilakukan? Apakah pada waktu itu Paulus hanya berfungsi sebagai medium (prewangan) , yang kosong, yang kemudian diisi dengan Roh Kudus, dan Roh Kudus inilah yang berbicara melalui mulut Paulus? Tidak. Pada waktu itu Paulus bersaksi sendiri. Ia memilih judul ceramahnya sendiri, memilih kata-kata sendiri untuk mengungkapkan berita yang dibawanya, dan sebagainya, mungkin seperti jika pada zaman sekarang seorang pendeta akan membawakan khotbahnya. Sekalipun demikian, sekalipun semua kata-kata yang diucapkannya itu adalah kata-kata manusia, kesaksian manusia, namun dapat dikatakan juga bahwa Roh Kudus turut bersaksi di dalam kesaksian Paulus itu. Sebab Roh Kudus, menurut Alkitab, bersaksi dengan perantaraan kesaksian manusia.

Apa sebab demikian? Menurut Lukas 10:16 kata-kata orang yang menyaksikan Kristus memiliki wibawa sebagai dari Kristus sendiri. Sebab di situ disebutkan, “Barangsiapa mendengarkan kamu (yaitu para murid yang diutus mengabarkan Injil) ia mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku, dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”

Di dalam ayat ini terkandung urut-urutan yang berpangkat-pangkat. Menolak para murid (hamba) berarti menolak Kristus, sedang menolak Kristus berarti menolak Dia yang mengutus-Nya, yaitu Allah Bapa. Jika urut-urutan ini dibalik, menjadi demikian: Allah Bapa memperkenalkan diri-Nya dengan melalui Kristus, Firman yang menjadi manusia. Kristus memperkenalkan diri-Nya melalui pekerjaan Roh Kudus, sedang Roh Kudus bersaksi melalui kesaksian manusia. Dengan demikian jelas ada penyerahan kuasa atau otoritas yang kongkrit kepada kata-kata orang yang menyaksikan karya penyelamatan Kristus. Hal ini disebabkan karena penyaksian orang-orang tadi dikaitkan dengan kesaksian Roh Kudus.

Di Yohanes 15:26 disebutkan, bahwa jika Penghibur yang diutus oleh Yesus datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Yesus. Bagaimana Roh Kudus melakukan penyaksian itu? Bukan dengan memakai para rasul sebagai corong, melainkan melalui kesaksian para rasul. Itulah sebabnya para murid disuruh bersaksi sendiri juga. “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27).

Padahal bersaksi sendiri berarti: bekerja sendiri, memilih kata-kata sendiri, memilih judul sendiri dan memilih cara penguraian sendiri, dan sebagainya.

Sekalipun segala kesaksiannya itu adalah hasil pekerjaannya sendiri, akan tetapi para rasul yakin, bahwa Roh Kudus ada di belakangnya. Itulah sebabnya rasul Paulus di Galatia 1:8 berani berkata, bahwa sekalipun ada seorang malaikat dari surga yang memberitakan Injil, tetapi berbeda dengan Injil yang telah diberitakannya kepada orang-orang Galatia, terkutuklah dia. Ucapan yang demikian itu hanya mungkin dikemukakan oleh orang yang yakin benar kepada kebenaran pemberitaannya.

Sekalipun demikian, tidak semua kata-kata Paulus yang telah diucapkan demi kepentingan jemaat itu adalah firman Tuhan. Sebab rasul Paulus dapat dengan jelas membedakan pikirannya sendiri dengan pikiran Tuhannya. Hal ini jelas umpamanya, dari yang dikemukakan oleh Paulus di 1 Korintus 7:6-7, “Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran (artinya: bukan sebagai perintah Tuhan), bukan sebagai perintah (yaitu: perintah Tuhan). Namun demikian alangkah baiknya kalau semua orang seperti aku ….” Rasul Paulus mengemukakan keinginannya bahwa semua orang sama seperti dia yaitu tidak kawin. Akan tetapi ini bukan perintah Tuhan, hanya nasehat yang keluar dari diri Paulus sendiri. Sebaliknya, terhadap orang yang telah kawin. Paulus berkata, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.” (1 Korintus 7:10). Jadi para penulis memang dapat membedakan pikiran sendiri dengan pikiran Tuhannya.

Jikalau demikian halnya dengan Perjanjian Baru, terlebih-lebih hal ini berlaku bagi Perjanjian Lama, yang jauh lebih tua daripada Perjanjian Baru.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan, bahwa di dalam Alkitab itu manusia bersaksi tentang karya penyelamatan Tuhan Allah yang dilakukan di dalam Kristus. Akan tetapi di dalam segala usaha manusia itu Roh Kudus bersaksi tentang Kristus. Alkitab oleh karenanya adalah alat Roh Kudus untuk menyaksikan karya penyelamatan Kristus.

Demikian isi pengertian pengilhaman yang organis.

Bahwa Alkitab memiliki fungsi sebagai kesaksian, terang juga dari kata-kata Yesus mengenai kitab Perjanjian Lama.

Di Yohanes 5:39 Yesus berkata bahwa kitab-kitab Suci (yaitu kitab-kitab Perjanjian Lama) menyaksikan Kristus. Ia berkata kepada para orang Yahudi, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Di Lukas 22:32 Yesus berkata kepada para murid-Nya, bahwa nas Kitab Suci harus digenapi pada-Nya, sebab apa yang tertulis tentang Dia (yang menyaksikan Dia) sedang digenapi. Selanjutnya di Lukas 24:27 kepada para murid yang pergi ke Emaus, Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati itu menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia (yang menyaksikan Dia) dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari Kitab-kitab Musa dan segala Kitab Nabi-nabi.

Demikianlah menurut Yesus sendiri kitab Perjanjian Lama adalah suatu kesaksian yang menyaksikan tentang diri-Nya.

Sikap Yesus yang berkata itu diikuti juga oleh para rasul. Di Kisah Para Rasul 10:43 rasul Petrus berkata, bahwa tentang Kristus semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya. Jadi baik Yesus maupun para rasul berpendapat bahwa kitab Perjanjian Lama adalah suatu kesaksian, yaitu suatu kesaksian Tuhan Allah melalui kesaksian manusia tentang Kristus.

Demikian baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah kesaksian tentang karya penyelamatan Allah yang dilakukan di dalam Kristus.

Percaya kepada kesaksian Alkitab berarti percaya kepada kesaksian Roh Kudus tentang karya penyelamatan Kristus. Maka Alkitab tidak boleh dipisahkan dari isinya (yaitu keselamatan di dalam Kristus) dan dari tabiatnya sebagai kesaksian tentang Kristus Yesus. Percaya kepada Alkitab adalah sama dengan menerima kesaksian tentang Yesus Kristus sebagai alat penyelamatan Tuhan Allah.

Bagaimana kita, yang hidup pada zaman sekarang ini, mendapat kepastian, bahwa Alkitab sebagai kesaksian manusia itu adalah kesaksian Roh Kudus, sehingga menjadi firman Allah bagi kita?

Guna menjawab pertanyaan itu kita kembali kepada ayat-ayat yang telah dibicarakan di atas, yaitu 1 Yohanes 1:1-3.

Di dalam bagian Alkitab ini terdapat urut-urutan gagasan sebagai berikut:

Di dalam diri Yesus Kristus, Tuhan Allah telah berfirman kepada manusia, atau telah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia sebagai yang memberikan hidup kekal. Barangsiapa yang percaya kepada Firman itu ia akan memiliki hidup kekal.

Yohanes telah menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana Kristus mengusahakan keselamatan itu. Ia percaya, bahwa di dalam diri Kristus itu Tuhan Allah telah beffirman. Ia tidak membohongkan Tuhan Allah, tidak menganggap Tuhan Allah sebagai membohong dengan Firman-Nya itu, sebaliknya, Yohanes mengamini Firman Allah itu. Ia tidak bersikap seperti Adam di Firdaus yang menganggap Allah sebagai membohong, ketika Ia menyabdakan perintahnya di Kejadian 2:17. Oleh karena sikap Adam yang demikian itu maka tidak ada persekutuan antara Tuhan Allah dengan dia, sehingga Adam tidak menerima hidup kekal. Berbeda sekali dengan sikap Yohanes. Ia tidak membohongkan Tuhan Allah ketika ia berfirman di dalam Kristus kepadanya. Ia mengamini-Nya, ia percaya kepada Allah. Oleh karena itu ada persekutuan antara Allah dengan dia (“persekutuan kami adalah dengan Bapa”).

Yohanes sebagai penyaksi mata (“yang sudah mendengar, melihat, meraba,” dan seterusnya) bersaksi tentang Firman hidup itu kepada orang-orang Kristen di Asia Kecil yang dikirimi suratnya. (“Sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal”). Orang-orang di Asia Kecil itu mengamini kesaksian Yohanes, menerimanya sebagai benar. Jadi mereka tidak membohongkan Yohanes. Oleh karena itu ada persekutuan antara Yohanes dengan orang-orang itu. (“kamupun beroleh persekutuan dengan kami”).

Oleh karena orang-orang Kristen di Asia Kecil itu tidak membohongkan Yohanes, artinya: membenarkan kesaksian Yohanes, maka dengan itu mereka menerima kesaksian Tuhan Allah terhadap Yohanes, atau mereka juga tidak membohongkan Tuhan Allah, mereka mengamini firman Allah di dalam Kristus. Dengan demikian mereka juga mendapatkan persekutuan dengan Tuhan Allah serta menerima hidup kekal.

Dari 1 Yohanes 1:1-3 ini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa oleh karena kesaksian Yohanes tentang Firman yang hidup adalah benar, sesuai dengan kenyataannya, maka Roh Kudus bersaksi melalui kesaksian Yohanes itu guna meyakinkan orang-orang Kristen di Asia Kecil. Para orang Kristen di Asia Kecil itu seterusnya menyaksikan firman yang telah dipercayai itu kepada orang lain dan kepada keturunan mereka. Kesaksian mereka itu adalah kesaksian Roh Kudus jikalau di dalam menerjemahkan firman itu mereka setia, tidak menyimpang dari kebenaran. Demikian seterusnya, dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain. Kesaksian manusia tentang karya penyelamatan Kristus adalah kesaksian Roh Kudus, dengan syarat jikalau kesaksian itu adalah benar, tidak menyimpang dari kenyataannya. Bagi kita yang hidup pada zaman sekarang ini hal itu berarti, bahwa tafsiran yang benar adalah yang menentukan. Bukan segala uraian yang diambil dari Alkitab adalah firman Tuhan. Uraian itu adalah firman Tuhan jika meneruskan kerygma atau berita yang benar dari Alkitab.

Alkitab dalam bentuknya yang sekarang, baik yang mengenai Perjanjian Lama, maupun yang mengenai Perjanjian Baru tidak sekaligus tersusun menjadi satu, melainkan mengalami sejarah yang panjang, yang penuh dengan pergumulan, yaitu di dalam hal memilih serta mengambil keputusan yang mana dari antara sekian banyak tulisan yang ada itu adalah firman Allah.

Agaknya semula hukum-hukum Allah atau Taurat-lah yang diterima oleh Israel sebagai firman Allah. Taurat ini dilayankan oleh para imam. Oleh karena itu menolak Taurat berarti mendatangkan malapetaka.

Pada zaman para nabi agaknya pelayanan Taurat Allah yang dilakukan oleh para imam membeku, sehingga bangkitlah para nabi, yang memberitakan firman Allah dengan penuh semangat dan dengan daya yang kuat serta menggetarkan.

Firman yang dilayankan oleh para nabi secara lisan itu semua hanya bersifat sementara, artinya: hanya berlaku pada zaman para nabi itu. Akan tetapi agaknya di zaman-zaman yang kemudian oleh para murid nabi firman-firman itu dibukukan dan dijadikan pedoman bagi kehidupan umat Israel. Memang ada di antara para nabi yang menulis firman yang telah diberitakan, umpamanya Yeremia, akan tetapi hal itu tidak berarti, bahwa seluruh kitab nabi itu disusunnya sendiri.

Di samping firman yang dilayankan oleh para nabi, agaknya di sepanjang abad-abad itu telah timbul tulisan-tulisan yang memiliki arti keagamaan yang berdiri sendiri, akan tetapi yang kemudian juga dibukukan. Tulisan-tulisan ini umpamanya berbentuk nyanyian guna memuji, mengucap syukur, berdoa, mengeluh, dan lain sebagainya, dan berbentuk amsal yang mengandung di dalamnya hikmah dan lain sebagainya.

Jika demikian, bilamana kitab Perjanjian Lama itu lengkap selesai seperti yang kita miliki sekarang ini?

Kita tahu, bahwa menurut tradisi Yahudi, kitab Perjanjian Lama dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: תורה – TORAH atau Taurat, yang meliputi Kitab-kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan; נביאים – NEVI’IM atau Nabi-nabi” yang meliputi Kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel I, II, Raja-raja I, II, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan dua belas nabi kecil (Hosea hingga Maleakhi); כתובים – KETUVIM atau Surat-surat yang meliputi Mazmur, Ayub, Amsal, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra-Nehemia, Tawarikh I, II.

Agaknya ketika zaman Yesus Kitab Perjanjian Lama ini telah lengkap, sebab di Lukas 24:44 Yesus berkata kepada para muridnya, bahwa semua yang dituliskan tentang Dia dalam Kitab “Taurat Musa” dan “Kitab nabi-nabi” serta “Kitab Mazmur” harus digenapi. Mungkin yang dimaksud dengan “Kitab Mazmur” adalah כתובים – KETUVIM, akan tetapi mungkin juga bahwa Ketuvim pada waktu itu belum lengkap. Yang jelas ialah, bahwa pada awal atau pertengahan abad Masehi Kitab Perjanjian Lama telah dibulatkan dan diakui.

Jelaslah, bahwa pengumpulan kitab-kitab Perjanjian Lama menjadi satu hingga menjadi pedoman bagi hidup dan kepercayaan Yahudi itu tidak terjadi sekaligus, melainkan memakan waktu yang lama. Selain daripada itu pengumpulan tadi juga disertai pergumulan, yang disebabkan karena orang harus memilih di antara sekian banyak kitab yang ada. Itulah sebabnya maka di samping kitab-kitab yang dijadikan pedoman atau norma hidup dan kepercayaan itu masih ada kumpulan kitab-kitab yang disebut apokrip (samar).

Bagaimanapun, akhirnya umat Allah di dalam Perjanjian Lama memutuskan, bahwa firman Allah olehnya hanya didengar di dalam kitab-kitab yang sekarang disebut: kitab Perjanjian Lama. Dan oleh karena ternyata, bahwa Yesus dan para rasul menerima kitab-kitab itu sebagai firman Allah, maka umat Allah di dalam Perjanjian Baru menerima kitab Perjanjian Lama itu juga sebagai firman Allah.

Gereja yang pertama telah menerima kitab Perjanjian Lama sebagai firman Allah.

Selanjutnya gereja pada abad-abad pertama itu juga memiliki banyak tulisan kesaksian tentang Yesus yang diterima dari para rasul dan para murid rasul serta dari para bapa kerasulan. Oleh karena itu gereja yang pertama itu harus mengadakan penyelidikan, pertimbangan, pemilihan dari sekian banyak tulisan yang ada tadi.

Agaknya semula yang dipentingkan adalah tulisan-tulisan yang memuat cerita tentang Yesus dan karya-karya-Nya, yaitu yang dikenal sebagai kitab-kitab Injil. Orang tidak dapat menentukan dengan tepat bilamana dan di mana keempat Injil yang dimiliki hingga sekarang itu ditetapkan dan dikumpulkan. Sebab pada pertengahan pertama dari abad kedua, Papias umpamanya, belum mengenal Injil Lukas, sedang ada golongan yang meragukan Injil Yohanes. Yang jelas ialah, bahwa keempat Injil itulah yang pertama-tama diterima sebagai pengumpulan yang tetap.

Mengenai surat-surat para rasul dapat dikatakan demikian, bahwa munculnya kanon Marcion pada pertengahan abad kedua, memaksa gereja untuk memasukkan surat-surat para rasul itu juga ke dalam daftar kitab-kitab yang telah dimilikinya, yaitu Injil. Sekalipun demikian masih jauh jalan yang harus dilalui gereja untuk sampai kepada penyusunan kitab Perjanjian Baru seperti yang dikenal sekarang ini. Baru setelah ada rapat-rapat gerejawi yang berulang kali akhirnya pada akhir abad keempat diputuskan untuk menerima 27 kitab yang dimiliki hingga sekarang sebagai kitab Perjanjian Baru, yang menyaksikan karya penyelamatan Kristus secara benar, dan oleh karenanya menjadi pedoman atau norma bagi kehidupan gereja.

Dari segala uraian yang telah dikemukakan di atas jelaslah kiranya, bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru bukanlah kitab-kitab yang telah diturunkan dari surga, baik dalam bentuk lembaran maupun dalam bentuk kitab, akan tetapi Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah kitab yang tumbuh di dalam sejarah, dilahirkan karena kebutuhan umat Allah akan suatu pedoman yang tetap bagi kehidupan keagamaannya.

Seluruh isi Alkitab itulah yang oleh umat Allah dipandang sebagai pengumpulan tulisan-tulisan yang secara tepat dan benar menyaksikan akan karya penyelamatan Tuhan Allah di dalam Kristus. Oleh karena itu kitab-kitab inilah yang dipandang sebagai alat Roh Kudus untuk bersaksi tentang Kristus.

Roh Kudus bersaksi tentang karya Kristus dengan perantaraan kesaksian manusia. Oleh karena itu terhadap ini berlakulah apa yang dikatakan oleh Yohanes di 1 Yohanes 1:1-3.

1 Yohanes 1:1-3, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

 

 

  • Sifat-sifat Alkitab

Bagian ini akan membahas sifat-sifat Alkitab dan menunjukkan perbedaan antara pandangan Gereja Roma Katolik dan pandangan Gereja-gereja terhadap Alkitab. Terhadap pandangan Gereja Katolik itu, Gereja-gereja Reformasi pernah merumuskan keyakinan mereka, bahwa Alkitab memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
Alkitab adalah berkuasa atau berwibawa
Gereja Roma Katolik mengakui, sama dengan Gereja-gereja Reformasi, bahwa Alkitab berkuasa atau berwibawa, dan bahwa kuasa atau wibawa itu sedemikian rupa, sehingga Alkitab tidak dapat salah. Sekalipun demikian ada juga perbedaannya dengan pandangan Reformasi. Sebab Gereja Roma Katolik mengatakan, bahwa:

Kita menerima Alkitab dari tangan Gereja, sehingga kuasa atau wibawa Alkitab itu tidak dapat dilepaskan dari kuasa atau wibawa Gereja.

Gereja lebih tua daripada Alkitab, sebab sebelum kanon ditetapkan Gereja telah ada. Maka Gereja tidak mungkin begitu saja tergantung dari Alkitab.

Gerejalah yang menetapkan batas-batas kanon Alkitab. Maka pengakuan Alkitab sebagai firman Tuhan itu didasarkan atas kuasa atau wibawa Gereja. Memang, Gereja bukan berdiri di atas Alkitab sebab Alkitab tidak menerima kuasanya dari Gereja, melainkan dari Tuhan Allah sendiri.

Gereja Roma Katolik membedakan antara kuasa atau wibawa Alkitab pada dirinya sendiri, dan kuasa atau wibawa Alkitab dalam hubungannya dengan kita.

Kuasa atau wibawa Alkitab pada dirinya sendiri diterima langsung dari Tuhan Allah, sebab Alkitab adalah hasil pengilhaman ilahi. Di dalam hal ini Alkitab tidak bergantung kepada Gereja. Akan tetapi di dalam hal kuasa atau wibawa Alkitab yang berhubungan dengan kita, atau mengenai penerimaan kita terhadap Alkitab itu, Gereja tidak dapat diabaikan. Sebab Alkitab sebagai buku pada dirinya adalah mati, isinya tidak disusun secara sistematis. Oleh karena itu sering menimbulkan salah pengertian. Maka perlu ada suatu instansi, suatu lembaga, yang menjadikan kuasa atau wibawa Alkitab efektif. Bukankah Augustinus berkata, “Aku tidak akan percaya kepada Injil, seandainya kuasa Gereja tidak menggerakkan aku untuk berbuat demikian.” Jadi Gerejalah yang memimpin para orang percaya untuk mengakui kuasa atau wibawa Alkitab.

Pandang Gereja Roma Katolik yang demikian itu didasarkan atas pandangannya mengenai Gereja itu sendiri. Menurut Roma Katolik, Gereja adalah satu-satunya lembaga yang memiliki kuasa yang tidak dapat diganggu gugat, karena Gereja tidak dapat salah. Maka kuasanya terhadap Alkitab juga tidak dapat diganggu gugat.

Gereja-gereja Reformasi berpendapat, bahwa Gereja tidak berada di atas Alkitab, sebab Gereja dapat tersesat, seperti yang ternyata dari sejarah Gereja. Maka Gereja berada di bawah Alkitab dan Alkitab mewujudkan instansi di atas Gereja.

Jika dikemukakan, bahwa Alkitab berkuasa, maka perlu diterangkan, bahwa yang berkuasa adalah berita atau kerygmanya, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang telah menjadi manusia untuk mendamaikan manusia dosa dengan Tuhan Allah. Berita ini datang dengan kuasa. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan mendapat hidup yang kekal.

Oleh karena Alkitab berkuasa, maka sekaligus Alkitab juga memiliki sifat dapat dipercaya.

Mengenai hal berita atau κηρυγμα – kerugma itu harus dibedakan antara berita yang pokok, yang pusat, dan berita yang di tepi, yang diperiferi. Dalam soal yang pokok atau pusat, yaitu bahwa Tuhan Allah mendamaikan manusia dosa dengan diri-Nya sendiri di dalam Kristus, tidak dapat ditawar-tawar. Akan tetapi mengenai berita yang di tepi, yang berada di sekitar pemberitaan yang pokok tadi, pengenaannya atau penerapannya harus disesuaikan dengan keadaan orang-orang pada zaman sekarang, umpamanya mengenai perintah rasul Paulus, bahwa orang perempuan, jika berdoa atau bernubuat, harus bertudung. Sebab perintah Paulus itu disesuaikan dengan keadaan atau adat-istiadat pada zaman itu di tengah-tengah orang Korintus.

Alkitab adalah cukup

Konsili di Trente (1546-1563) memutuskan, bahwa kebenaran dan ajaran Kristus sebagian termuat di dalam kitab-kitab yang tertulis, dan sebagian termuat di tradisi yang tidak tertulis, yang telah diucapkan oleh Kristus sendiri dan telah diterima oleh para rasul, dan yang sejak zaman para rasul, oleh karena pengilhaman Roh Kudus, diteruskan dari tangan ke tangan kepada kita.

Berdasarkan keputusan yang demikian itu Gereja menerima dengan penghormatan yang sama Alkitab dan tradisi. Tradisi ini dirawat oleh Gereja dalam suatu urut-urutan yang tidak terputus-putus.

Sekalipun ada pendapat yang bermacam-macam mengenai tradisi ini, akan tetapi Gereja berpendapat bahwa ada dua macam tradisi, yaitu tradisi yang menjelaskan lebih lanjut isi Alkitab, dan tradisi yang menambah kekurangan Alkitab. Dalam prakteknya tradisi yang menambah kekurangan Alkitab itulah yang menguasai kehidupan Gereja, sehingga kuasa atau wibawa Alkitab menjadi kabur, tetapi kuasa atau wibawa Gereja menjadi bertambah-tambah.

Konsili Vatikan II memutuskan, bahwa Alkitab adalah firman Allah yang diberikan dengan pengilhaman Roh Kudus, sedang tradisi adalah firman Allah yang dipercayakan kepada para rasul dan yang diteruskan oleh para rasul kepada pengganti-pengganti mereka dengan secara tidak bercela.

Dengan demikian tetap diakui, bahwa Alkitab bukanlah satu-satunya sumber dari mana Gereja dapat menerima kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan atau dinyatakan oleh Allah. Kedua-duanya, Alkitab dan tradisi harus diterima dan dihormati dengan kasih yang sama dan dengan penghormatan yang sama.

Gereja-gereja Reformasi berpendapat bahwa Alkitab adalah cukup, artinya cukup untuk memimpin orang kepada hidup yang kekal.
Alkitab adalah jelas

Gereja Roma Katolik mengakui bahwa Tuhan Allah-lah yang menjadi penulis Alkitab. Sekalipun dengan demikian ada terang yang menyinari Alkitab, namun Alkitab tidak dapat dikatakan jelas. Sebab banyak ayat-ayat yang sukar dimengerti. Oleh karena itu Alkitab memerlukan penafsir.

Penafsir yang paling ulung ialah Roh Kudus sendiri, karena ialah penulis Alkitab. Di samping Roh Kudus, atau setelah Roh Kudus, penafsir yang dapat dipercaya ialah lembaga yang diajar oleh Roh Kudus, yaitu Gereja. Gereja adalah alat Roh Kudus untuk menafsir firman Allah. Oleh karena itu tiap orang yang ingin menafsir Alkitab harus tunduk kepada penafsiran Gereja.

Gereja Roma Katolik membedakan antara huruf dan arti Alkitab. Firman Allah yang sebenarnya tidak terdapat di dalam hurufnya. Padahal hanya Gerejalah yang dapat menetapkan arti yang sebenarnya tanpa salah.

Gereja-gereja Reformasi berpendapat bahwa Alkitab adalah jelas. Memang banyak hal yang tidak terang, karena dalamnya isi itu. Akan tetapi jalan keselamatan jelas digambarkan, sehingga Alkitab terbuka bagi tiap orang, yang pandai maupun yang bodoh, yang terpelajar maupun yang buta huruf. Firman Tuhan menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita.

Dari tulisan di atas telah diketahui, bahwa sebenarnya bukan Israellah yang mencari Tuhan Allah, melainkan sebaliknya, Tuhan Allahlah yang mencari Israel. Israel di Mesir itu sudah tidak mengenal Tuhannya lagi, maka Tuhanlah yang mengambil inisiatif atau prakarsa untuk memperkenalkan diri-Nya kepada Israel. Untuk apa? Tidak lain ialah, agar supaya Israel tahu, bahwa Tuhanlah יהוה – YHVH, Allahnya, dan agar demikian Israel memiliki hidup kekal serta akhirnya Nama Tuhan Allah dipermuliakan.

Jadi dapat dikatakan, bahwa maksud Tuhan Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada umat-Nya itu, tidak lain agar supaya Nama-Nya dipermuliakan.

Inilah sebabnya maka Alkitab penuh dengan puji-pujian umat Allah, yang dinaikkan bagi kemuliaan nama Tuhannya.

 

Bersasmbung ke bagian 2